Bab 4

Kara segera ditangani oleh Gerald, anak ke dua ayah Antonio yang berprofesi sebagai dokter.

"Gimana Gerald kondisi, Kara? " tanya Bunda khawatir.

"Magh Kara kambuh tante, sepertinya Kara belum makan nasi tadi siang. Ini perut nya kosong. " Gerald menepuk nepuk pelan permukaan perut Kara.

Bunda menutup mulutnya menangis, ia kembali gagal menjaga Kara.

"Kamu lihat kan Melati, memang sudah sepantasnya Kara bersama saya. Tapi, dulu kamu bersikeras untuk merawatnya. Lihatlah sekarang putri kecil ku sudah terkena magh, " ujar Ayah marah.

"Maaf tuan, maaf saya lalai dan sekarang saya ikhlas Kara bersama anda, hmm ... Nyonya Sera, saya titip kan putri saya, saya mohon sayangi dia seperti anak anda sendiri, " pinta Bunda sama Mima.

"Melati jangan seperti ini, kamu tidak perlu memohon tanpa kamu menyuruh, saya sudah dari dulu begitu menyayangi Kara. Dan kamu tau kan saya sangat menginginkan anak perempuan Tapi, saya sudah tidak bisa punya anak lagi. Terkadang saya bersyukur atas kesalahan ini saya bisa mendapatkan putri walaupun bukan dari rahim saya. "Balas Mima sambil menatap Kara tersenyum.

"Terimakasih nyo-"

"Cukup panggil aku mba saja, jangan terlalu formal Melati, " potong Mima sambil mengelus pundak Bunda.

"Terimakasih mba, " Setelah itu Bunda dan keluarga nya pulang.

Ayah duduk di samping Kara. "Sayang, putri Ayah, " panggil Ayah sembari mengelus lembut rambut Kara.

Tangan Kara bergerak, matanya mengerjap beberapa kali. "Ayah ... " Gumam Kara hampir tak terdengar.

"Iya adek, Ayah disini, Sayang. " Jawab Ayah.

"Ayah, biar Gerald periksa lagi, " Gerald mengambil peralatan nya dan memeriksa Kara kembali.

Kara menatap Gerald takut, bahkan ia tidak melepas genggaman tangan Ayah nya.

"Adek gapapa sayang, ini Abangnya Kara juga. Jadi, gausah takut okey, " ujar Gerald lembut sembari terus memeriksa Kara.

"Okey, " jawab Kara pelan.

"Ini keadaan Adek udah membaik tapi, Adek harus makan jangan biarkan kosong perutnya, Adek punya magh, Sayang. " Jelas Gerald.

"Sekarang Adek makan ya, biar Mima suapkan, " Mima mendekati Kara dengan sepiring nasi di tangannya. Mima menyuapi Kara dengan telaten, sambil sesekali mengusap bibir Kara yang terkena noda.

"Sudah habis, pinternya anak Mima, " puji Mima. Lalu memberikan Kara segelas minum putih.

"Ini obat yang harus Adek minum. " Gerald memberikan Kara beberapa butir obat.

"Abang, boleh tidak kalo Kara tidak usah minum obat?" cicit Kara pelan. Ia paling tidak bisa minum obat, apalagi obatnya pahit.

"Tidak boleh, Sayang. Adek harus minum obat biar cepat sembuh, " jawab Gerald.

"Tapi, Kara ngga suka obat, obat pahit Kara ngga suka."

"Kalo adek ngga mau minum obat, yaudah deh terpaksa ni Abang infus, " ujar Gerald membuat mata Kara membulat sempurna.

"Apa infus? Kara minum sekarang obatnya. " Kara memasukkan obat obat itu sambil menutup mata dan hidungnya.

Mereka tertawa kecil melihat itu.

Malam Hari, Mereka berkumpul di ruang tengah selesai makan malam. Mereka berbincang bincang ringan tentang keseharian mereka. Sedangkan Kara hanya duduk anteng di pangkuan ayahnya.

"Assalamu'alaikum, " ucap pemuda yang baru saja datang bersama kembarannya.

"Waalaikumsalam, kenapa baru pulang Abang? " tanya Mima.

"Maaf mima, tadi di sekolah ada kegiatan ekstrakurikuler. " Jawab Pemuda.

"Ohya, dek kenalin ini abang kamu juga, dia anak ketiga dan ke empat Ayah dan Mima. Yang disamping bang Keenan,namanya Alvaro dan yang di samping Mima, namanya Vero. " Kara mengangguk mengerti.

