Lyra duduk di sofa ruang tamu, berhadapan dengan Felix. Jari-jarinya terus saling meremas dengan gelisah. Di depannya tergeletak beberapa lembar surat perjanjian.
"Apa ini?" Tanya Lyra cemas.
"Bacalah," titah Felix menggeser dokumen itu pada Lyra.
Lyra meraih kertas itu dengan tangan yang bergetar dan mulai membacanya. Di sana tertera beberapa poin yang isinya kurang lebih adalah Lyra harus tutup mulut mengenai hubungan yang akan ia lakukan dengan pria bernama Zachery Khaled Ivander. Lyra harus merahasiakan semuanya dan mengatakan bahwa ia disewa oleh Felix, bukan oleh pria bernama Zachery ini.
"Zachery..." Lyra bergumam, ia bertanya-tanya siapa pria bernama Zachery ini. Kenapa ia sampai harus membuat perjanjian rahasia seperti ini.
Rasa penasarannya terhadap siapa sosok Zachery seketika menguap saat melihat nominal yang akan diterimanya setelah malam ini berakhir. Nominal yang lebih dari cukup untuk dirinya membayar kuliah, bahkan mengontrak sebuah tempat kost selama setahun.
Sebesar itu uang yang akan ia terima? Lyra sangat terhenyak.
"Kamu mengerti sekarang? Hubungan yang akan kamu lakukan dengan Pak Zachery harus dirahasiakan. Jika kamu bertemu tak sengaja di luar, atau melihatnya di internet atau di mana pun, abaikan. Anggap hubungan ini tidak pernah terjalin. Anggap kamu sama sekali tidak mengenalnya. Jika ada orang yang bertanya, seperti Madame Grace atau yang lainnya, katakan saya yang telah memakaimu. Paham?" terang Felix.
"Ke-kenapa seperti itu, Tuan?" tanya Lyra kembali penasaran.
"Beliau seseorang yang sangat penting. Itu saja yang harus kamu tahu," ujarnya dingin. "Tanda tangani sekarang juga." Ia menyodorkan sebuah pulpen pada Lyra. Lyra pun menandatanganinya dengan pasrah.
"Kamu sudah sepakat." Felix memasukkan dokumen perjanjian itu ke dalam sebuah map. "Jika kamu melanggar, kamu akan mendapatkan akibatnya. Sekarang berikan nomor rekeningmu. Saya akan transfer uang atas jasamu setelah kamu selesai melayani Pak Zach."
"Saya tidak punya nomor rekening."
Lyra tidak mau mengambil resiko dengan memberikan jejak seperti itu. Ia sendiri sangat setuju jika setelah malam ini, mereka tidak saling bertemu lagi. "Bisakah saya mendapatkan bayaran dalam bentuk tunai?"
"Kamu ternyata cukup pintar," puji Felix mengerti maksud Lyra. "Baiklah, saya akan katakan kepada Pak Zach. Beliau sendiri yang akan membayar kamu nanti."
Setelah itu Felix pergi. Lyra pun kembali menunggu dengan gelisah. Diam-diam ia menjadi penasaran, siapa sebenarnya pria yang bernama Zachery Khaled Ivander ini?
Lyra terpikirkan beberapa kemungkinan. Felix mengatakan ia adalah orang penting. Mungkinkah dia seorang presdir perusahaan besar, atau seorang petinggi di peme rintahan? Yang pasti ia pasti ingin citranya tetap terjaga. Akan menjadi skandal besar jika ia diketahui menyewa seorang perempuan untuk menemaninya.
Dasar laki-laki baji ngan, umpat Lyra dalam hati.
Lyra menghela nafas. Ia kembali mengasihani dirinya sendiri. Tak pernah terbayangkan ia berada di posisi ini, menjadi seorang wanita yang dinikmati pria asing yang entah siapa.
Ia merasa begitu rendah.
Lalu Lyra bergumam, "Lyra, hanya sekali ini aja. Dengan uang yang kamu akan terima, kamu bisa bayar kuliah, dan juga tempat tinggal. Sesudah itu hidupmu akan aman-aman saja. Cukup lakukan saja apa yang akan terjadi malam ini, dan anggap semuanya tak pernah terjadi setelahnya." Lyra meyakinkan diri. "Iya, aku harus berpikir seperti itu."
Waktu menunjukkan lewat tengah malam. Namun pria itu belum juga muncul. Lyra mulai tak sabar. Ia ingin segera menyelesaikan 'pekerjaannya' ini. Lalu iseng ia membuka ponsel dan melakukan pencarian dengan nama Zachery Khaled Ivander.
Baru saja Lyra mengetik 'Za', pintu kamar hotel itu dibuka oleh seseorang. Seketika Lyra menyimpan ponselnya dan berdiri dengan gugup.
Pria itu sudah datang.
