Lyra begitu cemas. Ia terus melihat ke arah Zachery yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon di ujung dapur. Lyra tak dapat mendengarnya, tapi ia tahu Zachery sangat marah. Lyra benar-benar tak mengerti kenapa Zachery harus semarah itu.
Akhirnya pria itu menghampiri Lyra lagi.
"Daddy, saya mohon, jangan pecat mereka." Lyra memohon.
Zachery pun duduk kembali di posisinya di seberang Lyra. "Aku tidak memecat mereka. Aku memutasi mereka ke cabang Vander yang lain," ucapnya dingin.
"Daddy, ini tidak adil! Kenapa Daddy harus semarah ini? Apa sesalah itu kesalahan mereka hingga mereka harus dimutasi? Apalagi Daddy mengatakan tadi malam Daddy sangat menikmatinya? Bukankah jika mereka tidak memaksa saya untuk mabuk, malam tadi tidak akan semengga irahkan itu?" Lyra mendebat Zachery. Ia tak bisa diam saja. Masa depan teman-temannya ada di ujung tanduk gara-gara dirinya.
"Kamu tidak akan bertemu dengan mereka lagi. Itu sudah menjadi keputusanku," tegas Zachery seraya kembali menyantap makanan yang ada di piringnya.
Tubuh Lyra bergetar saking marahnya. Ia berdiri dengan tiba-tiba hingga menimbulkan suara yang keras dari derit kursi yang didudukinya. "Kenapa Daddy harus melakukan ini lagi? Daddy sudah mengirim Dino pergi jauh ke Medan. Saya tahu Dino sangat salah, tapi dia tidak punya siapapun di sana! Keluarganya di sini mencemaskannya! Dino sangat dekat dengan keluarganya, tapi Daddy memisahkan mereka. Lalu sekarang apa? Daddy juga akan mengirim teman-teman saya pergi hanya karena masalah sepele seperti ini?!"
"Cukup!" Suara Zachery tak terlalu keras, namun suasana langsung berubah suram. Apalagi dengan kedua mata tajam Zachery yang menatap ke arah Lyra. "Berani sekali kamu menceramahiku."
Seketika Lyra merasa ketakutan. Ia menyesal sudah mengusik singa yang marah. "Saya hanya..."
Zachery menghampiri Lyra dan segera membawa tubuh Lyra dengan salah satu pundaknya dan membawanya ke kamar.
"Daddy, tolong turunkan saya!" Lyra berusaha melepaskan diri dengan memukul-mukulkan tangannya ke punggung Zachery, juga kaki-kakinya yang ia tendangkan ke bagian depan tubuh pria itu.
Dilemparkannya tubuh Lyra ke tempat tidur yang masih berantakan. Saking kerasnya, tubuh Lyra sampai sedikit melambung. Lyra ketakutan. Ia bangkit dan berusaha menyeret tubuhnya mundur hingga ke headboard tempat tidur.
"Katakan padaku, apa kamu masih sering memikirkan mantan kekasihmu itu? Atau bahkan kamu masih sering berhubungan dengannya?" Suaranya begitu mengintimidasi. Kedua sorot matanya menusuk hingga Lyra tak berani bersuara.
"Jawab!" desak Zachery.
"T-tidak, Daddy..." Suara Lyra bergetar.
Zachery menarik kaki Lyra sehingga gadis itu kembali terbaring di tempat tidur. Zachery segera naik ke atas tubuh Lyra dan mulai menjam ahnya lagi. Ciumannya begitu kasar, sentuhannya tak lembut seperti biasanya. Ia marah. Ia cemburu karena nama mantan kekasih Lyra, keluar dari bibir Lyra lagi. Terlebih Lyra sampai berkata dengan nada tinggi dan menyalahkannya. Zachery sungguh tak bisa menerimanya.
Ia melepaskan bibir Lyra dan mengunci tangan Lyra di atas kepalanya. "Kamu milikku seutuhnya, Aryl. Jangan pernah keluarkan nama mantan kekasihmu itu lagi dari mulutmu apalagi mengatakan sesuatu yang membuatku berpikir kamu masih menaruh rasa padanya! Paham?!"
Air mata Lyra meleleh di sisi matanya. Ia mengangguk cepat. Lyra paham sekarang, tindakan Zachery yang kasar ini, karena ia menyinggung tentang Dino. Namun apa hubungannya dengan teman-temannya? Lyra benar-benar bingung pada sikap Zachery. Hingga ia kembali pasrah saat Zachery kembali menyentuh dan memasukinya dengan marah.
Usai penyatuan, Lyra beringsut ke sisi tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya. Ia berbaring membelakangi Zachery yang sedang menetralkan nafasnya. Lyra kesal sekali. Inti tubuhnya terasa sakit. Air matanya meleleh lagi. Semakin Zachery mengatakan jangan memikirkan Dino, di saat seperti ini, justru bayangan Dino semakin tergambar jelas dalam benak Lyra.
Ia merindukan mantan kekasihnya itu.
Terlepas dari apa yang sudah laki-laki itu lakukan padanya, sejak dulu Lyra sudah menganggap pria itu sebagai tempatnya bersandar. Lyra yang sebatang kara merasa begitu bersyukur Dino datang ke dalam hidupnya. Di saat Lyra mengalami kesulitan, saat dirinya merasa sendiri, hanya Dino yang ia miliki.
