"Saya tidak mau!" Lyra masih terus mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Zachery. "Tolong lepaskan saya, saya mohon, Tuan!" Isak Lyra lebih keras.
Zachery melonggarkan cengkramannya, namun ia tak membiarkan Lyra pergi dari kamar itu. Saat Lyra mencapai pintu, Zachery menahan pintu itu agar Lyra tak bisa keluar. "Kenapa kamu tidak mau? Bahkan kamu belum mendengarkan penawaran dariku. Aku akan berikan semua hal yang kamu inginkan, tapi kamu harus selalu ada disaat aku ingin kau layani."
Lyra menggeleng cepat seraya memegang kancing kemejanya yang sudah terlepas akibat robekan pria itu. "Saya tidak mau! Saya bukan perempuan seperti itu..." Isak Lyra semakin pilu. Ingatan saat ia merasakan menjadi manusia paling rendah yang sudah ia kubur selama ini, mendadak naik ke permukaan dan memenuhi kepalanya.
Zachery mendengus. "Bukan perempuan seperti itu? Bukankah kamu pergi dengan semua uangku setelah melayaniku malam itu?"
"Saya sangat membutuhkan uang... Setelah malam itu saya benar-benar tak pernah kembali ke dunia itu, saya bukan perempuan yang seperti anda pikirkan! Makanya saya pergi dari anda, menghilang dari anda, karena saya tidak mau menjadi perempuan rendah seperti itu lagi!" terang Lyra. "Jadi tolong, Tuan, kasihanilah saya! Masih banyak perempuan lain yang bisa anda jadikan penghibur bagi anda. Saya sungguh tidak bisa. Saya mohon... saya mohon!" Lyra menangkupkan kedua tangannya dan memohon dengan sangat pada Zachery.
"Jadi setelah aku, tidak ada laki-laki lain yang menyentuhmu lagi?" Zachery tersenyum senang.
"Tidak ada, Tuan. Saya menggunakan uang itu untuk mencari tempat tinggal dan menyelesaikan kuliah saya. Saya hanya ingin lulus kuliah dan mencari kerja. Tapi..." suara Lyra tercekat karena tangisnya. "Saya malah bekerja di perusahaan anda ini. Saya benar-benar tidak tahu jika anda adalah Presdir dari Vander Enterprise! Jika saya tahu saya tidak akan melamar pekerjaan di sini. Saya mohon tuan, saya hanya ingin menjalani kehidupan saya yang sudah membaik. Saya tidak akan melupakan bantuan yang telah anda berikan waktu itu. Maka dari itu saya..."
Zachery mendekat pada Lyra dan meraup pipi Lyra. "Sudahlah, kamu tak perlu menangis seperti ini." Dihapusnya air mata yang telah membanjir di pipi Lyra. "Sekarang yang harus kamu lakukan hanya mengubah pemikiranmu itu. Aku berjanji, hidupmu akan jauh lebih bahagia sebagai wanitaku. Kamu tidak perlu bekerja sebagai karyawan, tapi aku pastikan kau akan punya segalanya."
"Saya bilang saya tidak mau, Tuan!" Lyra berontak mencoba melepaskan diri dari Zachery.
Namun saat Lyra mencoba melepaskan tangan Zachery yang menyentuh pipinya, tangan besar dan kekar itu malah mencengkram rahangnya. "Tuan, lepaskan! Sakit!"
"Kamu membuat kesabaranku habis, Aryl. Aku tidak pernah gagal mendapatkan apa yang aku inginkan. Karena aku menginginkanmu, maka aku akan mendapatkanmu, sekalipun kamu tidak mau. Kamu sudah masuk ke dalam wilayah kekuasaanku, jadi jika kamu tidak ingin aku menghancurkanmu, maka diam dan lakukan apa yang aku mau. Kamu mengerti?!"
Kedua sorot mata tajam itu begitu mengerikan, membuat Lyra mau tak mau berusaha menganggukkan kepalanya yang masih tertahan oleh cengkraman Zachery. Pria itu pun melepas cengkramannya membuat Lyra kini pasrah dengan apa yang akan diperbuat oleh atasannya itu.
Tanpa menunggu Zachery melu mat kembali bibir tipis nan merah muda milik Lyra lagi. Kini Lyra tak memberontak lagi. Apa lagi yang bisa dilakukannya kini?
Tak ada, ia sudah terjebak. Kini Zachery mengetahui semua indentitasnya. Dirinya berada dalam genggaman Zachery sepenuhnya. Ia sudah tidak bisa melarikan diri lagi. sehingga Lyra pun membiarkan pria itu melucuti seluruh pakaiannya dan kembali menikmati tubuhnya, seperti malam itu.
