"Tuan," Lyra menyeka air matanya yang membanjir, "anda bisa menurunkan saya di depan."
Zachery menoleh dan melepaskan earphonenya. "Kamu berkata sesuatu?"
Lyra pun mengatakannya lagi, dan pria itu malah mendekat pada Lyra. Sepersekian detik kemudian sudah dilum atnya kembali bibir Lyra tanpa permisi.
Lyra yang terhenyak segera mendorong tubuh Zachery. "Tuan!" teriak Lyra seraya menyeka bibirnya.
"Kamu tidak akan keluar dari mobil ini, kecuali kita sudah sampai di hotel."
"Ap-apa?! Hotel?"
Tepat saat itu mobil itu memasuki area sebuah hotel bintang lima. "Tuan, kenapa anda membawa saya kemari?!" Lyra begitu panik.
Seharusnya ia tahu ini akan terjadi.
"Kita akan menginap di kamar hotelku lagi malam ini," cetus Zachery.
"Saya tidak mau!" tolak Lyra dengan tegas.
Ia sedang sangat lelah dan benar-benar tidak ingin berdebat. Ia ingin menyendiri dan menyembuhkan luka hatinya. Namun pria ini tak membiarkan Lyra bahkan untuk sekedar mengasihani dirinya sendiri.
"Aku baru saja membantumu melarikan diri dari kekasihmu yang berselingkuh itu. Ini caramu berterimakasih?"
"Jadi benar semua ini adalah kehendak Tuan? Tuan mencari tahu tentang Dino dan memindahkannya ke Medan? Lalu Tuan menunggu saya di depan apartemen itu? Jadi Tuan sudah merencanakan semuanya!?"
Lyra benar-benar mengesampingkan rasa segannya terharap Zachery. Ia terlalu marah untuk bisa bersikap sopan kepada pimpinan tertinggi perusahaannya itu.
"Ya dan tidak," sahut Zachery seraya meminta sang supir untuk keluar.
Kemudian di mobil itu hanya ada mereka berdua. "Saya mencari tahu tentang kamu, itu betul. Memindahkan kekasihmu itu ke Medan, itu juga betul. Tapi aku menunggu di depan apartemen? Tentu saja tidak, apa aku sesenggang itu sampai aku menunggumu di depan apartemen orang lain? Aku hanya kebetulan lewat, tidak disangka aku melihatmu yang sedang bertengkar dengan mantan kekasihmu itu. Kamu harus berterimakasih karena aku sudah menyelamatkanmu."
Lyra tertawa getir, "menyelamatkan?"
"Tentu saja. Jika aku tidak memindahkannya ke Medan, apa kamu akan tahu dia bermain api di belakangmu?"
Lyra tak bisa menjawabnya. Itu memang benar, jika saja tidak ada kabar dimutasinya Dino ke Medan mungkin ia tidak akan datang ke apartemen Dino secara mendadak dan mengetahui semua ini.
"Kamu sudah menangisinya barusan. Itu sudah cukup. Lepaskan dan tataplah masa depan. Sekarang, ikut aku."
Zachery keluar dari mobil dan supir pun membukakan pintu Lyra, mau tak mau Lyra pun keluar dan menghampiri Zachery.
Sesaat Zachery menatap Lyra dari atas hingga bawah. "Kemana Aryl yang begitu se ksi dan menggoda? Kenapa kamu memakai pakaian seperti ini?" komentar Zachery yang melihat Lyra hanya menggunakan pakaian rumah dan hoodie.
"Saya buru-buru pergi tadi saat tahu Dino akan pindah. Lagi pula Aryl sudah tidak akan pernah ada lagi, Tuan. Saya tidak akan berdandan seperti itu lagi," tegas Lyra.
Digenggamnya tangan Lyra. "Tidak. Aryl akan menemaniku setiap malam mulai malam ini. Dan aku pastikan Aryl akan kembali berdandan se ksi seperti malam itu."
"Tapi Tuan..."
Zachery tak membiarkan Lyra melawannya lagi. Kemudian mereka sudah berada di kamar hotel itu lagi, kamar hotel yang sama saat pertama kali Lyra menyerahkan diri kepada sang presdir.
