Gerald buru buru pulang saat mendapat kabar suhu tubuh Kara naik dan pernapasan Kara mulai berat.
Brak
Gerald membuka pintu kamar Kara dengan kasar saking buru buru nya. "Mi, Kara masih demam? obat yang sudah di kasih maid tadi tidak ada perubahan? " tanya Gerald panik.
"Tidak ada Abang, malah pernapasan adek makin berat, " jawab Mima yang tak kalah panik.
"Yah, mi, biar Gerald periksa lebih dulu. "Gerald mendekati Kara yang masih terlelap. Bibir Kara mulai terlihat memucat.
Ayah dan mima menyingkir memberi ruang untuk Gerald memeriksa Kara. " Mi, Ayah terpaksa Gerald memasang infus dan oksigen, keadaan Kara melemah. Mi, yah, tolong jaga pola pikiran Kara atau kita bakal kehilangannya, "ucap Gerald sedih.
" Maaf bang tapi, ada saja masalah yang menghampiri adek, "ucap Mima sambil menangis.
Ayah menggeram kesel." Lihat saja akan ku balas kau anak muda, "batin Ayah marah.
Mima segera keluar rumah menelpon bunda.
"Iya halo, " ucap bunda dari sebrang sana.
"Puas kamu Melati telah membuat Kara kembali jatuh sakit, ini kan yang kamu inginkan? selamat Melati terus kan agar kita kehilangan Kara untuk selamanya," tanpa mendengar jawaban dari bunda, mima segera mematikan sambungan telponnya.
Mima terduduk di kursi sambil menumpahkan tangis nya. Rasa kesel masih sangat terasa di hatinya. Tapi, tak bisa diungkapkan akhirnya mima memilih menangis.
Setelah dipasang oksigen dan infus, Kara terbangun karena merasakan nyeri. Pertama kali matanya terbuka kara langsung menatap Ayah berkaca kaca. "Hiks kenapa Kara di infus lagi Ayah hiks... " tangis Kara.
Ayah mendekati Kara. "Karena putri kecil ayah ini nakal gak mau turutin permintaan Ayah untuk tidak banyak pikiran, jadi nya begini kan? "
Kara mengerucut bibirnya lucu. "Hiks itu bukan salah Kara Ayah, itu salah kepala Kara terlalu memikir. "
Ayah dan gerald terkekeh mendengar Pembela an Kara.
"Abang Gerald boleh kah kara melepas ini semua? Kara tidak sakit Abang, " Kara menatap gerald memelas.
Gerald menghela nafasnya pelan. "Lihat ini yang namanya tidak sakit, "Gerald memperlihatkan termometer milik Kara, di sana tertera suhu tubuh Kara 38 °c.
Kara mendesah kecewa kalo begini ceritanya ia tidak bisa lagi berbohong.
" Tahan ya dek sampai besok pagi, kalo panasnya sudah turun dan pernapasan adek mulai normal lagi akan abang lepaskan, "bujuk Gerald tak tega melihat wajah sedih Kara.
"Adek makan dulu ya Nak, ini sudah siang. " Ucap Ayah. Kara mengangguk. "Tapi, Kara mau di suapin mima, " ucap Kara.
"Yasudah, Ayah keluar dulu ya panggilkan mima, " Kara mengangguk.
"Abang maaf ya Kara bikin abang khawatir terus, "ucap Kara yang melihat wajah Gerald begitu kelelahan.
"Iya sayang tapi, janji sama abang ya jangan sering sering dek atau abang akan terkena serangan jantung," jawab Gerald sambil terkekeh.
"Siapa yang mau Mima suapkan? " tanya Mima yang baru saja datang dengan wajah riangnya. Sebenarnya ini palsu agar Kara tidak khawatir jadi, sebisa mungkin ia menyembunyikan kesedihan nya.
"Kara, Kara, Kara mau di suapkan Mima," ujar Kara semangat.
Mima senang melihat Kara sudah kembali ceria. "Baiklah baiklah Mima suapkan tapi, harus ada imbalannya ya, " goda Mima.
"Imbalan? imbalan apa Mima? " tanya Kara bingung.
"Bagaimana kalo satu suap satu kecupan? " usul Mima semangat.
"Wah gak bisa gitu dong mi, Mima curang banget mending Abang suapkan aja deh satu suap 10 kecupan, " seru Gerald membuat Kara semakin mengerucut bibirnya.
