Bab 6

Kara menggenggam erat tangan Ave, bisa di pastikan sebentar lagi cacian cacian itu akan terdengar lagi. Keringat dingin mengalir deras di pelipis Kara dan telapak tangannya.

"Ra lo yang tenang, gue ada di samping lo, " ucap Ave menenangkan.

"Cih gue heran sama kelas ipa dua, kok mau ya berteman sama anak haram sekaligus jalang,"

"Canda lajang hahaha. "

"Kalo gue sih najis bgt berteman sama dia. "

"Gue juga. "

"Udah anak haram, jalang pulak paket lengkap emang."

Tes

Setetes air mata jatuh di pipi Kara. Dan itu diliat oleh abang abang tiri Kara tapi, mereka menutup mata.

"Ngapain nangis lo, emang fakta kan lo anak haram? "

"LO KALO NGOMONG JAGA YA ANJING, GUE DIAMIN NGELUNJAK YA LO PADA,"marah Ave lepas kendali.

" Ngapain sih ve membela ni anak haram, kurang kerjaan banget lo, "ucap Vania sinis.

"YANG LO KATAIN SAHABAT GUE ANJING, GIMANA GUE NGGA MARAH VANIA BANGSAT. "

"Santai aja kali gausah emosi, "

"Ve udah yuk kita pulang, gue udah capek banget nih" ajak Kara.

"Tuh teman lo butuh istirahat, biar ada tenaga untuk nanti malam haha."

Kara pura pura menulikan telinga nya.

"GUE GOROK LEHER LO YA LAMA LAMA, DI DIEMIN MALAH NGELUNJAK LO. "

"Udah Ave ayo, " Kara menarik tangan Ave ke parkiran.

Dari kejauhan abang Kara melihat dan mendengarkan cacian yang dilontarkan warga sekolah untuk Kara. Mereka abai aja karena mereka pikir, pasti nanti Kara bakal ngadu papa.

"Lo kenapa tahan tahan gue sih ra? tangan gue ini gatel banget pengen robek mulut si Vania," kesel Ave karena Kara menahan emosi nya.

"Bukan sekarang ve waktunya pembalasan, " jawab Kara singkat. "Eh itu gue udah di jemput, duluan ya ve," lanjut Kara.

" Iya hati hati lo, "

Sesampainya dirumah Kara melihat rumah begitu sepi, "mungkin mereka belum pada pulang, " pikirnya.

"Shhh, " Kara merasakan kepalanya begitu sakit. "Beban gue berat banget, sampe ni Kepala luar biasa sakitnya. "

Belum sempat bersih bersih, Kara sudah tertidur pulas dengan seragam masih melekat di tubuh mungilnya.

Tok tok tok

Gerald segera menghampiri Kara, ketika mendengar dari maid Kara belum makan siang dan tak kunjung turun minta makan. Padahal Gerald baru saja pulang dari rumah sakit.

"Kara, dek Abang masuk ya, " izin Gerald. Karena Kara tak kunjung membuka pintu nya.

"Lah tidur ternyata anak nya, pantes di panggil ngga nyaut. " Gerald mendekati Kara lalu mengusap lembut rambut Kara. "Cape banget ya dek, sampai belum sempat ganti baju. " Gumam Gerald.

Cup

Gerald keluar dari kamar Kara menuju kamarnya.

Skip sore hari.

Kara terkejut melihat jam sudah menunjukkan pukul 5:30 dan dia belum apa apa. "Duh pake ketiduran segala lagi, " Kara bergegas bersiap siap untuk turun ke bawah.

"Sore nona muda, anda mau makan? " tanya Bibi

Kara menggeleng. "Ngga bi, Kara belum lapar. "

"Tapi, nona muda belum makan sedari tadi siang, " ucap Bibi khawatir.

"Terimakasih bi udah khawatir kan Kara tapi, Kara lagi ngga mood makan tolong bibi jangan maksa ya, " pinta Kara.

Bibi mengangguk terpaksa.

"Ohya bi, mima, ayah sama abang abang belum pulang ya? " tanya Kara lagi.

"Belum nona sepertinya mereka akan lembur, cuma tuan muda Gerald yang sudah pulang tadi siang, mungkin ini di kamar nya. " Jawab Bibi, Kara mengangguk mengerti.

