Lyra terbangun dan seketika terkesiap. Cahaya matahari menyorot ke wajahnya dengan sangat terang, tanda pagi sudah hampir berganti siang. Saat kesadarannya kembali padanya, ia langsung terduduk. Ia melihat sekeliling, berantakan sekali. Pakaian dalamnya berserakan di lantai. Begitu juga dress merah yang dikenakannya tadi malam. Lyra menutupkan selimut hingga ke dadanya saat menyadari ia tak menggunakan pakaian. Selain pakaiannya, terlihat pakaian Zachery juga berceceran. Bantal, sprei, dan alat make up dan skin care miliknya di meja rias juga terlihat berjatuhan dan tidak pada tempatnya.
Lyra memijat kepalanya yang terasa pusing. "Semalam apa yang terjadi? Kenapa aku tidak mengingat apapun?"
"Good morning, Baby." Zachery tetiba masuk ke kamar itu. Ia terlihat sangat santai, berte lan jang dada menampakkan perut kotak-kotaknya, dan hanya menggunakan celana rumahan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi, kini terlihat berantakan, membuatnya terlihat jauh lebih muda dan tentu saja sangat tampan. Kadang Lyra merasa berdebar jika melihat Zachery sedang berpenampilan santai seperti ini.
Diraihnya kemeja putih miliknya yang tergeletak di lantai dan menghampiri Lyra. Lyra langsung menunduk dengan segan.
"Pakailah. Aku sudah membuat sarapan. Ayo kita makan," ajak Zachery. Ia duduk di tepi tempat tidur berniat membantu Lyra menggunakan kemeja itu.
"Saya bisa melakukannya sendiri, Daddy," ujar Lyra merasa segan. "Dan saya akan ambil pakaian saya di lemari. Saya pakai pakaian saya sendiri saja, Daddy. Terima kasih."
Zachery mengerutkan dahinya. "Semalam kamu mengatakan ingin menggunakan kemejaku." Sebuah senyum tersungging di bibirnya. "Katanya kamu merasa sangat se ksi saat mengenakannya, seperti di salah satu film yang pernah kamu tonton."
"Apa? Saya tidak berkata seperti itu..." Di akhir ucapannya Lyra merasa tak yakin.
Zachery tertawa melihat reaksi Lyra. "Ayolah, bersikaplah seperti tadi malam. Luwes dan manja. Kamu mengatakan banyak hal yang mengga irahkan. Aku sangat suka itu, Baby." Diraihnya tangan Lyra dan dikecup telapak tangannya.
Lyra menutup matanya dengan rapat-rapat. Ia malu dan bingung. Apa sebenarnya yang ia lakukan tadi malam? Ia sama sekali tak mengingatnya. Terlebih kata-kata menggairahkan seperti apa yang ia katakan pada Zachery?Benarkah ia sampai mengatakan ingin menggunakan kemeja milik Zachery dan berkata bahwa ia merasa se ksi saat menggunakannya?
'Benarkah aku mengatakn itu? Yang benar saja, Lyra?!' dumel Lyra dalam hati, benar-benar tak dapat membayangkan kata-kata itu ia lontarkan pada pria di depannya ini.
"Maafkan saya, Daddy. Saya benar-benar tidak sopan. Saya tidak ingat apapun..." Lyra menunduk penuh sesal.
Dagu Lyra diangkat sedikit oleh jari-jari Zachery, mereka pun bertemu tatap. "Kamu tidak ingat? Sama sekali?"
Lyra menggeleng ragu membuat wajah Zachery seketika kecewa. "Sayang sekali, padahal kita sangat menikmati apa yang kita lakukan kemarin malam." Zachery mendekat ke telinga Lyra. "Kamu sangat li ar, baby."
Seketika Lyra menutup mulutnya dengan tangannya. Wajahnya pun merona merah.
Zachery kembali tertawa. "Lain kali kita harus minum bersama. Aku ingin melihatmu seperti tadi malam lagi."
Sontak Lyra menggeleng. "Tidak, Daddy. Saya tidak akan pernah melakukannya lagi."
"Kenapa?" Zachery kecewa.
"Kemarin saya terpaksa meminum minuman itu karena paksaan dari teman saya."
"Oh ya? Memang kemarin kamu kemana? Kenapa tidak memberitahuku?" protes Zachery.
"Maaf, Daddy. Apakah saya memang harus selalu mengatakan setiap kegiatan saya?" tanya Lyra hati-hati, sambil mengingat-ingat poin perjanjian itu, rasanya tidak ada poin yang mengatakan ia harus selalu memberitahukan semua kegiatannya pada Zachery.
Zachery berpikir sejenak. "Memang tidak ada di poin perjanjian. Tapi aku lebih suka jika kamu melakukannya. Katakan kamu di mana, dengan siapa, melakukan apa. Mulai sekarang kamu harus melakukan itu. Okay? Berikan kabarmu setiap hari, setiap kamu ada kegiatan di luar jam kantor dan tidak bersamaku. Apa kesukaanmu, siapa saja teman-temanmu, aku ingin tahu semuanya."
Sebenarnya Lyra merasa keberatan dengan permintaan atau lebih tepat terdengar seperti perintah baginya itu. Bukankah Zachery membutuhkannya hanya untuk memu askannya saja? Kenapa Lyra jadi harus melaporkan semua yang dilakukannya?
