Hari ini Kara sudah bisa beraktivitas seperti biasa, keadaan nya sudah normal. "Duh hampir seminggu Kara tidak sekolah pasti banyak nih pr nya, " keluh Kara sambil memasukkan beberapa buku ke dalam tas nya.
"Non sudah siap? " tanya bi Anna.
"Belum bi, sepatu sama dasi Kara tidak tau kemana?" Kara kelimpungan mencari dasinya karena kemarin lusa ia asal menyimpan saja.
"Biar bibi cari nona, anda turun saja sarapan karena yang lain juga sudah menunggu anda, " ujar bi Anna.
"Yaudah Kara turun, makasih ya bi nanti kalo sudah ketemu Bibi letakkan saja di ruang tamu nanti Kara ambil, " ucap Kara sebelum keluar kamar.
Kara tidak turun menggunakan tangga, ia memilih menggunakan lift untuk menghemat tenaga.
"Selamat pagi semua, " Sapa Kara riang.
"Pagi Adek. "
"Pagi cantiknya Abang. "
"Pagi."
"Pagi sayang." Jawab mereka berbarengan.
"Sini biar Abang pangku, "panggil Gerald, Kara menurut saja.
" Abang suapin ya, "tawar Gerald, lagi lagi Kara mengangguk.
"Adek mau makan apa? "
"Kara mau nasgor sama telur mata sapi, " jawab Kara semangat.
"Okey princes, "
"Adek yakin Nak, mau sekolah? " tanya Mima khawatir.
"Kalo adek mau, Ayah bisa minta izin 1 hari lagi buat Adek istirahat, " sambung Ayah.
"Yakin Mima, tidak perlu Ayah, Kara udah sehat kok. " Jawab Kara dengan senyum manis untuk meyakinkan.
"Yasudah tapi, kalo ada apa apa langsung hubungin Ayah atau Abang Abang ya, " pinta Ayah.
"Siap Ayah," jawab Kara semangat.
"Semangat banget kayaknya, " goda Alvaro.
"Iya dong, Kara udah kangen banget sama teman teman Kara di sekolah, " jawab Kara antusias.
Mereka merasa senang karena Kara sudah lebih baik dan sudah akrab dengan mereka.
"Ayo ayah antar ke sekolah, " ajak Ayah sambil beranjak dari kursinya.
"Ayah ad-" ucapan Alvaro terpotong.
"Kara biar sama Ayah bang, " Sengaja Ayah ingin mengantarkan Kara, karena ada hal penting yang ingin di sampaikan di sekolah Kara.
"Ayah, Mima ikut. " Mima segera mengambil tas nya ke kamar.
"Yaudah Gerald sama bang Keenan berangkat duluan Ayah," pamit Gerald. Lalu beralih menatap Kara. "Abang berangkat ya, adik kecil. " Gerald mengecup kening Kara singkat.
Keenan pergi duluan, Keenan masih terlihat seperti biasa cuek meskipun dia peduli dengan Kara tapi, Keenan tidak menampakkan secara terang terangan.
Vero dan Alvaro berangkat sekalian dengan Ayah, Mima dan Kara ke sekolah.
Lapangan sekolah sudah sangat ramai seluruh warga sekolah di kumpul kan disana atas perintah Ayah. Tak lama keluarga Antonio datang. Semua menatap kaget karena Kara berada di tengah tengah mereka.
Ayah dan mima memegang tangan Kara untuk ikut naik punggung yang tersedia. Sedangkan Vero dan Alvaro tidak ikut naik.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi semua," ucap Ayah.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi tuan, " balas mereka serempak.
"Disini saya tidak ingin berbasa basi lagi, langsung saja saya perkenalkan putri bungsu saya CARAMEL STARLA ANTONIO, beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kabar putri saya mendapatkan cemooh dari kalian semua. Saya sengaja tidak memperkenalkan putri bungsu saya karena saya ingin ia sekolah dengan tenang tapi, kalian sudah sangat keterlaluan. Kali ini saya maafkan kalian semua tapi, bagi siswa atau siswi yang mendapatkan beasiswa terpaksa saya cabut. Kalo kalian mau kalian bisa teruskan dengan jalur pribadi atau prestasi. "
"Mungkin bagi kalian kami berlebihan tapi, bagi kami tidak ada yang berlebihan untuk putri kami. Hukuman itu masih ringan kalo kalian mengulangi kesalahan ini saya sendiri yang akan melaporkan kalian, " tambah Mima dengan nada tegas.
"Iya itu benar, sekian saja kalian bisa masuk kembali ke dalam kelas," ucap Ayah.
Mereka semua bubar, tatapan mereka ke Kara sudah melunak tidak ada tatapan permusuhan, tidak ada lagi tatapan sinis, hanya ada tatapan memuja.
Hati Kara sedikit tenang akibat klarifikasi ini.
"Adek ayo Nak, Mima antar ke kelas. " Kara mengangguk.
"Dimana kelas adek? " tanya Mima.
"Ada di ujung Mima, kelas mipa 2." Jawab Kara sambil melanjutkan jalannya.
Sekelas begitu heboh dengan kedatangan Kara apalagi Ave ia sudah berteriak sedari tadi. Tidak melihat kara selama 1 minggu serasa sudah 1 tahun.
"KARA AKHIRNYA LO BALIK JUGA, " teriak Ave kesenangan.
"KITA KANGEN TAU SAMA LO, " teriak Emy.
Mima tersenyum senang karena kelas anaknya di isi oleh teman yang baik dan mengharapkannya.
"Adek langsung masuk ya, Mima mau ke ayah lagi, " ucap Mima lalu mengecup kening dan pipi Kara dengan sayang.
Mereka yang melihat adegan itu merasa sangat iri, mima keliatan sangat tulus menyayangi Kara.
"KARA LO PELUK GUE, " Ave merentangkan tangannya minta di peluk. Kara tersenyum, lalu memeluk Ave erat. " Gue kangen lo ra, "lirih Ave di dalam pelukan Kara.
Kara melepas pelukan dan menghapus air mata Ave. "Gue juga kangen banget sama lo ve, " balas Kara.
"Selamat datang kembali nona Kara," ucap Adit dengan formal.
"Haha gak usah se formal itu kali dit, gue tetap Kara yang selama ini sama kalian, gak ada beda. " Jawab Kara.
"Tap-"
"Gak ada tapian lo semua panggil gue begitu, gue tonjok satu satu, " Kara mengerucut bibirnya lucu.
"Mau dong di tonjok pakai cinta nona Kara," goda Riko sambil mengedipkan sebelah matanya.
Kara menggeplak muka Riko menggunakan buku cetak dengan pelan. "Makan tu cinta, " Kara beranjak pergi ke tempat duduknya.
Yang lain tertawa melihat wajah Riko ternistakan.
Tak lama kemudian guru masuk kelas. "Assalamualaikum semua, " ucap bu guru.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab mereka dengan semangat. Kara mereka telah kembali bersekolah.
"Apa kabar Kara? " tanya bu guru basa basi.
"Alhamdulillah baik bu guru, " jawab Kara.
"Alhamdulillah berarti kamu bisa ikut dong ujian susulan minggu lalu bersama Tio, "
"Bisa-" ucapan Kara terpotong Tio.
"Aduh bu guru saya tidak sehat hari ini, perut saya sakit. " Tio memasang wajahnya seperti menahan sakit.
"Halah alasan aja teros kamu, " Tio mengganti mimik wajahnya kesel karena tidak dipercayai.
"Kapan bu saya bisa ikut? " tanya Kara.
"Sekarang aja yok ikut saya ke kantor dan kalian, saya harap senyap sebentar ya, ayo Tio jangan berpura pura lagi kamu, "ucap bu guru.
Dengan malas Tio mengikuti langkah Kara dan bu guru ke kantor. " Malang banget nasib gue, baru masuk udah disuruh ikut susulan aja, "gumam Tio lirih.
"Tio ambilkan dua soal dan kertas jawaban bawa kemari, kalian ikut di sini aja. " Bu guru dan Kara duduk di sofa depan kantor.
"Baik bu, "
"Setelah Kara ikut susulan langsung masuk kelas ya, karena takut ketinggalan materi lebih banyak lagi. " Saran bu guru
"Baik buk, " jawab Kara
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments