“Kenapa aku merasa, gelagat.mas Kenzo sangat aneh? Dia seperti menyembunyikan sesuatu, tapi sesuatunya itu membuatnya sangat bahagia. Ia bahkan begitu bersemangat,” pikir Khalisa merenung serius.
Kenan yang baru datang, berpikir Khalisa tengah melamun. Karenanya, ia sengaja memboyong talenan berisi potongan buah pir, irisan jahe, cengkeh, dan juga kayu manis yang ada di hadapan Khalisa. Air di panci sudah mendidih, dan Kenan berinisatif membuat ramuan untuknya sendiri.
Namun sebelum Kenan belum benar-benar melakukannya, Khalisa tersadar. “Jangan langsung dimasukan semuanya, Mas. Jahenya terakhir saja, pas sudah dimatikan karena kita butuh khasiatnya.”
Detik itu juga Kenan langsung bengong, dan membiarkan talenan di tangannya diambil Khalisa. Di talenan kayu terbilang luas itu hanya tersisa irisan jahenya.
“Bukannya sama saja?” tanya Kenan menatap penasaran Khalisa.
“Ternyata beda, Mas. Khasiat rempah termasuk jahe, hanya akan kita dapat kalau kita mengolahnya dengan suhu air yang enggak sampai mendidih. Tapi kalau buat masak, atau kita sekadar butuh aroma, kita olahnya sampai mendidih enggak apa-apa. Sementara ini kan kita butuh khasiatnya. Ini bagus buat Mas maupun Alesha.” Khalisa menjelaskan. Sementara Kenan yang menyimak, berangsur mengangguk-angguk paham. Ditambah lagi, Kenan masih bermasalah dengan tenggorokannya.
Kenan yang flu sekaligus radang tenggorokan parah, sampai kehilangan suaranya. Belum lagi, efek rapat yang membuat Kenan wajib bersuara lantang, memang memperb-uruk keadaannya.
“Ini ....” Khalisa menyuguhkan jeruk nipis dan madu yang diberi air hangat. Itu pesanan Kenan.
Setelah menerima itu, Kenan yang langsung menatap Khalisa, sengaja meraih wadah madunya. Ia memberi Khalisa isyarat untuk menaruh madunya ke herbal yang sedang mereka buat.
Khalisa yang langsung paham, mengangguk-angguk sambil menerima madunya. “Bareng taruh irisan jahenya karena kita butuh khasiatnya.”
Sikap Khalisa yang begitu santun sekaligus penuh pengertian, membuat Kenan merasa sangat nyaman. Rasa sangat nyaman yang juga membuat Kenan mengekspresikan dirinya dengan sangat leluasa.
Kenan yang memang sudah memakai pakaian lengan panjang, berangsur duduk di tempat duduk sana. Selain segelas jeruk nipis tadi, ia yang siap menyalakan laptop juga ditemani satu mangkuk soto. Soto tersebut asli buatan Khalisa. Hingga ketika Kenan memergoki wanita itu melamun, Kenan berpikir bahwa Khalisa kelelahan.
Sementara alasan orang tua Khalisa tidak ada di sana karena keduanya menjaga Alesha sambil beristirahat. Khalisa dan Kenan sepakat membuat keadaan begitu. Agar Alesha tak terkena asap masakan, selain orang tua Khalisa yang bisa beristirahat.
Satu hal yang Khalisa syukuri, dirinya tak sampai tinggal di rumah orang tua Kenan. Karena andai mereka mengikuti peraturan Kenzo, otomatis mereka harus tinggal di rumah orang tua Kenan. Tak terbayang, hati orang tua Khalisa pasti makin hancu-r karena menyaksikan Khalisa diperlakukan semena-mena oleh Keina dan ibu Linda.
Sesuai peraturan keluarga Kenan, anak pertama apalagi laki-laki, wajib tinggal sekaligus mengabdi kepada keluarga khususnya kepada orang tua. Itulah alasan kenapa Kenzo tetap bersama orang tuanya. Lain dengan Kenan yang melangkah mandiri. Karena pekerjaan saja, yang Khalisa tahu, Kenan tak menjadi bagian dari usaha keluarganya. Entah apa yang sebenarnya terjadi karena Khalisa memang tidak tahu. Namun bagi Khalisa, cara didik sekaligus pola hidup keluarga suaminya, salah kaprah. Cara didik yang membuat adanya kasta dalam lingkungan keluarga.
“Kalau sudah beres, langsung istirahat. Aku lihat, kamu kecapaian,” ucap Kenan setelah meminum air jeruk nipisnya.
“Iya, Mas.” Khalisa sengaja menjawab, meski jika hanya membahas hal biasa, rasa canggung dan gugupnya kepada Kenan, kembali membuatnya tak karuan.