"Ini adik kalian, namanya Caramel Starla. " Mereka hanya menatap Kara sekilas. Sepertinya mereka tidak menyukai kehadiran Kara.

"Vero ke kamar dulu cape, "Vero berlalu ke kamarnya.

" Yaudah Ayah juga mau ke ruang kerja ada beberapa laporan yang belum Ayah periksa."

Kara menatap mereka, sekarang ia harus kemana? ke kamar juga seperti yang lain. Tapi, Kara bosan kalo terusan di kamar.

"Adek disini aja sama Mima, biar Ayah ke ruang kerja nya, " Mima memeluk Kara dari samping.

"Iya Mima. "

Gerald, Keenan dan Alvaro sibuk dengan iPad masing masing. Kara menatap Mima. "Mima boleh Kara menyala kan tv? Kara bosan kalo hanya duduk anteng seperti ini. "

"Tentu boleh sayang, ayo kita ke ruang tv untuk menonton." Ajak Mima sambil menarik pelan tangan Kara.

"Bye abang, Kara nonton dulu." Pamit Kara pelan bahkan Alvaro saja tidak bisa mendengar nya. Maklum ya Kara masih canggung.

Pagi hari, Kara terbangun lebih awal dari biasanya. Karena kebiasaan Kara adalah sulit tidur di rumah orang lain.

" Duh mata Kara perih banget nih, " Kara mengusap pelan kelopak matanya.

Tok tok tok

"Permisi nona muda, saya di tugaskan untuk membantu anda bersiap siap untuk ke sekolah, " ujar seorang maid.

"Iya bi, tolong siap kan baju Kara saja ya, yang lain Kara bisa sendiri. "

"Iya baik nona. "

Kara segera beranjak ke kamar mandi, badannya merasa begitu lemes apalagi semalam ia kurang tidur. Tak berapa lama, Kara selesai bersiap siap di bantu oleh bibi.

" Non Kara turun saja, biar tas nya saya yang bawakan karena yang lain sudah menunggu non Kara untuk sarapan bersama. "Ucap maid.

"Yaudah deh Kara turun duluan ya bi, maaf Kara ngerepotin Bibi, " Kara merasa tidak enak, kalo harus merepotkan orang lain. Meskipun orang itu sudah di tugaskan untuk membantu nya.

Dari atas tangga, dapat Kara lihat mereka sudah berkumpul hanya saja Kara yang belum turun, langsung saja Kara mempercepat langkahnya.

"KARA BERENTI DI SITU" teriak Ayah marah, melihat Kara berlarian di tangga.

Sontak saja Kara terpaku, di tengah tengah tangga. Ayah berjalan naik ke tangga dan menggendong Kara ala koala.

"Max," panggil Ayah keras.

"Iya tuan. "

"Telpon kuli bangunan hancurkan tangga ini, saya gak mau putri saya jatuh dari tangga. "

"Baik tuan. "

Kara menangis "Ngga, ngga Ayah ... jangan hancurkan tangga hiks ... Ayah, ini bukan salah tangga tapi, salah Kara hiks ... Ayah Kara mohon, jangan hancurkan tangga nya hiks.. Kara janji tidak akan berlari larian lagi di tangga ... " Kara menangis sesegukan di pangkuan Ayah. Mima merasa kasian mengambil alih Kara.

"Gapapa dek, jangan nangis biar aja tangganya di hancurin, nanti diganti pakai eskalator. " Jelas Mima.

"Gak mau Mima Kara mau tangga, pliss Ayah hiks.. jangan hancurin tangganya hiks... " jawab Kara masih dengan tangisnya.

"Berenti menangis atau Ayah hancurin tangganya? " tanya Ayah masih dengan nada marah.

"Be-ren-ti hiks nangis hiks... hiks huwa nangisnya gabisa berenti Ayah hiks... " Gerald dan Mima tertawa mendengar penuturan Kara yang polos.

" Cih drama, " gumam Vero. "Mima, Ayah, Vero berangkat, Vero udah telat. " pamit Vero pergi.

"Hati hati ya, Nak. Jangan lupa sarapan di sekolah, " ucap Mima.

"Alvaro berangkat bareng Vero. "

Sesegukan Kara masih terdengar sesekali. "Ayah beneran kan ngga hancurin tangga? " tanya Kara memastikan. Ayah mengangguk saja.

"Udah jangan dipikirin lagi sekarang Adek makan, Mima suapkan ya, " Kara mengangguk.

Terpopuler

Comments

reza indrayana

reza indrayana

bener² klrga yg sanagt Harmonis...💙💙💛💙💙🫰🏻🫰🏻😘😘😘

2024-04-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!