Pagi harinya, Lyra terbangun. Ia masih belum berpakaian. Tubuhnya tertutup selimut putih hingga ke dadanya. Dari arah belakang, ia merasakan hembusan nafas di tengkuknya.
Sebuah tangan pun melingkar di pinggangnya. Lyra menoleh ke arah belakang dan melihat pria itu masih terlelap. Lyra mengangkat tangan Zachery dari pinggangnya dan bangkit perlahan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Kembali ia menangis. Lagi-lagi ia merasa begitu rendah. Seluruh dada, perut, dan pahanya dipenuhi jejak-jejak yang Zachery buat semalam. Lyra mulai menggosok tubuhnya dengan kuat, seakan ia sedang menghilangkan ingatan akan sentuhan-sentuhan yang masih begitu segar dalam ingatannya itu.
"Baby, kulitmu bisa terluka jika kamu menggosoknya sekeras itu."
Tiba-tiba saja Zachery sudah bergabung bersama Lyra.
Segera Lyra menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya. "Tolong, biarkan saya membersihkan diri," isak Lyra.
Zachery tak mengabulkan keinginan Lyra untuk pergi. Ia mengambil spons dan mulai membantu Lyra menggosok tubuhnya.
"Saya bisa melakukannya sendiri!" teriaknya begitu tak nyaman dengan apa yang Zachery lakukan. Sudah cukup tadi malam ia bersama pria itu, dan kini ia butuh hanya bersama dirinya sendiri. "Tak bisakah anda..."
Seketika Zachery menyentuh inti tubuh Lyra, membuat kata-katanya tertahan dan Lyra tak melanjutkan apa yang akan diucapkannya. "Panggil aku Daddy, Baby. Kenapa kamu terus melupakannya?"
Satu hal lagi yang membuat Lyra kesal, tubuhnya mulai tak memihak padanya. Tubuhnya mulai menyukai dengan apa yang Zachery lakukan hingga tanpa dapat ia cegah, tubuhnya begitu menikmatinya, nyaris mengalahkan akal sehatnya.
Seperti sekarang, ia tak bisa menahan des ahannya untuk lolos dari bibirnya. "Daddy..." Des ah Lyra pelan.
Bibir Zachery sudah bermain di daun telinga Lyra membuat Lyra semakin kehilangan akal sehatnya. "Jujurlah pada dirimu sendiri, Baby. Akuilah jika kamu pun menikmati semua yang aku lakukan."
Zachery kembali menja mah tubuh Lyra. Lyra pun kembali menikmatinya, setidaknya tubuhnya yang menikmatinya. Sedangkan akal sehatnya masih terus menegurnya, walaupun teguran-teguran itu tak ada gunanya. Tubuhnya telah mengkhianatinya dan menyambut baik perlakuan Zachery terhadapnya.
Setelah puas, Zachery dan Lyra sama-sama membersihkan diri dan menggunakan jubah mandi.
Tiba-tiba Lyra merasa pusing dan tubuhnya oleng, untung saja Zachery segera menahan tubuh perempuan itu. "Kamu tidak apa-apa?"
"Kaki saya terasa seperti jelly," lirih Lyra. Ia merasa lemas sekali.
Lyra sangat kelelahan. Sejak kemarin siang ia belum makan, ditambah ia terus-terusan digempur oleh Zachery hingga lewat tengah malam, kini bahkan di pagi hari beberapa kali ia sudah harus melayani pria itu lagi. Tenaganya benar-benar terkuras habis.
Seketika Zachery membopong tubuh Lyra dan mendudukkannya di sisi tempat tidur. Ia membawa satu dress yang tersedia di walk in closet, kemudian membantu Lyra memakai pakaian itu.
"Saya bisa sendiri..." Lirihnya lemah.
"Sudah, diamlah. Aku hampir selesai."
Zachery sedang memakaikan dress itu pada Lyra. "Di ruang tengah, sarapan sudah tersedia, dan kamu harus makan yang banyak. Kamu harus selalu dalam keadaan fit, aku tidak ingin kamu sakit dan absen dalam melayaniku. Kamu paham, Baby?"
Lyra mengangguk patuh. Setelah memakaikan Lyra pakaian, Zachery pun berpakaian. Ia keluar dari walk in closet dengan menggunakan setelan kantornya.
"Kenapa ada banyak pakaian Daddy di kamar hotel ini?" tanya Lyra saat melihat ruangan itu penuh dengan banyak setelan jas. Ia juga penasaran, kenapa ada pakaian perempuan yang kini melekat di tubuhnya.
"Ini adalah hotelku. Kamar hotel ini sering aku datangi, jadi aku menyimpan beberapa pakaian untuk jaga-jaga. Aku juga menyimpan banyak pakaian wanita, karena terkadang aku membutuhkannya."
Zachery pun kembali membopong Lyra.
"Saya bisa jalan sendiri!" Lyra begitu terkejut karena Zachery kembali membopongnya.
Zachery pun berjalan keluar kamar dengan Lyra yang dibopong olehnya. "Aku tidak ingin kamu terjatuh."
Didudukkannya Lyra di kursi makan yang memang ada di ruang tengah. Lyra melihat meja itu penuh dengan berbagai makanan enak. Saking menggodanya, Lyra menelan salivanya. Tiba-tiba ia merasa sangat lapar.
"Makanlah yang banyak."
Zachery sudah duduk di hadapan Lyra. Lyra pun segera melahap berbagai makanan yang ada di hadapannya. Ia benar-benar kelaparan.
Zachery tersenyum melihat Lyra yang makan begitu lahap. "Aku akan berangkat ke kantor. Kamu tetap berada di sini," titahnya.
"Tapi saya juga harus bekerja," Lyra mengingatkan.
"Kamu tidak perlu lagi bekerja. Aku akan memberikan uang yang cukup banyak untukmu. Lakukan hal yang aku suruh setiap harinya, cukup itu yang kamu lakukan." Diktenya.
"Saya hanya akan selama tiga bulan bersama Daddy. Setelah semua ini berakhir, bagaimana saya akan menghidupi diri saya sendiri jika saya tidak mempertahankan pekerjaan saya? Tolong, izinkan saya tetap bekerja." Lyra memohon.
"Aku tidak pernah menjalin hubungan ini dengan karyawanku. Jadi kamu harus berhenti," tegasnya.
"Tidak," ucap Lyra tak kalah tegas.
Zachery sampai mengurungkan niatnya saat akan menyuapkan sepotong roti ke mulutnya.
"Saya bekerja sangat keras untuk mendapatkan pekerjaan ini. Daddy tidak bisa melarang saya. Walaupun Daddy adalah pemilik perusahaan itu, tapi saya direkrut oleh pihak HRD yang sudah mengetahui kemampuan saya. Saya adalah karyawan yang cukup kompeten. Saya yakin, Daddy akan menyesal jika kehilangan karyawan seperti saya."
Lyra tak bisa kehilangan pekerjaan ini. Bagaimanapun juga setelah tiga bulan, ia harus kembali ke kehidupan normalnya dan kembali membanting tulangnya untuk hidup.
Zachery tertawa mendengar Lyra yang mendebatnya. "Kamu sangat pemberani, Baby. Selama ini tak ada wanita yang berani melawan perintahku."
"Kenapa saya harus diam saja? Daddy tidak memberikan saya pilihan atas kehidupan saya selama tiga bulan ke depan. Tapi setelah itu, sepenuhnya hidup saya akan menjadi milik saya sendiri lagi. Saya berjanji, saya tidak akan menampakkan diri saya lagi di depan Daddy saat berada di kantor. Setelah perjanjian ini berakhir, saya tidak akan hadir di hadapan Daddy lagi. Mohon pertimbangkan lagi. Saya mohon," ucap Lyra penuh harap.