Bahkan Lyra membayangkan dirinya dan Dino membina sebuah rumah tangga dan berbahagia bersama anak-anak mereka. Di hari terakhir ia bertemu dengan Dino, Lyra sempat nyaris saja goyah. Jika saja dirinya tak terjebak dalam permainan Zachery, ia akan melupakan semua kesalahan Dino dan memulainya dari awal. Karena memang sedalam dan sebesar itu perasaan Lyra terhadap mantan kekasihnya itu.
"Baby..." Zachery mendekat pada Lyra dan mencium pundak polos Lyra. Diusapnya lengan Lyra yang terasa dingin. "Kamu marah?"
Lyra tak menyahut karena, ya, dia marah. Tentu saja dia marah. Ia benar-benar tak mengerti kenapa Zachery harus semarah itu, hingga ia menyentuh Lyra dengan sangat kasar, seakan ingin menghukumnya.
Zachery menghela nafasnya. Ada sesal menyeruak dalam hatinya. Ia tahu Lyra pasti kebingungan dengan sikapnya. Awalnya ia berniat berpura-pura marah demi menutupi hubungannya dengan Jihan. Ia tak ingin Lyra tahu bahwa gadis yang Lyra sebut sebagai teman itu, adalah salah satu wanita yang pernah memberikan kepera wanannya kepada Zachery.
Baginya, perempuan penghibur itu hanya untuk sekali pakai. Jika sudah dipakai, ia tak ingin menyentuhnya lagi. Maka dari itu Zachery tak pernah berhubungan lagi dengan semua perempuan yang pernah menghiburnya, kecuali jika ia benar-benar menyukai wanita itu, maka ia akan menjadikannya wanita simpanan, yang ia 'pelihara' sampai dirinya merasa bosan.
Maka dari itu, untuk menutupinya Zachery harus mengirim pergi ketiga teman-teman Lyra, karena tidak mungkin hanya Jihan yang ia pindahkan. Lyra akan sangat curiga.
Tapi dalam perdebatan itu, Lyra malah membawa-bawa nama Dino. Lyra yang biasanya begitu menjaga sikapnya, tiba-tiba bisa berbicara dengan nada tinggi dengan membawa nama sang mantan kekasih. Entah mengapa Zachery sangat marah dengan itu.
Namun kini melihat Lyra yang memunggunginya dan tak menyahutinya, membuat Zachery mulai menyadari, ia sudah melanggar poin paling dasar yang selalu ia pegang teguh saat bersama dengan seorang wanita.
Iya, Zachery mulai menyadari perasaannya terhadap Lyra. Benih cinta itu mulai tumbuh di dalam hatinya, pada sugar babynya. Hal itu dibuktikan dengan rasa cemburu yang membakar hatinya beberapa saat lalu.
Zachery pun bangkit dan berpakaian. Ia tinggalkan Lyra seorang diri dan menata kembali hatinya. Ia tak boleh jatuh cinta pada Lyra. Sangat tidak boleh.
Beberapa hari kemudian, Lyra berada di meja kerjanya, baru saja selesai dengan pekerjaannya. Ia sudah bersikap biasa kepada Zachery. Memangnya bisa dirinya marah berlama-lama pada atasan sekaligus pria yang memegang kendali akan hidupnya itu? Tidak bisa. Apalagi hari itu Zachery membuktikan perkataannya untuk memindahkan Gerald, Chiko, dan Jihan.
Untuk Gerald, pria itu sama sekali tak masalah. Ia memiliki jiwa yang bebas, di mana pun ia berada, ia tidak mengkhawatirkan apa pun juga. Begitu juga Chiko yang di luar dugaan, menerima dengan sangat baik perintah pemindahannya. Ia dipindahkan ke cabang Vander Enterprise di Surabaya, dan ternyata memang sejak lama ia dan ibunya ingin pulang ke Surabaya. Mereka memang asli sana. Sang ibu ikut merantau bersama Chiko ke Jakarta karena memang sang ibu tidak bisa jauh-jauh darinya.
Jadi, kekhawatiran Lyra tidak sepenuhnya terjadi. Setidaknya Gerald dan Chiko menerima perintah itu dengan lapang dada. Masalahnya hanya satu, Jihan. Gadis itu sama sekali tidak bisa menerimanya.
Saat makan siang, Jihan mengirim pesan pada Lyra dan memintanya untuk bertemu di tangga darurat.
"Han..." Panggil Lyra, melihat gadis itu sedang menatap ke arah dinding kaca di tangga darurat. Jihan pun menoleh dan menatap Lyra dengan tidak suka. "Kenapa kamu..."
Lyra tak melanjutkan kata-katanya karena tangan Jihan terlanjur mendarat di pipinya. Seketika Lyra merasa pipinya terasa panas dan berdenyut. Lyra terkejut bukan main.
Sorot mata Jihan begitu membenci Lyra. Lyra sampai tak yakin, apakah ini Jihan teman satu divisinya itu atau bukan.
"Bicara apa kamu pada Pak Zach?!" tanyanya dengan benci. "Aku dipindahtugaskan karena kau mengatakan sesuatu, iya kan? Jawab dasar perempuan mur ahan!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Femmy Femmy
sebenarnya Jihan memang punya maksud g baik terhadap Lyra😠
2024-06-21
0
Erni Fitriana
kasian lyra...disalahin lagiiiii😞
2024-06-01
1
Jeni Safitri
Ya jihan sesama murahan koq nyolot sama lyra
2024-04-25
1