Keesokan hari nya, Kara mulai beraktivitas seperti biasa. Pagi pagi Kara sudah siap dengan seragamnya untuk berangkat ke sekolah. Rasa takut sekaligus gugup mulai di rasakan Kara tapi, sebisa mungkin ia mengendalikan nya.
"Gue bisa dan pasti bisa, "gumam Kara menyemangati dirinya sendiri.
Setelah semuanya siap, Kara segera turun karena sudah pasti keluarga nya sudah menunggu dirinya.
" Selamat pagi," sapa Kara dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Pagi sayang, " balas Mima.
"Pagi Adek, " balas Ayah dan Gerald berbarengan.
Sedangkan Keenan dan si kembar hanya diam saja. Kara tersenyum miris dalam hati nya. "Kara pikir setelah kemarin mereka bakal sayang juga sama Kara ternyata, tidak. " Batin Kara sedih.
"Dek, kok melamun Nak? " Mima menyadarkan Kara dari lamunan.
"Eh ngga Mima."
"Sini duduk di samping Mima, " Mima menepuk kursi di sampingnya.
Kara mengangguk, lalu duduk di samping mima." Adek yakin mau sekolah? "tanya Ayah khawatir.
" Iya Ayah, Kara yakin. "Jawab Kara ragu.
Keenan menatap manik mata Kara yang terlihat ragu dan ada ketakutan disana. Keenan mencoba untuk tidak perduli.
"Alvaro dan Vero berangkat Mima, Ayah." Pamit Alvaro.
"Bisa tunggu sebentar bang, adek sedang makan. Hari ini Ayah ingin kalian berangkat bareng," ujar Ayah sambil menatap si kembar bergantian.
"Wah ide bagus tu Ayah, Mima juga melihat sepertinya Adek kurang deket sama kalian. " tambah Mima semangat.
Vero berdecak kesal. Kara melihat itu. "Ayah gak papa hari ini Kara berangkat sama supir aja. "
"Tuh dengerin, dia aja gak mau berangkat sama kita, " ucap Vero dengan nada tak suka.
"Ngga, hari ini Adek harus berangkat bareng abang kembar atau Ayah ngga izinin Adek sekolah." Ancam Ayah membuat Kara terpaksa mengangguk.
"Cepetan dong lama banget, " ngomel Vero.
"Iya ini sudah selesai kok Abang. " Jawab Kara lembut.
"Abang yang sabar dong, Nak. " ucap Mima.
"Semuanya Kara berangkat dulu ya, " pamit Kara.
"Iya hati hati ya, Nak. "
"Nanti pulangnya sama abang juga ya, " peringat Ayah dan Kara kembali mengangguk.
Si kembar sudah duluan ke mobil, Kara menyusul di belakang.
Dengan tangan gemetar Kara membuka pintu penumpang belakang. "Tenang Kara lo pasti bisa, " gumam Kara kembali menyemangati dirinya.
"Lo jangan kegeeran dulu dikasih tumpangan kita, kalo bukan paksaan ayah kita juga gak mau kali tumpangi anak haram." Ucap Vero pedas. Alvaro menatap Vero dengan tatapan tak bisa di artikan.
"Iya Abang," jawab Kara pelan.
"Jangan panggil gue Abang, gue bukan Abang lo, lo cuma anak haram yang dibawa ayah gue masuk ke keluarga gue. " Lanjut Vero marah.
Alvaro memilih diam. Rasa sakit hati yang dirasakan oleh Vero juga ikut dirasakan oleh nya.
"Maaf, "
"Percuma lo minta maaf, karena permintaan maaf lo gak bisa menyembuhkan luka yang kalian torehkan. Mungkin bang Gerald bisa menerima lo seperti adiknya tapi, kita bertiga jangan harap. "
"Hiks ... " suara isakan Kara mulai terdengar membuat Vero semakin naik darah.
"Jangan nangis anjing, gue jijik banget dengar lo nangis, hidup lo penuh drama kenapa sih lo harus masuk ke keluarga gue? karena kedatangan lo membuat gue ngga nyaman dirumah, kenapa lo ngga milih tinggal sama bunda jalang lo itu seperti dulu?" amarah Vero sudah meledak.
"Ro, " tegur Alvaro yang merasa kalo Vero sudah kelewatan.
"Abang boleh hina aku tapi, tolong jangan hina bunda aku, " ucap Kara.
"Stop panggil gue Abang sialan! "
"Tuan Alvaro tolong turunkan saya disini. "Pinta Kara karena sudah tidak sanggup mendengar makian dari Vero lagi.
