Setelah selesai rapat, kenan merasa makin bermasalah dengan tenggorokannya. Kemudian, pandangannya tak sengaja berhenti ke kotak bekal dari Khalisa.
Kotak bekal berwarna transparan tersebut masih berisi setengah lebih. Karena Kenan memang baru sedikit memakannya. Tadi, Kenan lebih memilih memakan semua rotinya karena memang belum terbiasa sarapan buah. Hanya saja, keberadaan kotak bekal tersebut bersebelahan dengan bingkai foto berisi foto Kenan dan Syahaya. Hingga mau tak mau, ingatan Kenan membawa pria berusia dua puluh delapan tahun itu, ke kejadian lampau.
“Kenan, ... ini aku. Sesuai janjiku, ... aku akan memberimu jawaban. Aku tahu ini berat. Dan aku tahu, kamu hanya bisa menerima setelah aku memberimu alasan yang kuat. Jadi, ... tolong dengarkan baik-baik.”
“Di sini, ... aku tidak hanya mendapatkan promosi. Karena ... salah satu pemilik saham terbesar perusahaan aku bernaung, juga sudah mengenalkan aku kepada keluarganya. Dan hubungan kami, benar-benar lebih dari serius. Dia dan keluarganya sangat mendukung karier balerinaku.”
“Kami saling melengkapi. Dia benar-benar membuatku bahagia. Selain, dia yang juga tak masalah bila kami Childfree. Dia sungguh laki-laki yang aku butuhkan. Jadi, carilah wanita lain yang bisa memberimu anak lucu, dan ... bisa menemanimu setiap waktu.”
“Kamu enggak lupa, kan, kalau sebelum aku ke sini, aku juga membebaskan kamu menjalin hubungan dengan perempuan lain?”
“Oke, Kenan ... aku hanya ingin mengabarkan itu saja. Selain, ... dalam waktu dekat, orang tuaku juga akan ke sini. Kami akan menjadi warga negara sini. See you ...!”
Air mata Kenan luruh membasahi pipi hanya karena mengingat semua itu. Ucapan yang Syahaya. Kenan buru-buru mengambil bingkai fotonya tanpa sedikit pun meliriknya. Kenan menyimpan asal bingkai tersebut di laci atas meja kerjanya.Kemudian yang kenan lakukan ialah membuka kotak bekal berisi buahnya. Kenan menghabiskan potongan buahnya sambil menahan sesak di dadanya.
“Ini sudah siang. Jam makan siang bahkan sudah lewat lama. Aku belum mengabari mamanya Alesha. Terus, Kenzo juga. Itu orang beneran enggak ngabarin aku?” batin Kenan.
Kenan merasa, statusnya sebagai suami Khalisa, membuatnya wajib memperhatikan wanita itu. Kenan yang masih sangat canggung sekaligus merasa serba salah, jadi mewajibkan dirinya untuk peduli kepada Alesha. Apalagi, alasan pernikahan turun ranjang ada, juga karena Alesha.
Kenan segera meraih ponselnya dari sebelah tangan kanannya. Ia mengirimi kontak : Mamanya Alesha pesan.
Kenan : Ini nomorku, Kenan. Maaf baru mengabari. Karena beneran baru beres rapat. Alesha bagaimana? Ada perkembangan atau kabar apa dari dokter?
Di rumah sakit, Khalisa masih menghadapi Kenzo yang uring-uringan. Kenzo tidak bisa menerima jika pertemuan empat mata yang ia minta kepada Khalisa, wajib disaksikan saksi. Khalisa menjadikan orang tuanya sebagai saksi. Alasan keadaan tersebut terjadi Khalisa lakukan untuk menghindari fitnah.
“Yang ada saksi saja masih sering difitnah. Apalagi yang tanpa saksi, Mas. Aku trauma, jangan sampai kejadian lagi. Apalagi ini menyangkut hubungan kita dengan keluarga Mas,” yakin Khalisa. Namun, dering pesan masuk sudah langsung mengalihkannya.
Itu memang pesan dari Kenan. Namun kemudian ada pesan baru, dari nomor yang sama. Kenan mengabari, bahwa sekitar satu setengah jam lagi, Kenan akan datang ke rumah sakit.
“Hubungan kalian sudah langsung sangat dekat?” ucap Kenzo benar-benar dingin. Kenyataan tersebut terjadi lantaran ia sengaja melongok layar ponsel Khalisa. Hingga ia turut membaca pesan di ponsel Khalisa.
Ternyata Khalisa belum menyimpan nomor Kenan. Selain Kenan yang juga mencoba menghubungi Khalisa lebih dulu. “Romantis sekali! Dasar pengkhianat!” cibir Kenzo merasa sangat muak.
“Nak Kenzo, yang namanya suami istri ya memang begitu. Memang sudah selayaknya suami istri saling mendekatkan diri. Karena kunci dari sebuah hubungan apalagi rumah tangga, memang komunikasi.” Pak Aidan sengaja berkomentar, mencoba memberi Kenzo pengertian.
“Ditunggu saja. Apalagi, Kenan akan datang. Kita duduk bersama untuk duduk bersama agar tidak ada salah paham lagi hanya karena kurangnya komunikasi,” lembut ibu Arimbi turut berkomentar.
