“M—mah, Mama enggak apa-apa?” Alesha sangat mengkhawatirkan sang mama. Apalagi meski harusnya tak terluka, sang mama sampai sempoyongan dan berakhir duduk di sebelahnya.
Bibir Khalisa memang berkata, “Mama enggak apa-apa, Sayang.” Ia sengaja meyakinkan sang putri. Namun, hati kecilnya bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa jatuhnya gelas meski ia melakukannya tidak sengaja, dirasanya mirip firasat buru-k?
“Kenapa, ya? Semoga enggak kenapa-kenapa. Alesha, ... semoga Alesha segera sehat. Apa papanya Alesha? Apa mama dan papa?” pikir Khalisa yang jadi sibuk mengkhawatirkan orang-orang di sekitarnya.
Namun sampai detik ini, Kenan belum menjadi bagian dari daftar orang terpenting dalam hidup Khalisa.
Di rumah pribadi Kenan, orang tua Khalisa tengah melepas kepergian menantu barunya. Berbeda dengan Kenzo, Kenan yang statusnya memang adik Kenzo, justru sudah memiliki rumah pribadi. Hanya saja, di rumah tersebut belum ada pembantu tetap. Namun, Kenan berdalih besok akan ada yang datang untuk bersih-bersih sekaligus membantu orang tua Khalisa.
“Kenapa, Ma?” tanya pak Aidan menyikapi sang istri dengan serius.
Pak Aidan menutup pintunya dengan sangat hati-hati. Mereka baru saja mengantar kepergian Kenan.
“Kalau dipikir-pikir, Kenan mirip banget sama Papa, pas Papa masih muda,” ucap ibu Arimbi. Awalnya, ia menatap tegang sang suami. Namun lama-lama, ia justru menahan senyum. Apalagi, sang suami juga perlahan mesem.
“Gentengan aku, kan?” ucap pak Aidan sambil menahan senyumnya. Namun, bukannya menepis apalagi mengakui, sang istri malah menertawakannya. Meski pada akhirnya, ibu Arimbi justru memeluknya erat.
“Enggak tahu kenapa, ... dari tadi rasanya pengin ngamuk. Dari tadi rasanya aku ingin nangis, tapi aku tahan-tahan,” isak ibu Arimbi.
“Enggak tega rasanya lihat Khalisa apalagi Alesha. Sementara Kenzo, kok makin ke sini makin enggak jelas. Ke kita saja, enggak ada sopan-sopannya!” Ibu Arimbi makin tersedu-sedu.
“Makanya pas kenal Kenan, hati Mama kok berharap banget ke dia. Biar dia saja yang jadi suami Lisa untuk selama-lamanya!”
Meninggalkan kebersamaan orang tua Khalisa yang makin meratapi nasib putri dan cucunya, Kenan tengah fokus menyetir. Namun, Kenan sengaja menelepon Khalisa. Nomor yang sungguh baru menjadi kontak di ponselnya. Karena beberapa saat lalu, ia sengaja memintanya kepada orang tua Khalisa. Tentunya, alasan Kenan melakukannya, untuk mempermudah komunikasi mereka. Sekarang mereka sudah menjadi suami istri. Kenan merasa, meski pernikahan mereka hanya sementara, mereka tetap wajib menjaga komunikasi mereka.
“Kok enggak jawab-jawab, ya? Apa karena nomor baru, jadinya Khalisa takut? Atau, ... Khalisa sudah bareng Kenzo?” pikir Kenan.
Baru memikirkan Kenzo, Kenan justru berpapasan dengan mobil kakaknya itu. Hanya saja, tujuan mereka berbeda, selain mobil Kenzo yang ada di jalan seberang.
“Itu Kenzo ... Iya, itu mobil Kenzo. Sebenarnya dia mau ke mana?” pikir Kenan.
Kenan merasa sangat malu lantaran Kenzo sama sekali tidak menyikapi orang tua Khalisa dengan hormat.
Tak lama setelah dipikirkan Kenan, mobil Kenzo justru memasuki tempat parkir sebuah hotel berbintang. Kenzo tak ada di mobil sendiri karena Bella masih menemani. Bella yang manja tentu sangat berbeda dari Khalisa. Karena sikap dan cara berpakaiannya saja sudah ibarat langit dan bumi. Sementara untuk level kecantikan keduanya, sebenarnya masih jauh lebih cantik Khalisa.
***
Khalisa belum tidur dan masih membacakan dongeng, ketika Kenan sampai. Kenan tak langsung masuk. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu sengaja diam-diam mengintip dari pintu yang sedikit ia buka.
“Kenzo beneran belum ke sini. Padahal tadi aku kena macet. Tapi dari tujuan arah mobilnya saja memang enggak ke sini, sih,” batin Kenan.
Kenan berangsur menutup pintunya dengan hati-hati. Ia tak jadi masuk, tapi kali ini Khalisa mencurigai ada yang datang. Khalisa yakin tadi mendengar pintu yang menutup. Atas keyakinan tersebut juga, Khalisa sengaja memastikan. Ditambah lagi, akhirnya Alesha tidur.