Mereka duduk di sofa dengan posisi berhadap-hadapan. Di hadapan mereka ada beberapa lembar kertas. Lyra merasa de ja vu. Ia seperti kembali ke malam itu di mana ia harus menandatangani surat perjanjian dengan Felix. Bedanya kali ini ia berhadapan langsung dengan Zachery.
"Kamu pasti sudah tahu apa ini. Jadi bacalah dan tanda tangani sekarang juga," titah Zachery tak sabar.
Lyra tetap bergeming. Tatapannya sendu menatap kertas yang tergeletak di hadapannya.
"Tunggu apa lagi?" desak Zachery. "Bacalah, kamu tak akan menyesal."
"Tuan," Lyra mencoba bernegosiasi. "Dulu saya terpaksa melakukan itu karena saya sangat membutuhkan uang. Saya ditinggalkan keluarga angkat saya, saya tidak punya tempat tinggal, saya juga terancam berhenti kuliah. Maka dari itu saya tidak punya pilihan lain selain menerima bantuan dari anda. Namun sekarang, saya tidak bisa, Tuan. Saya sungguh tidak bisa."
"Aku melihat kamu menginginkan kehidupanmu kembali seperti dulu, seperti sebelum menerima bantuanku."
Zachery menyandarkan punggungnya pada sofa dengan santainya.
Kata-kata bernada ancaman itu seketika membuat Lyra menelan salivanya. "A-apa, maksud Tuan?" Lyra seketika merinding. Apa Zachery akan membiarkan dirinya kehilangan semuanya? Ia sudah kehilangan sang kekasih. Apa lagi yang akan Zachery renggut darinya?
"Kamu sudah ada dalam genggamanku, Aryl. Kamu tidak bisa apa-apa selain menandatanganinya."
Kedua tangan Lyra mengepal kuat. Ia sungguh marah, namun tak ada yang bisa dilakukannya.
"Anda egois! Tidak semua hal bisa anda dapatkan, Tuan! Dan asal Tuan tahu, saya mengenal putri anda. Kami satu kampus. Dia sering mengganggu saya. Saya sangat benci padanya! Sekarang bagaimana mungkin hubungan seperti ini bisa terjalin antara saya dengan ayah dari teman kuliah saya sendiri?!" kekesalan Lyra mulai memuncak.
"Kamu mengenal putriku?" tanya Zachery cukup terkejut.
"Dia selalu menindas saya. Dia membuat masa-masa kuliah saya tidak nyaman. Lalu apa sekarang saya harus berhubungan dengan anda, ayah dari orang yang sangat saya benci?!"
"Semuanya akan kita rahasiakan. Baik Rachel atau siapa pun, tak akan ada yang mengetahui hal ini. Maka dari itu bacalah poin-poin perjanjian itu, semuanya sudah tertulis dengan sangat jelas."
Lyra merasa sudah di ujung jalan buntu. "Untuk apa anda repot-repot membuat surat perjanjian seperti ini? Bukankah anda tahu saya tidak bisa apa-apa selain menandatanganinya?"
"Pertama, karena hubungan ini harus kau rahasiakan dari siapapun. Kamu harus menjaga nama baikku yang sudah dikenal sangat baik oleh masyarakat. Aku membutuhkan surat yang berkekuatan hukum agar jika suatu hari kau melanggarnya, aku bisa menuntutmu. Kedua, karena aku ingin kamu dengan sukarela melakukannya denganku. Kamu kira aku suka melakukannya seperti kemarin itu? Bercinta dengan seorang wanita yang bukannya menikmatinya, tapi malah meringis dan menangis seakan aku meru dapak sanya."
Lyra kembali terdiam dengan nelangsa, membuat Zachery semakin tak sabar.
"Silahkan kamu menolak, tapi aku pastikan kamu tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan apapun, dimanapun. Bahkan saat kamu memutuskan untuk meminta bantuan Madame Grace lagi, aku tidak akan pernah membiarkan pria mana pun membelimu."
Lyra meremas rambutnya frustasi, kesal sekali karena sudah tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Sepenuhnya ia sudah terjebak dalam jeratan seorang Zachery Khaled Ivander.