Zachery seperti seseorang yang berhari-hari tidak menemukan makanan. Ia sangat kelaparan. Dengan begitu kasar dan tak sabarnya ia menikmati tubuh Lyra. Ia tak peduli Lyra yang masih saja terisak dan merintih kesakitan karena perlakukannya yang sama sekali jauh dari kata lembut.
Beberapa saat kemudian, Zachery mencapai pelepasannya. Namun seperti sebelumnya, mendapatkan sekali pelepasan saat melakukannya dengan Lyra tidak membuatnya puas. Ia pun kembali menikmati tubuh Lyra dengan begitu rakusnya.
Namun pintu kamar tiba-tiba diketuk. Bibir Zachery yang tengah asyik mengulum puncak coklat kemerahan merah muda milik Lyra terpaksa menghentikan aksinya. "Sial. Ada apa?!" teriak Zachery ke arah pintu.
"Maaf, Pak. Nyonya Rosalie dan Nona Rachel sedang menuju kemari. Mereka sedang menaiki lift," teriak Felix dari balik pintu.
Zachery mengumpat kesal. "Bangunlah, gunakan kembali pakaianmu dan segera keluar dari sini."
Lyra dengan patuh menggunakan semua pakaiannya lagi, begitu juga Zachery.
"Tidak bisa, Tuan. Pakaian saya..." Lyra memperlihatkan semua kancing kemejanya yang sudah terlepas dan tak bisa lagi dikancingkan.
"Kamu tunggu di sini, jangan bersuara sedikit pun. Mengerti?" titah Zachery.
Lyra mengangguk dengan patuh.
Setelah itu Zachery keluar dari kamar itu. Lyra mendengar pintu itu dikunci dari luar. Ia pun duduk di balik pintu yang terkunci itu dan kembali meneteskan air matanya, mengasihani dirinya yang kembali diperlakukan tidak adil oleh takdir.
Ia teringat pada Dino, dan perasaannya kian buruk. Ia merasa amat sangat bersalah kepada kekasihnya itu. Selama ini ia selalu bertingkah selayaknya perempuan baik-baik yang menjaga kehormatannya.
Bahkan Dino yang selalu ingin menyentuhnya, tak pernah Lyra izinkan. Tapi ironisnya, Lyra malah melakukannya dengan pria lain, terlebih pria itu adalah pria yang telah merenggut harga dirinya hingga ke akar-akarnya.
Tak lama, Lyra yang duduk di balik pintu itu mendengar percakapan yang terjadi di ruangan Zachery. Ia mendengar suara yang dikenalnya, suara Rachel.
"Daddy!" sapa Rachel seraya memeluk sang ayah.
Rosalie yang berada di belakang Rachel pun duduk di sofa, tak menyapa sang suami sama sekali.
"Ada apa kalian kemari?" tanya Zachery seraya membalas pelukan sang putri.
"Aku baru pulang dari London, Daddy. Masa Daddy lupa? Aku baru sampai dan langsung ke sini."
"Tentu Daddy tidak lupa. Daddy yang kirim orang untuk menjemputmu, tapi kenapa kamu tidak langsung ke rumah, malah datang kemari."
"Zach, kamu sepertinya tidak terlalu suka dengan kedatanganku dan Rachel. Berbulan-bulan Rachel berada di London bahkan kamu tidak mengunjunginya sama sekali," protes Rosalie dingin.
"Aku sibuk. Kamu tahu itu, Rose," sahut Zachery singkat. "Pulanglah, aku sangat sibuk."
"Daddy, aku merasa Daddy berubah. Daddy sudah tidak sayang lagi padaku?" rajuk Rachel.
"Tentu Daddy sayang. Daddy akan pulang nanti malam, jadi biarkan Daddy selesaikan pekerjaan Daddy. Jadi Daddy bisa makan malam bersamamu di rumah, okay?" bujuk Zachery pada sang putri.
"Ya sudah kalau begitu. Yuk, Mom. Kita pulang," ajak Rachel.
Rosalie pun beranjak dari sofanya dan menghampiri Zachery. Ia mendekat dan mengendus sang suami.
Ditatapnya wajah Zachery dengan dingin. "Lakukan di apartemen atau hotel. Jangan di kantor. Aku tidak ingin kamu menodai tempat terhormat yang ayahku bangun dengan kerja kerasnya, dengan hal-hal seperti ini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Erni Fitriana
eleuhhhhhhhh......bisa musuh bebuyutan klo gini ceeitanya
2024-06-01
1
Dessy Rinda
wow ternyata yg kaya istrinya
2024-04-03
3
Pie Yana
hmmm something wrong
2024-03-24
2