Rasa canggung kembali membuat Khalisa dan Kenan salah tingkah, ketika keduanya memasuki kamar. Apalagi Khalisa sudah tidak mengalami efek sakit tamu bulanan. Jadi tidak ada alasan untuk mereka bersikap dengan leluasa. Meski awalnya berniat tidur, keduanya justru tidak bisa melakukannya.
“Padahal kamu istriku, tapi di beberapa kesempatan, aku tetap merasa kamu istri Kenzo. Ibaratnya, kamu istri titipan. Mau ngapain, aku jadi takut salah,” ucap Kenan tanpa berani menatap Khalisa.
Khalisa yang awalnya akan kembali meringkuk, langsung tidak jadi. Khalisa berangsur menatap Kenan. Ia menghela napas pelan. “Aku juga mikir gitu. Enggak tahu kenapa, ... serba takut salah. Rasanya beneran serba salah.”
Setelah terdiam sejenak, Kenan berangsur menatap Khalisa. “Kenzo ngabarin kamu? Semua telepon fan WA aku, enggak ada yang dia balas.”
“Ke aku pun begitu. Beneran enggak ada kabar. Biasanya kan tanya. Ini enggak. Jangankan tanya kabarku, aku enggak boleh ini, enggak boleh itu. Tanya kabar Alesha saja, enggak,” balas Khalisa masih menatap kedua mata Kenan.
“Tapi dia memang biasa marah-marah ke kamu dan ke Alesha. Terus, kalau aku lihat, hubungannya dengan orang tua kamu juga kurang baik,” ucap Kenan.
“Adanya begitu,” balas Khalisa terdengar pasrah bahkan di telinganya sendiri.
“Jadi, benar-benar akan seperti rencana?” tanya Kenan.
Khalisa tak bisa menjawab dan malam menunduk dalam.
“Kamu enggak yakin?” ujar Kenan.
Khalisa berangsur menatap Kenan. “Biar dia introspeksi diri dulu. Aku enggak mau dia menyesal. Untuk sementara, semuanya beneran karena Alesha. Aku mau pelan-pelan bikin Alesha nyaman.”
“Buat apa, orang tuanya kembali bersama, tapi makin sibuk bertengkar?” lanjut Khalisa.
“Yang ada bukan hanya orang tuanya yang meledak. Namun juga anaknya.”
“Alesha kan wajib berobat rutin selama enam bulan. Asal selama ini fokus pengobatan, dan semuanya serba dijaga, ... insyaallah, semuanya aman.” Khalisa berangsur menunduk lantaran sadar, selama ia berbicara, selama itu juga Kenan menatapnya saksama.
“Aku tahu apa yang Alesha rasakan. Karena sampai sekarang pun, aku masih merasakannya. Hubungan orang tua yang tidak baik, belum lagi cara didik orang tua, akan membuat anaknya tertekan. Iya jika anak itu masih bisa berpikir positif. Jika yang dia ambil justru sebaliknya?” ucap Kenan.
“Untungnya, keluarga kamu se—care itu ke Alesha.”
“Aku sampai merinding, pas tahu papa kamu ikut mandiin, bahkan ... cebo.kin Alesha. Urus pakaiin bedak, baju, ... bahkan kuncir rambut Alesha, ... Papa kamu beneran melakukan itu.” Kenan mendadak kehabisan kata-kata. Padahal, obrolan santai sekaligus dalam kali ini, bagus untuk memper erat hubungan mereka.
“Dalam keluarga kami, para suami sudah terbiasa meratukan istri. Jadi, selagi mereka bisa, mereka pasti akan membantu pekerjaan istri.”
“Para suami, dan saudara laki-laki sudah terbiasa diajarkan untuk menjaga saudara perempuan. Para suami tidak hanya memperlakukan anak-anak layaknya anak. Mereka enggak akan menuntut karena kamu anak, kamu harus menurut. Beneran enggak gitu, Mas.”
“Jadi, ada masa mereka bersikap layaknya orang tua. Ada juga saat mereka beneran kayak teman sebaya.”
“Alhamdullilahnya lagi, dalam keluarga kami termasuk itu saudara jauh, beneran enggak ada yang kas.ar.”
“Selain itu, hubungan kami dengan kerabat kami juga sangat baik. Dan karena hubungan baik kami juga, kami jarang mengalami masa-masa sulit. Andai sampai mengalami, ya hanya sementara karena kami akan selalu saling bantu.” Membahas keluarganya, hati Khalisa jadi diselimuti rasa hangat. Rasa hangat yang juga membuatnya refleks tersenyum bahkan ketika ia balas menatap Kenan.
“Maaf karena keluargaku, beneran minus. Ini aku beneran ngomong adanya,” ucap Kenan. “Enggak hanya orang tua, termasuk sikap Keina ke kamu. Namun juga, perlakuan Kenzo ke kamu yang lebih mirip kompeni.”
“Namun sebisa mungkin, aku enggak mau menjalani hidup dengan cara hidup keluargaku. Sebisa mungkin, aku ingin menjalani hidup seperti keluarga kamu.” Kenan terdiam sejenak, tatapannya juga ikut turun dari kedua mata Khalisa. Namun tak lama kemudian, kedua matanya kembali tertuju kepada Khalisa.
“Aku benar-benar minta maaf,” ucap Kenan yang kemudian menggerakkan tangan kanannya untuk meraih kepala Khalisa.
Detik itu juga, jantung Khalisa seolah berhenti berdetak. Namun, kedua matanya tetap menatap kedua mata Kenan.
“Besok aku free. Karena pekerjaan penting, sudah aku beresin malam ini. Aku hanya mengerjakan beberapa pekerjaan di rumah. Jadi, mumpung ada waktu, kalian mau jalan-jalan ke mana?” ucap Kenan.
“Enggak enak juga kan, ke orang tua kamu. Masa jauh-jauh ke Jakarta, mereka cuma di rumah,” lanjut Kenan. “Coba kamu pikirin, jalan-jalan ke mana, yang beneran minim asap, khususnya asap rok.ok?”
“Ya Allah, ... nih orang beneran bikin aku nelangsa. Karena seumur-umur, papanya Alesha saja enggak begini! Jangan nangis, Sa. Jangan nangis!” batin Khalisa yang kemudian menghela napas pelan sekaligus dalam.
“Biasanya wanita kalau dikasih pilihan, disuruh milih, balasnya terserah, ya? Terserah, tapi wajib ngerti apa yang dia mau?” ucap Kenan seiring ia yang meringkuk menghadap Khalisa. Namun, yang ditanya malah tertawa. Iya, Khalisa tertawa, tapi juga menangis.
“Ya sudah kita tidur. Besok habis subuh, kita tanya Alesha sama orang tua kamu. Mereka kan bangunnya pagi juga,” ucap Kenan yang detik itu juga memejamkan kedua matanya.
“Hei, Mas Kenan. Jadi kamu, pasti enggak nyaman banget, ya? Bukan karena pernikahan turun ranjang kita. Namun juga hubungan Mas dengan orang tua Mas!” batin Khalisa diam-diam memperhatikan setiap lekuk wajah suaminya. Ia melakukannya hingga akhirnya ia ketiduran.
Namun tak lama setelah Khalisa ketiduran, kedua mata Kenan berangsur terbuka. Kedua mata sendu itu menatap setiap lekuk wajah Khalisa. Juga, kenyataan Khalisa yang sampai detik ini masih memakai hijab.
Keesokan harinya, Alesha yang baru selesai mandi langsung heboh. Kenyataan tersebut terjadi karena Khalisa mengabarkan agenda liburan mereka.
“Uncle, kita mau jalan-jalan ke mana?” sergah Alesha. Kenan sungguh menjadi sasarannya. Karena Kenan tak segan mengembannya, ia juga langsung menempel pada adik papanya itu.
“Ke mana sih, ya? Mau cari udara segar, biar napas Alesha enggak sakit?” tanya Kinan sambil membuka pintu utama di kediamannya. Ia membawa Alesha ke taman.
“Ke puncak mau? Petik stroberi, sama panen sayur? Yang gitu-gitu!” ucap Kenan.
“Aku mau lihat kambing sama sapi juga, Uncle. Kata Mbah Kung, di kampung banyak tuh. Apa, ... kita mau ke kampung Mbah Kung, saja?” Alesha sangat bersemangat. Meski napasnya masih terdengar sangat berat.
“Kalau ke kampung Mbah Kung, Uncle belum bisa. Soalnya Uncle hanya punya hari libur sehari ini. Nanti deh, kalau Uncle punya beberapa hari libur, kita main ke kampung Mbah Kung Alesha,” balas Kenan.
“Khalisa bilang, sekarang dia hanya ingin fokus ke Alesha. Jadi, bukan keputusan yang salah jika aku membuat Alesha dekat denganku,” pikir Kenan.
Memiliki keluarga impian seperti yang Kenan jalani kali ini, merupakan impian Kenan sejak lama. Jadi, Kenan tidak takut meski impiannya itu akan membuatnya berhadapan dengan Kenzo bahkan keluarga mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Nartadi Yana
good kenan tinggalkan keluargamu yang gila hormat tapi tidak terhormat
2024-11-28
0
sherly
semangat Kenan cari bahagiamu,,, hempaskan si Kenzo tu kelaut...
2024-07-27
0
Me mbaca
kenan thor
2024-02-21
1