Bab 1

Sepulang dari sekolah bersama sang bunda, Kara segera masuk kamarnya. Ia terlalu cape setelah beraktivitas tadi di sekolah.

"Duh mau istirahat tapi, Kara laper mending Kara turun makan dulu deh, " gumam Kara sambil memegang perutnya.

Yang tadi nya buru buru, sekarang kara malah memelankan jalannya, setelah mendengar bunda menelpon.

"Iya mas aku masih dirumahku ini, " jawab Bunda.

"................. "

"Apa anak kita sakit? oke oke aku kesana sekarang. " Panik Bunda.

"........ "

"Iya aku akan menginap, nanti aku bilang sama Kara ada kerjaaan di luar kota, " tambah Bunda.

"........ "

"love you too mas. " Balas Bunda sambil mematikan sambungan telponnya.

Deg

Jantung Kara seperti dihantam oleh batu besar, Anak kita, mas, apa maksudnya ini semua?

Lutut Kara melemah, rasanya untuk menuruni tangga saja sudah tidak sanggup. Tapi, sebelum jauh ia harus menanyakan ini pada bundanya.

"Bunda," panggil Kara.

Bunda yang sedang duduk di kursi meja makan membalik badan terkejut. "Apakah Kara mendengar pembicaraan ku tadi? " batin Bunda takut.

"Iya sayang, sini duduk samping Bunda." Bunda bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa.

Kara menurut, ia duduk di samping bunda.

"Kara mau makan apa, Nak? " tanya Bunda.

"Kara ngga mau makan, Kara mau ngomong sama Bunda dulu, " jawab Kara dengan muka datar.

Mendengar itu bunda semakin yakin kalo Kara sudah mendengar pembicaraannya dengan suami baru.

"Mau ngomong apa, sayang? " Bunda berusaha tetap tenang.

"Apa yang Bunda sembunyiin dari Kara? " tanya Kara.

"Sembunyiin? Bunda ngga nyembunyiin apapun dari kamu."

"Gausah bohong Bunda, tadi Kara denger sendiri Bunda bilang anak kita? mas? Bunda nikah tanpa persetujuan Kara? " tanya Kara marah.

Bunda menghela nafas, sepertinya memang sudah waktunya Kara mengetahui. "Bunda ngga nikah tanpa persetujuan Kara, tapi Bunda sudah menikah sebelum adanya Kara. "

"Maksud Bunda? " tanya Kara tidak mengerti.

"Sebelum Bunda sama ayah Kara menikah, Bunda sudah menikah dan memiliki seorang anak laki laki atau abangnya Kara. Malam itu, Bunda ada kerjaan di kantor tapi, mendadak teman Bunda mabuk di salah satu bar, jadi mereka menelpon Bunda untuk menjemput teman Bunda itu. Sesampai disana ternyata Bunda dijebak bersama ayah kamu dan berakhir Kara ada. Karena Bunda tidak ingin Kara diejek ejek oleh teman teman nanti Bunda ajak ayah Kara menikah sirih, dan beliau pun menyetujui nya dengan syarat Bunda tidak boleh melarang ayah kamu pulang kerumah keluarga nya. Waktu itu suami Bunda menceraikan bunda untuk sementara agar bisa menikahi ayah Kara. Pada saat Kara berumur 12 tahun, Bunda kembali rujuk setelah bercerai dengan ayah Kara. "Penjelasan Bunda membuat air mata Kara tak bendung. Ternyata, ia adalah anak haram.

" Maaf Sayang, maaf jangan menangis seperti ini, Nak. Bunda tidak sanggup melihatnya bicaralah sayang," Bunda mengusap air mata Kara.

"Jadi, setiap Bunda bilang kalo Bunda mau ke luar kota itu, Bunda pulang ke suami Bunda? "tanya Kara, Bunda mengangguk lemah.

Air mata Kara semakin mengalir deras. "Kenapa kalian tidak pernah mau jujur sama Kara? hiks... apa Kara tidak berhak mengetahui ini semua? seandainya tadi, Kara tidak mendengar pembicaraan Bunda, Bunda tidak akan mengatakan juga, kan? " ucap Kara kecewa.

Ternyata, selama ini orang tuanya mempunyai keluarga masing masing. "Ini juga alasan kenapa ayah nggak pernah mau nginap disini? "tanya Kara lagi.

" Kenapa kalian jahat? hiks ... "Kara menangis menutup mata dengan dua telapak tangannya.

Bunda ingin memeluk Kara tapi, Kara menghindar lalu pergi masuk ke dalam kamarnya.

Drrrrrtttt

ponsel bunda kembali berdering ternyata, suaminya kembali menelpon.

" Iya mas sebentar lagi aku akan berangkat, "

".......... "

"Iya, katakan padanya aku juga begitu merindukan nya." Jawab bunda.

"......... "

"Iya, sampai jumpa love you too. "

Dada Kara begitu merasakan sesak mendengar percakapan mereka. Selama ini ia sudah menjadi orang terbodoh karena tidak mengetahui apapun tentang orang tuanya.

"Hiks ... hiks ... hiks ... " Kara menangis sambil memegang dadanya yang sesak.

Tok tok tok

"Keluar dulu, Nak. Bunda mau bicara atau Bunda izin masuk ya, " Tak ada jawaban dari dalam, Bunda memutuskan untuk masuk.

Terlihat Kara yang sedang menangis sambil memeluk lututnya di samping kasur.

