Bella menenteng tas mahal warna putihnya dengan elegan. Tas mahal yang baru kemarin ia dapatkan dari Kenzo. Khalisa dan Alesha menjadi tujuan langkahnya. Bella melangkah dengan dua heels penuh tanah liat. Sebisa mungkin, ia melakukannya dengan hati-hati agar heels-nya tak terjebak lagi.
Di waktu yang sama, Alesha yang awalnya akan menoleh ke belakang, tak sengaja melihat wajah Bella. Alesha tak jadi menatap kakek neneknya dan juga Kenan yang masih di belakangnya.
Alesha langsung mengenali wajah Bella. Dunia Alesha seolah berhenti berputar, detik itu juga. Langit dunianya kembali hancur karena penyebab yang masih sama. Bella, wanita itu alasannya mengalami patah hati sekaligus trauma. Trauma yang membuatnya membenci Bella maupun Kenzo papanya.
“D—di—a! Dia bahkan di sini. Dia senyum begitu sambil menatap mamaku. Dia pasti sengaja dan akan menyakiti mama! Awas kamu!” batin Alesha.
Kedua tangan Alesha yang memang tak memegang apa-apa, refleks mengepal kencang di sisi tubuh. Meski usianya baru empat tahun, Alesha yang telanjur dendam, memiliki keinginan untuk membun.uh Bella. Apalagi jika Alesha ingat adegan video call-nya kepada sang papa. Alesha merasa, Bella pantas mat.i menge.naskan. Sementara untuk Kenzo, Alesha merasa, hukuman paling tepat untuk papanya itu melihat Khalisa bahagia bersama laki-laki lain. Sementara Alesha memilih Kenan sebagai orang itu. Orang yang bagi Alesha pantas bersanding dengan mamanya.
Alesha mencari apa yang kiranya bisa ia gunakan untuk meluka.i Bella. “Aku butuh pisau!” batinnya. Mata birunya langsung mengawasi sekitar.
Tidak ada pisau di sana karena di sana memang bukan dapur. “Ah! Jarum di bros bajuku bisa bikin kulitnya luka. Aku pura-pura lari dan enggak sengaja tabr.ak sambil dorong dia sekuat tenaga!” batinnya.
Tekad Alesha sungguh bulat. Alesha segera melepas brosnya. Tegang Alesha rasa dan sampai membuatnya gemetaran. “Satu, dua, ... go!” batin Alesha memberi aba-aba kepada dirinya sendiri.
Larinya Alesha sama sekali tidak Khalisa permasalahkan. Bagi Khalisa, itu sudah selayaknya anaknya lakukan karena mereka sedang liburan. Hanya saja, Khalisa memang tidak kenal atau sekadar tahu siapa Bella dalam hidup Kenzo.
Semuanya fokus dengan stroberi pilihan masing-masing. Keadaan di sana terbilang cukup ramai. Karena memang sedang ada lumayan banyak pengunjung. Bahkan karena mungkin memiliki pengunjung lumayan, buah stroberi di sana juga tidak banyak yang matang.
“Masih hijau-hijau,” ucap Khalisa yang sudah jongkok dan siap memilih. Sementara baru saja, Kenan sengaja jongkok di sebelahnya.
Pak Aidan dan ibu Arimbi sengaja mencari ke arah Alesha pergi. Keduanya sengaja melakukan itu sambil tetap mengontrol Alesha.
“Nih bocah ke sini ... dia enggak tahu saja bahwa aku, ... wanita kesayangan papanya!” batin Bella benar-benar pongah. Ia refleks tersenyum penuh kemenangan karenanya.
“RASAKAN INI!” batin Alesha sungguh menabra.k, membare.t tangan kiri Bella, kemudian mendo.rong Bella sekuat tenaga.
Bella langsung menjerit histeris. Apalagi, ulah Alesha sungguh sukses. Alesha langsung mundur sambil meminta maaf. Alesha bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Semua mata di sana juga sudah langsung tertuju ke sumber suara. Termasuk kedua mata Kenzo. Kenzo yang membawa sandal jepit, langsung mengenali Alesa meski jarak mereka masih sekitar dua puluh meter.
“Tidi mirip suara Bella, tapi kok yang di sana Alesha?” pikir Kenzo yang kemudian tak sengaja mendapati Khalisa maupun Kenan.
Barulah tak lama setelah itu, kedua mata Kenzo mendapati orang tua Khalisa. Padahal, jarak orang tua Khalisa lebih dekat dengan Alesha, ketimbang Khalisa dan Kenan.
“Sayang, kamu enggak apa-apa?” seru Khalisa langsung sigap menghampiri.
“Suaranya mirip, ... suara siapa, gitu? Namun aku yakin, aku kenal suara wanita tadi!” pikir Kenan yang jadi merenung serius. Alasan itu juga yang membuatnya tertinggal Khalisa.
Apa yang Alesha lakukan, benar-benar membuat Bella murka. Ia terbaring setelah sebelumnya terban.ting. Dan itu bukan di kasur empuk nan mahal, atau setidaknya tempat layak. Ia mengalami itu di tempat yang baginya terlalu menji.jikan. Yang lebih menjengkelkannya lagi, pelakunya justru Alesha.
“ARRRGGGGGGG! DASAR ANAK S.ET.AN!” Bella benar-benar emosi.
Sekali lagi, baik Kenan apalagi Kenzo, langsung mengenali suara Bella. Bahkan meski Bella belum menampakkan diri. Bella masih berusaha bangkit. Bella yang jadi terkena lumpur sekaligus tanah becek, buru-buru berdiri. Susah payah Bella melakukannya sambil menahan emosi sekaligus menahan jiji.k.
“Arrggg! Baj.ingan. Ibu dan anak sama saja. Sama-sama kampu.ngan. Mental-mental se.tan. Mental samp.ah!” raung Bella makin emosi setelah tahu tas mahalnya terkena tanah becek.
Bella tak segan menggunakan tasnya untuk memuk.uli Alesha. Ia melakukannya sekuat tenaga, menggunakan kedua tangan.
Tidak ada yang tidak syok, termasuk juga dengan Kenzo. Alesha memang sempat menghindar, tapi Bella layaknya orang kerasu.kan arwah jahat.
“B—Bell—la ...?!” Baik Kenzo maupun Kenan yang akhirnya melihat Bella, langsung syok.
Alasan Kenan dan Kenzo syok, tak semata karena Bella memuk.uli Alesha. Melainkan sikap Bella yang sejauh ini mereka kenal sangat manis sekaligus menggemaskan. Di mata mereka, Bella wanita idaman karena setahu mereka, Bella juga penyayang pada anak kecil maupun hewa.n.
Kenzo dan Kenan menatap tak percaya ulah Bella. Bedanya, ketika Kenan langsung maju, tidak dengan Kenzo. Kenzo justru sudah merasa tertang.kap basah.
“Bahaya ... enggak, ... untuk kali ini, aku enggak bisa!” Kenzo seolah dipaksa menelan buah simalakama. Padahal hampir semua orang di sana, berbondong-bondong menghampiri. Namun dirinya sebagai kekasih Bella, maupun papa biologis Alesha, tak bisa melakukannya.
Kenzo memilih sigap balik badan. Kenzo memilih lari, pergi dari sana.
Dalam sekejap, Khalisa meraih tangan kiri Bella, kemudian membuat tubuh se.ksi itu terbant.ing. Dada Khalisa bergemuruh. Khalisa tak terima, putri semata wayangnya yang bahkan tengah sakit kronis, justru jadi bahan amu.kan wanita urak.an seperti Bella.
Bella sudah langsung tidak bisa bersuara karena ulah Khalisa. Sementara Khalisa masih sangat emosi, napasnya saja jadi ngos-ngosan. Khalisa menggunakan kedua tangannya untuk merengkuh tubuh Alesha. Tubuh yang masih sangat kurus itu meringkuk di tanah. Bahkan saking kurusnya Alesha, sementara tadi Bella memu.kulnya sekuat tenaga, Khalisa takut tulang anaknya patah.
Kenan, termasuk orang tua Khalisa bukannya tidak menolong. Ketiganya sengaja memberi Khalisa kuasa penuh untuk memberi Bella pela.jaran.
“Bella. Kenapa dia ada di sini? Bukankah harusnya dia ada di luar negeri? Juga, ... kenapa harus Alesha? Kenapa dia sampai mengatai Alesha seperti tadi, seolah dia tahu siapa Alesha?” pikir Kenan. Ia langsung mengawasi suasana di sana. Ia mencari-cari sosok yang kiranya menemani Bella ke sana.
“Kalau tulang putri saya patah, bagaimana? Kamu mau tanggung jawab?” emosi Khalisa yang sudah mengemban Alesha.
“Dasar wanita jah.at! Kamu pantas mat.i!” kesal Alesha yang juga merasa sangat sedih. Ia mendekap erat tengkuk mamanya menggunakan kedua tangan. Selain itu, ia memilih membenamkan wajahnya di bahu Khalisa. Ia tak sudi melihat Bella lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Radi
duuh kok gak ketahuan Kenzo selingkuhin pelacur hina belekan sih
2024-04-04
1
Sarti Patimuan
Kedok Bella ketahuan oleh Kenan dan Kenzo
2024-02-16
2
Danny Muliawati
Bella ketahuan monster pura2 lembut d manis hmm ternyata utk morotin Kenzo tunggu yah
2024-02-04
0