Lyra jadi teringat pada Dino, saat masih berpacaran, Dino pun mengatakan bahwa Lyra harus selalu memberinya kabar. Lyra harus mengabarinya terutama jika terjadi sesuatu padanya. Tapi Dino adalah kekasihnya saat itu, wajar jika Dino posesif terhadapnya. Sedangkan Zachery? Dia hanya membutuhkan Lyra untuk memuaskan has ratnya saja. Tak bisakah dirinya memiliki privasi tanpa Zachery ketahui?
"Baik, Daddy," sahut Lyra pasrah. Walaupun hatinya merasa sangat keberatan, ia tak bisa mengatakan tidak.
Zachery tersenyum puas. "Jadi siapa teman yang membawamu mabuk itu?" tanya Zachery seraya memakaikan kemejanya kembali pada Lyra. Kali ini Lyra pun menurutinya.
"Teman di divisi saya yang lama, Daddy. Tapi saya hanya minum satu gelas kecil. Ternyata saya tidak terbiasa."
"Salah satu karyawanku?" Semua kancing kemeja sudah terkancing, dan kemeja itu terlihat kebesaran di tubuh Lyra. Lyra membuktikan ucapannya. Dengan pakaian itu, entah mengapa ia terlihat sangat menggoda dan rasanya Zachery ingin segera menyerang Lyra lagi.
Namun Zachery menahannya. Ia ingin memastikan ada makanan yang masuk ke dalam tubuh Lyra. Ia tak bisa membiarkan Lyra sakit dan tak bisa melayaninya lagi. Zachery pun meraih tangan Lyra dan membimbingnya keluar kamar.
"Iya, Daddy. Tapi saya mohon Daddy jangan menegurnya," pinta Lyra.
"Tentu saja tidak. Ini adalah akhir pekan, mereka pasti membutuhkan hiburan setelah lelah bekerja." Zachery memaklumi.
Mereka duduk di kursi meja makan dan mulai memakan sarapan yang tersedia.
"Jadi, apa yang kamu lakukan seharian kemarin?" tanya Zachery penasaran.
"Saya mengerjakan semua instruksi dari Pak Felix, Daddy. Semuanya sudah saya kerjakan, termasuk menyusun jadwal Daddy selama seminggu ke depan."
"Aku tidak bertanya tentang itu," sanggah Zachery. "Maksudku kamu dan temanmu. Kenapa kamu sampai bisa meminum alkohol jika kamu tidak biasa?"
Kembali Lyra merasa aneh. Biasanya pria ini tak pernah se kepo ini. Ia tak pernah peduli dengan keseharian Lyra. Yang ia pedulikan hanyalah Lyra harus ada di saat ia menginginkannya.
Akhirnya Lyra pun menceritakannya. "Kemarin saat pekerjaan saya sudah selesai, saya pergi ke lantai 31 untuk mengunjungi teman-teman saya. Lalu mereka mengajak saya ke tempat karaoke. Kami pun berkaraoke dan makan malam. Saat sudah hampir waktunya habis, salah satu teman saya memesan minuman itu. Dan, ya, mereka memaksa saya. Kalau tidak, saya tidak boleh pulang. Sedangkan saya harus segera menemui Daddy. Jadi terpaksa saya meminumnya."
"Apakah yang memaksamu itu laki-laki?" tanya Zachery penuh curiga. Ia tidak akan membiarkannya jika teman yang memaksa Lyra adalah laki-laki.
"Kami berempat, Daddy. Dua laki-laki dan dua perempuan."
Seketika Zachery meradang. "Kamu melakukan double date?!"
"Tidak Daddy. Bukan seperti itu," sanggah Lyra menggoyang-goyangkan kedua tangannya.
"Aku tidak percaya." Sorot mata Zachery menajam. "Perlihatkan aku foto kalian."
"Daddy, tolong, mereka hanya teman saya." Lyra merasa, kenapa dirinya seperti sedang meyakinkan kekasihnya bahwa dirinya tidak berselingkuh?
"Kalau begitu perlihatkan. Aku yakin kalian pasti sempat berfoto," desaknya.
Lyra pun membuka ponselnya dan memberikannya pada Zachery. "Saya mohon biarkan mereka, kami murni hanya berteman, Daddy!"
Zachery meraih ponsel Lyra dan mulai menelisik foto yang memang sempat diambil oleh Jihan itu. Namun seketika Zachery mengerutkan dahinya. "Ini... Siapa nama ketiga orang ini? Sebutkan nama mereka satu per satu."
"Gerald, Chiko, dan Jihan." Lyra begitu khawatir. Mengapa Zachery sampai menanyakan nama mereka?
Sontak Zachery meraih ponselnya dan berjalan menjauh dari Lyra dengan wajah yang luar biasa kesal. Hal itu semakin membuat Lyra merasa resah.
"Selamat pagi, Pak," sahut Felix di sambungan telepon.
Kedua alis Zachery menyatu. "Cari tahu sekarang juga, kenapa ada wanita yang pernah menghiburku, bekerja di perusahaanku!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Femmy Femmy
Jihan menyamar dan cemburu dengan Lyra
2024-06-21
0
Erni Fitriana
nah loh...puyeng pala berbih nihhhhh
2024-06-01
1
Jeni Safitri
Kan.. Kan.. Ternyata.. Si jihan menyamar dan sdh tau tabiat si zacher yg suka celap celup sekretaris.. 🤭 Makanya dia jebak si lyra
2024-04-25
1