Kara menatap bunda kecewa. "Sampai kan maaf Kara Bunda karena kehadiran Kara membuat bang Karel kehilangan bundanya, " ucap Kara lalu pergi ke kamarnya.
"Ini kan mel yang kamu inginkan tatapan kecewa dari putrimu, "
"Melati, aku peringatkan padamu, ini kali terakhir kamu menginjak kakimu di rumah ku, " peringat Ayah keras. Emosi yang tadi belum reda sudah di tambah lagi.
"Gak bisa, putriku berada disini. "
"Tidak ada bantahan Melati, lagian kamu lihat sendiri kan gimana tatapan kecewa Kara padamu. Jangan berdrama melati ini adalah kesalahan mu. " Mima meninggalkan Bunda menyusul Kara ke kamarnya.
"Satpam usir dia, " ucap Ayah sebelum pergi.
"Tunggu, " cegah Alvaro. "Tante, Alvaro minta tolong tante peringatkan Karel untuk tidak mengganggu Kara lagi atau Alvaro sendiri yang akan membunuh Karel," ancam Alvaro lalu mengikuti yang lain pergi.
Tok tok tok
"Adek buka pintu nya Nak, ini Mima sayang. " Mima mengetuk pintu kamar Kara sambil air mata terus mengalir membasahi pipinya.
Kara membuka pintunya memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan air mata, mata bengkak dan hidung memerah. Sungguh keadaan Kara begitu terlihat kacau.
"Hiks ... Mima, " Kara menghambur ke pelukan Mima yang berdiri di pintu.
"Mima disini, sayang. " Mima membawa Kara ke tempat tidur.
"Hiks kenapa hidup Kara gak ada kebahagiaan Mima hiks ... memangnya anak yang lahir karena kesalahan tidak bisa bahagia ya Mima? hiks ... Kara cape Mima hiks ... semua membenci Kara, semua sumber masalah dari Kara Mima hiks ... "Mima tak kuasa untuk menjawab, hatinya sangat sakit mendengar keluh kesah Kara.
" Mima kepala Kara sakit memikirkan ini semua hiks ... kemarin kemarin hanya abang abang yang membenci Kara, sekarang bunda juga membenci Kara. Mima hiks ... hiks ... alasan Kara untuk bertahan hidup semakin berkurang Mima. " Mima semakin erat mendekap Kara.
"hiks ... hiks ... hiks ... "
"Yang kuat ya Nak, jangan menyerah, adek harus bisa melewati ini. Ada kebahagiaan besar Nak, yang menunggu mu di ujung perjuangan nanti ... Nak, setiap manusia sudah Allah janjikan ada beberapa kebahagiaan untuknya. "
"Tapi, kapan mima Kara sudah sangat cape? "
"Sebentar lagi Nak, sebentar lagi akan ada kebahagiaan yang menghampiri Kara, bersabar sedikit lagi ya, " Mima mengelus rambut Kara dengan sayang.
"Kenapa karma harus putriku yang menanggung ya Allah, padahal orang tuanya lah yang melakukan kesalahan, " batin mima.
Kara sudah agak tenang, tak ada lagi tangisan hanya ada sesegukan yang terdengar sesekali.
Sedangkan dikamar sebelah, Vero medengar semua keluh kesah Kara yang ditumpahkan sama mima. "Maaf Kara, maafin abang yang telah menambah beban pikiran Kara," batin Vero. Dirinya begitu merasa bersalah dengan Kara, ia sadar sekarang tidak seharusnya ia meluapkan emosi kepada Kara.
"Gue harus coba minta maaf dengan Kara atau hati gue ngga akan merasa tenang, " batin Vero.
Siang hari Kara masih terlelap dalam pelukan mima, tadi setelah menangis Kara minta dipeluk saat tidur. Tapi, hanya Kara yang dapat tertidur, mima masih terjaga sambil terus mengelus rambut Kara.
"Hiks, " rengek Kara dalam tidurnya.
"Syut Mima disini Nak, "Mima menepuk nepuk punggung Kara pelan. " Sampai tidurnya pun tidak nyenyak, "batin Mima sedih.
Ayah masuk melihat Kara yang tertidur dalam pelukan mima. "Adek sakit? " tanya Ayah khawatir apalagi ia sempat mendengar rengekan Kara.
"Sepertinya begitu yah, tidurnya pun sampai tidak nyenyak, " jawab Mima.
