Atas perintah Zachery, Felix terus mencari keberadaan Lyra. Namun nihil, wanita itu bak hilang ditelan bumi. Walaupun sangat marah, tapi Zachery memutuskan untuk tidak terlalu memfokuskan perhatiannya pada pencarian wanita malam itu. Ia terlalu sibuk sehingga ia lebih memilih untuk mengalihkan perhatiannya dengan fokus bekerja.
Namun masalah baru muncul. Saat ia tak bisa menahan hasratnya, Zachery tak lagi menginginkan wanita lain. Semua wanita yang Felix tawarkan ditolaknya. Malam yang ia habiskan dengan Lyra begitu berbekas dalam benak Zachery. Tubuh Lyra sudah menjadi candu untuknya.
Hingga bulan pun terus berganti. Lyra berhasil lulus di semester selanjutnya. Ia juga mendapat pekerjaan impiannya, di Vander Enterprise atas bantuan Dino yang kini sudah menjadi kekasihnya. Sebenarnya Lyra cukup kompeten, namun Dino sedikit banyak memberikan tips kepadanya agar wawancara yang dilakukan Lyra berjalan dengan lancar.
Hari itu hari pertama Lyra masuk kerja. Semuanya berjalan lancar, atasannya walaupun tegas tapi sangat membantu Lyra sebagai orang baru. Teman-teman satu divisinya juga menerima Lyra dengan baik.
Pulang kantor, Dino mengajak Lyra datang ke apartemen barunya.
"Sayang, bagus sekali apartemennya."
Lyra melihat ke sekeliling apartemen itu. Walaupun apartemennya tak terlalu luas, namun sangat nyaman.
"Lumayanlah, Sayang. Jaraknya juga dekat dengan kantor." Dino melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Lyra dan menautkan jari-jarinya di depan perut Lyra. "Kamu juga bisa menginap di sini kapan pun kamu mau."
Lyra memutar tubuhnya dan menatap ke arah sang kekasih. "Tidak boleh, Sayang. Nanti tetangga komplain."
"Kamu kolot sekali sih. Tetangga di sini beda dengan di kost, tidak akan mengurusi orang lain," ucap Dino. "Malam ini kamu menginap ya? Lebih nyaman di sini, kita juga dekat ke kantor. Jadi besok kita bisa berangkat kerja bersama-sama dari sini."
Lyra mencubit kedua pipi Dino. "Lihat nanti ya, Sayangku." Ia pun berjalan menuju meja makan dan membuka bento yang tadi dibelinya. "Makan dulu, yuk. Kamu pasti lapar."
Dino merasa kecewa karena Lyra lagi-lagi menolaknya. Sejak masih tinggal di kost sempitnya, ia sudah sering meminta Lyra untuk menginap di kostnya, namun Lyra tidak pernah mau.
Dino berjalan lemas dan makan bento yang sudah disiapkan Lyra. Ia akan mencoba membujuk Lyra lagi nanti setelah mereka makan.
"Bagaimana hari pertamamu?" tanya Dino.
"Sangat baik, Sayang. Atasanku juga baik sekali walaupun dia tegas tapi dia sabar memberitahukanku apa saja job desc ku. Rekan kerjaku juga sangat welcome." Lyra begitu semangat dengan pekerjaan barunya.
"Syukurlah, kalau begitu. Aku lega dengarnya," ujar Dino ikut senang.
"Ini berkat kamu, Sayang. Terima kasih ya sudah bantu aku, jadi aku bisa lolos wawancara dengan baik dan mendapatkan pekerjaan ini." Lyra meraih tangan Dino yang ada di hadapannya.
Dino mendekatkan tangan Lyra ke bibirnya dan mengecup punggung tangan sang kekasih. "Sama-sama, Sayang."
Setelah makan malam mereka mengobrol sebentar hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam. "Sayang, aku harus pulang sekarang." Lyra meraih tasnya dan memakai kardigannya.
Tepat saat itu Dino menghampiri Lyra dan mencium bibirnya. Lyra pun membiarkan bibir mereka bertemu untuk beberapa saat. Namun ketika Dino meraih kancing kemeja Lyra, Lyra pun menjauh. "Sayang, jangan."
"Kenapa kamu selalu tidak mau?!" Dino menaikkan nada bicaranya. "Kita sudah berapa bulan coba berpacaran? Aku ingin kita melangkah ke tahap selanjutnya! Apa jangan-jangan kamu sudah tidak sayang padaku? Kamu punya laki-laki lain ya?!"
"Kenapa kamu jadi menuduhku? Aku hanya ingin melakukannya kalau kita sudah menikah. Aku sudah pernah bilang 'kan?" Kembali Lyra mencoba memberikan pengertian.
"Apa bedanya dengan kita lakukan sekarang?! Aku pasti menikahi kamu nanti! Kamu tahu kita baru saja meniti karir. Kita kumpulkan uang dulu untuk menikah, agar kita bisa mencari rumah yang layak."
"Kamu sudah punya apartemen ini, Din. Ini sudah lebih dari cukup. Aku tak keberatan kalau kita menikah dengan sederhana. Bahkan tak ada resepsi juga tak apa-apa. Yang penting kita resmi jadi suami istri."