"Udah udah Mima bercanda dek, ayo makan, " Kara kembali menetralkan wajahnya. Kara makan dengan tenang dan lahap.
"Makanannya di habiskan ya dek, biar cepat sembuh, " ujar Gerald.
"Siap Abang, " balas Kara sambil terus menerima suapan.
Ayah tidak kembali lagi ke kamar Kara, Ayah pergi menemui anak buah bayarannya. Ayah turun dari mobil melihat segerombolan motor yang sudah menunggunya.
"Siang bos, " sapa ketua.
"Siang, disini saya tidak mau berbasa basi, saya mau kamu mencelakai anak muda ini. Jangan terlalu parah serempet saja sebagai peringatan. Dan ingat jangan tinggalkan bukti apapun, hilangkan jejak juga hapus rekaman CCTV kalo ada, " perintah Ayah sambil memperlihatkan foto Karel.
"Baik bos, "
"Saya tunggu kabar baik nya besok, " Ayah memberi segepok uang pada ketua motor itu.
"Terimakasih banyak bos, " Ayah mengangguk lalu pergi ke kantornya.
Di lain tempat
Bunda sedang mondar mandir cemas, saat tidak langsung diberi tahu mima kalo Kara sedang sakit lagi. Bunda ingin mendatangi rumah Antonio tapi, sudah pasti nanti ia akan diusir lagi seperti tadi.
"Aku harus gimana hiks... " Bunda memijat kepalanya pusing.
Ternyata dari belakang papa baru saja pulang dari kantor dan melihat bunda menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan.
"Bunda, " Papa mengelus kepala bunda lembut.
Bunda mendongak melihat keberadaan papa. "Papa baru pulang? " basa basi Bunda. Papa mengangguk saja.
"Kamu kenapa Bun? " tanya Papa sambil duduk di sebelah bunda.
"Bunda buat kesalahan besar pa hiks... " Bunda menangis ia tak sanggup menahannya lagi.
"Kesalahan besar apa? " tanya Papa.
Bunda menceritakan semuanya tanpa mengurangi atau melebihkan. "Dan sekarang Kara sakit pa, asmanya pasti kambuh lagi hiks..." Papa memeluk bunda.
"Karel sekarang kemana? " tanya Papa seperti nya ikut marah.
"Sudah cukup pa jangan dimarahi lagi, sudah cukup hiks..Karel bertengkar dengan Bunda jangan sama papa lagi hiks... " pinta Bunda tak ingin Karel semakin merasa tak di sayang.
"Tapi, anak itu sudah keterlaluan bun, itu tidak bisa dibiarkan atau dia akan semakin menjadi jadi, " marah Papa.
"Jangan hiks pa, jangan Karel akan makin merasa kita pilih kasih kalo Papa ikutan marahin dia, sekarang biarkan dia tenang dulu baru nanti kita bicara lagi. "
Papa menghela nafas. "Jadi gimana sekarang keadaan Kara? " tanya papa.
"Aku gak tau pa, si mba hanya memberitahu ku seperti itu, " jawab Bunda.
Papa mengusap wajahnya kasar entah apa yang terjadi pada istri dan anaknya sehingga bisa melakukan tindakan bodoh itu. Tidak tau kah mereka akan berhadapan dengan siapa nanti, papa yakin keluarga Antonio akan membalasnya.
"Udah bun jangan menangis lagi tenangkan dirimu dan pikirkan cara agar kamu bisa mendapatkan maaf dari putrimu lagi." Setelah mengatakan itu Papa meninggalkan Bunda sendiri an di meja makan.
Dari tangga atas Karel melihat bundanya murung dan lemas tak bertenaga. Tapi sebisa mungkin ia tak menghiraukan bunda dan memilih buru buru untuk keluar.
Bunda juga melihat Karel yang sudah rapi mau berpergian tapi, berusaha untuk tidak memperdulikan. Gara gara dia, bunda tidak bisa bertemu Kara dan sekarang Kara jatuh sakit.
"Maaf sweetheart, Bunda mengecewakan Kara lagi ya," batin Bunda sedih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
reza indrayana
Nangis nich...Terharu bercampur sedih bangeetTt..., dn untungnya ada Mima.., Abang Geral yg menyayangi Kara dh sepenuh Hati....🫰🏻🫰🏻💙💙💛💙💙😘😘😘
2024-04-07
0