Pintu perlahan terbuka dan masuklah seorang pria tinggi dengan setelan jas yang mewah. Kali ini Lyra yakin, pria itu adalah Zachery. Perasaan Lyra semakin tak karuan karena walaupun ia merasa semua ini sangatlah salah, pria yang menyewanya adalah salah satu dari pria breng sek yang ada di dunia ini, tapi ia tak bisa menampikan bahwa Lyra terpesona pada penampilan pria itu. Zachery benar-benar seorang pria tampan rupawan.
Usianya mungkin sudah nyaris empat puluh, tapi fisiknya memperlihatkan ia masih sangat pantas dikatakan berumur kepala dua. Tubuhnya tegap dan bidang. Wajahnya dewasa dan berwibawa. Auranya sangat berkharisma. Belum lagi kedua mata tajam yang dihiasi bulu mata lentik dan juga alis yang tebal. Hidung yang mancung dan tinggi, matanya hitam kecoklatan, serta dagu yang dihiasi bulu tipis, benar-benar membuat semua orang akan setuju jika pria itu bukan hanya tampan, tetapi benar-benar tampan.
Pria itu mendekat pada Lyra dengan raut wajahnya yang dingin. Lyra segera menunduk di saat tatapan mereka bertemu. Sorot matanya begitu mengintimidasi. Rasanya tatapannya itu menusuk hingga ke hati Lyra, seakan Lyra tak diizinkan menatap Zachery lama-lama.
"Aryl?" Suaranya begitu berat dan rendah.
Lyra hanya diam mematung. Ia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Lalu dagunya terasa disentuh dan ternyata tangan lembut dan hangat milik Zachery yang sedang mengarahkannya agar pandangan Lyra menatap ke arahnya.
Zachery mengamati wanita yang ada di depannya. Ditatapnya wajah cantik yang dihiasi riasan tebal. Meskipun demikian, Zachery tahu, Lyra sudah cantik secara alami tanpa bantuan make up. Ia baru pertama melihat wajah seperti ini. Kedua mata besarnya sendu dan ramah, hidungnya bangir, bibirnya kecil dan mengundang. Wajahnya tidak terlalu oval, malah tergolong bulat. Namun justru menghasilkan kesan cantik yang unik.
Tanpa menunggu Zachery melahap bibir kecil yang mengundang itu. Lyra tersentak kaget karena tanpa aba-aba, seseorang sedang menikmati bibirnya untuk yang pertama kalinya. Lyra hanya bisa membiarkannya karena pria ini sudah 'memesan'nya dan Lyra sudah setuju untuk melayaninya.
Perlahan Zachery menjauh dan menatap wajah Lyra. "Bibirmu begitu kaku."
"Sa-saya belum pernah..." Lyra menunduk dengan takut.
"Belum pernah?" Dahi Zachery bersatu. "Sekedar berciuman kamu tak pernah?"
Lyra menggeleng pelan merasa seperti sudah melakukan hal yang sangat salah.
"Lalu kenapa kamu bisa mengenal Madam Grace?" Zachery menjauh. "Bagaimana kamu bisa membuatku puas jika berciuman saja kamu tak punya pengalaman?" Kata-kata Zachery tidak tinggi, datar saja, tapi membuat Lyra begitu merasa bersalah.
Lyra semakin gelisah. Tangannya bergetar hebat. "Maafkan saya, Tuan. Saya akan lebih berusaha lagi."
Zachery sudah berada di kamar. "Kemarilah," teriaknya.
Lyra pun berjalan sedikit tergopoh dengan high heels yang digunakannya. Ia sudah berada di kamar, melihat Zachery sedang melepaskan jas yang digunakannya. Pria itu menuangkan minuman ke sebuah gelas dan meminumnya. Ia pun duduk di tepi tempat tidur dan menatap ke arah Lyra. "Buka seluruh pakaianmu."
Hatinya berkata tidak mau. Tapi sekali lagi Lyra pasrah. Ia mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang dikenakannya hingga kulit seputih susu miliknya kini terekspos seluruhnya di depan Zachery. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Ia marah, karena tak bisa melakukan apapun selain menginjak-injak harga dirinya sendiri di depan pria asing ini.
Sedangkan Zachery begitu menikmati apa yang sedang Lyra lakukan di depannya. Tubuh Lyra benar-benar sangat indah. Ia tergolong kurus, namun dadanya cukup besar dengan puncak berwarna merah muda kecoklatan. Begitu juga bo kongnya, berisi dan sin tal. Lekuk tubuhnya begitu membangkitkan has rat Zachery untuk segera menja mahnya.
"Berputarlah." Zachery ingin melihat keseluruhan tubuh indah Lyra. Lyra pun mulai berputar perlahan hingga ia menghadap kembali pada Zachery.
Pria itu menyimpan kembali gelas yang digenggamnya, menghampiri Lyra, dan mulai menjamahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Erni Fitriana
cakep sih tn zachery...tapi malu yak..😔😔😔😔
2024-06-01
1
Pie Yana
lelaki yg sempurna namun pertemuan dg cara yg salah
2024-03-24
2
rosita sari
sudah like dan komen nih kak
2024-03-22
1