Membahas pasangan ideal, bagi Khalisa, Kenan merupakan jawabannya. Kenan yang meski masih serba canggung, tak segan mengurusnya lagi. Kedua tas kerja yang sebelumnya menjadi fokus Kenan, Kenan biarkan begitu saja. Kedua tas yang terbungkus jas hujan berlapis, benar-benar Kenan biarkan di meja ruang tamu.
Kenan malah tengah memijat punggung sekaligus kedua kaki Khalisa. “Tahan, ya ... ini bakalan sangat sakit. Namun setelah itu, harusnya enggak!” yakin Kenan.
“Yang ditarik gitu yah, Mas, kakinya?” tanya Khalisa belum apa-apa sudah panik.
“Bentar, Mas. Bentar, aku siap-siap dulu!” Khalisa yang duduk selonjor di tempat tidur, berpegangan asal pada ranjang.
Khalisa sudah sampai ganti pakaian karena pakaian sebelumnya memang basah. Namun, hal yang sama belum Kenan lakukan, meski celana dan sebagian kemeja bagian perut hingga dada Kenan, basah.
Setelah yakin Khalisa sudah siap, Kenan juga segera menarik kaki kanan istrinya itu. Kenan melakukannya dengan cukup bertenaga. Namun karena bagi Khalisa sangat sakit, Khalisa refleks menjerit. Malahan Khalisa melakukannya sambil berhenti berpegangan. Hingga yang ada, tubuh Khalisa turut tertarik. Awalnya Khalisa nyaris jatuh ke pinggir, tapi dengan sigap kedua tangan Kenan menahan kedua lengan Khalisa.
Kedua mata Kenan dan Khalisa saling tatap. Jarak wajah mereka sungguh tak ada setengah jengkal. Mereka sampai bisa merasakan deru napas satu sama lain. Keduanya tampak jelas sama-sama khawatir. Selain kedua tangan Khalisa yang juga refleks berpegangan erat pada kedua lengan Kenan.
“Maaf ... maaf, sumpah enggak berniat gitu. Kok, hasilnya mirip pijat bar-bar di pinggir jalan India!” ucap Kenan yang malah jadi menertawakan dirinya sendiri.
Khalisa yang tahu apa yang Kenan maksud, juga jadi ikut tertawa. Mereka sama-sama tertawa. Hingga kebersamaan kini menjadi tawa pertama mereka.
“Kamu tahu juga?” tanya Kenan.
Khalisa yang berangsur menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mulut, mengangguk-angguk. “Selain kuliner dan klakson yang ada di sepanjang jalan, pijat refleksi bar-bar India memang sangat terkenal. Namun itu enggak cocok buat yang punya masalah jantung. Terlalu penuh kejutan soalnya!” ucapnya.
Berbeda dengan Khalisa yang sudah berhasil menyudahi tawanya, Kenan masih cekikikan.
“Baru kali ini aku lihat mas Kenan ketawa. Senyum saja nyaris enggak pernah, kan? Karena memang lagi bahagia, atau ada alasan lain?” batin Khalisa berangsur mengikuti tuntunan Kenan.
Khalisa turun dari tempat tidur dengan hati-hati. Luar biasanya, kakinya yang sempat terkilir, kini sudah bisa jalan. Kenan yang menyaksikan itu berangsur jongkok di hadapan Khalisa.
“Akhirnya ... kalau gitu, aku mandi dulu,” sergah Kenan.
“Aku siapkan makan malam dulu,” sergah Khalisa.
“Oh iya aku lupa. Ini kamu kelihatan jauh lebih sehat,” ucap Kenan. Karena kemarin malam saja, wanita di hadapannya sampai pingsan gara-gara tamu bulanan.
Khalisa tersenyum hangat. “Memang sudah mendingan, Mas. Tapi pas keluar gumpalan apa lagi deras-derasnya, ya tepar lagi.” Di hadapannya, Kenan langsung meringis ngeri menatanya.
Sekitar setengah jam kemudian, Kenan yang sudah mandi, datang ke dapur. Kenan menenteng kedua tasnya. Khalisa terjaga di dapur bersama Alesha dan ibu Arimbi. Namun, ibu Arimbi maupun Alesha langsung pamit.
“Habis minum obat?” ucap Kenan sambil melepas kepergian Alesha yang dituntun ibu Arimbi.
“Iya, Uncle. Uncle balu pulang kelja, mau makan malam, ya?” balas Alesha sopan sekaligus manja.
Alesha mau-mau saja menyalami tangan kanan Kenan dengan takzim layaknya tuntunan ibu Arimbi. Khalisa mengawasi sambil mencuci sendok dan gelas bekas Alesha minum.
“Mas makan saja, biar aku yang urus tasnya. Kalau ada yang basah, keringin pakai hair dryer saja kali ya. Apa, mau ditaruh di atas rice cooker saja?” Khalisa mengambil alih tas Kenan.
Kenan yang memang sudah sangat lapar, segera cuci tangan. Khalisa kembali membuatkan sup karena tenggorokan Kenan memang masih bermasalah.
“Aku pikir kamu masak soto lagi,” ucap Kenan. “Pulang kerja ada teman ngobrol dan sampai dimasakin,” batinnya yang memang belum berani jujur. Kenan takut, kejujurannya justru membuat Khalisa takut.
Kenan ingin, semuanya mengalir layaknya air. Hingga sebisa mungkin, ia mencoba membuat Khalisa nyaman. Sebisa mungkin memperhatikan sekaligus membuat Khalisa tak merasa kekurangan.
“Oh, Mas masih mau soto? Aku enggak tahu. Lagian takutnya Mas bosan, soalnya sudah dari kemarin menunya soto, kan?”
“Jadi aku sengaja masak sup karena tenggorokan Mas juga masih sakit. Tapi itu juga mirip soto sih Mas. Cuman ada wortel sama kentang, dan kaldunya dari daging sapi,” ucap Khalisa sambil sesekali menatap Kenan, meski kedua tangannya tengah mengelap jas hujan yang masih membungkus tas kerja Kenan.
“Ini pengalaman pertama, sudah hampir tengah malam masih temenin suami makan. Soalnya meski nyaris lima tahun menikah dengan papanya Alesha, beneran enggak pernah gini,” batin Khalisa yang baru saja meracik sup sapi buatannya menyerupai soto.
Kenan langsung menyukai masakan Khalisa. Yang membuat Khalisa tak percaya lagi, Kenan mengabarkan bahwa pria itu baru saja mendapatkan tender besar.
“Lokasinya di Bandung. Dua minggu lagi, proyeknya mulai digarap!” jelas Kenan bersemangat.
“Kalau sudah begini, kok rasanya seperti pasangan sesungguhnya?” batin Khalisa maupun Kenan nyaris di waktu yang sama.
Khalisa dan Kenan juga saling lirik. Lirikan yang lagi-lagi karena canggung. Kenan yang entah kenapa dengan sendirinya curhat. Sementara Khalisa yang merasa dianggap karena Kenan sampai mau cerita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Al Fatih
Kenzo,, awas yaa kalo kamu smpe bener2 mau mengkambinghitamkan kenan atas masalah keuangan d perusahaan mu yaa. Trus,, aq heran juga yaa,, ad yaa aturan keluarga yg bikin kasta utk anak kandungnya sendiri....
2024-06-18
0
Sarti Patimuan
Semoga pernikahan mereka berdua langgeng hingga maut memisahkan
2024-02-16
2
Firli Putrawan
y udah kenan sm kalisa aja
2024-01-24
1