Untuk pertama kali, Kara diantar oleh ayah nya ke sekolah. Perasaan bahagia Kara begitu ketera di wajah cantiknya. Senyum manis nya tidak pernah luntur sedari tadi.
"Anak Ayah bahagia banget kayaknya, " goda Ayah.
"Xixi Kara bahagia Ayah, akhirnya keinginan Kara untuk di antar Ayah ke sekolah tercapai. " Balas Kara senang.
Ayah mengusap lembut rambut panjang Kara. "Maaf kan Ayah dek, karena tidak menemani Adek selama ini. "
"Tidak apa Ayah, ini sudah menjadi takdir Kara. "
Tak lama mereka sampai di depan gerbang sekolah.
Semua mata tertuju pada Kara, apalagi Kara turun dari mobil yang sangat mewah.
"Ngga nyangka cantik cantik jadi simpanan om om, "
"Iya, pake diantar segala lagi ke sekolah, ups jalang. "
"Hush lo pada nggak boleh ngomong gitu dong, bisa jadi itu ayah nya? "
"Ayah darimana? lo lupa dia anak haram, canda anak haram haha. "
"Duh anak haram ternyata, pantes kita nggak pernah liat dia post di tweet sama ortu nya. "
"Kalo gue sih malu ya jadi anak haram. "
Begitu kira kira bisikan yang terdengar, Kara pura pura menulikan telinganya meskipun, dalam hati ia menangis.
Ternyata diparkiran Vero dan Alvaro juga mendengar ejekan itu. Tapi, mereka hanya mengabaikan paling nanti pulang sekolah Kara mengadu, ilang deh beritanya, pikir mereka.
"KARA ... " teriak Ave dari pintu kelas.
Kara hanya tersenyum dengan mata yang berkaca kaca. Hatinya sangat sakit sekarang, meskipun perkataan mereka benar ia anak haram.
Ave berlari menghampiri Kara dan memeluk nya erat. "Lo kenapa kar? " tanya Ave di sela sela pelukan.
"Hati gue sakit ve hiks ..." Ave menuntun Kara untuk duduk di kursi nya.
"Ra lo kenapa? " tanya Siska teman kelas Kara.
"Ra lo nangis karena masalah itu ya, ra lo jangan sedih meskipun, mereka menjauhi lo kita semua ada buat lo," ujar Adit. Si ketua kelas.
"Bener ra lo ngga perlu sedih lagi. "
"Sekarang ayo tersenyum."
Kara menatap haru teman temannya, selama ini ia terlalu menutup diri hingga hanya Ave yang mau ia teman kan.
"Makasih kalian, " ucap Kara terharu.
"Pokoknya kita akan membela lo di saat yang lain menyerang lo, " kata Imel
"betul itu. "
Karena teman temannya, Kara jadi melupakan sejenak rasa sakit di hatinya.
Tringgg
Bel istirahat berbunyi. Tapi, belum ada satupun yang beranjak. Kara menatap heran mereka semua. "Kalian ngga ke kantin? " tanya Kara.
"Lo ke kantin ngga? " balik tanya Farel. Kara menggeleng, ia males yang ada nanti hati nya makin sakit.
"Yaudah kita semua juga ngga ke kantin, " jawab Adit.
Kara menatap mereka cengo. "Eh mana bisa seperti ini, kalian harus ke kantin. Jangan karena gue kalian ngga kekantin. "
"Biarin aja kali ra, ini namanya solidaritas teman, satu ngga ke kantin yang lain juga ngga. " jelas Ave santai.
"Siapa nih yang perwakilan ke kantin beli kita makan? " tanya Mehran.
"Gue aja sama Farid dan Darel, " ujar Alif.
"Okey, yang mau nitip makanan cepat segera kasih uang sama mereka bertiga. " Suruh Adit.
1 jam kemudian bel masuk kembali berbunyi.
Tringgg
Guru pelajaran jam ke 4 langsung masuk kelas. "Selamat siang semua. "
"Siang bu, " jawab mereka serempak.