Kin saja, Khalisa tak berani dekat-dekat dengan Kenan. Sekadar bernapas saja, Khalisa sampai menjaganya agar tidak terdengar mencolok oleh Kenan.
“Lakukan sekali, ... malam ini. Duh, ... ini perut sama pinggangku berasa mau lepas. Apa aku malah mau mens, ya?” pikir Khalisa.
Lain dengan Khalisa yang curiga dirinya akan mendapatkan tamu bulanan, Kenan justru tengah tercengang. Rasa soto yang Kenan cicipi menjadi alasannya.
“Sumpah, ini enak banget! Ini Khalisa beneran masak sendiri, atau malah beli?” batin Kenan.
Soto yang Kenan nikmati benar-benar enak walau tanpa santan. Namun setelah Kenan awasi, masih ada sisa soto. Selain suasana di sana yang masih beraroma bekas masak soto.
“Berarti emang dasarnya Khalisa pinter masak,” pikir Kenan yang diam-diam, refleks mengawasi Khalisa melalui lirikan.
Di sebelah wastafel, Khalisa masih di sana untuk membilas gerabah yang baru saja disabun.
“Khalisa memang cantik banget. Bahkan ternyata dia pinter masak. Sejauh mengenal meski hanya sekilas, sepertinya Khalisa juga sangat sabar. Namun aku yakin, alasan Kenzo mencintai Khalisa dengan ugal-ugalan karena kecantikan Khalisa.
“Mas, pakai kecap, kasih sambal dikit, terus perasan jeruk nipis. Itu belum aku kasih bawang goreng sama daun bawang juga. Takutnya, Mas Kenan juga enggak suka. Soalnya Papanya Alesha kan paling anti ke bawang goreng sama daun bawang,” jelas Khalisa.
“Coba racikin,” ucap Kenan.
Setelah drama soto yang membuat Kenan deg-degan, Kenan jadi kagum kepada Khalisa. Namun ketika Kenan masuk ke kamar mandi di kamarnya, ia mendapati Khalisa kesakitan duduk di lantai. Kedua tangan Khalisha sibuk memegangi perut dan agak mere.masnya.
“Kamu kenapa? Kamu salah makan?” sergah Kenan antara panik sekaligus takut. Apalagi, kini sudah larut malam. Karena orang tua Khalisa yang tidur dengan Alesha, tampaknya juga sudah tidur.
“Kayaknya aku mens, M—mas!” ucap Khalisa yang sudah berkeringat parah efek rasa sakitnya.
“Mens ...?” batin Kenan refleks.
Meski tidak begitu paham, Kenan memang pernah mendengar kabar, bahwa beberapa wanita akan sangat kesakitan ketika datang bulan.
“Terus, kamu mau aku bagaimana? Aku harus bagaimana?” sergah Kenan sampai jongkok di hadapan Khalisa.
“Enggak, Mas. Aku enggak apa-apa.” Khalisa menggeleng lemah. Ia sama sekali tidak melirik Kenan yang begitu mengkhawatirkannya. Ia masih berkutat dengan rasa sakit di perutnya. Rasa sakit yang juga membuat pinggangnya seolah ditarik paksa agar lepas.
“Enggak apa-apa bagaimana?” sewot Kenan yang buru-buru membopong Khalisa.
“M—mas mau bawa aku ke mana?” sergah Khalisa.
Melihat wajah Khalisa yang sudah sampai pucat, apalagi mata Khalisa saja sayu, Kenan jadi tak berdaya. Kenan tak rela jika Khalisa sampai kesakitan layaknya sekarang.
“Kita ke rumah sakit!” sergah Kenan.
“J—jangan, Mas. Aku mau ke kamar mandi. Aku mau cek. Mau bersih-bersih juga, takutnya beneran. Aku enggak bawa stok ... pembalutku.” Setelah mengatakan itu, Khalisa berkata, “Bentar, aku minta papa buat beli pembalut sekalian obat pereda nyeri.”
“Oalah ... kalau beneran papa kamu yang kamu suruh beli, harga diriku di mana? Begini ... begini, sekarang kan, aku suami kamu,” lirih Kenan berkeluh kesah sambil menatap kesal Khalisa.
“Eh, ... kok jadi gini, ya?” batin Khalisa. Kali ini ia tak hanya canggung sekaligus gugup. Karena ia juga merasakan rasa asing yang membuatnya kikuk. Rasa asing karena pengakuan Kenan barusan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trusceria
2025-02-17
0
Radi
waah
.kenan bener perhatian. cocok jadi jodoh kalisa loh. saat sama Kenzo apalagi sempat punya anak mereka jodoh yang tertukar sih kayaknya
2024-04-03
2
Sri Widjiastuti
mau dong kaya kenan nya atu😁😁😆
2024-03-19
1