"Nanti kalo ada yang cari Kara bilang Kara ditaman belakang ya, Bi. " Kara melangkah menuju taman yang berada di belakang mansion. Ia pasti akan kebosanan kalo menunggu yang lain di ruang tv.

Udara segar dan pemandangan yang indah menyambut kedatangan Kara. Dengan bermacam bunga bunga yang di tanam sekitar pohon dan kolam ikan yang sangat luas di sampingnya. Ternyata, ada dua ayunan yang berada tidak jauh dari kolam.

"Wah ada ayunan, " Kara bersorak kegirangan. Ia berlari untuk naik ayunan. "Kara sangat betah nih kalo ada yang beginian, " gumam Kara kesenangan.

Kara berayun ayun sambil bernyanyi kecil. Dengan begini ia bisa melupakan masalahnya sejenak.

"Bila waktu nya langit memanggilmu

Pulang

 wahai mentari..

Jangan kau risau

semesta bersama mu. " Sepotong lagu Kara nyanyikan dengan penuh penghayalan sampai tidak sadar Gerald berada di sampingnya.

"Dek," panggil Gerald menyadarkan Kara dari lamunannya. Gerald begitu tersentuh mendengar lagu yang Kara nyanyikan, ada rasa takut dalam hatinya.

"Eh Abang," kaget Kara reflek turun dari ayunan.

"Kok turun? gapapa naik lagi aja biar Abang yang ayun mau? " tawar gerald. Kara mengangguk.

"Abang, kenapa Abang baik sama Kara? padahal kehadiran Kara membuat mima sedih dan harus berbagi suami. Abang, kenapa Abang ngga marah sama Kara seperti abang kembar dan abang Keenan? " tanya Kara dengan pandangan lurus ke depan.

Gerald mengayun Kara dengan pelan. "Mungkin Kara emang hadir karena kesalahan tapi, lahirnya Kara menjadi kebahagiaan buat kami keluarga Antonio, sebelum nya Abang juga marah tapi, bukan sama Kara, Abang marah sama ayah. Kenapa ayah tega melakukan ini tapi, setelah dijelaskan kronologi nya abang mengerti dan mulai menerima kenyataan. "

"Tapi, abang Keenan dan abang kembar marah sama Kara, apa Kara pergi aja ya bang? kasihan kalo abang abang lain ngga nyaman di rumah karena ada Kara." tanya Kara.

"Dek mereka bukan marah sayang tapi, mereka masih membutuhkan waktu untuk menerima ini semua, Abang mohon bersabar sedikit lagi ya, "

Kara mengangguk pelan. "Sakit banget ya bang jadi, anak haram hehe, "

Terpaksa Gerald menarik Kara masuk ke dalam pelukannya. "Ada apa sayang? cerita sama Abang, " Gerald dengan nada memaksa.

"Gada apa apa Abang," Kara tidak mau membebani Gerald dengan masalahnya. Apalagi nanti yang lain akan tau juga, Kara kesel dengan mulutnya. "Pake keceplosan lagi, " batin Kara kesel.

"Beneran? kalo Kara ngga nyaman cerita sama abang, Kara bisa cerita sama mima atau papa ya, pokoknya Kara gak boleh pendem masalah sendiri. " Nasehat Gerald.

"Iya Abang," jawab Kara singkat.

"Yaudah kita masuk yuk, udah mau malam, " ajak Gerald. "Abang gendong mau? " tawar Gerald.

"Tidak perlu abang, Kara bisa jalan sendiri. " Gerald mengangguk.

Mereka masuk ke dalam rumah.

"Nona tadi anda di cariin oleh nyonya, " Salah seorang maid memberitahu Kara.

"Ohiya, mima dimana sekarang mba? " tanya Kara sopan.

"Di ruang tamu nona bersama tuan besar, tuan muda Keenan dan tuan muda kembar, " jawab maid.

"Yaudah mba Kara ke sana dulu ya, makasih sudah kasih tau Kara." Ucap Kara dengan senyum tulusnya.

"Sama sama nona, "

Kara bergegas ke ruang tamu menemui Mima yang mencari nya tadi.

"Mima ... " Kara memeluk erat Mima.

"I miss you Little girl, " ucap Mima sambil mengecup kedua pipi tembem Kara.

"I miss you too Mima, " balas Kara.

Gerald dan abang Kara yang lain sibuk dengan gadget mereka masing masing.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!