"Pipinya masih bengkak? " tanya Ayah lagi.
"Udah ngga yah, udah Mima kompres sekalian Mima kasih salep tadi. "
"Mi, " panggil Ayah sambil duduk diujung kasur. "Ayah udah putus kan untuk menghukum Vero, hukumannya Ayah kirim Vero ke rumah mommy selama satu bulan."
"Tapi, gimana dengan sekolahnya yah? " tanya Mima.
"Mima tenang saja, Vero nanti akan bersekolah online. Ayah sudah mengurus semuanya. "
"Iya yah, Mima setuju, " jawab Mima santai. Jujur rasa kecewa untuk Vero sangatlah besar, ia tak menyangka Vero bisa bersikap seperti itu.
"Yaudah kalo gitu, nanti malam Vero akan berangkat dengan supir. Ohya usaha kan Kara jangan sampai tau hal ini karena Ayah yakin dia akan melarangnya. "
Tanpa mereka sadari Kara sudah sedari tadi bangun tapi, masih memejamkan matanya. Ia berjanji pada dirinya akan menggagalkan hukuman itu. Disini dirinya yang bersalah bukan Vero jadi sudah seharusnya dia yang di hukum.
Di lain tempat.
Bunda duduk termenung di balkon kamarnya, pikirannya melayang saat tangannya yang dulu menggendong Kara, kini dengan keras menampar Kara.
Rasa sesal memenuhi relung hatinya.
Tadinya bunda sempat tidak percaya dengan apa yang di katakan mima tapi, setelah menyuruh anak buah nya untuk mencari tau yang sebenarnya kini ia percaya.
"Bunda, " panggil Karel yang baru saja pulang dari sekolah. Ia sedari tadi sudah mencari bundanya.
Bunda tidak menatap Karel sama sekali. Ia tak menyangka karel akan sejahat ini.
"Bund tau tidak, kalo tadi sepulang dari sekolah Karel bertemu lagi dengan Kaynara sama cowonya, mereka baru pulang dari laut mungkin biar ngga ketauan berboh-" ucapan Karel terpotong oleh bunda.
"KAMU YANG BERBOHONG KAREL, KAMU JANGAN MEMFITNAH KARA, ANAK SAYA TIDAK SEPERTI YANG KAMU BILANG, " teriak Bunda marah.
Deg
Karel terkejut karena bundanya marah dan tau dia berbohong. "Bun-" lagi lagi ucapan Karel di potong bunda.
"JANGAN PANGGIL SAYA BUNDA, SAYA TIDAK SUDI PUNYA ANAK PEMBOHONG SEPERTI KAMU KAREL," marah bunda. "Apa salah Bunda Karel sampai kamu dengan teganya menyebarkan aib Bunda dan Kara hiks ... "
Mata Karel ikut berkaca kaca, ternyata bunda sudah mengetahui ini "Pasti Kara yang mengadu, " batinnya.
"SALAH BUNDA KARENA BUNDA MENINGGALKAN AKU BERSAMA AYAH, DAN BUNDA LEBIH MEMILIH MERAWAT ANAK HARAM ITU DIBANDING KAREL."
PLAK
Bunda menampar keras Karel. "Anak haram yang kamu maksud adalah darah daging saya dan adik kamu Karel, " ucap Bunda tidak habis pikir.
"Adik? " kekeh Karel. "KAREL ANAK TUNGGAL, KAREL TIDAK PUNYA ADIK DAN SELAMANYA AKAN BEGITU, " Karel berteriak marah dengan air mata terus berjatuhan.
"Saya ngga nyangka kamu akan sekeras ini Karel, saya pikir selama ini kamu sangat bahagia karena punya adik perempuan, adik yang selalu kamu minta minta. Ternyata, ada topeng di balik itu semua."
"Karel juga tidak menyangka anak itu bisa merebut Bunda sepenuhnya dari Karel. Bunda tau, saat Karel masih membutuhkan Bunda, Bunda malah meninggalkan Karel bersama ayah. Walaupun Bunda datang sesekali untuk menjenguk tapi, itu ngga cukup Bunda. Dari situ rasa benci Karel untuk Kara mulai muncul tapi, Karel tidak ingin menampakkan karena takut Bunda akan marah. Ternyata, benar saja bukan hanya marah tapi, seperti nya Bunda juga benci Karel, " Karel menatap Bunda dengan kilatan marah terlihat jelas di matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments