Lyra tak bisa menahan rasa terkejutnya. Berkali-kali ia mengumpat dalam hati. 'Rachel gila! Rachel cewek paling gila yang pernah gue kenal!'
Bagaimana bisa ia mencium ayah sambungnya sendiri?
Lyra masih menguping mereka. Ia melihat Rachel bangkit dari sofa dan kembali menghampiri Zachery. "Kenapa, kamu bukan ayah kandung aku! Salah kalau aku nyium kamu?"
Zachery kembali terperanjat. Kini bahkan perempuan yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri itu tak lagi memanggil dirinya dengan sebutannya seperti biasa, ia malah mengatakan 'kamu' padanya. Jelas Zachery benar-benar tak habis pikir.
"Sadar, Nak! Kamu adalah putriku. Aku sudah merawatmu sejak kamu berumur 13 tahun!"
"Awalnya aku juga menganggapnya seperti itu, aku merasakan kasih sayang kamu sebagai ayahku untuk beberapa tahun. Tapi ternyata perasaan ini tumbuh seiring berjalannya waktu. Udah cukup aku menahan semuanya. Aku akan mengatakan sekarang kalau aku cinta kamu, Zachery Khaled Ivander!"
Zachery memijit kepalanya dengan frustasi. "Pergi sekarang juga." Ia masih bersabar.
"Kenapa aku harus pergi? Aku tahu, kok. Selama ini kamu sering nginep di kamar ini dan bawa banyak perempuan. Kamu tak pernah mendapatkan 'itu' dari Mommy, makanya kamu mencari perempuan untuk menghiburmu. Sekarang kamu sudah tahu perasaan aku," tetiba Rachel meraih tali dressnya yang menggantung di pundaknya dan satu tali sudah menggantung di lengannya. "Kami bisa sentuh aku. Kamu tak usah cari perempuan lain. Kamu punya aku..."
Zachery segera menghentikan Rachel yang sedang mencoba melepaskan dress yang dikenakannya. "CUKUP RACHEL ROSE IVANDER!"
Suara Zachery begitu menggelegar. Seketika nyali Rachel menciut. Ia menghentikan segera aksinya ketika melihat kedua mata Zachery yang menatapnya dengan mengerikan. Tatapannya menghujam hingga ke hatinya. Sama sekali Zachery tak pernah berteriak terhadapnya selama ini, sekalipun.
"Daddy anggap tak mendengar apa pun darimu. Sekarang pulanglah. Renungi kesalahanmu. Jangan membuat Daddy melakukan hal yang akan kamu sesali seumur hidupmu." Zachery memperingatkan dengan nada yang begitu dingin.
Air mata Rachel mengalir deras, nafasnya menderu, hatinya terasa sangat sakit, dan ia merasa malu sekali. Ia pun segera berlari meninggalkan ruangan itu dengan isak yang terus keluar dari bibirnya.
Zachery menjatuhkan dirinya ke sofa. Ia melonggarkan dasi yang mengikat lehernya. "Keluarlah."
Lyra tahu perintah itu adalah untuknya. Ia pun keluar dari kamar dan menghampiri Zachery. Ia berdiri di hadapan Zachery dengan tangan tertaut.
"Duduklah," perintahnya.
Lyra pun menurut. Ia duduk di sebelah Zachery. Pria itu membaringkan tubuhnya di sofa, menjadikan paha Lyra sebagai bantal untuk kepalanya. "Kepalaku sakit sekali. Bantu aku memijatnya."
Kembali Lyra menuruti perintah pria itu dan kedua tangannya mulai memijit pelipis Zachery.
"Kamu mendengar semuanya?" tanya Zachery.
"Tidak. Daddy tidak perlu khawatir," sahut Lyra.
"Tidak usah berbohong. Aku melihatmu mengupingku tadi," lirihnya. "Hatiku benar-benar sakit. Bagiku Rachel sudah ku anggap sebagai putriku. Aku sangat menyayanginya. Tapi ternyata..." Ia tak melanjutkan kata-katanya, rasanya mengatakan apa yang Rachel katakan terhadapnya dengan mulutnya sendiri terasa sangat berat.
Lyra tak menyahut. Ia tak ingin ikut campur masalah Zachery, sekedar mengomentarinya pun ia tak mau. Semakin sedikit yang ia ketahui, semakin baik.
"Sebenarnya, Rachel adalah keponakanku," lanjut Zachery. "Kakakku meninggal karena sebuah kecelakaan. Orang tuaku dan orang tua Rosalie memaksaku menikah karena orang tua Rosalie tidak tega melihat putrinya menjadi janda. Daripada menikahkan Rosalie dengan orang lain, mereka malah memaksaku menikahi kakak iparku sendiri di usiaku yang baru 20 tahun. Dan kamu tahu, baik aku ataupun Rosalie, tak ada yang bahagia. Kami tak pernah bisa saling mencintai. Namun, aku merasa kasihan terhadap Rachel. Maka perlahan aku mulai mencoba menganggapnya sebagai putriku, meskipun usia kami hanya terpaut 13 tahun."
Lyra mendengarkan curahan hati Zachery dengan seksama. Namun ia tak menyahutinya.
"Aku tidak menyangka sama sekali Rachel, putriku, akan merasakan perasaan seperti itu padaku. Aryl, kamu tahu bagaimana perasaanku sekarang?"
"Daddy pasti sangat sedih," ujar Lyra singkat.
"Iya, aku sangat sedih. Apa yang harus aku lakukan padanya sekarang?" tanya Zachery lebih seperti bergumam.
Lyra hanya terdiam, ia merasa tak berhak memberikan komentar ataupun masukan terhadap Zachery.
"Katakan sesuatu, Aryl. Apa yang harus aku lakukan?" Zachery menatap wajah Lyra penuh harap.
Melihat Zachery begitu ingin mendengar pendapatnya Lyra pun menjawab. "Walaupun Daddy bukan ayah kandung Rachel, tapi kalian masih memiliki hubungan darah, bukan? Daddy adalah paman dari Rachel."
Zachery menghela nafasnya. "Sebenarnya aku bukanlah anak kandung dari ayahku. Aku dibesarkan di sebuah panti asuhan."
Seketika Lyra menghentikan pijatannya. Zachery menatapnya lagi. "Aku sama sepertimu, Aryl."
Lyra tertegun mendengarnya. Ia sama sekali tak menyangka Zachery, pimpinan perusahaan raksasa itu, memiliki masa lalu sepertinya.
"Aku diadopsi oleh ayah dan ibuku di usia 10 tahun. Kedua orang tua kandungku meninggal saat aku masih bayi. Kerabatku menitipkanku di sebuah panti asuhan, namun 10 tahun kemudian mereka datang dan mengadopsiku, karena ternyata ayahku adalah sahabat dekat dari ayah kandungku. Sejak saat itu aku merasa berhutang budi pada Keluarga Ivander. Maka dari itu saat aku dipaksa menikah, aku tak bisa menolak. Itu adalah bentuk balas budiku karena mereka sudah merawatku."
"Saya tidak menyangka ternyata Daddy punya masa lalu seperti itu..." gumam Lyra tanpa sadar.
Zachery tersenyum. "Ini pertama kalinya aku menceritakan hal seperti ini kepada seorang wanita. Aku akan sangat menghargai jika kamu mau merahasiakan semua ini."
Lyra mengangguk patuh.
"Jadi menurutmu, apa yang harus aku lakukan pada Rachel?"
"Apa saya harus memberikan pandangan saya?" tanya Lyra dengan enggan. Hal ini berada di luar poin perjanjian. Seharusnya mereka tidak membicarakan hal sepribadi ini.
"Kamu terlanjur mengetahui semuanya, jadi ya, aku ingin tahu bagaimana pandanganmu?"
Lyra berpikir sejenak, lalu ia berkata. "Menurut saya, jika Daddy benar-benar sudah menganggap Rachel sebagai putri Daddy, Daddy harus bisa mengembalikan hubungan kalian seperti semula. Berikan pengertian padanya bahwa Daddy sangat menyayanginya sebagai putri Daddy, dan Daddy tidak ingin kehilangannya."
Zachery menatap Lyra dan menyentuh pipinya. "Kamu masih begitu muda, namun kamu sangat bijak, Baby."
Lyra hanya tersenyum tipis mendengar Zachery memujinya.
"Cium aku," pintanya.
Lyra pun membungkuk dan mendekat pada Zachery yang kepalanya masih berada dalam pangkuannya. Bibir mereka pun bertemu.
Setelah puas menautkan bibirnya, has rat Zachery semakin membuncah. Ia pun melepaskan bibirnya. "Lepaskan pakaianmu."
Tubuh Lyra seketika meremang mendapat perintah itu. Kembali ia hanya bisa menurut. Ia melepaskan tali dress yang melingkar di lehernya membuat dadanya terpampang di hadapan Zachery.
"Dekatkan padaku," perintahnya seraya menatap kedua bukit itu.
Dengan hati yang berdebar Lyra pun mengarahkan salah satu bukitnya dan seketika Zachery sudah melahap puncak kecoklatan miliknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Femmy Femmy
karena kamu Rachel memang g punya Rasa malu😠
2024-06-21
0
Erni Fitriana
ternyata seorang zaehary punya masa lalu yg kelam
2024-06-01
1
Jeni Safitri
Ya zachier anak pungut aja berlagu sama lyra pakai ngancam segala, giliran kamu diancam sama keluarga savher habis dah kamu ngeh.. Ngeh aja nanti
2024-04-24
1