Kenan masih berusaha menelepon Kenzo, ketika akhirnya Khalisa keluar dari ruang rawat Alesha. Namun, semua telepon yang Kenan lakukan tidak ada yang mendapat balasan. Terlebih pada kenyataannya, yang ditelepon memang sedang asyik memadu kasih. Pakaian Kenzo maupun pakaian Bella sudah terkapar di lantai salah satu kamar hotel kunjungan keduanya.
“Sudah kuduga, ... memang bukan papanya Alesha. Soalnya kalau iya, pasti sudah langsung masuk,” batin Khalisa sambil mengawasi punggung Kenan.
Jarak mereka hanya sekitar dua meter. Namun, Khalisa langsung syok ketika Kenan mendadak balik badan dan membuat tatapan mereka bertemu.
Kaki kanan Khalisa refleks mundur, sementara kedua tangannya ia gendong di belakang punggung.
“Kenzo enggak ngabarin kamu? Dari tadi aku telepon enggak diangkat-angkat. Aku WA juga belum dibaca,” sergah Kenan serius.
Untuk sejenak, Khalisa terdiam. Ia menghubungkan pertanyaan Kenan dengan kejadian gelas pecah yang ia alami. Khalisa khawatir, maksud dari gelas pecah itu memang bertanda buru-k untuk keadaan Kenzo.
“Bentar coba aku telepon,” sergah Khalisa. Takut, papa dari anaknya kenapa-kenapa. Ia tak mau sesuatu terjadi kepada Kenzo karena Alesha pasti akan merasakan dampaknya.
“Sudah enggak usah,” ucap Kenan yang entah kenapa, makin kasihan saja kepada Khalisa.
Ucapan Kenan sudah langsung mematahkan langkah Khalisa.
“Kamu sudah makan, belum? Aku rasa, dari tadi kamu belum makan,” lanjut Kenan. Ia menanyakan itu atas dasar kemanusiaan.
Membahas makan, Khalisa justru langsung ingat sekaligus khawatir kepada orang tuanya. “T—tadi, orang tuaku jadinya nginep di mana, Mas?”
Jujur, Khalisa tidak yakin dengan panggilannya kepada Kenan. Namun, panggilan Mas tersebut dirasa Khalisa, cukup cocok untuk Kenan yang memang lebih tua darinya.
Kenan tahu, Khalisa canggung bahkan malu kepadanya. Malu dan canggung cenderung karena takut, bukan perasaan lain, apalagi cinta.
“Orang tua kamu tinggal di rumah aku. Lokasinya enggak terlalu jauh dari sini. Mengenai makan, tadi aku sudah sekalian beli buat mereka. Masalahnya, aku lupa beli buat kamu juga!” ucap Kenan.
“Sampai detik ini, mulut Kenan enggak sepedas mulut keluarganya,” batin Khalisa yang berdalih tidak mau dibelikan makanan oleh Kenan.
“Enggak apa-apa, Mas. Tadi aku sudah makan buah sama roti, bareng Alesha. Malahan, ... sepertinya justru Mas yang belum makan. Selain, ... Mas yang sepertinya sedang flu?” lembut Khalisa yang kemudian buru-buru meminta maaf.
“M—maaf, kenapa?” heran Kenan.
“T—takut salah, Mas!” balas Khalisa sambil menunduk takut.
“Salah gimana ya, maksudnya? Salah karena dia sudah perhatian ke aku?” pikir Kenan yang kemudian pamit untuk membeli makanan. Kenan mengaku bahwa dirinya memang belum makan. Karena itu juga, Kenan berniat untuk sekalian membelikan Khalisa.
Khalisa tengah sujud di shalat yang tengah dijalani, ketika Kenan kembali. Tiga kantong warna putih berukuran sedang, menghiasi kedua tangan Kenan. Kenan yang awalnya akan masuk, memilih tidak jadi. Entah kenapa, jantung Kenan menjadi berdetak lebih cepat hanya karena pemandangan kini.
“Wanita sholehah seperti Khalisa, kok masih kurang di mata Kenzo?” pikir Kenan merasa bingung. Kenan merasa tak habis pikir kepada Kenzo yang baginya kurang bersyukur.
Kenzo telah memiliki istri seperti Khalisa, dan juga anak secantik Alesha. Namun, Kenzo masih saja berulah.
Hanya saja, baik Khalisa maupun Alesha seolah dalam curam kehancuran. Sebab Kenzo yang harusnya membawa ke kebahagiaan, malah seolah hilang arah. Kenan menghubungkan kenyataan tersebut dengan kejadian Kenzo yang tadi ia pergoki asyik sendiri dengan ponsel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussemangat
2025-02-16
0
sherly
betul tu Arimbi, mendingan si Kenan
2024-07-27
0
Sarti Patimuan
Semoga Kenan dan khalisa saling jatuh cinta biar Kenzo tau rasa
2024-02-16
2