Malam hari, keluarga Antonio makan malam bersama seperti biasa. Belum ada yang membuka pembicaraan mereka masih sibuk dengan makanan masing masing.
"Keenan gimana perusahaan timur? " tanya Ayah memulai pembicaraan.
"Sejauh ini baik Ayah, tidak ada penurunan atau kesalahan apapun. " Jawab Keenan masih sibuk dengan makanannya.
"Bagus pertahankan, Gerald kamu gimana di rumah sakit? "
"Seperti biasa Ayah, pasiennya sangat banyak bahkan jadwal ku mengoperasi semakin menambah, " keluh Gerald.
"Tetap semangat, itu sudah resiko kamu menjadi dokter." Jawab Ayah.
"Bener kata Ayah bang, jangan mengeluh tetap semangat Mima yakin Abang bisa melakukan itu, " tambah Mima.
"Dan kalian bertiga gimana di sekolah? " tanya Ayah sambil menatap mereka bergantian.
"Baik Ayah seperti biasa, " jawab Vero mewakili kembarannya.
"Adek? " tanya Ayah karena Kara tak kunjung menjawab.
"Eum baik Ayah, " jawab Kara ragu. "Maaf bunda kali ini Kara sudah berbohong. " Batin Kara.
"Beneran? tidak ada yang mengganggu adek kan di sekolah? kalo ada bilang saja sayang, jangan takut. "
"Bener Ayah, sekolah Kara baik, gak ada kok yang mengganggu Kara semua baik sama Kara." Kara menjawab sambil tersenyum meyakinkan.
Alvaro dan Vero saling menatap satu sama lain. "Kenapa Kara tidak mengadu, " pikir mereka.
"Dek, kalo ada apa apa jangan sungkan ya cerita sama Mima, Mima ini juga ibu Adek walaupun bukan ibu kandung tapi, Mima udah Adek anggap seperti putri kandung Mima sendiri," ucap Mima sambil mengelus elus rambut panjang Kara.
"Iya Mima, " jawab Kara.
"Permisi nona muda, ini ada telpon dari nyonya Melati untuk anda, " Seorang maid memberi telpon kepada Kara.
"Iya mba terima kasih ya, Mba." Ucap Kara.
"Semuanya Kara sudah selesai makan, Kara izin ke kamar ya, sekalian mengangkat telpon bunda. " Izin Kara.
"Silahkan sayang. "
"Alvaro ke kamar juga, ada tugas yang belum selesai. "
Kara segera beranjak pergi ke kamarnya, ia memilih duduk di kursi balkon sambil menikmati suasana malam.
"Ya, hallo Bunda. " jawab Kara
"........ "
"I miss you too, Bunda. "
"....... "
"Bun mereka sangat baik sama Kara, bahkan mima juga sangat sayang sama Kara, Bunda tau waktu mima pulang kerja Kara yang pertama di cari mima. " Cerita Kara.
Tanpa menyadari kalo Alvaro berada di balkon kamarnya juga yang bersebelahan dengan Kara.
"....... "
"Iya Bunda mereka sangat sayang sama Kara."
".......... "
"Boleh, nanti Kara bilang sama ayah, kalo besok pergi sama Bunda. "
".......... "
"Iya Bunda, Bun besok tolong peluk Kara yang lama ya, Kara pengen di peluk Bunda,"
"...... "
"Gada papa kok Bunda, Kara gak ada masalah, di sekolah juga gak ada, Kara cuma lagi pengen dipeluk Bunda aja. " Jawab Kara.
"........ "
"Iya Bunda, selamat malam juga." Kara mematikan telponnya.
Air mata Kara menetes."Kara hanya gak mau buat bunda khawatir," batin Kara.
" Kenapa? "tanya Alvaro dari sebrang. Sedari tadi ia mendengar pembicaraan Kara dengan bundanya tapi, tetap saja Kara tidak mengatakan kejadian di sekolah.
" Bang Al, "Kara begitu kaget karena tak menyadari kalo Alvaro berada di sebelah nya.
"Kenapa lo nggak bilang lo di hina hina warga sekolah?" Alvaro mengulang pertanyaan nya.
Kara terdiam sejenak."Eum, karena Kara gak mau mereka khawatir dengan Kara. Apalagi kalo bunda tau bunda akan merasa sedih, Kara gk mau itu terjadi. "
"Sampe kapan lo akan dengar mereka mengejek ejek lo? " tanya Alvaro kesel.
"Sampai di mana mereka akan cape sendiri karena Kara tidak meladeni mereka, Abang. " Jawab Kara dengan pandangan menatap bintang yang bersinar di langit.
Alvaro tak lagi membalas, ia memilih pergi masuk ke dalam kamarnya. Alvaro memilih untuk menangani masalah Kara.
"Halo jack, gue mau lo bungkam kan mulut warga sekolah yang menghina adik gue, " setelah menghubungi anak buah andalannya, Alvaro segera mematikan telpon tanpa mendengar jawaban dari sebrang sana.
Kara masih tetap duduk menikmati semilir angin yang menerpa wajah cantiknya. Bintang dan bulan bersinar indah di atas langit, cahaya nya mampu menerangkan alam yang gelap.
"Kenyataan pahit ini membuat Kara terus kepikiran ya Allah, maafkan Kara, karena Kara belum bisa menerima kenyataan Kara adalah anak haram. " Setetes air mata kembali membasahi pipi Kara.
"Adek, " panggil Ayah.
"Ayah, " Kara segera menghapus air matanya.
"Maaf dek, " ucap Ayah sambil berlutut di depan Kara. "Ayah minta maaf, " Kara ikut terjatuh didepan Ayah.
"Jangan seperti ini Ayah hiks... "
"Ayah sangat merasa bersalah dek, gara gara Ayah adek harus melewati kehidupan seperti ini, tolong maaf kan Ayah, Nak. "
Kara memeluk ayahnya erat. "Hiks ... hiks ... " Tangis Kara pecah dalam pelukan Ayah, beban beberapa hari ini yang ia tanggung begitu berat.
"Keluar kan semua nya dek, Ayah tau beban yang adek bawa begitu berat, berbagi dengan Ayah dek, Ayah selalu disini untuk Adek. " Ucap Ayah sambil menenangkan Kara.
"Hiks ... hiks ... hiks ... A-ay-ayah s-ses-sesak hiks ... " Kara memegang dadanya sakit.
"GERALD, " teriak Ayah keras. Lalu menggendong Kara ke tempat tidur.
Mendengar teriakan Ayah, mereka bergegas ke kamar Kara dengan langkah terburu buru.
Brak
"Kenapa Ayah? "
"Kara, " panik mima melihat Kara memegang dadanya dan kejang kejang.
"Yah bawa ke rs aja, peralatan Gerald di rumah sakit semua." Ucap Gerald.
Dengan gerakan gesit Keenan yang berdiri di samping Kara segera membopong ke mobil, di ikuti yang lain di belakang nya. "A-abang dada K-kara ses-sesek, "lirih Kara hampir tak terdengar.
Keenan tak memperdulikan lirih Kara, ia terus menggosok gosok telapan tangan Kara yang dingin.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit. " Sus tolong adik saya, "Keenan meletakkan Kara di salah satu brangkar.
"Baik tuan dokter akan segera menangani tapi, saya mohon anda keluar, biar kami bisa lebih fokus dalam memeriksa pasien. " Jawab suster. Tanpa membantah Keenan keluar dengan berat hati.
Dari ujung koridor terlihat bunda yang berlari tergopoh gopoh menghampiri yang lain. Ini alasan kenapa setelah menelpon Kara hatinya tak kunjung membaik.
"Tuan, mbak bagaimana keadaan Kara? " tanya bunda yang datang bersama suaminya.
"Masih diperiksa mel, maaf." Ucap mima menunduk.
"Gak perlu minta maaf mba, Kara memang memiliki riwayat asma tapi, sudah lama tidak kambuh. Mungkin ini karena Kara banyak pikiran makanya, asma nya kembali kambuh. " Jelas Bunda.
"Bener, Kara banyak pikiran. Ia sering melamun akhir akhir ini, beberapa kali kepergok Kara sedang melamun dengan air mata mengalir di pipi nya. " Sambung Ayah.
Gerald keluar dari ruang UGD.
"Bang gimana keadaan anak Ayah? " tanya Ayah khawatir.
"Kara punya riwayat asma yah, dan asma yang dimiliki Kara sudah di tahap akut. Pemicu dari asma sendiri salah satunya banyak pikiran, Gerald sarankan untuk kita lebih menjaga pola pikiran Kara agar asmanya tidak sering kambuh atau akibatnya akan fatal." Jelas Gerald dengan lesu.
Mima menutup mulutnya shock, Vero segera mendekap mima. "Yang tenang ma, Kara pasti akan sembuh, " ucap Vero menenangkan.
Tak jauh berbeda dengan bunda, ia sedikit mengintip dari luar jendela UGD. "Anak bunda kuat kan, Bunda mohon Nak. Tolong bertahan ya, Kara harus berjuang demi keluarga Kara dan demi Bunda." Ucap Bunda sedih melihat Kara harus memakai beberapa alat bantu pernapasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments