Ayah Kara datang dengan terburu buru bersama istrinya. Bagaimana pun Kara adalah darah daging nya.
Terlihat bunda dan ayah Aditya sedang menunggu di kursi tunggu depan UGD.
"Melati, apa yang terjadi pada putri ku? " tanya Ayah Antonio marah.
"Maaf tuan, Kara sudah mengetahui semuanya apa yang terjadi selama ini. Mungkin Kara tidak menerima berakhir dengan overdosis seperti ini, " jawab Bunda takut takut.
"APA OVERDOSIS? KAMU TIDAK MENJAGANYA? " bentak Ayah Antonio marah.
"Maaf tuan, tadi saya pergi ke rumah sakit karena putra saya juga sakit, " jawab bunda.
Ayah Antonio menghela nafas nya pelan. "Setelah Kara sembuh, hak asuh Kara akan saya ambil. Lebih baik Kara tinggal sama saya. "
Bunda terlihat marah ketika mendengar ucapan ayah Antonio. "Tidak bisa, Kara akan selamanya bersama saya, hak asuh Kara sama sekali tidak bisa kamu ganggu gugat. " Peringat Bunda dengan tegas.
"Kenapa tidak bisa? setelah ini, saya yakin Kara akan mau ikut tinggal bersama saya, Melati. "
Perdebatan mereka terhenti saat pintu UGD terbuka.
" Dokter bagaimana keadaan putri saya? "tanya Ayah Antonio.
" Alhamdulillah sudah membaik tuan, meskipun tadi denyut nadi nya sempat melemah. Tapi, saya sarankan untuk tidak jenguk sebelum dipindahkan ke kamar rawat inap demi kenyamanan pasien. Kalo begitu saya permisi," jelas dokter.
"Iya terimakasih dokter. "
"Sama sama. "
Selang beberapa menit, brangkar Kara di didorong ke kamar rawat inap, Kara masih belum sadar karena pengaruh obat.
"Nyonya, tolong siapapun yang jaga pasien untuk tidak membiarkan pasien sendiri an, takut nya hal yang tidak diinginkan kembali terjadi. "Pinta suster pada keluarga Kara.
" Iya baik suster. "
"Kalo begitu saya pamit tuan, nyonya. "
"Iya silahkan. "
Ayah Kara mendekati Kara."Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak ada di sampingmu disaat kamu membutuhkan Ayah. Ayah berjanji, setelah ini Ayah akan terus bersama Kara dan membuat Kara bahagia. Cepat sadar putri kecil Ayah. " Ayah mengecup punggung tangan Kara berkali kali.
Beberapa hari kemudian, Kara sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, keadaannya sudah cukup baik.
"Ayo sayang, kita pulang. " Kara tidak menjawab ia hanya mengikut saja. Memang setelah sadar dari overdosis kemarin Kara menjadi lebih pendiam dari biasanya.
Diperjalanan pulang Kara hanya menatap keluar jendela. "Kenapa aku ngga mati aja kemarin? apakah obatnya kurang? " batin Kara.
Bunda tersenyum sedih melihat perubahan Kara, ini alasan mengapa dirinya tidak pernah siap untuk menceritakan segalanya kepada Kara.
Begitu mereka sampai dirumah, Kara dan bunda disambut oleh seorang wanita paruh baya.
"Ibu sama non Kara sudah pulang, " basa basi wanita itu.
"Iya bi, ohya sayang ini bi Timah beliau bekerja di rumah kita mulai kemarin, Bunda sengaja mempekerjakan bi Timah agar Kara tidak kesepian saat Bunda bekerja. "
"Kara cape mau istirahat. "Kara segera berlalu dari hadapan mereka.
" Maaf ya bi, Kara sebenarnya anak yang baik. Tapi, karena kesalahan saya kemarin Kara jadi seperti ini,"ucap Bunda yang tidak enak dengan bi Timah.
"Tak apa bu, saya mengerti dan semoga ibu dan non Kara cepat berbaikan. "
"Iya terimakasih bi, saya ke kamar dulu ya... bibi kalo cape istirahat saja jangan terlalu dipaksakan, " ucap Bunda sebelum pergi.
"Majikan saya begitu baik, " gumam bibi.
Di kamar, Kara termenung beberapa saat. Ia kembali mengingat kebenaran yang di katakan bunda.
Drrrrttt
Ponsel Kara bergetar tertera nama Ave di layar.
"HALO RA LO KEMANA AJA HAH? UDAH NGGA SEKOLAH, TELPON GUE JUGA NGGA PERNAH LO ANGKAT, LO KEMANA?" teriak Ave marah dari sebrang sana.
Reflek Kara menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Besok di sekolah gue ceritain semuanya. " Belum sempat Ave menjawab, Kara sudah mematikan sambungan telpon nya.
Pagi hari, Kara kembali masuk sekolah dianter oleh bunda seperti biasa. Hari ini Kara sedikit terlambat karena harus putar balik ada berkas bunda ketinggalan.
Sesampai di gerbang sekolah, tanpa berlama lama kara segera turun setelah berpamitan singkat pada bunda.
Tringggg
Bel masuk berbunyi, Kara semakin mempercepat langkahnya.
Bruk
Tanpa sengaja, Kara menabrak seseorang yang berjalan melawan arah dengannya.
"Maaf maaf gue ngga sengaja, " ucap Kara panik. Orang itu mengambil beberapa buku yang di pegang Kara jatuh.
"Eh Kara, " kaget Karel melihat yang ditabrak adalah adik tirinya.
Deg
"Kak Karel, " gumam Kara. Ia sudah mengetahui bahwa Karel kakak tirinya. "Maaf kak, Kara tidak sengaja permisi. " Setelah mengucapkan itu Kara melenggang pergi.
Begitu juga dengan Karel, ia tidak terlalu memperdulikan Kara, karena sangat keliatan Kara tidak terlalu menyukai nya. Jadi, buat apa berbaik sama orang yang ngga mau dibaikin. " Pikir Karel.
"Duh telat nih pasti, " gumam Kara. Dengan tangan gemetar Kara mengetuk pintu kelas. Pasal nya guru sudah memasuki kelas.
Tok tok tok
Guru itu membuka pintu kelas. "Karena pertama kalinya kamu telat saya tolerir, silahkan masuk. " Ucap Pak Ali tanpa berbasa basi.
"Baik, terimakasih pak, " Kara masuk kelas dengan lega.
"Nanti istirahat lo harus ceritain semua nya sama gue, termasuk kenapa lo telat pagi ini." Ucap Ave pelan tapi, tetap fokus ke depan.
Kara hanya menghela nafas pasrah.
Jam ngajar mengajar berjalan lancar seperti biasa hingga bel ber bunyi.
Tringggg tringggg
"Sekian pelajaran kita hari ini, sampai jumpa minggu depan. " Pak Ali membereskan buku buku nya lalu keluar dari kelas.
"Ayo ke kantin cacing gue udah demo nih, " Ave segera menarik tangan Kara untuk ke kantin bersama.
Di kantin belum terlalu ramai, karena ada sebagian murid ada kegiatan di aula.
"Lo duduk di meja dekat pojok, biar gue pesen," Ave segera pergi memesan.
Kara duduk menunggu Ave bosan, tadi ponsel nya ketinggalan karena ke buru di tarik oleh Ave.
Tak lama kemudian Ave kembali dengan nampan makanan di tangannya. " Tada makanan datang." Heboh Ave sembari meletakkan makanannya.
"Makasih ve, " ucap Kara.
"Apapun untuk besti gue yang tercinta dan yang tersayang ini. "
Mereka mulai makan dengan tenang.
"Ra ayo ceritain apa yang terjadi beberapa hari kemarin. "
"Gue gak tau ve mau cerita dari mana, " ucap Kara sedih.
"Dari pertama kejadian sampai pagi ini. "
"Lo inget ngga hari terakhir gue sekolah? " Ave mengangguk.
"Sepulang dari sekolah gue-" cerita mengalir begitu saja, tanpa berlebih dan berkurang.
Ave menatap kasihan Kara, tidak menyangka kalo hidup sahabatnya selama ini sangat sakit. Reflek Ave memeluk Kara sambil meneteskan air matanya.
"Lo kuat ra, gue tau itu plis gue mohon sama lo jangan lakuin hal terbodoh itu lagi hiks ... gue gak mau kehilangan lo ra, walaupun lo cuek. Tapi, lo adalah sahabat terbaik yang pernah berteman sama gue hiks... "
Kara tersentuh ternyata, Ave yang selama ini sangat menyebalkan sangat menyayangi nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Kumbang 🐞
kalo keluarga udah engga bisa jadi tempat pulang, teman bisa jadi tempat berteduh
ceritanya bagus thor
2024-01-30
2
RinSantorski
Dari awal sampai akhir, cerita ini membuatku terkesima. Bagus banget thor 👌
2024-01-09
1