Zachery menatap Lyra sambil menimang-nimang.
"Baiklah, itu ide yang cukup bagus juga. Hari ini ada perekrutan untuk posisi sekretaris baruku. Kamu harus melamar, aku ingin kamu tetap dekat denganku bahkan saat aku berada di kantor."
"Tapi saya..."
"Masukkan CV dan surat lamaranmu," tegas Zachery lagi. "Aku sudah berkompromi. Itu penawaran terakhirku."
"Bagaimana dengan tiga bulan lagi? Apa saya masih harus tetap menjadi sekretaris Daddy?"
"Tiga bulan lagi masih sangat lama, Baby. Kita bicarakan lagi itu nanti. Sekarang, kamu boleh bekerja tapi hanya sebagai sekretarisku. Dan pulang kerja nanti pergilah ke salon. Aku sudah melakukan reservasi di sana. Rawatlah dirimu sebaik mungkin. Aku ingin kamu selalu berdandan cantik dan wangi. Kita bertemu lagi di sini nanti malam," tegasnya.
***
"Ra, kamu benar-benar memasukkan lamaran untuk jadi sekretarisnya Pak Zachery?" tanya Jihan saat mereka sedang berjalan menuju lobi untuk pulang.
"Iya," Sahut Lyra singkat.
"Kenapa? Apa kamu menyukainya?" tanya Jihan penuh telisik.
"Hah? Maksud kamu apa??" tanya Lyra keheranan.
"Waktu evaluasi kemarin kamu melihatnya sampai seperti itu. Mengaku saja, tapi aku peringatkan...."
"Han," potong Lyra. Jihan menutup mulutnya saat Lyra menatap dengan begitu serius kepadanya. "Aku hanya ingin mendapatkan kerja yang lebih baik, yang lebih besar gajinya. Ini tidak ada hubungannya dengan hal-hal seperti itu. Jadi tolong kamu jangan berpikir macam-macam lagi tentangku."
"Oh... syukur deh kalau gitu." Jihan terlihat begitu lega.
Saat berjalan di lobi langkah Lyra terhenti saat kedua matanya menangkap sosok Rachel yang baru saja keluar dari mobilnya dan memasuki lobi.
Tak sengaja, Rachel menangkap sosok Lyra juga yang sedang menatap ke arahnya. Seketika wajah tak ramah Rachel berubah semakin antagonis. Ia menghampiri Lyra. "Sedang apa kamu di sini?!" Ia mengambil name tag yang masih menggantung di leher Lyra. "Kau bekerja di sini?! Di perusahaanku?!" Rachel pun murka.
Lyra menghela nafasnya kasar. Ia selalu merasa sangat lelah saat sudah bertemu dengan Rachel. "Iya," sahutnya singkat tak ingin berdebat.
"Benar-benar! HRD di sini harus dipecat satu-satu! Bagaimana bisa perempuan sepertimu di terima bekerja di sini?!"
"Sudah cukup, Rachel. Aku lelah, tak ada waktu untuk meladenimu."
Lyra pun berjalan melewati Rachel.
"BERHENTI!!" Teriak Rachel membuat orang-orang di lobi itu menoleh ke arahnya.
Ia pun mencengkram tangan Lyra dan membuatnya menghadap kembali ke arahnya. "Berani sekali kau..."
"Rachel."
Rachel dan Lyra menoleh ke arah sumber suara dan melihat Zachery berdiri tak jauh dari mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Erni Fitriana
😁😁😁😁kalah lu chel sama daddy...dasdy ngebelain baby lahhhh😛😛😛😛😛
2024-06-01
1
rosita sari
Daddy pahlawan lyra datang
2024-03-22
2
Rahmawati
lawan Rachel ra, liat gmn reaksi sugar daddymu
2024-02-23
3