"Hari ini kita lanjutkan materi kemarin yang belum selesai ya, saya harap kalian masih ingat beberapa point yang saya jelaskan kemarin. "
"Masih ingat bu, "
"Bagus berarti ibu bisa melanjutkan penjelasan materi selanjutnya..............." Jelasin bu guru.
"Bu," Kara mengangkat tangannya.
"Ya, ada apa Kara? "
"Izin ke kamar mandi ya bu, Kara udah ke belet. "Ucap Kara.
" Iya silahkan, kamu sendiri? "
"Iya bu, saya sendiri. " Mendengar itu Ave mendengus kesal karena Kara tidak mengizinkan nya untuk ikut.
"Ngga bu saya ikut bersama Kara, pipis saya juga sudah di ujung. " Tanpa mendengar jawaban bu guru Imel segera keluar sambil menarik tangan Kara.
"Lo kemana mana harus ada yang nemenin ra, jangan sendiri an. Sekarang teman lo bukan cuma ave tapi, gue sama satu kelas lainnya. Sebenarnya sudah dari dulu sih tapi, lo ke tutup banget sama kita jangankan ngomong lo sapa kita aja ngga, " ujar Imel di perjalanan.
"Maaf,"
"Gak perlu minta maaf ra, itu kan hak lo tapi, sekarang mau ngga mau lo harus mau berteman dengan kita! " Imel tersenyum tulus pada Kara.
Bisik bisik kembali terdengar.
"Is Imel kok mau ya berteman sama anak haram sekaligus simpanan om om, kalo gue sih ogah, "
"Iya nih, gue juga ogah takutnya malah di ajak ke jalan sesat hahaha"
"Ngga heran sih orang cantik begitu, putih lagi, "
"Lo liat dia jalan aja kayak angkuh begitu, dasar anak haram. "
"Sedih banget sih hidup lo ra haha"
"Udah anak haram kelakuan nya gitu juga, "
Begitulah cacian mereka untuk Kara, Kara tak menjawab ia cukup dengarkan saja meski hati nya sangat sakit. Imel menggeram tangan kesel kali ini dia memilih mendiamkan mereka karena Kara tidak ada teman yang lain.
Tak sanggup mendengar kan lagi, Kara berlari kencang ke toilet. "Hiks ... Hiks ... Kara juga tidak ingin menjadi anak haram hiks... " Kara menangis di pojok kamar mandi.
"Ra.. " Imel mendekati Kara.
Hap
Kara memeluk erat Imel. "Gue ngga kuat mendengar mereka lagi mel, hati gue hancur hiks...hiks.. mel kalo gue bisa minta, gue juga ngga mau jadi anak haram mel.. hiks.. tapi, kenapa mereka menghujat gue se akan akan ini keinginan gue mel. " Tangisan Kara pecah.
"Lo kuat ra, kami ada buat lo selalu, lo harus kuat. Lo emang gabisa ra membungkam mulut mereka yang mengejek lo tapi, lo bisa menutup ke dua telinga untuk tidak mendengar kan cacian mereka. " Imel mengusap punggung Kara menenangkan.
Kara tak lagi menjawab ia masih mengontrol emosionalnya. "Mel thanks. "
"Sama sama ra, yaudah yuk kita ke kelas. " Ajak Imel.
Mereka memilih koridor utama yang sepi untuk ke kelas. Karena Kara sudah ngga kuat dengar ejekan mereka.
"Ra, mel kok kalian lama banget di kamar mandi? lo berdua ngga papa kan? " tanya Ave khawatir.
"Gapapa ve, " jawab Kara.
"Gue ke tempat duduk dulu ya, " ujar Imel.
"Iya mel, thanks udah temenin gue, " ucap Kara. Imel hanya membalas dengan senyum.
"Jujur sama gue kenapa lo lama di kamar mandi? " tanya Ave dengan tatapan mengintimidasi.
"Tadi macet ve di kamar mandi, " jawab Kara asal.
"Lo yang serius dong ra, lo habis nangis kan? mata lo merah banget, hidung lo juga. " Khawatir Ave.
"Gue habis dengar bisik bisik yang ngga menyenangkan ve, " jawab Kara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments