Bab 11

Vero pulang ke rumah dengan wajah bingung, ada apa tumben sekali ia di suruh pulang mendadak seperti ini. Pertama kali Vero membuka pintu mansion terlihat mima yang sedang duduk dengan Alvaro dengan mata sembab. Rasa takut mulai menyelimuti Vero. "Apa yang terjadi? " batin Vero bertanya.

"Lo di tunggu ayah di ruang kerja, " ujar Alvaro ketika melihat Vero berdiri di sampingnya.

Tak menunggu lagi, Vero segera pergi keruang kerja ayah yang berada di pojok dekat tangga ke dua.

Tok tok tok

Sebelum masuk Vero mengetuk pintu terlebih dahulu, takut menganggu ayah nya.

"Masuk, "

Mendengar itu Vero segera masuk ke dalam ruang kerja ayah. "Ada apa ayah manggil Vero? " tanya Vero penasaran.

"Jangan berdiri duduk didepan ayah, " ujar Ayah. Vero menurut ia duduk di depan ayah sesuai perintah.

"Sekarang kamu luapkan apa yang kamu rasakan selama ada Kara disini, ayo luapkan, maki maki Ayah ayo seperti kamu memaki putri Ayah, kamu harus bentak Ayah seperti kamu bentak putri Ayah, kamu harus hina Ayah seperti kamu menghina putri ayah. Ayo cepat, kenapa kamu malah diam? ini perintah cepat! KENAPA KAMU DIAM VERO? DIMANA KEBERANIAN KAMU TADI KETIKA KAMU MELAMPIASKAN EMOSI MU PADA KARA, KAMU MAKI MAKI DIA, KAMU HINA DIA, KAMU BENTAK DIA BAHKAN KAMU BILANG DIA ANAK HARAM. "Emosi Ayah meledak. Nafas nya naik turun.

" Ayah kecewa dengan kamu Vero, Ayah kecewa, Ayah tidak menyangka laki laki yang Ayah didik menyakiti hati seorang perempuan dan itu adiknya. Dia tidak bersalah Vero, Ayah dan bundanya yang bersalah, Ayah dan bundanya yang melakukan kesalahan tapi, KENAPA DIA YANG KALIAN LAMPIASKAN. Dimana hati nurani kamu Vero, Ayah tak percaya kamu bisa mengecewakan Ayah sedalam ini. KALO SAMPAI KARA KAMBUH LAGI KAMU DAN KAREL AKAN AYAH HUKUM DENGAN BERAT. Kamu tidak tau Vero perjuangan Kara untuk sampai dititik ini dengan penyakit mematikan terus menyerang tubuhnya. Belum lagi ia harus hidup dalam kebohongan selama 16 tahun. Tapi, dengan tega kalian menambah beban Kara hiks ... "Ayah menangis sambil memegang matanya.

" Kalo kamu tidak bisa menerima Kara sebagai adikmu tidak apa Vero, mulai hari ini kamu jangan lagi menganggu Kara dan Ayah akan memperingatkan Kara untuk tidak lagi mendekati mu atau menganggumu." Putus Ayah tegas.

" Ayah pikir kamu belum bisa menerima Kara tapi, ternyata kamu membenci nya. Hukuman mu akan segera Ayah putuskan, sekarang kamu keluar dari ruangan ini." Vero keluar dengan langkah lesu.

Ayah meminta maid untuk mengambil air putih untuk menenangkan pikiran nya yang sedang sangat panas akibat emosi yang di tahan.

Vero keluar dengan lesu. Ia segera pergi ke kamarnya untuk menenangkan diri. Ada setitik rasa bersalah di hatinya. "Tapi, tadi ayah bilang kalo sampai penyakit Kara kambuh lagi gue dan Karel yang bakal dihukum. tapi, kenapa Karel? apa dia juga membenci Kara? " Vero terus bertanya tanya sendiri.

"Karena Karel lah yang menyebar fakta kalo Kara adalah anak haram di sekolah. " Jawab Alvaro yang tiba tiba masuk ke kamar Vero.

Deg

Vero menatap Alvaro tak percaya. Bagaimana bisa Karel melakukan hal sekeji itu pada adiknya sendiri, meskipun berbeda ayah tapi, hubungan mereka lebih dekat.

"Lo ngga nyangka kan, setelah kita tinggalin Kara di halte tadi, Karel datang marah marah sama Kara dan mengaku siapa pelaku dari penyebaran berita itu, " jelas alvaro.

Vero melamun mengingat ulang kata kata yang dikeluarkan untuk Kara begitu menyakitkan, belum lagi ditambah oleh Karel. Ia beneran lupa kalo mereka harus menjaga pola pikir Kara.