Air mata bunda kembali menetes, ia telah melakukan kesalahan besar hingga putrinya seperti ini.

"Tolong tinggalin Kara sendiri Bunda, Bunda pergi saja gapapa, " ucap Kara tanpa melihat Bunda.

Bunda mengangguk mengerti. " Yaudah, Bunda tinggal ya ... besok Bunda sudah pulang. "Ucap Bunda lalu pergi.

Kara menatap punggung Bunda miris, ternyata dirinya bener bener di tinggalkan. Tangisan Kara semakin pecah bahkan ia tak segan segan menghancurkan barang barang disekitarnya.

"Kara jahat, kenapa Kara harus hadir jika membuat keluarga orang lain sedih? hiks ... Kara pembawa masalah, Kara anak haram hiks ..." Kara meracau tidak jelas.

"Maafin Kara ayah, bunda, gara gara Kara kalian harus bersatu, dan membuat keluarga kalian bersedih hiks ..." Kara menatap sekelilingnya, tatapannya jatuh pada sebotol obat sesak miliknya.

"Bunda maaf, kalo Kara salah mengambil jalan ini. Tapi, kalo Kara tidak pergi bunda pasti akan terus terikat dengan Kara," Kara segera meminum semua butir obat yang ada dalam botol itu.

"Maaf semua Kara pantas pergi dengan cara seperti ini. "Pandangan Kara mengabur, kepalanya berdenyut denyut sakit dan kegelapan mengambil kesadarannya. Mulut Kara mengeluarkan busa busa akibat overdosis obat.

Di rumah sakit, bunda duduk tidak tenang. Pikirannya terus dihantui Kara yang sedang marah dan sekarang ia merasa dada nya sesak, ada apa ini?

"Mas aku izin pulang sebentar ya, aku khawatir dengan Kara, " izin Bunda.

"Biar mas antar, sayang. " Tawar mas Aditya, suaminya bunda.

"Tapi, Karel? "

"Gapapa Bunda, Abang bisa kok tinggal sendiri, lagian disini ada suster yang bantu Abang nanti. " Ucap Karel sambil tersenyum menyakinkan.

Meskipun Kara menjadi alasan bundanya pergi tapi, percaya lah Karel sama sekali tidak membenci kehadiran Kara bahkan ia berharap Kara tinggal bersamanya agar ia bisa punya teman.

"Yaudah Bunda sama Ayah pergi ya, Nak. Bunda janji tidak akan lama." Bunda mengusap usap kepala Karel sebelum pergi.

Sepanjang perjalanan bunda tidak bisa tenang, pikirannya semakin kalut takut Kara kenapa kenapa.

"Bunda tenanglah, Ayah yakin Kara ngga kenapa kenapa, kamu berdoa saja semoga ketika kita sampai Kara sedang menonton tv seperti biasa. " Ayah Aditya menggegam tangan bunda untuk menangkan.

"Iya Ayah semoga, " balas Bunda.

Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai. Pintu utama tak terkunci, langsung saja bunda dan suaminya naik ke kamar Kara yang berada di lantai dua.

Tok tok tok

Bunda mengetuk pintu. "Sayang, bunda pulang, Nak. Buka pintunya sayang, " ucap Bunda tapi, tak ada jawaban dari pemilik kamar.

"Langsung buka aja bund, " ujar Ayah Aditya.

Bunda terkaget setelah membuka pintu, Kara sudah terbaring dengan mulut penuh dengan busa bahkan sudah bercecer di lantai.

Lutut bunda melemas, ia tidak bisa lagi berjalan, air matanya mengalir deras. "Ini semua salahku, andai saja aku tidak meninggalkan Kara sendiri an, mungkin ini tidak terjadi. " Ucap Bunda sambil menangis.

Ayah Aditya tidak menghiraukan bunda ia segera membawa Kara ke rumah sakit. "Ayo atau kita akan kehilangan Kara. "

Bunda memangku kepala Kara sedih, tangan Kara sudah dingin bahkan bibirnya sudah membiru.

"Cepat yah, Bunda gamau harus kehilangan Kara hiks ..."

Mereka sampai, ayah Aditya membawa Kara ke rumah sakit yang sama dengan Karel agar mudah dipantau.

"Dok tolong putri saya, dia overdosis obat." Ucap Ayah Aditya panik. Di ikuti bunda di belakang nya.

"Baik pak, tolong baringkan di brangkar, "jawab dokter.

Setelah di baringkan, Kara segera di tangani dan orang tua nya disuruh menunggu di luar.

" Ayah, Bunda takut hiks ... "Bunda memeluk suaminya.

" Tenang Bunda, kita berdoa yang terbaik untuk putri kita, " Bunda mengangguk. "Ohya, coba Bunda telpon Antonio memberitahu kan Kara masuk rumah sakit. "

"Tapi yah-"

"Bunda, Antonio ayahnya Kara, ia berhak mengetahui ini. "

Bunda segera menghubungi ayahnya Kara untuk datang ke rumah sakit.

Terpopuler

Comments

reza indrayana

reza indrayana

🤔🤔 blum ada titik terang nich...

2024-02-07

0

Kumbang 🐞

Kumbang 🐞

lebih mulia istri dirumah dari pada kerja, gak disangka dijebak lah, atau apalah,,,
jadi kara yg jadi korban...

2024-01-30

0

&-miss chan-&

&-miss chan-&

Kalo ada season 2 nya pasti langsung aku baca. Udah suka banget sama karakternya!

2024-01-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!