Bab 3

Hari ini pulang sekolah Kara di jemput oleh supir yang biasa menjemputnya saat bunda tidak menjemput.

"Assalamu'alaikum, " ucap Kara saat pertama kali masuk ke dalam rumah.

"Waalaikumsalam non Kara, " jawab bi Timah.

"Bunda belum pulang ya, Bi? " tanya Kara.

"Iya non, ibuk belum pulang. Ohya non, tadi ada seseorang datang kesini dan memberikan sebuah amplop, katanya tolong berikan untuk non Kara. " Bi Timah menyerah amplop berwarna putih.

Kara mengerutkan kening nya. "Siapa yang kirim ini? " Kara membolak balik kan amplop melihat nama pengirim. Tapi, sayang nya tidak ada.

"Yaudah Bi, Kara ke atas dulu ya, " pamit Kara.

"Iya non. "

Kara memilih meyimpan amplop itu terlebih dahulu, ia ingin bersih bersih sebelum beristirahat.

Beberapa kemudian, Kara kembali dengan baju motif doraemon kesukaannya.

"Kira kira siapa ya yang kirim surat ini? " Langsung saja Kara membuka surat itu.

Tidak ada yang aneh dari surat itu, hanya berisi alamat rumah seseorang.

"Kenapa orang ini mengirim alamat ke Kara ya? " batin Kara. "Mungkin ngga sih, ada kebenaran lagi yang belum Kara tau? atau mungkin ini jebakan? Tapi, kara gak punya musuh. " Batin Kara bingung.

"Udah ah, mending Kara siap siap untuk pergi saja ke alamat ini, daripada nanti Kara terus penasaran." Kara kembali beranjak untuk bersiap siap datang ke alamat yang dikirim tadi.

Kara hanya mengenakan mini dress warna peace dan bando dengan warna yang selaras. Meskipun sederhana tapi, Kara begitu terlihat cantik, apalagi dengan wajahnya yang baby face.

"Bibi, " panggil Kara sambil menuruni tangga.

"Iyaa nona, " jawab bibi

"Bi, kara akan pergi sebentar ya, kalo bunda tanya suruh telpon Kara saja. "

"Iya baik nona," jawab bibi. Setelah itu, Kara segera pergi dengan supir nya.

"Pak kita ke alamat ini ya, " Kara memberikan surat tadi pada pak supir.

"Baik nona," jawab pak supir.

Sepanjang perjalanan Kara hanya menatap keluar jendela, membiarkan jendela terbuka dan membiarkan angin menerpa wajah cantiknya.

Hati nya masih kecewa dengan bunda dan ayah nya. Kenapa mereka membiarkan ia hidup dalam kebohongan seperti ini?

Hampir 1 jam perjalanan ke alamat yang tertera di dalam surat, membuat Kara sedikit kelelahan ditambah ia belum makan siang karena ter buru buru ke sini.

Mobil Kara berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi. Ada banyak bodyguard yang berjaga jaga di depannya.

"Nona, kita sudah sampai di alamat yang nona kasih, " ucap pak supir.

"Iya pak terimakasih ya pak, Kara masuk dulu." Izin Kara sebelum keluar dari mobil.

"Ini sudah tugas saya nona, "jawab pak supir.

Kara keluar dengan takut takut, bagaimana tidak bodyguard yang berjaga jaga begitu terlihat menyeramkan.

" Permisi pak, tuan rumah nya ada? "tanya Kara sopan.

"Anda nona muda Kara? "tanya salah satu bodyguard.

Kara mengangguk saja, walaupun heran kenapa mereka bisa mengetahui namanya.

" Mari nona, saya antarkan anda untuk masuk, yang lain sudah menunggu kedatangan anda. "

Kara mengikuti bodyguard itu dari belakang. Tak sengaja matanya melihat mobil milik bunda nya terparkir. " Apakah di dalam nanti ada bunda? "batin Kara.

" Nona anda ke ruangan itu saja ya, mereka menunggu anda di situ." Bodyguard menunjuk sebuah ruangan agak tertutup yang berada di pojokan.

Dengan bermodal nekat Kara masuk ke ruangan itu.

Deg

Kara kaget, melihat disana sudah ada ayah, bunda,suami bunda,Karel dan beberapa orang lain yang Kara tidak kenal.

"Kara, Nak. Sudah sampai, " bunda bangun menghampiri Kara yang masih terpaku di depan pintu.

Kara menghindar saat bunda ingin memeluk nya.

"Cu, sini duduk di samping Kakek aja, " Seorang pria paruh baya yang dipanggil kakek menepuk single sofa yang berada di dekat nya.

Kara menurut untuk duduk disamping kakek. Tatapan Kara berhenti pada ayah, cinta pertama yang selalu dirindukan kehadiran nya, kini di depan mata.

Mata Kara berkaca kaca. "Ayah, " gumam Kara.

Ayah tersenyum tipis pada Kara, sambil merentang kan tangannya untuk Kara masuk ke dalam pelukannya.

"Ayah hiks ... Ayah kemana saja? kenapa Ayah tinggalin Kara hiks...? apa Ayah sudah tidak menyayangi Kara lagi? " Kara menangis sesegukan di dalam pelukan ayah nya tanpa peduli orang disekitarnya.

"Maafkan Ayah, Nak. Kara sudah tau kan kalo ayah dan bunda sudah bercerai makanya, ayah tidak bisa lagi tinggal bersama Kara, " jelas Ayah.

Tangisan Kara makin pecah. "Hikss Kara minta maaf, kehadiran Kara membuat Ayah dan Bunda harus bersatu, padahal kalian sudah punya kebahagiaan masing masing hiks ... Tolong maafkan Kara, Ayah ... Kara tidak tau kebahagiaan apa yang Allah perlihatkan pada Kara hingga Kara menyanggupi untuk hidup di dunia hiks ... "

"Kara sayang, Nak. Dengerin Ayah, ini semua bukan salah Kara ini takdir untuk Bunda dan Ayah, kalo pun ada yang perlu disalahkan itu adalah Ayah dan Bunda, bukan Kara, "jelas Ayah lagi.

Ayah menghapus air mata Kara dengan lembut. "Jangan lagi menangis sayang, nanti mata adek bengkak. " Ayah mengecup kedua mata Kara lembut, lalu mendudukkan Kara di pangkuannya.

"Kara tau ngga, kenapa Ayah suruh kesini? " Kara menggeleng pelan sambil sesekali masih segukan.

"Sebelumnya Ayah kenalin dulu ya, mereka yang belum Kara kenal. Ini yang disamping Ayah adalah istri pertama Ayah dan sekarang menjadi satu satu nya. Kara boleh panggil istri Ayah dengan sebutan Mima seperti yang lain. Selanjutnya, di samping mima ada putra sulung Ayah, Kara boleh panggil dia abang Keenan. Di samping abang Keenan, ada kakek dan sebelah nya nenek. "

"Disini Ayah ingin Kara memutuskan untuk memilih tinggal dengan siapa? Ayah gak mau Kara kesepian lagi di rumah itu. "

"Ayah, Kara pilih tinggal dengan Ayah, " jawab Kara tanpa ragu.

Tangisan bunda pecah, ketika sudah mendengar keputusan Kara. Kara putri satu satunya memilih meninggalkan dirinya. Hancur sudah hati nya.

"Nak, Bunda mohon jangan tinggalkan Bunda sayang, Bunda gak bisa hidup tanpa Kara hiks..." Karel memeluk bunda nya erat. Ia sempat melayangkan tatapan tajam ke arah Kara karena membuat bunda nya bersedih.

Rasa kecewa Kara lebih dominan sekarang."Maaf Bunda tapi, Kara hanya ingin tinggal dengan Ayah. Dengan begini Bunda juga sudah bisa tinggal dengan suami Bunda, tanpa harus berbohong lagi sama Kara. "

"Hiks ... Bunda minta maaf sayang, tolong maafkan Bunda. Jangan tinggalkan Bunda, Kara hiks..."

"Bunda, Kara tidak marah dengan Bunda, Kara hanya kecewa saja karena Bunda membohongi Kara. Maaf Bunda kalo keputusan Kara menyakiti bunda. Tapi, ini yang terbaik Bunda. " Jawab Kara sambil menetes kembali air mata nya.

"Baiklah kalo ini keputusan Kara, Bunda menerima nya," ucap Bunda dengan berat hati.

"Saya akan segera mengurus hak asuh Kara. " Ucap Ayah.

"Karena Kara sudah memutuskan, kami izin pamit pulang, hari juga sudah mulai sore. " Pamit Ayah Aditya.

"Ya, hati hati di jalan. "

"Bunda, boleh Kara peluk Bunda sebentar? " Bunda tersenyum mendengar pertanyaan Kara.

"Sure sweetheart," langsung saja Kara memeluk bunda erat tapi, tak berapa lama pelukan mulai mengendur, lalu Kara terkulai dalam pelukan bunda.

"Kara, Nak ... "Bunda menepuk pelan punggung Kara.

Segera mereka mendekat. " Kara pingsan, biar saya gendong ke kamar, " Ayah mengambil alih Kara di dalam pelukan bunda.

"Abang, telpon Gerald suruh pulang buat periksa adek." pinta Mima pada Keenan.

Keenan tak menjawab tapi, segera menelpon Gerald untuk segera pulang.

Terpopuler

Comments

reza indrayana

reza indrayana

bikin Haru dn nanGiiss....., baca dr awal lgi nich Thor ..KRNA sefikit lupa gara², nunggu lamjutan epesode yg sdh 37

2024-04-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!