Dino malah tersenyum sinis. "Kamu bisa berbicara begitu karena kamu tak punya keluarga! Tapi aku anak pertama dan juga cucu pertama di keluarga besarku. Aku bekerja di perusahaan besar. Setidaknya aku harus punya rumah yang mewah dan juga resepsi yang besar-besaran! Untuk itu aku harus kerja beberapa tahun lagi sebelum bisa menikahi kamu!"
Lyra sangat paham itu. Tapi ia juga tidak bisa terus-terusan menolak keinginan Dino untuk menyentuhnya. Juga, sebenarnya Lyra takut Dino mengetahui bahwa dirinya sudah tidak perawan lagi. Padahal Dino tahu, Lyra belum pernah berpacaran sebelumnya.
"Terus kamu mau kita terus-terusan bertengkar seperti ini?" Lyra mulai jengah. "Kenapa sih kamu tak bisa mengerti? Apa sesusah itu kamu bersabar sebentar lagi?"
"Terserah! Aku juga sudah cape!" Dino meraih kunci mobilnya yang tergeletak di meja, dan berjalan menuju pintu. "Ayo cepat, aku akan antarkan kau pulang."
Lyra pun menghela nafas dalam menghilangkan gundahnya dan mengikuti Dino keluar dari apartemen itu.
Keesokan harinya, pagi-pagi, semua karyawan di beberapa departemen dikumpulkan di auditorium untuk semacam evaluasi kinerja bulanan. Lyra sudah duduk di salah satu kursi bersama teman-teman satu divisinya. Ia melihat sosok Dino melihat ke arahnya, namun dengan kesal Dino segera mengalihkan pandangannya.
"Kamu bertengkar dengan Dino?" tanya Jihan, teman satu divisinya yang mengetahui hubungan Dino dan Lyra. Jihan membetulkan kacamata besar yang bertengger di hidungnya.
"Iya," cicit Lyra sedih.
"Pantas saja kamu lesu sekali dari tadi. Sudah, bertengkar itu 'kan biasa untuk orang pacaran. Sekarang aku ingin memperlihatkan seseorang padamu."
"Seseorang?" tanya Lyra penasaran.
"Presdir Vander Enterprise akan memberikan pidatonya sekarang. Tak setiap evaluasi dia hadir loh!" Jihan begitu hebohnya.
"Memang kenapa dengan Presdirnya? Kenapa kamu heboh sekali?"
"Dia sangat tampan. Kamu bisa mengatakan aku adalah fansnya. Umurnya memang sudah hampir kepala empat, tapi..." Mata jihan menerawang, entah apa yang dipikirkannya. "Pokoknya kamu lihat sebentar lagi. Aku tak akan menolak jika ia memintaku jadi istri keduanya. Atau jadi simpanannya pun aku mau!"
"Yang benar saja kamu mau jadi simpanan. Jadi sugar baby begitu maksudnya?" ujar Lyra. Tiba-tiba ia teringat pada Rachel, perempuan yang sering menindasnya dulu, yang adalah putri dari presdir tempatnya bekerja itu.
Rachel dikabarkan cuti selama satu semester dan pergi ke luar negeri. Maka dari itu, Lyra bisa menyelesaikan skripsinya dengan lancar tanpa gangguan dari Rachel. Mendengar Presdir Vander Enterprise akan datang, Lyra jadi penasaran juga. Ia penasaran seperti apa ayah dari Rachel, dan juga setampan apa ayah Rachel itu. Apa seperti penggambaran Jihan?
Kemudian semua kursi di auditorium pun terisi penuh oleh para karyawan yang jumlahnya ratusan. Beberapa saat kemudian acara pun di buka.
"Untuk acara selanjutnya..." MC menghentikan ucapannya saat tiba-tiba datang seorang pria tinggi yang diikuti beberapa orang. Pria itu pun duduk di kursi paling depan bersama beberapa direktur yang hadir.
Lyra menelisik pria itu dari tempat duduknya yang jauh berada di belakang, namun ia tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena pria itu membelakangi Lyra. Tapi entah mengapa Lyra seperti pernah melihatnya.
"Baik," MC melanjutkan acaranya. "Telah hadir di tengah-tengah kita Yang Terhormat Presiden Direktur Vander Enterprise. Mari kita dengarkan sepatah dua patah kata dari beliau. Kepada Bapak Zachery Khaled Ivander, waktu dan tempat kami persilahkan."
Lyra seketika bak disambar petir di siang hari bolong mendengar nama itu.
Tepuk tangan langsung bergemuruh di auditorium itu seraya pria itu berjalan menuju podium. Wajahnya langsung terpampang di layar besar di latar panggung dan seketika Lyra melihat kembali pria yang telah 'menyewa'nya dan merenggut keperawanannya, berdiri di depan ratusan karyawannya dengan penuh kharisma.
Seluruh tubuh Lyra bergetar hebat. 'Apa maksud semua ini Tuhan?'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Erni Fitriana
tenang ryllll tenangggggg
2024-06-01
1
Pie Yana
jodoh kali ya, dia yg buka segel maka dia juga yg harus jd tutup dr segel yg terbuka wkwkwk
2024-03-24
4
Rahmawati
aduh ternyata beneran pemilik perusahaan besar
2024-02-23
4