"Bagaimana? Tampan sekali 'kan? Anaknya seumuran dengan kita. Tunggu, dia satu kampus denganmu 'kan?" ujar Jihan.
Lyra diam mematung. Ia tak bergerak sedikit pun. Tatapannya terpaku pada pria yang sedang berpidato di depan sana tanpa berkedip sedikit pun. Syok, Lyra benar-benar syok.
"Ra, kamu sampai seperti itu melihat bos kita? Aku paham kamu pasti terpesona padanya tapi jangan sampai kamu pun menyukainya karena..." belum sempat Jihan menyelesaikan kata-katanya, Lyra beranjak dari duduknya. "Ra, mau ke mana?"
Tak menjawab, Lyra segera meninggalkan kursinya. Ia berjalan melewati orang-orang yang masih duduk rapi pada posisinya sambil memperhatikan dengan seksama sang pemimpin perusahaan memberikan pidatonya. Lyra harus segera pergi, ia ingin segera pergi dari auditorium itu.
Kini Lyra berada di toilet. Ia meremas kedua tangannya yang gemetar. Ditatapnya pantulan wajahnya di cermin. "Tidak mungkin... Tidak mungkin pria waktu itu Presdir Vander." Lyra menggelengkan kepalanya frustasi.
Waktu itu ia sempat akan mencari tahu siapa sebenarnya Zachery Khaled Ivander. Waktu itu Lyra sudah memiliki firasat, pria itu bukanlah pria sembarangan, tapi Lyra sama sekali tak menyangka bahwa pria itu adalah bos besar di tempatnya bekerja sekarang. Ia menyesal kenapa ia tak pernah mencari tahu lebih jauh mengenai 'pelanggan'nya itu. Jika saja ia tahu lebih awal, ia tak akan melamar ke perusahaan ini.
Di sisi lain, selesai memberikan pidato, Zachery kembali ke kantornya. Ia kembali duduk di balik meja kebesarannya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Tak lama pintu diketuk dan Felix masuk ke ruangan.
"Dari mana saja kau? Tak biasanya kamu terlambat dan tidak memberikan kabar," tegur Zachery.
"Mohon maaf, Pak. Saya menemukan sesuatu." Felix bergegas menghampiri Zachery dan menyerahkan sebuah map kepadanya.
Zachery menatap bingung pada Felix seraya meraih map itu dan membukanya. Matanya membulat saat melihat map itu berisi data karyawati baru yang wajahnya sangat ia kenal. Wajah perempuan yang selama ini selalu memiliki kesan tersendiri baginya.
"Ini..."
"Seperti dugaan anda, Pak. Aryl bukan nama asli dari wanita itu. Nama aslinya adalah Lyra Faranisa. Dia baru saja lulus dan melamar ke perusahaan anda. Kemarin adalah hari pertama Lyra mulai bekerja di sini, Pak."
Senyum tipis mengembang di bibir Zachery. "Bawa dia ke mari sekarang juga."
Di ruang divisi tempat Lyra bekerja, semua orang sudah kembali sibuk di depan komputernya masing-masing termasuk Lyra. Ia sudah duduk menatap layar komputernya, namun bukan bekerja yang dilakukannya.
Lyra tak bisa berhenti gelisah. Tangannya bahkan terasa dingin dan terus gemetar. Matanya basah dan kadang meneteskan air mata tanpa dapat ia cegah. Lyra benar-benar ketakutan Zachery akan mengetahui keberadaannya.
Lyra merasa perjuangannya selama ini sia-sia. Ia sudah membuang harga dirinya demi mendapatkan uang agar ia bisa menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan pekerjaan ini. Ia juga sudah berusaha amat keras menyelesaikan skripsinya. Tapi ternyata semua ini malah tak berarti apapun pada akhirnya.
Beberapa bulan terakhir kehidupan pribadinya juga membaik. Lyra mendapatkan seorang pria yang mapan dan sayang padanya sebagai kekasihnya. Namun ternyata semua itu bukannya menjadi awal hidup bahagianya, bekerja di Vander Enterprise malah membawa Lyra masuk ke mulut harimau.
"Lyra."
Tiba-tiba Dewi, sang Kepala Divisi memanggilnya. Lyra pun menoleh. Jantungnya seakan berhenti berdetak melihat Dewi berdiri bersebelahan dengan seorang pria yang dikenalnya, Tuan Felix.
"Lyra? Sedang apa kamu? Saya memanggil kamu. Cepat kemari!" tegur Dewi.
Lyra begitu enggan untuk beranjak. Secepat itu Zachery mengetahui bahwa Lyra kini telah menjadi salah satu dari ribuan karyawan yang dimilikinya.
Dewi menatap galak pada Lyra karena ia masih saja tak beranjak dari kursinya. Akhirnya Lyra tak punya pilihan selain berjalan menghampiri Dewi.
"Ini Pak Felix, sekretaris dari Pak Zachery. Pak Zachery ingin melihat laporan divisi kita tahun lalu, tunjukkan pada beliau," perintah Dewi pada Lyra seraya memberikan tab miliknya pada Lyra.
Kemudian ia melihat ke arah Felix. "Anda yakin, dia masih sangat baru, Pak? Lyra baru mulai bekerja kemarin. Banyak hal yang belum diketahuinya."
"Justru itu, saya ingin melihat kinerja karyawati baru kita. Baru atau tidak, karyawan Vander Enterprise haruslah kompeten," ujar Felix.
Felix menatap Lyra yang wajahnya pucat pasi. "Kamu, ikut saya."
Sepanjang ia berjalan menuju lantai tertinggi gedung itu, Lyra merasakan langkahnya begitu berat. Felix tidak mengatakan apa pun, ia bersikap seakan tak mengenal Lyra. Meminta laporan seperti ini pasti hanyalah alibi agar Lyra bisa datang ke kantor Zachery.
Lyra sampai di depan sebuah ruangan yang didesain begitu megah. Ruangan dari pimpinan tertinggi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Ia takjub karena bisa berada di sini. Yang ia tahu jabatan terendah yang pernah masuk ke ruangan ini hanya setara kepala divisi. Tapi bukannya merasa bangga, Lyra malah merasa sebaliknya. Ia sangat ketakutan.
Felix membukakan pintu untuk Lyra. "Berjalanlah ke sebelah kanan, di sudut lorong ada sebuah pintu. Masuklah ke sana."
"Ta-tapi, Pak. Laporannya..." lirih Lyra dengan suara bergetar.
Tak menjawab Lyra, Felix pun mengambil tab yang digenggam Lyra dan mendorong pelan Lyra masuk ke dalam ruangan atasannya itu dan menutupnya.
Kaki Lyra sudah semakin sulit digerakkan. Air matanya semakin deras mengalir. Sungguh Lyra tak ingin bertemu dengan Zachery lagi. Lyra sudah mengubur peristiwa itu dalam-dalam dan menganggapnya tak pernah terjadi. Tapi kali ini seakan takdir kembali seperti dulu, tak berpihak padanya.
Pertemuannya kini dengan Zachery akan menjadi awal penderitaannya lagi.
Akhirnya Lyra tiba di pintu itu. Ia pun meraih gagang pintu dan membukanya perlahan. Seketika ia melihat pria itu berdiri menatap dinding kaca dengan kemeja yang seluruh kancingnya telah dibuka.
Mendengar pintu terbuka, Zachery berjalan segera menuju Lyra. Satu tangannya menutup pintu itu, dan satu tangan meraih pinggang Lyra dan mendekatkan tubuh Lyra padanya. Dalam hitungan detik, bibir Lyra sudah dilahap oleh Zachery membuat Lyra seketika memberontak.
Tenaga Zachery begitu kuat, Lyra yang bertubuh kurus tak bisa melakukan apa pun. Dorongan yang dilakukan kedua tangan Lyra di dada bidang Zachery, tak membuat pria itu terpengaruh.
Hingga bibir Zachery mulai menjelajah di leher jenjang Lyra. Inilah kesempatannya berteriak. "TUAN, LEPASKAN SAYA!!"
"Lepaskan kamu bilang?" Zachery menghentikan sejenak aktivitasnya. "Kamu menghilang hari itu. Aku mencarimu kemana-mana, dan dengan sangat rapi kamu melarikan diri dariku. Sungguh gadis pintar."
Lyra terisak memohon pengampunan. "Saya... sudah melakukan pekerjaan saya. Saya sudah tidak ada urusan lagi dengan anda!"
"Tidak. Aku sudah mengatakan padamu, aku ingin kau menjadi wanitaku. Kamu tidak tahu betapa aku menginginkanmu selama ini?"
Zachery kembali menghisap dan menciumi leher Lyra seakan ia ingin menebus hari-hari dimana ia menahan diri untuk tidak menginginkan kembali menyentuh Lyra.
Di belakang Zachery ada sebuah ranjang yang memang ia sediakan di kamar privat kantornya, sebagai tempat istirahatnya di kala ia lelah bekerja. Kini Zachery membawa Lyra menuju ranjang itu.
Seketika tubuh Lyra dijatuhkannya ke ranjang itu. Tangan besarnya dengan tidak sabar merobek semua kancing kemeja yang Lyra kenakan sehingga kini bukit kembar Lyra yang cukup besar itu terpampang di hadapannya meskipun masih tertutup bra.
Kilatan gelora di dalam diri Zachery terlihat jelas di kedua matanya. Has ratnya benar-benar sudah tak bisa ia bendung lagi. "Aku merindukan mereka, Aryl," ucapnya seraya menatap kedua bukit yang mengundang itu.
Lyra tak mau ini terjadi lagi. Ia berusaha menutupi tubuhnya. "BERHENTI!!" teriaknya sekuat tenaga.
Hingga saat Zachery mendekatkan wajahnya ke dada Lyra, sekuat tenaga Lyra menendangkan lututnya ke area sensitif Zachery yang terletak diantara pahanya. Seketika Zachery tumbang. Lyra pun mengambil kesempatan itu untuk kabur.
Namun Lyra kalah cepat, tangan Zachery terlanjur mencengkram tangannya. "Tidak akan aku biarkan kamu pergi lagi dariku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Erni Fitriana
paati deg degan nya kayak kesamber geluduk y rylll😖😖😖😖😖
2024-06-01
1
Pie Yana
kontek cinta dg paksaan,
2024-03-24
2
rosita sari
sudah like yaa kak, dan ku komen /Drool/
2024-03-22
1