Bab 14

Malam hari Vero sudah siap untuk berangkat ke rumah oma nya yang berada di luar negeri. Vero begitu merasa sedih karena ia tak pernah terpisah lama dari keluarganya, apalagi ini sampai 1 bulan ke depan.

"Maaf Al, kalo gue banyak salah sama lo. " Alvaro mengangguk.

Gerald menatap Vero datar, ia sudah diceritakan semuanya oleh Alvaro. Gerald begitu marah saat mendengar itu.

"Bang gue juga minta maaf sama lo, " ujar Vero pada Gerald. "Lo cuma ke rumah oma bukan mati, " ujar Gerald lalu pergi dari kamar Vero.

Vero menunduk sedih lalu beralih ke abang sulungnya Keenan. "Abang," Keenan memeluk Vero erat, mungkin ia keliatan begitu cuek tapi, dibalik itu ia sangat menyayangi adik adiknya.

"Hati hati, " ucap Keenan. Dan dibalas anggukan oleh Vero.

"Ayo lo bakal take off 1 jam lagi, " ajak Alvaro sambil menarik koper Vero keluar dari kamar.

Sesampai di bawah.

"Sudah siap? " tanya Ayah dengan tatapan datarnya.

..."Sudah Ayah," jawab Vero. Vero beralih menatap mima yang keliatan tidak sedih sama sekali. "Mi, Vero berang-" ucapan Vero terhenti dengan teriakan Kara....

"BERHENTI ABANG VERO, " teriak Kara dari lantai atas. Ia berlari menuruni tangga.

"KARA, " teriak Ayah marah.

Kara tidak perdulikan itu, keberangkatan abangnya lebih penting. Mereka begitu terkejut melihat penampilan Kara yang sangat kacau, bagaimana tidak rambut kara acak acakan, baju kusut, punggung tangan berdarah akibat dibuka paksa infus, selang oksigen seperti nya ditarik kasar karena terlihat ada luka kecil di hidung Kara.

"KARA, BERAPA KALI AYAH BILANG UNTUK TIDAK BERLARIAN DI TANGGA, "emosi Ayah meledak.

" Adek, "ujar Mima khawatir melihat punggung tangan Kara berdarah.

" Abang jangan pergi Abang, ini bukan salah Abang, ini salah Kara seharusnya Kara yang dihukum bukan Abang." Kara menumpahkan tangisnya di depan Vero.

Gerald menarik tangan Kara tapi, Kara buru buru menghentakkan tangan Gerald. "Lepasin Abang, Kara mau ngomong sama Abang Vero. "

" Bang jangan pergi Kara mohon ..." Kara menangkup tangannya.

"Ga bisa, Vero harus pergi! " jawab Ayah dengan nada tak ingin di bantah.

"Ayah, Kara mohon jangan Ayah hiks ... Kara mohon, " Ayah tak memperdulikan Kara.

"Vero cepat berangkat atau kamu akan ketinggalan pesawat. " Ayah seolah menulikan telinganya tidak mendengar kan permintaan Kara.

"NGGA, ABANG VERO NGGA BOLEH PERGI, " Kara segera berlari ke pintu dan menutup pintu keras tak lupa mengunci dan mengambil kuncinya.

"KARA, " bentak Ayah marah.

Darah milik Kara terus berceceran di lantai. Semua menatap Kara khawatir tapi, tak bisa berbuat apa apa.

"Kara mohon Ayah jangan biarin Abang Vero pergi hiks ..."Lirih Kara mulai melemas karena darahnya terus keluar.

"MAX, AMBILKAN KUNCI CADANGAN PINTU UTAMA, " teriak Ayah. Tangisan Kara semakin pecah karena tidak bisa menghentikan Ayah nya. Inilah Ayah yang kalo sudah dibuat keputusan tidak bisa diganggu gugat sama istri sekalipun.

Tak lama Max datang dengan kunci cadangan di tangannya.

Vero sudah pasrah kalo memang akan pergi. Tapi, tidak dengan Kara, ia masih belum kehabisan ide.

"Okey, Abang Vero boleh pergi tapi, tunggu dulu, " Kara kembali naik ke kamarnya. Semua menatap Kara bingung apa lagi yang akan di lakukan Kara. Mereka khawatir takut Kara akan drop lagi.

Tak lama Kara kembali turun dengan koper juga di tangannya. "Ayo Abang kita pergi, kita sama sama salah kan? " Kara menarik kopernya.

Mereka tercengang tak percaya. Ayah menatap Kara frustasi kenapa anaknya begitu keras kepala?

"APA APAAN KAMU KARA? " bentak Ayah lagi.

"Kalo Ayah biarkan Abang pergi maka, Kara akan ikut dengan Abang." Putus Kara.

"Dek ka-" ucapan Vero terhenti.

"Ayo Abang Pesawat akan berangkat 45 menit lagi, " ajak Kara.

Rasa marah, khawatir dan kesal bercampur aduk di rasakan Ayah. Akhirnya Ayah menutup kembali pintu utama dengan keras. "Tidak ada yang pergi silahkan kembali ke kamar kalian masing masing!" ujar Ayah dengan tegas lalu pergi keluar entah kemana. Kepala nya begitu pusing.

Kara menatap Vero sayu, ia senang abangnya tidak jadi pergi tapi, kepalanya merasa begitu sangat sakit. "Abang Kara senang ab-" belum sempat Kara menyelesaikan ucapannya, Kara jatuh pingsan. Beruntung Keenan berdiri dekat Kara bisa menangkap tubuh Kara.

"Bawa ke kamar cepat bang, " Gerald berlari ke kamar Kara untuk menyiapkan kembali peralatan yang di butuhkan. Gerald juga menelpon asistennya untuk membawa satu kantong darah karena Kara kekurangan darah.

Gerald memeriksa Kara kembali, detak jantung Kara melemah, nafas Kara memburu. Ini akibat Kara terlalu memaksa tadi, ditambah Kara berlarian.

"Mima maaf karena Vero, Kara kembali jatuh drop," ucap Vero mengusir keheningan.

Mima menatap Vero lama. "Bukan, ini bukan salah kamu, salah Ayah kamu yang terlalu keras. " Ucap Mima sambil memeluk Vero.

"Gimana ge keadaan Kara? " tanya Keenan khawatir. Ia akui sekarang kalo dia sudah jatuh hati dengan Kara.

"Masih memburuk bang, kalo dalam kurun waktu 3 jam gak ada perkembangan terpaksa kita membawa Kara kembali ke rumah sakit. " Jelas Gerald sedih.

"Lo harus usahakan yang terbaik ge untuk Kara, "

"Tanpa lo minta gue juga bakal ngelakuin itu bang, " jawab Gerald sambil menatap Kara yang belum sadar dari pingsannya.

Ayah belum mengetahui keadaan Kara, ia masih menenangkan dirinya di luar sambil menikmati angin malam menerpa kulitnya yang sudah mulai keliatan kendor.

Ayah mengusap wajahnya frustasi, Kara begitu keras kepala hingga membuat emosinya kembali naik. Tapi, Ayah tidak menyalahkan Kara, ini salahnya yang mudah terpancing emosi karena sebelumnya tidak ada yang membantah perintahnya. Ia akan berusaha untuk mengontrol nya.

Di liat jam sudah mulai larut Ayah memutuskan untuk pulang. Ketika pintu utama dibuka ruang tamu keliatan begitu sepi. Ayah memutuskan untuk naik ke atas menuju kamar Kara.

Tin tin tin

Suara alat pendeteksi jantung menggema di lantai dua. Perasaan Ayah mulai tidak karuan apalagi bunyi alat itu berasal dari kamar Kara. Dengan tangan gemetar Ayah membuka pintu kamar Kara.

Deg

Terlihat Kara sudah dipenuhi alat medis, kedua tangannya di infus sebelah kanan berisi selang kantong darah, sebelah kiri selang infus, dihidungnya ada masker oksigen dan di dadanya ada alat pendeteksi jantung.

Air mata Ayah merembes keluar tak tertahan. Putrinya kembali terbaring lemah di tempat tidur. Ayah terduduk lemas di lantai, ini semua salahnya andai langsung mengiyakan permintaan Kara untuk tidak memberangkatkan Vero, mungkin tidak akan separah ini.

"Ayah gagal nak, Ayah gagal lagi menjadi Ayah yang baik untukmu hiks, " Ayah menangis sambil menundukan wajahnya.

Mima menghampiri Ayah dan memeluknya untuk menguatkan. "Kara kita kuat yah, jangan menangis seperti ini, Mima yakin Kara tidak akan suka. " Mima mengelus punggung Ayah menenangkan.

Terpopuler

Comments

reza indrayana

reza indrayana

Nangis bener nichh..., begitu tulusnya seorg Ibu walau bukan ibu kandungnya bhkan anak suaminya dr perempuan lain...begitu mulia hati Mima ...👍🏻👍👍🏻💙💙💛💙💙😘😘😘

2024-04-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!