"Gue harap perlahan lahan lo harus mulai menerima Kara ro, sudah cukup dia hidup menderita. Mari kita memberinya kebahagiaan. Ro, mima saja sanggup menerima Kara sebagai anaknya sendiri masa kita ngga? " Alvaro mencoba untuk meluluhkan Vero.

"Sekarang Kara mana? " tanya Vero.

"Kara lagi istirahat di kamarnya, "jawab Alvaro.

Dilain tempat

Bunda sedang sangat pusing dengan berkasnya dan sekarang ia sudah tidak bisa fokus karena terus kepikiran dengan Kara.

" Secepatnya aku harus bertemu dengan mereka, aku gak bisa biarin Kara mulai nakal seperti ini"batin bunda.

Bunda membereskan berkas berkas nya yang berserakan lalu membawa masuk kedalam ruang kerjanya.

"Bi, " panggil Bunda.

"Iya nyonya, " Bibi berlari terburu buru menghampiri bunda.

"Saya akan pergi kerumah Antonio, kalo nanti ada yang cariin bilang saja saya ke kantor ya, " pinta Bunda.

"Baik nyonya, "

Bunda tergesa gesa keluar dari rumahnya. "Pak antarkan saya ke rumah Antonio, " ujar Bunda pada supir.

"Baik nyonya, "

Beberapa menit kemudian mereka sampai di kediaman Antonio yang begitu megah.

Kara yang sedang termenung di jendela mendengar suara mobil bunda memasuki perkarangan mansion ini. Dengan semangat Kara turun ke bawah menyambut bunda. "Dek hati hati Nak, jangan berlarian di tangga. " Tegur mima yang baru saja keluar kamarnya.

Kara hanya memperlihatkan gigi rapinya.

"Bunda, " Kara berlari menghampiri Bunda yang baru saja masuk. Ia ingin memeluk Bunda tapi-

Plak

Bunda menampar Kara keras. "Bunda ngga nyangka, baru beberapa hari kamu tinggal disini kamu sudah berani bolos dan berani jalan jalan sama cowo ke laut," marah Bunda.

Belum sempat Kara membela diri, Mima datang dan berdiri di samping Kara.

Plak

"Dasar gak tau malu, ibu macam apa kamu Melati yang langsung menampar anaknya demi kesalahan yang belum di tentu di lakukan. Saya tau, kamu pasti sudah kehasut kan sama cerita yang di karang anakmu Karel, " ucap Mima marah.

"Mba jangan asal ya, Karel punya bukti tidak mengarang cerita, dan Karel menceritakan ini kepada saya karena dia sayang sama Kara, dia tidak mau Kara menjadi nakal. " Bela Bunda.

Kara menatap bundanya kecewa tak menyangka kalo sang bunda akan segitunya mempercayai Karel. "Wajar sih kan Karel anak Bunda bukan anak haram, " batin Kara miris.

"Sayang kamu bilang? sayang dari segimana yang kamu maksud Melati? Menyebarkan aib adik dan bundanya itu sayang? " tanya Mima.

"Maksud mba? " tanya Bunda tidak mengerti.

"Asal kamu tau Melati, anakmu Karel telah mempermalukan putri ku di sekolah dengan menyebarkan fakta bahwa dia adalah anak haram dengan maksud agar mental Kara hancur berakhir bunuh diri," ungkap Mima membuat Bunda tak percaya.

Deg

"Tidak mungkin mba, ini pasti ada salah paham tidak mungkin Karel seperti itu, K-karel begitu menyayangi Kara," Bunda berusaha untuk menyangkalnya.

"Terserah kamu Melati percaya atau tidak, intinya anakmu telah membuat mental putriku hancur. "

"PUTRIMU YANG KAU MAKSUD ADALAH PUTRI KANDUNGKU MBA, " teriak Bunda marah dengan air mata mengalir di pipi nya.

Mereka yang ada dirumah segera turun ke ruang tamu karena begitu berisik.

"Ada apa ini? " tanya Ayah baru datang.

"Kalo memang dia putri kandung mu, kamu akan percaya dengan Kara dan lagi Kara bolos sekolah bersama abangnya bukan sama pacarnya. Dan itu juga karena anakmu dan putra bungsu ku, " jawab Mima.

"Ada apa Melati? kenapa kamu ada disini dan membuat kekacauan disini? " tanya Ayah.

"Dia menuduh Kara nakal yah berakhir menampar Kara keras, " jawab mima dengan tampang datar yang tak pernah diperlihatkan nya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!