Alvaro tidak menggubris, ia tetap menjalankan mobilnya.
" Tuan, anda berhentiin mobilnya atau saya loncat?"tanya Kara.
" Drama lo, biar apa kayak gitu biar mima sama ayah bisa terus sama lo hingga kita di lupakan lagi gitu?"tanya Vero.
Alvaro memberhentikan mobilnya. " Terimakasih tumpangan dan makian nya tuan, "ucap Kara sebelum keluar dari mobil.
Hati Alvaro begitu khawatir karena Kara harus berjalan kaki, bus yang menuju sekolah pun sudah pasti telah sampai di sekolah.
Alvaro terlihat melamun karena memikirkan Kara. Sedangkan Vero masih berusaha mengontrol emosi nya yang meluap tadi. Tapi, hatinya merasa begitu plong setelah mengungkapkan pada Kara.
Kara terlihat menangis di halte. Hati nya begitu sakit, ternyata bener kehadiran nya memang bener kesalahan. Karena, dulu kehadiran nya Karel harus kehilangan bunda, sekarang kedatangannya di keluarga Antonio membuat abang abang tiri nya tidak nyaman.
"Hiks Ya Allah Kara harus apa hiks.. " Kara menangis sambil menutup mata dengan kedua tangan mungilnya.
"Lo harus mati Kara, kehadiran lo membuat keluarga orang lain hancur, " ucap seseorang yang berdiri di depan Kara.
Kara membuka matanya.
Deg
Ia terkaget melihat Karel yang berdiri di hadapannya. "Karel, " lirih Kara.
"Wkwkw Karel, giliran si kembar aja lo panggil abang, kalo lo lupa gue juga abang lo ra walaupun gue membenci lo. "
"Benci? "beo Kara.
" Kenapa kaget karena dihadapan bunda gue baik? Hahaha lo pikir aja sendiri ra, anak mana yang ngga sakit hati ketika bunda kandung lo sendiri meninggalkan lo yang masih kecil demi anak haram yang di kandungnya. "Satu tetes air mata Karel lolos membasahi pipi Karel.
" Lo juga mau tau sesuatu ngga? siapa pelaku yang membocorkan kalo itu anak haram? "tanya Karel mengejek.
" Pelakunya itu gue, sengaja gue sebar biar dengan begitu mental lo hancur perlahan lahan dan berakhir bunuh diri deh seperti yang pernah lo lakukan. Kenapa kemarin lo ngga mati aja sih ra? Biar bunda bisa fokus sepenuhnya sama gue. "
Bugh
Satu pukulan keras mendarat di pipi kanan Karel. "Bangsat lo Karel," marah Alvaro. Ya, Alvaro kembali datang ke halte tempat ia menurunkan Kara tadi setelah mengantar Vero. Hatinya sungguh tidak tenang, ternyata benar Kara ada yang mengganggu.
Kara terkejut melihat Alvaro datang lagi dan langsung memukul Karel. "Lo kenapa pukul gue anjing, bukannya lo juga benci dia sama kayak gue? "tanya Karel heran sambil memegang sudut bibirnya yang robek akibat pukulan Alvaro yang keras.
" Gue ngga pernah benci Kara, gue hanya perlu waktu menerimanya. "Bantah Alvaro.
Kara masih menangis terisak isak, hari ini akan menjadi hari yang paling buruk untuknya.
" Gue nyangka rel lo menyebarkan aib adik lo termasuk bunda lo, sodara macam apa lo rel? "marah Alvaro. "Lo boleh maki maki dia sepuas lo tapi, tidak dengan nyebar aib nya. Lo ingin dia matikan rel, kenapa lo ngga bunuh aja langsung? KENAPA HARUS LEWAT MENTAL REL? "
"Abang udah, " lerai Kara.
"Biar Kara, biar manusia ini tau dan mengerti. "
"Tapi, ini salah Kara wajar mereka marah sama Kara, Kara ngerti Abang. Jadi, Kara mohon jangan perpanjang lagi mending Abang balik ke sekolah. "
Alvaro dan Karel menatap Kara tak percaya, setelah dijahatin bukannya menyalahkan orang lain Kara malah menyalahkan dirinya sendiri.
"Terbuat dari apa Kara hatimu? mungkin kamu anak haram tapi, hatimu sangatlah mulia. " Batin Alvaro.
Karel juga merasa tersentuh mendengar penuturan Kara. "Ngga gue gak boleh luluh, dia udah rebut bunda gue, " batin Karel kembali marah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments