Kara sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, seluruh keluarga masih menunggu Kara sadar dari suntikan obat bius.
Tidak ada yang berbicara mereka sibuk dengan pikiran masing masing.
"A-ayah, " lirih Kara saat pertama kali membuka mata.
Mereka beranjak menghampiri Kara. "Sayang, ada yang sakit? " tanya Ayah.
"Sweetheart, katakan Nak, apakah masih sulit bernapas? " tanya Bunda. Kara mengangguk.
"Alvaro, panggilkan Gerald kesini. " Pinta Mima.
Kara hampir melepas masker oksigen nya tapi, keburu ditahan Keenan yang berada di samping Kara.
"Kara mau lepas ini, " ucap Kara.
"Jangan dulu ya dek, tunggu bang Gerald datang dulu." Balas Mima.
Tak lama Gerald datang bersama Alvaro dan seorang perawat. "Semuanya beri Gerald ruang untuk memeriksa Kara," pinta Gerald. Mereka mengerti langsung saja menjauh.
"Dek katakan pada Abang, ada yang sakit? " tanya Gerald lembut.
"Dada Kara sakit Abang, nafas Kara masih tertahan. " Jawab Kara pelan.
"Ada yang lain? " Kara menggeleng.
"Abang, Kara ngga mau pakai ini." Kara mencoba melepas masker oksigen miliknya.
"Yaudah Abang ganti pakai selang aja ya, untuk sekarang Adek masih perlu alat bantu pernapasan. " Kara mengangguk.
"Sus tolong ambilkan 1 inhaler dan obat dia atas meja saya, "pinta Gerald pada susternya.
" Baik dok, "suster itu pergi mengambil apa yang disuruh Gerald.
"Seperti ini lebih enak? " tanya Gerald setelah memasangkan selang oksigen dan melepas kan masker oksigen.
"Iya abang, " Kara beralih menatap keluarga nya satu persatu.
"Bunda ... " panggil Kara. Bunda segera mendekati Kara.
"Ini Bunda, Sayang. "
"Peluk Kara, Bunda. " Pinta Kara. Bunda memeluk Kara dengan lembut. "Putri Bunda kuat, putri Bunda pasti bisa melewati ini, berjuang ya sayang untuk Bunda dan yang lain." Bunda mengecup lama kening Kara.
"Dek sekarang minum obat dulu ya, biar nyerinya hilang. " Gerald memberikan Kara beberapa butir obat yang sudah di buka.
"Pelan pelan, sayang. "
Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tapi, tak ada satupun dari mereka yang merasakan kantuk. Kekhawatiran lebih mendominasi sekarang.
"Bang bawa mima kalian pulang, ini sudah sangat larut dia butuh istirahat, "ucap Ayah pada Alvaro.
" Gak mau yah, Mima mau disini temanin Adek," bantah Mima.
"Mima pulang saja besok Mima sini lagi, " bujuk Kara pelan. "Bunda juga pulang aja Kara biar sama Ayah yang disini, " lanjut Kara.
"Yaudah bunda pulang ya, Nak. Besok bunda kesini lagi. " Bunda mengecup kening Kara lalu pergi pulang.
"Papa pulang ya, Nak. Cepat sembuh. " Papa mengelus lembut rambut Kara.
"Yaudah, Mima juga pulang ya dek," Mima memeluk Kara singkat.
Kini tertinggal bertiga dengan Keenan yang sibuk dengan laptop nya di sofa.
"Adek bobo lagi, Nak. " Kara mengangguk.
Pagi hari ketika terbangun Kara sudah tidak lagi melihat ayah dan abang Keenan, sekarang hanya ada mima yang berganti posisi mereka.
"Eh sayang nya Mima udah bangun, " Mima segera mendekat. "Mau makan sayang? " tanya Mima.
"Boleh Mima tapi, Kara cuci muka sama sikat gigi dulu boleh? "
"Tentu princes, ayo Mima gendong." Kara membulatkan bola matanya ketika mendengar mima ingin menggendong nya.
"No Mima, Kara berat Mima jangan."
Mima terkekeh. " Mimamu ini kuat sayang, ayo biarkan Mima menggendong mu sweet. "Balas Mima lagi.
" Ndak mau, Kara mau jalan saja, Kara kuat kok. "
Tidak mendengarkan Kara mima segera menggendong Kara. "Huwa Mima, " kaget Kara. Mima tertawa melihat wajah kaget Kara.
"Se ringan ini kok di bilang berat, " mendengar itu Kara mengerucut bibirnya lucu.
Setelah dari kamar mandi Kara kembali ke ranjang. "Mima, Kara mau di suap Mima boleh? " Kara mencoba untuk bermanjaan dengan mima, meskipun hatinya merasa tidak enak.
"Dengan senang hati sayang. " Mima mengambil mangkuk yang berisi bubur yang disiapkan oleh pihak rumah sakit.
Kara menelan nelan bubur itu dengan susah, apalagi ia kembali di pakaikan selang oksigen karena pernapasan nya masih susah.
Hati mima merasa begitu bahagia, Kara mulai bermanja dengan nya dan mima sangat senang akan hal itu.
Perut Kara mulai tidak enak, perutnya seperti bergejolak ingin mengeluarkan isinya mulai dirasakan Kara. Tapi, ia masih tetap menerima suapan bubur dari mima.
Huek
Kara mengeluarkan isi perut tanpa aba aba, hingga seluruh pakaiannya dan tempat tidur terkena rata. Mima terkejut segera mengambil wajan yang tersedia di bawah kasur.
"Sini Nak, muntahkan lagi, " ujar Mima. Kara kembali mengeluarkan isi perutnya.
"Hiks Mima hidungnya perih, " Kara menangis.
"Masih mau muntah? " tanya Mima, Kara menggeleng.
"Ayo sini kita ke kamar mandi ganti baju, biar kasurnya di bersihkan oleh suster. "
Setelah berganti baju Kara terbaring lemah di tempat tidur.
"Ma, biar Gerald periksa dulu ya, " Gerald mendekati Kara yang kembali nge drop.
"Adek dengar Abang," Kara mengangguk tapi, matanya tertutup.
Khawatir kini di rasakan oleh Gerald tapi, dia harus setenang mungkin mengendalikan rasa khawatir nya.
"Sus suntikkan obat ini ke dalam ke selang infusnya, " Gerald memberikan suster itu sebuah suntikan yang sudah di isi dengan obat.
"Bagaimana bang kondisi adek? "
"Mima tenang, kondisi Kara mulai membaik kok. " Jawab Gerald menenangkan.
"Syukurlah lega Mima rasa. "
"Iya nanti kalo ada keluhan lagi mima panggilkan Gerald ya, "
"Iya Nak. "
Beberapa hari kemudian, keadaan Kara semakin membaik bahkan sudah dapat di katakan normal. Hanya saja pola makan dan pola pikiran masih harus di jaga.
"Adek langsung ke kamar aja ya, " ujar Ayah. Kara mengangguk.
"Sekarang adek istirahat nanti siang mima bangunkan untuk makan siang ya. " Kara kembali mengangguk.
Ayah menggendong Kara ke kamar dan meletakkan Kara di atas tempat tidur. "Mau Ayah temanin? " tanya Ayah.
"Boleh Ayah," Ayah merebahkan tubuhnya di samping Kara.
"Nak, boleh Ayah minta sesuatu? "
"Apa itu Ayah? "
"Ayah minta sama Adek tolong jaga pola pikiran Adek, jangan bebani pikiran Adek dengan hal yang membuat Adek sakit. Ayah tau, Adek belum bisa menerima kenyataan ini tapi, Ayah gak bisa mengubah keadaan ini dan tidak mungkin bisa Ayah ubah. Maafkan ayah dek, di sini Ayah dan bunda yang bersalah, Adek sama sekali tidak bersalah mungkin kehadiran Adek memang karena kesalahan tapi, kelahiran Adek adalah yang paling di tunggu tunggu oleh semua orang. "
"Iya Ayah, "
"Belajar ikhlas ya Nak, sama takdir yang tidak bisa kita ubah. " Kara mengangguk.
"Iya Ayah," jawab Kara. "Gimana Kara mau ikhlas Ayah, kalo sekarang Kara menjadi ejek ejekan teman teman, rasa sakit itu kembali hadir Ayah, meskipun Kara bersikap baik baik saja tapi, nyatanya Kara rapuh Ayah." Batin Kara menangis sembari menutup mata nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments