Zachery menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya dari wanita-wanita malam yang selama ini pernah menghabiskan malam dengannya. Biasanya wanita-wanita itu, walaupun masih perawan, tetapi terasa sudah berpengalaman. Mereka dengan lihai bisa memuaskan Zachery. Desa han mereka kadang terdengar tak tulus dan dibuat-buat.
Namun dengan Lyra, perempuan ini benar-benar selayaknya seorang perempuan perawan yang murni tak pernah tersentuh. Reaksi Lyra begitu jujur. Desa hannya lirih begitu merdu terdengar di telinga Zachery. Wangi tubuh Lyra juga begitu memabukkan baginya. Hingga tanpa sadar tubuh Lyra sudah menjadi ca ndu bagi pria itu.
Lewat tengah malam hingga terbit matahari, Zachery menikmati tubuh Lyra tanpa ampun. Semua pergulatan itu baru selesai setelah Zachery akhirnya tertidur karena kelelahan di saat matahari sudah menggantung cukup tinggi di langit pagi itu. Namun, berbeda dengan pria itu, usai penyatuan yang terakhir, Lyra segera menuju kamar mandi. Ia hujani seluruh tubuhnya yang penuh peluh dibawah rintik air.
Lyra menangis. Rasa tak rela masih bercokol di hatinya. Ia merasa begitu rendah, merasa harga dirinya sudah tak ada lagi. Ia menggosok setiap inci tubuhnya dari kaki hingga ke leher dengan begitu kasarnya, membasuh tanda-tanda merah yang terdapat nyaris di seluruh tubuhnya. Iya, Zachery pelakunya.
Pria itu entah bagaimana seakan tak puas menja mah tubuh Lyra hingga ia menandai seluruh tubuh Lyra dengan jejak kepemilikannya. Jika saja Zachery dalam kondisi lebih fit, mungkin pergulatan itu akan masih berlanjut hingga sekarang.
Sekitar satu jam kemudian, Lyra menggunakan kembali pakaiannya. Lyra segera keluar kamar. Ia sama sekali tak ingin melihat sosok yang masih terlelap dengan damai di ranjang yang masih berantakan itu. Di ruang tengah, ia mendapati meja makan penuh dengan berbagai macam makanan. Lyra tak pernah melihat makanan enak sebanyak itu sepanjang hidupnya. Namun Lyra menatapnya tanpa ada selera makan sedikit pun.
Sudut matanya menangkap sebuah paper bag dengan tulisan, to Aryl. Lyra pun melihat isinya, ternyata itu adalah honor untuk 'pekerjaan' yang sudah dijanjikan untuknya. Dengan air mata yang kembali menetes ia mengambil paper bag itu dan berjalan menuju pintu.
Di dalam lift, Lyra menghela nafas dalam. "Sudah, Lyra. Semuanya sudah selesai. Lupakan Lupakan."
Ia pergi ke tempat hiburan itu untuk mengambil kopernya. Beruntung ia tak bertemu dengan Starla atau pun Madame Grace, karena Lyra tak berniat untuk mengucapkan salam perpisahan pada orang-orang itu. Juga Lyra bertekad untuk tidak bertemu dengan mereka lagi. Ia akan kubur dengan sangat dalam kejadian semalam dan menganggapnya tak pernah terjadi.
Kemudian Lyra berjalan ke halte dan naik bis dan berhenti di beberapa halte. Ia mencoba mengecoh CCTV dengan mengganti pakaian beberapa kali. Semua itu ia lakukan karena Lyra tahu, malam panas yang dilaluinya tadi malam tak akan berakhir begitu saja.
Pria itu berkata di tengah penyatuan yang dilakukannya tadi malam. Aryl, kamu sangat nikmat. Aku menginginkanmu lagi dan lagi. Jadilah wanitaku. Aku akan memberikan apa pun untukmu.
Karena itulah, Lyra khawatir Zachery akan mencarinya lagi. Lyra juga tahu, pria itu bukanlah orang biasa. Ia punya beribu cara untuk menemukan Lyra. Sehingga ia harus melarikan diri dengan tanpa jejak.
Zachery mungkin saja begitu menikmati penyatuannya bersama Lyra, tapi bagi Lyra, malam itu seperti mimpi buruk. Seluruh tubuhnya, hatinya, terasa sangat sakit. Maka dari itu ia harus menghilang, agar ia tak perlu kembali bertemu dengan pria itu lagi.
Setelah merasa cukup mengecoh CCTV, Lyra pun kembali dengan taksi online menuju kampusnya. Segera ia membayarkan uang itu secara tunai untuk mengontrak semester depan sehingga ia bisa menyelesaikan kuliahnya. Kemudian ia mendatangi sebuah tempat kost yang memang sudah menjadi incarannya dan membayarnya untuk selama setahun. Sisanya, ia simpan untuk keperluannya sehari-hari sebelum ia mendapatkan pekerjaan lain.
Malam harinya Lyra termenung di dalam tempat kostnya. Ia begitu lega karena masalahnya kini sudah berhasil diatasi. Ia menatap sekeliling yang hanya sebuah kamar dengan kamar mandi di dalam dan juga dapur kecil di sudut ruangan. Ia duduk di sebuah kasur kecil sambil membereskan pakaiannya ke dalam lemari.
"Lupakan, Ra. Lupakan"
Kembali Lyra meyakinkan dirinya masih begitu gundah. "Kamu mendapatkan uang untuk semua ini karena mama dan papa. Bukan karena kamu melakukan itu."
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nama Dino muncul di layar ponselnya. Rupanya, salah satu teman satu jurusannya itu ada di depan tempat kostnya. Lyra pun turun dari kamar kostnya di lantai dua, dan menemui Dino di halaman tempat kost itu.
"Dino, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Lyra.
"Aku tinggal di ujung gang sana. Tadi pagi aku tak sengaja melihatmu masuk ke kost ini. Aku tidak nyangka kamu benar-benar tinggal di sini," ucapnya terlihat begitu bersyukur. "By the way, kenapa kamu kost? Rumahmu 'kan lumayan dekat dari kampus?"
"Iya, orang tuaku... pindah. Tapi karena aku masih harus menyelesaikan kuliahku, makanya aku sewa kost ini," dustanya. "Din, lebih baik kita jangan bertemu lagi seperti ini. Aku tak mau kamu dikucilkan lagi."
"Tenang saja, Lyra. Aku sudah lulus sekarang. Aku juga sudah punya kerja. Kamu jangan khawatir lagi dengan apa yang akan Rachel lakukan padaku."
"Serius kamu sudah lulus? Kamu sudah sidang?" Lyra begitu terkejut. Ia iri pada temannya itu. Lyra nampak sangat sedih. "Andai skripsiku tak hilang. Aku juga pasti sudah lulus sekarang."
"Tidak apa-apa, Ra. Itu seninya mahasiswa tingkat akhir. Kamu lupa, skripsiku sempat dirobek oleh dosen pembimbingku, 'kan? Tapi sesudah semuanya selesai, justru aku merasa lucu dengan kejadian itu. Kamu juga sama, harus tetap semangat. Itu hanya kerikil kecil dalam perjuanganmu menyelesaikan kuliah. Sekarang begini saja, nanti kalau ada lowongan di tempat kerjaku, kamu akan menjadi orang pertama yang akan aku kasih tahu."
"Aku tak banyak berharap. Kamu sangat pintar, IPKmu tinggi, cum laude. Bahkan kamu mendapatkan tawaran kerja di Vander Enterprise dan diterima di sana sebelum kamu lulus. Sedangkan aku? Lulus saja terlambat. IPKku pasti jeblok. Tak ada harapan untukku kerja di sana." Lyra begitu pesimis.
"Jangan patah semangat begitu, dong. Pokoknya kita harus bisa targetkan bisa kerja di salah satu perusahaannya Vander Enterprise. Itu 'kan sudah jadi cita-cita masalnya mahasiswa jurusan kita, Ra. Kamu juga pasti bisa."
"Tapi Rachel..."
"Walaupun Rachel anak pemilik Vander Enterprise, tapi perusahaan itu cukup objektif kok, mereka sangat profesional. Pokoknya kamu tidak akan sampai tidak diterima hanya gara-gara Rachel. Tenang, kamu punya aku. Aku akan pastikan lamaranmu, baik hard file atau soft file, akan diterima dengan baik ke HRD Vander Enterprise."
Lyra menatap Dino penuh syukur. "Terima kasih ya, Din."
"Sama-sama. Kamu bisa mengandalkanku ke depannya, Ra. Aku akan ada untukmu."
***
Zachery datang terlambat ke kantornya hari itu. Felix dimarahi habis-habisan karenanya. Jadwal yang sudah diatur terpaksa harus ia jadwal ulang karena keterlambatannya itu. Tepat saat matahari terbenam, pekerjaan Zachery untuk hari itu pun selesai.
"Panggil Aryl ke kamar hotel," titah Zachery seraya melonggarkan dasinya.
"Baik, Pak," sahut Felix. Ia menghubungi Madam Grace. Namun kabar buruk segera Felix dapatkan. Setelah menutup telepon, Felix melaporkannya pada Zachery.
"Maaf, Pak. Madame Grace mengatakan, Aryl sudah pergi sejak tadi pagi. Ia juga tak memiliki KTP ataupun nomor telepon Aryl."
Kedua alis tebal Zachery beradu. Ditatapnya Felix dengan berang. "Bagaimana kalian seceroboh itu?!" murkanya. "Cari Aryl sampai dapat! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, satu jam lagi, ia harus berada di kamar hotelku!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Erni Fitriana
nasib asistennn selalu begituhhhh...bos yg pengen ena ena..asisten yg kudu kalang kabut
2024-06-01
1
Princess Ren
perusahaan zachery itu🤭🤣🤣🤣🤣😂. niat hati ngga mau ketemu, ternyata berjodoh lewat perusahaan itu😂😂😂
2024-04-06
2
Pie Yana
hmm ketagihan ini si boss
2024-03-24
3