Zachery bangkit dari duduknya dan menghampiri sebuah piano yang terdapat di tengah ruangan itu. Ia pun duduk dan mulai memainkannya.
Lyra meraih surat perjanjian itu. Ia membacanya dengan seksama dan sontak ia begitu terkejut. Hal-hal yang ditawarkan Zachery benar-benar mencengangkan. Semua kemewahan akan Lyra dapatkan selama tiga bulan selama ia menjadi wanita rahasia milik Zachery.
Lyra kembali menutup mata hatinya. Apa lagi yang bisa dilakukannya? Tak ada. Jika ia menentang pria ini, ia akan hancur. Tak ada pilihan lain selain berada di sisi pria itu walaupun harus kehilangan harga dirinya lagi.
Ia pun menghampiri Zachery yang tengah memainkan tuts piano dengan jari-jarinya yang panjang dan indah. Diletakannya surat yang sudah dibubuhi tanda tangannya itu di hadapan Zachery. Seketika Zachery berhenti memainkan musik yang sedang mengalun indah itu.
Pria itu menatap Lyra dengan puas. "Good girl," pujinya.
"Kemarilah." Zachery membimbing Lyra untuk duduk di pangkuannya sedangkan dirinya kembali melanjutkan permainannya.
Lyra akui musik yang Zachery mainkan sangatlah indah. Apa kira-kira yang tak bisa dilakukan oleh pria ini? Apa yang tidak dimilikinya? Pria ini memiliki segalanya. Lyra sangat bodoh jika ia tetap berusaha keras menentangnya.
Jari kelingking Zachery pun menekan pelan tuts terakhir, sebagai not terakhir pada musik yang dimainkannya. Kemudian musik pun berhenti.
Zachery menatap wajah Lyra yang sekarang lebih tinggi darinya. "Sekarang, panggil aku Daddy."
"Bukannya itu panggilan Rachel pada anda?" Lyra merasa panggilan itu sangat tidak wajar.
"Rachel memanggilku Daddy, karena dia putriku. Tapi kamu adalah sugar babyku, maka kamu harus memanggilku seperti itu juga, di saat tidak ada orang di sekitar kita, kecuali Felix. Mungkin terdengar sama, tapi maknanya sangat berbeda," terang Zachery.
Sugar Baby? Batin Lyra benar-benar mencemooh dirinya sendiri. Ia sering memandang rendah teman-teman kampusnya yang ia ketahui menjadi sugar baby dari para pria kaya raya.
Ironis, sekarang justru ia terjun ke tingkat serendah teman-temannya itu dan menjadi salah satunya.
"Baby?"
Jadi itukah panggilan Zachery untuknya kini? Baby?
Lidah Lyra terasa kelu, namun pria di depannya terus menatapnya seakan menunggu sahutan darinya. Akhirnya ia mengabulkannya.
Ia paksa kata-kata itu keluar dari tenggorokannya. "Daddy..."
Zachery tersenyum puas. "Satu hal yang harus kamu camkan baik-baik, hubungan kita murni sebagai timbal balik. Meskipun ada romantisme juga afeksi di antara kita, tapi tidak boleh ada cinta yang tumbuh. Mengerti?"
Lyra tertegun mendengarnya. Sama sekali ia tak pernah berpikir akan kemungkinan itu. Maka dengan sangat yakin ia mengangguk.
Cinta tak mungkin tumbuh dari hubungan kotor seperti ini.
"Sekarang cium aku, Baby," perintah Zachery dengan lirihnya. Kedua matanya sudah dikuasai kilatan gai rah.
Dengan sangat terpaksa, Lyra pun mendekatkan bibirnya. Pertemuan bibir itu menjadi awal malam panas dan panjang yang harus Lyra lalui pada malam pertama ia menjadi wanita rahasia milik Zachery.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Erni Fitriana
gak boleh ada cinta????heleh pretttt...nanti daddy yg cinta mati😛
2024-06-01
1
rosita sari
Daddy ini mau nya maksa teruuus
2024-03-22
2
Eka elisa
tpi di cini kmu yg brhianat zac kmu yg mlakukn prjanjian itu pke hati dn kmu jtuh hati ma ly.... tau... bhkn bucin akut....
2024-02-10
5