“Sekarang kami sudah menjadi suami istri, tapi rasanya secanggung ini. Bisa-bisa kalau keadaannya terus begini, lambungku kumat lagi,” batin Khalisa.
Mereka hendak mengunjungi Alesha, mumpung jam besuk belum habis. Mengingat peraturan di rumah sakit memang sangat ketat.
Khalisa tidak hanya bersama Kenan. Karena mereka juga bersama orang tua mereka, dan juga Keina, adik termuda Kenzo. Keina ini tipikal yang sinis. Keina memiliki watak yang nyaris sama dengan Kenzo.
“Kalian, enggak akan langsung mikir buat honey moon, kan?” tanya Keina terdengar sinis, bahkan untuk Keina sendiri.
Seperti yang sempat Khalisa singgung sebelumnya, hampir semua anggota keluarga Kenzo memang bermulut pedas. Hanya Kenan yang bagi Khalisa masih sangat misterius karena pria itu memang sangat jarang berbicara. Bukan hanya ketika mereka berpapasan dan itu hanya berdua. Namun juga ketika Kenan sedang bersama keluarga besarnya.
“Mending, kamu langsung pulang saja. Papa Mama juga mending pulang saja karena kalian pasti capek,” ucap Kenan yang jujur saja merasa sangat malu dengan pertanyaan sang adik.
“Akhirnya Kenan mulai banyak bicara. Oh iya, aku lupa. Meski dia adik mantan suamiku, usianya tetap lebih tua dariku,” batin Khalisa tak berniat mengomentari pertanyaan Keina.
“Mama mau lihat Alesha dulu,” ucap ibu Linda yang kemudian menggandeng pak Utama sang suami.
Keina yang meski masih sinis dan terus bersedekap, tetap menjadi bagian dari mereka. Namun, sebagai orang tua Khalisa, baik ibu Arimbi maupun pak Aidan, sudah merasa sangat tidak nyaman dengan kebersamaan di sana.
Kenzo masih senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya ketika rombongan tiba di depan ruangan Alesha ditangani. Tidak ada yang tidak menatap heran Kenzo, apalagi ketika pria itu menatap mereka.
Kenzo buru-buru berdeham kemudian mengantongi ponselnya ke saku sisi celana sebelah kanan. Kenzo berdiri sambil menghindari setiap tatapan yang tertuju kepadanya.
“Alesha sudah tidur, Mas?” tanya Khalisa yang berangsur melongok ke dalam ruangan.
“Tadi suster bilang, Alesha mau dipindah ke ruangan rawat biasa,” ucap Kenzo.
“Alhamdullilah ...,” ucap Khalisa dan kedua orang tuanya nyaris bersamaan.
Sampai akhirnya Alesha benar-benar dipindahkan ke ruang rawat, orang tua Kenzo pamit pulang. Namun, ada satu yang mencuri perhatian Kenan. Sang kakak jadi sering senyum bahkan cekikikan sendiri. Selain cenderung fokus kepada ponsel, Kenzo juga kerap memisahkan diri hanya untuk kesibukannya itu. Dari gelagat Kenzo, Kenan yakin sang kakak sedang berkirim pesan.
“Aku ada urusan pekerjaan. Namun, aku enggak mau kamu terlalu banyak interaksi dengan Kenan. Apalagi kalau kamu sampai perhatian ke dia,” ucap Kenzo sengaja mendekati Khalisa yang sedang membantu Alesha sikat gigi.
Di sebelah ranjang rawat Alesha, Khalisa langsung menatap tak habis pikir mantan suaminya. “Urusan pekerjaan apa, yang masih akan diurus jam segini? Ini bahkan sudah mau pukul sembilan malam. Sementara ketimbang pekerjaan, Alesha jauh lebih butuh kamu. Bahkan karena demi Alesha juga, keadaannya jadi begini,” lirih Khalisa yang jujur saja, sudah langsung marah. Kenapa Kenzo masih saja mengurus pekerjaan, bahkan di waktu yang tak mendukung.
“Beneran mau urus pekerjaan, atau malah dugem lagi?!” bisik Khalisa, kali ini makin mengomel.
Disinggung dugem, Kenzo langsung mendengkus jengkel.
“Memangnya Papa mau ke mana?” tanya Alesha yang memang tak mau ditinggal papanya. “Papa di sini saja. Aku mau Papa juga. Lagian, ini kan sudah malam.”
“Biar Alesha yang kasih arahan papanya,” batin Khalisa tak sengaja memergoki Kenan masih berdiri di depan pintu sana. Karena kebetulan, pintu ruang rawat Alesha dalam keadaan hanya setengah tertutup.
“Papa cuma pergi sebentar karena sudah janjian sama klien. Alesha yang pinter, ya. Sama Mama dulu.” Kenzo bahkan tak membutuhkan persetujuan Alesha apalagi Khalisa.
