Bab 10

Alvaro menatap Kara. "Ayo ikut ke sekolah bersama Abang," ajak Alvaro.

Kara menggeleng. "Kara ngga mau ke sekolah bang, Kara mau nenangin diri dulu, " jawab Kara masih sesegukan sesekali.

"Kemana ayo Abang anter? " tanya Alvaro.

"Anterin Kara ke laut bang, " pinta Kara.

Alvaro mengangguk, lalu menarik pelan tangan Kara untuk masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Karel sendiri an disana.

Karel tersenyum miring. "Kara liat aja gue bakal buat lo hancur, " gumam Karel sambil menatap mobil Alvaro yang sudah menjauh.

Tak lama mereka sampai di laut yang tidak terlalu jauh dari rumah. Kara segera turun untuk duduk dipinggir laut.

"Kenapa Adek memilih tenangin diri disini? padahal banyak tempat tenang yang bisa Adek gunakan untuk memenangkan diri. " Alvaro duduk di sebelah Kara.

"Disini memang berisik Abang tapi, juga menenangkan, " jawab Kara.

Tak ada lagi suara, mereka larut dalam keheningan.

"Abang, " panggil Kara membuyarkan lamunan Alvaro.

"Ya, "

"Kenapa Abang udah baik sama Kara? bukankah selama ini Abang juga cuek sama Kara? seharusnya tadi Abang gausah datang, biarkan bang Karel meluapkan emosi nya pada Kara seperti yang dilakukan bang Vero tadi pagi. " Kara menatap Alvaro dengan bingung.

"Maaf, Abang minta maaf kalo Abang cuek sama Kara, Abang bukan tidak bisa menerima Kara, hanya saja Abang butuh waktu karena ini sangat mendadak. Abang minta maaf apabila sikap Abang melukai hati Kara, Abang minta maaf kalo abang terkesan tidak peduli sama Kara dan minta maaf karena tadi pagi Abang hanya diam saja saat Vero memarahi Kara, Abang minta maaf, " ucap Alvaro menyesal.

Kara tersenyum miris. "Maaf ya Abang seharusnya sudah paling bener kalo kemarin itu Kara pergi, seperti kata bang Karel, Kara adalah perusak kebahagiaan keluarga kalian."

"Dek tolong jangan kepikiran untuk pergi, Abang janji akan berubah tolong beri Abang kesempatan untuk Abang perbaiki." Alvaro menitik kan air matanya.

Kara kaget melihat Alvaro menangis. Tak menyangka Alvaro akan menangis karena dirinya.

"Abang jangan menangis atau Kara akan merasa bersalah lagi, " pinta Kara sambil menghapus air mata Alvaro.

"Maaf dek, "

"Iya ab-" ucapan Kara terpotong dengan nada dering dari ponsel Alvaro.

Tertera nama Vero yang menelpon.

"Iya kenapa ro? " tanya Alvaro.

"Lo dimana al ini udah masuk sat? " balas tanya Vero dari sebrang sana.

"Gue bolos hari ini, " tanpa mendengar jawaban dari Vero, Alvaro segera mematikan telponnya.

"Dek pulang yok,cahaya matahari mulai panas nih, " ajak Alvaro.

Kara terlihat ragu untuk menjawab. "Nanti biar Abang yang jawab, " jawab Alvaro seolah mengerti pemikiran Kara.

Kara dan Alvaro pulang kerumah dan ternyata ayah dan mima belum berangkat ke kantor. Kara merasakan takut akan dimarahi oleh ayahnya karena telah mengajak Alvaro untuk bolos.

"Gapapa ada Abang ayok masuk, " Kara mengangguk, Mereka masuk ke dalam rumah dengan saling berpegangan tangan.

"Loh Abang, Adek, kok pulang lagi dan Vero kemana? " tanya mima.

"Ada masalah dek? kenapa mata adek bengkak dan terlihat sembab? " tanya Ayah khawatir.

"Nanti Alvaro jelasin ayah, adek ke kamar aja ya istirahat, " ujar Alvaro lembut.

Kara mengangguk lalu pergi ke kamarnya. Setelah kepergian Kara mereka duduk di kursi ruang tengah.

"Sekarang jelaskan pada Ayah apa yang terjadi al? " pinta Ayah dengan tegas.

Alvaro mulai menceritakan dari kejadian di mobil sampai kejadian di halte. Ayah menatap Alvaro kecewa , bahkan mima sudah menangis sambil menutup matanya. Mereka menyuruh Kara untuk melupakan masalah ini, padahal keluarga sendiri yang menciptakan masalah.

"Maaf Ayah, Mima, Alvaro gagal jadi Abang buat adik adik Alvaro. "

"Mima harus bicara dengan Melati, " kilat marah terlihat jelas di matanya. Mima tak terima Kara diginiin sama Karel. Jelas jelas disini orang dewasa yang salah bukan Kara kecilnya.

Ayah duduk termenung, ini juga menjadi penyebab Kara sering melamun. Ayah tak menyangka Karel akan melakukan hal sekejam ini. Tapi, Ayah lebih tidak menyangka Vero bisa meluapkan emosi pada Kara yang sudah jelas jelas diperingat untuk di jaga pola pikirannya.

"Telpon Vero suruh pulang, Ayah tunggu di ruang kerja." Ayah beranjak pergi meninggalkan ruang tengah.

"Baik ayah, " Alvaro segera menelpon Vero untuk pulang dan akan dijemput oleh supir.

Alvaro memeluk mima erat. "Hati mima hancur bang hiks..anak laki laki Mima tega menyakiti hati adiknya sendiri, meskipun Kara tidak lahir dari rahim Mima tapi, ada darah ayah yang mengalir di dalam tubuhnya hiks ... kenapa sampai hati kalian menyakiti hati putri kecil Mima, bang? " Mima terisak pelan di dalam pelukan Alvaro.

Di lain tempat

Bunda sedang pusing dengan berkas berkas butik yang sudah menumpuk akibat beberapa hari kemarin ia sibuk mengurus Kara di rumah sakit.

Terdengar suara deruman motor milik Karel terdengar kembali. "Kok Karel balik lagi? " gumam Bunda tapi, masih sibuk dengan berkasnya.

"Assalamu'alaikum Bunda," ucap Karel masuk ke dalam rumahnya. Terlihat bunda yang sibuk dengan berkasnya di ruang tamu.

"Waalaikumsalam Nak, kok pulang lagi? " tanya Bunda tanpa menatap Karel.

"Barang Karel ada yang ketinggalan Bun. " Jawab Karel. Bunda mengangguk paham.

"Bun, Karel mau bilang sesuatu sama bunda. " Karel duduk disamping bunda. "Pas banget nih Bunda lagi memusingkan berkas. " Batin Karel senang.

"Mau bilang apa? " tanya Bunda.

"Tadi Karel liat Kara bolos sekolah, terus pergi ke laut sama cowo. "

"Ah salah liat kali kamu, Kara anak bunda nggak mungkin seperti itu bang dia ngga pernah bolos sekolah." Jawab Bunda tak percaya.

Karel mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Kara dari belakang bersama cowo.

Bunda terkejut tak percaya. "Baru beberapa hari Kara tinggal dengan ayahnya, dia sudah berani bolos dan pacaran seperti ini? " marah Bunda.

"Bukan Karel bermaksud untuk Bunda marahin Kara tapi, Karel tidak ingin Kara nakal apalagi Kara perempuan. " Jelas Karel dengan lembut pada bunda nya.

"Iya bang Bunda ngerti niat baik kamu." Karel tertawa dalam hati nya karena bunda percaya.

"Yaudah ya Bunda, Karel naik atas mau ambil laptop Karel yang ketinggalan, " Karel segera naik ke kamar nya yang berada di lantai dua.

"Aku gak bisa biarin Kara rusak tinggal sama keluarga Antonio, aku harus bertemu dengan mereka sebelum Kara bener bener nakal. " Batin Bunda marah.

Karel masuk ke kamar sebentar untuk meyakinkan bunda. Setelah itu ia terlihat buru buru untuk pergi lagi.

"Hati hati ya bang, jangan ngebut ngebut dan jangan bolos ya, " teriak Bunda dari dalam rumah.

"Iya siap Bunda sayang, " balas Karel sambil teriak juga agar ke dengar oleh bunda.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!