“Iya, ... begitu saja. Tunggu mas Kenan. Aku kabari beliau dulu,” ucap Khalisa.
Namun, panggilan Khalisa kepada Kenan yaitu ‘beliau’, teramat melukai perasaan Kenzo.
Kenzo segera mengeluarkan ponselnya. Ia sengaja mengutarakan kekesalannya melalui pesan WA agar tidak diketahui orang tua Khalisa yang tetap saja ada di sana.
Namun, Khalisa tak mau menanggapi lebih. “Tadi dokter bilang, andai keadaan Alesha stabil, sore ini Alesha sudah boleh pulang.” Khalisa hanya ingin fokus mengurus Alesha. Karena alasan mereka kembali ada juga masih untuk Alesha.
Mas Kenzo : Kalau begitu, malam ini juga kalian harus melakukannya. CUKUP SEKALI, SETELAH ITU KALIAN LANGSUNG CERAI. LANGSUNG BLOCK JUGA NOMOR KENAN!
Pesan terbaru dari Kenzo, membuat Khalisa mendengkus lemah. Khalisa memutuskan duduk di sofa sebelah ranjang rawat Alesha. Alesha sendiri sudah kembali tidur setelah mendapatkan antibiotik.
Awalnya, Kenzo merasa muak kepada Khalisa yang malah tak memberinya tanggapan. Namun, pesan WA masuk di ponselnya, membuat dadanya berdebar-debar. Itu merupakan pesan dari Bella. Bella mengiriminya foto mirror selfie. Di foto tersebut, Bella hanya memakai b.ra hitam dan juga cela.na dalam sangat minim berwarna senada.
Bella ❤️ : Sayaaang, aku sudah siap. Kamu mau berapa ronde lagi? 😘😘😘😘
Pipi Kenzo langsung bersemu, selain Kenzo yang buru-buru keluar dari ruang rawat Alesha. Kenzo begitu fokus pada ponselnya. Pria itu terlihat lupa dengan apa yang sebelumnya sempat diperkarakan.
Tanpa banyak perubahan emosi, Khalisa memilih menyusul Kenzo. Khalisa mendapati Kenzo yang terus melangkah pergi. “Jangan pergi dulu. Tunggu mas Kenan datang agar kita bisa bahas semuanya. Sejelas-jelasnya!” tegasnya masih dengan suara lirih sekaligus tenang.
Kenzo yang takut kepergok, buru-buru mengantongi ponselnya ke saku celana sisi kanannya.
Sekitar satu setengah jam kemudian, Kenan benar-benar datang. Kedatangan Kenan bertepatan dengan infus Alesha yang dilepas. Alesha benar-benar diizinkan pulang. Tinggal kontrol sekaligus berobat jalan saja.
“Berhubung suaraku sudah habis, aku hanya ingin mengatakan, ... untuk sementara, Alesha dan mamanya, termasuk mbahnya, tinggal di rumahku dulu.” Untuk mengatakan itu, Kenan sampai kesulitan.
Sempat akan protes, tapi sisi jahat Kenzo justru meminta Kenzo menyetujui tanpa syarat.
“Kalau kamu enggak sama Alesha apalagi orang tua Khalisa, kamu dan Bella bisa bersenang-senang dengan leluasa. Malahan andai Alesha dan orang tua Khalisa ikut Kenan dan Khalisa, ketiganya bisa bantu kontrol hubungan Khalisa dan Kenan,” bisik sisi jahat Kenzo.
“Ya sudah. Diatur saja.” Kenzo pura-pura memasang wajah berat. Padahal setelah itu, ia nyaris pergi dari sana, andai Khalisa dan Alesha memanggilnya
Khalisa menatap marah Kenzo. Tatapan yang juga dilakukan oleh semua yang ada di sana. Karena Alesha pun, menatap marah sang papa.
“Uncle, ... aku sayang Uncle. Makasih banyak yah, sudah jagain aku. Uncle sudah aku anggap papa aku. Semenjak papa aku, enggak ulus aku lagi! AKU BENCI PAPAAAH!” ucap Alesha emosional.
Air mata Alesha sudah langsung sibuk berlinang. Kedua tangannya mence-ngkeram selimut, sementara tatapannya menatap marah kedua mata Kenzo.
Sementara yang terjadi kepada Kenzo, pria itu langsung kebingungan menatap Alesha. Kenzo berangsur menghampiri Alesha.
“Makin anak dewasa, apalagi jika mereka mendengar sekaligus melihat semata-mata, anak tetap bisa menilai. Termasuk menilai sebuah ketulusan,” batin Khalisa tak mau berkomentar. Namun ketika lirikannya tak sengaja bertemu dengan lirikan Kenan yang berdiri nyaris di sebelahnya, keduanya sama-sama merasa miris.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2025-02-17
0
sherly
hadew khalisa kenapa sih kamu suka membatin kalo ngk bicara dalam hati... mumet Lo kalo unek2 ngk disampaikan...
2024-07-27
0
sherly
kamu tu yg pengkhianat tukang zina... Kenan tu suami khalisa wajar banget dia kasi kabar ke istrinya
2024-07-27
0