Kenzo langsung pergi dari sana dan segera merogoh ponselnya. Sebab gawai canggih berwarna putih miliknya, kembali berdering.
Pesan dari kontak berfoto wanita cantik nan seksi bernama Bella, sudah langsung membuat Kenzo bersemangat. Kenan yang masih sibuk mengawasi makin heran.
“Mau ke mana?” sergah Kenan heran.
“Mau urus kerjaan,” ucap Kenzo cuek dan masih sibuk senyam-senyum menatap layar ponselnya.
“Mau urus kerjaan kok sangat semangat begitu. Malah mirip orang kasmaran. Di sebelahku ada orang tua Khalisa pun sama sekali enggak dia lirik,” pikir Kenan.
Bukan hanya Kenan yang curiga kepada Kenzo. Karena pak Aidan dan ibu Arimbi juga langsung merasa kurang sreg pada tingkah Kenzo. Bagi mereka, Kenzo yang sekarang cenderung mirip ABG labil. Awalnya hanya mereka ketahui posesif. Namun kini, cara Kenzo sibuk dengan ponsel dirasa mereka mirip ABG yang sedang jatuh cinta. Orang tua mana yang tidak khawatir, jika calon suami anaknya bertingkah seperti Kenzo?
“Katanya mau urus pekerjaan,” jelas Khalisa ketika sang papa menanyakan alasan kepergian Kenzo.
Sadar orang tuanya khawatir bahkan marah, Khalisa sengaja meminta keduanya untuk istirahat. “Mama Papa, jadi ke rumah Om Helios, apa ke rumah Malini?”
“Oalah ... bahkan Kenzo enggak urus orang tua Khalisa mau tinggal di mana?” pikir Kenan makin pusing saja. Apalagi biar bagaimanapun, dirinya saja sedang patah hati gara-gara dicampakkan kekasihnya.
“Innalilahi aku lupa ... sekarang kan, mereka mertuaku!” batin Kenan yang buru-buru memboyong orang tua Khalisa ke rumahnya.
“Nanti kalau Kenzo belum ke sini lagi, aku ke sini lagi!” sergah Kenan sengaja pamit.
Padahal, sebelumnya Kenan sudah langsung menarik koper berukuran sedang milik orang tua Khalisa. Kenan dan orang tua Khalisa sudah meninggalkan ruang rawat Alesha. Namun, Kenan mendadak melongok kemudian agak berseru dalam pamitnya.
“Sampai sini, bagiku mas Kenan jauh lebih bertanggung jawab ketimbang papanya Alesha,” batin Khalisa.
Melihat Alesha yang bengong karena sangat mengharapkan kehadiran sang papa, Khalisa benar-benar sedih. “Ya Allah, ... andai dulu aku enggak hamil dan sampai lahir Alesha, ... tentu Alesha enggak akan merasakan kepedihan karena hubungan orang tuanya,” batin Khalisa yang refleks memeluk hangat Alesha. Air matanya berjatuhan. Apalagi saking inginnya bersama sang papa, Alesha tetap duduk. Alesha berdalih akan terus menunggu Kenzo sampai Kenzo datang.
Padahal, ketika Kenan sibuk mengurus orang tua Khalisa, Kenzo justru sudah mengunjungi sebuah diskotik. Seorang wanita cantik nan seksi layaknya di foto kontak WA, sungguh sudah menunggunya di sana. Kenzo dan wanita itu langsung tersenyum kegirangan. Keduanya tampak sulit percaya karena terlalu bahagia.
Bella yang awalnya sudah duduk di salah satu tempat duduk, bergegas menghampiri. Awalnya, kedua sejoli itu hanya saling tatap. Tatapan orang yang sama-sama menginginkan sekaligus dipenuhi hasrat. Kemudian, Bella yang memakai heels sangat runcing kembali memulai. Wanita itu memeluk manja Kenzo. Pelukan yang sudah langsung membuat Kenzo seolah melayang.
Kemudian, dengan keadaan masih berpelukan, mereka kembali bertatapan. Tatapan yang makin lama makin intens hingga tanpa sadar membuat bibir mereka saling bertautan.
Di tengah degup musik yang makin menghentak, Kenzo sungguh menikmati apa yang Bella lakukan. Sementara di ruang rawat, Khalisa yang berniat mengambilkan gelas berisi air minum, justru menjatuhkannya.
Bukan hanya Khalisa yang langsung bengong menatap khawatir gelas yang langsung pecah di bawah sana. Karena hal yang sama juga dilakukan Alesha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
sherly
emang luar biasa si Kenzo inilah
2024-07-27
0
sherly
kei tetep adik ipar kamu khalisa kan adek Kenan juga dianya ..
2024-07-27
0
Sarti Patimuan
Ingin berkata kasar kepada Kenzo brengseknya gak ketulungan bisa bisanya pergi dugem sementara anaknya sakit
2024-02-16
3