“Mama tahu ini berat. Bahkan ini sangat berat. Namun, ... Alesha sungguh butuh kalian. Semoga dalam jangka setengah tahun ke depan, dan menjadi waktu Alesha wajib menjalani pengobatan, semuanya baik-baik saja.”
“Mama percaya kamu bisa. Namun bukan berarti kamu akan terus membiarkan dirimu terluka. Karena andai Kenzo kembali melukaimu, kamu harus bisa bersikap. Jangan sampai ada KDRT dan fitnah lagi.”
“Pelan-pelan Alesha pasti akan paham. Karena andai Kenzo berulah lagi, berarti dia memang enggak layak buat kamu maupun Alesha.”
“Anak memang sangat membutuhkan orang tuanya. Namun, yang benar-benar anak butuhkan ialah papa mama waras. Yang anak butuhkan itu, orang tua yang bahagia!”
Ibu Arimbi meyakinkan Khalisa sang putri. Di lorong depan PICU, kebersamaan itu terjadi. Khalisa yang berusaha bersikap tegar, mengangguk-angguk tanpa bisa menyudahi air matanya.
“Iya, Ma. Andai Alesha enggak kronis dan sekadar napas saja susah. Andai aku dan papanya bukan satu-satunya harapannya ....” Khalisa tak kuasa melanjutkan ucapannya. Hati ibu mana yang tidak hancur melihat keadaan anaknya yang awalnya sehat bugar, kini penyakitan dan tubuh hanya tinggal tulang?
Ibu Arimbi yang tak kalah sedih sekaligus berlinang air mata, juga mengangguk-angguk. Ia memeluk putrinya erat. Berharap melalui pelukan yang ia lakukan, ia bisa memberikan kekuatan sekaligus ketabahan, meski mungkin tidak banyak.
“Semangat!” ucap pak Aidan yang baru datang.
Pak Aidan yang tak lain merupakan papa Khalisa, menghampiri mereka sambil tersenyum hangat. Yang langsung pak Aidan tuju tentu Khalisa. Ia menghapus setiap air mata Khalisa menggunakan kedua jemari tangannya.
“Jangan terlalu dipikirkan. Hidup selalu harus dijalani. Andai Kenzo kembali melukai kamu, semuanya beneran siap memberi dia pelajaran. Yang penting sekarang kesehatan Alesha,” lembut pak Aidan.
“Sebenarnya dari dulu, aku maunya punya suami yang setidaknya sabar sekaligus bijaksana seperti Papa. Namun, baru merantau kerja ke Jakarta dan ternyata itu perusahaan mas Kenzo, mas Kenzo sudah langsung mencintai sekaligus mengejar aku ugal-ugalan. Mas Kenzo bahkan nekat menyusul aku ke kampung, ketika aku sengaja pulang kampung setelah menolak ajakan nikah dari dia!” batin Khalisa.
Ketika pak Aidan memboyong ibu Arimbi menemui Alesha, Khalisa sengaja memisahkan diri. Sebab di lorong kedatangan sana, Kenzo datang bersama seorang pria. Pria bertubuh jauh lebih tegap dan memiliki mata sendu mirip pak Aidan itu, Kenan.
Selama ini, Khalisa mengenal Kenan sebagai pribadi yang sangat pendiam. Kenan sangat berbeda dari keluarga Kenzo yang lain, yang memang aktif berbicara pedas. Malahan selain sangat pendiam, dirasa Khalisa, Kenan merupakan tipikal misterius. Ditambah lagi, meski sempat berstatus ipar, Khalisa juga nyaris tidak pernah berkomunikasi dengan Kenan. Sekadar mengobrol saja nyaris tidak pernah.
“Malam ini juga, kalian akan menikah. Namun, cukup lakukan seka—li ...?” ucap Kenzo mendadak diam karena Kenan menatapnya dengan tatapan tidak nyaman.
“Kamu sudah mengatakan itu sebanyak dua puluh empat kali!” ucap Kenan lirih.
Berbeda dengan Kenzo, suara yang keluar dari bibir berisi milik Kenan memang cenderung lirih rendah. Bagi mereka yang bermasalah dengan pendengaran, pasti akan makin bermasalah andai harus berhadapan dengan Kenan.
“Tenang. Karena ketimbang kamu, mamanya Alesha jauh lebih tertekan!” tegas Kenan.
“T—tapi ....” Kenzo yang merasa dirugikan sekaligus menjadi korban dalam hubungan mereka, kembali berusaha membela diri.
“Di sini yang jadi korban itu mamanya Alesha dan juga Alesha. Sudah deh, Ken. Jangan bikin bibirku berkata jahat. Kita fokus ke rencana kita saja!” tegas Kenan yang akhirnya jengkel juga.
Ketika Kenan menoleh ke depan, kedua mata sendunya tak sengaja mendapati Khalisa. Sejauh ini, ia benar-benar tidak pernah fokus menatap wanita yang pernah jadi iparnya itu. Kenan selalu melakukannya sekilas, itu saja benar-benar hitungan detik. Tentu Kenan memiliki alasan kenapa dirinya begitu cuek kepada iparnya sendiri. Karena selain dirinya yang sudah memiliki pujaan hati, Kenan sangat paham Kenzo sangat pencemburu.
Deg-degan dan sangat tidak nyaman, itulah yang Khalisa rasakan. Ia yang akhirnya sampai di hadapan Kenzo dan Kenan, sudah langsung digandeng oleh Kenzo. Seperti biasa, Kenzo kembali dengan sikapnya yang sangat posesif. Kenzo tak membiarkan Khalisa dekat-dekat dengan Kenan.
Kenan yang sudah paham, refleks menghela napas pelan. Ia menyimak perdebatan kecil antara Kenzo dan Khalisa. Khalisa mempermasalahkan sikap posesif Kenzo. Khalisa berharap Kenzo lebih bisa tenang.
“Setakut ini aku kehilangan kamu. Apalagi kamu akan berhubungan—” Kenzo belum sempat melanjutkan ucapannya, tapi Khalisa sudah menegurnya.
“Ijab kabulnya bisa besok saja, kan?” tanya Khalisa dengan suara lirih tapi penuh penekanan. Khalisa menatap saksama kedua mata Kenzo maupun Kenan, silih berganti. Namun, selain Kenan yang langsung bersin, Kenzo juga langsung menggeleng.
“Kalau hari besok, aku bisanya juga masih malam. Pagi-pagi sampai malam, jadwalku beneran padat,” ucap Kenan yang kembali bersin.
Balasan Kenan tentu membuat Khalisa tak memiliki pilihan lain. Selain Kenzo yang memang ingin semuanya serba cepat, khususnya hubungan Khalisa dan Kenan. Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, ijab kabul mereka akhirnya terjadi.
Kenzo memilih tidak hadir dalam ijab kabul Khalisa dan Kenan, meski acaranya berlangsung di mushola rumah sakit. Disaksikan oleh kedua orang tua mereka, dan menjadikan kedua sopir mereka sebagai saksi, pernikahan tersebut memang bersifat rahasia.
“Ya Allah, rasanya beneran bukan hanya tegang. Namun juga takut, ... malu! Bahkan aku merasa hi-na,” batin Khalisa.
Khalisa merasa sangat setre-s ketika akhirnya, kata Sah, Kenan dapatkan dari ijab kabul yang dijalani. Uang sebanyak satu juta rupiah, menjadi emas kawin yang Kenan berikan kepada Khalisa.
Kini, sekadar salaman dengan Kenan saja, Khalisa tidak memiliki keberanian.
“Enggak apa-apa, ... cuma sebentar,” lirih Kenan masih memperhatikan gelagat menyedihkan Khalisa.
Detik itu juga Khalisa refleks menatap kedua mata Kenan. “Nih orang beda banget dari yang lain termasuk, ... dari mas Kenzo,” pikirnya.
Detik berikutnya, Khalisa refleks terkejut lantaran Kenan menyalaminya secara paksa. Kenan sampai membuat Khalisa menci-um punggung tangan kanan Kenan dengan takzim. Namun setelah itu, Kenan benar-benar melepaskan Khalisa. Kenan kembali bersikap tenang menyimak wejangan penghulu di hadapan mereka.
Sementara itu di bangku tunggu depan ruang PICU Alesha dirawat, Kenzo terdiam lemas. “Mereka lagi ngapain, ya? Apakah mereka sampai ci...um...man?” pikir Kenzo belum apa-apa sudah merasa sangat sedih. Kenzo merasa jadi korban.
“Dretttt ... dreetttt.”
Getar tanda pesan masuk, mengusik ponsel Kenzo yang pria itu genggam menggunakan tangan kanan. Kenzo pikir, itu masih berkaitan dengan pernikahan turun ranjang antara Kenan dan Khalisa. Namun, ... benar-benar di luar dugaan.
Pesan masuk yang Kenzo dapatkan justru dari nomor baru. Namun baru melihat foto profil nomor tersebut dan merupakan wanita seksi nan cantik, dada Kenzo langsung berdebar-debar.
+628 : Lihat foto kita masih SMA, aku jadi makin kangen kamu. Masih ingat foto ini, kan?
+628 : Aku dengar, kamu sudah cerai?
+628 : Nikahi aku dong, kalau kamu beneran masih sayang aku, seperti pernyataan kamu satu bulan kemarin, pas kita enggak sengaja bertemu di club 😘😘😘😘
“Belllaaaa!” lirih Kenzo langsung bersemangat. Jiwanya bergejolak, dan ia mendadak merasa kembali ABG yang tertawan oleh rindu sekaligus hasr.at.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussemangat
2025-02-16
0
Bunda
apalah arti pengorbanan khalisa
2024-09-18
0
sherly
Kenzo beneran laki yg plin plan, egois, beneran membuat geraaam
2024-07-27
0