Melihat sang Raja bangkit dari tempat duduknya, semua prajurit segera menjatuhkan dirinya ke lantai. Beberapa hanya membungkuk, kedua netra Raja itu tak berpaling dari wajah cantik Salsa. Gaffi yang baru menyadari jika tingkah konyol istrinya yang berdandan ekstra, membuat orang lain ber ga i r a h, ya Raja itu juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Gaffi rasakan.
"Salsa... Kamu membuat masalah dengan penampilan mu hari ini... Kamu cantik. Tapi kecantikan mu menjadi musibah bagi mu sayang, dan juga bagi ku..." Bisik Gaffi.
"Tenanglah... apakah aku berhasil menggoda?" Kembali Salsa berbisik pada Gaffi.
"Kau?!" Gaffi melongok tak percaya dengan apa yang istrinya ucapkan. Bagaimana sang istri bisa-bisanya mempercantik diri hanya untuk menggoda lelaki lain bukan dirinya. Gaffi berpikir jika sang istri hanya ingin membuat Puteri El cemburu, namun dugaannya salah. Salsa berniat agar sang Raja tergoda akan kecantikan sang istri yang kemarin terlihat kacau dengan rambut dan wajah kusamnya.
"Ssstt... Tenanglah, kita harus menyelesaikan misi bukan. Mungkin misteri m ayat di dasar sungai tadi adalah misi ini..." Gumam Salsa.
Gaffi terdiam, namun membiarkan raja itu menyentuh istrinya tentu tak bisa dibiarkan. Walau ini di dunia virtual, tapi Gaffi merasakan nyata. Ia bahkan ingat betul rasa lelah ketika perjalanan virtual itu. Saat sang Raja berada tepat disisi Gaffi. Ia menyodorkan tangannya pada Salsa dan satu gerakan kepala tanda bahwa ia ingin berdansa dengan Salsa ke atas panggung.
Satu tangan lembut Salsa, ia ulurkan pada sang Raja. Namun seketika cengkraman kuat di pergelangan tangan Salsa membuat ia merintih.
"Awhh.. Gaffi!"
Kedua mata Gaffi melebar dengan sempurna dan hidungnya bahkan berair dengan sorot mata tajam menatap Salsa dan Sang raja silih berganti.
"Kau! Hhhh... Astaghfirullah...." Nada suara Gaffi lirih kala ia ucapkan kalimat istighfar.
"Aku hanya ingin berdansa dengan nya Ksatria Gaffi. Tidak tidur bersama." Ucap Sang Raja.
Braaakk!
Semua prajurit mengarahkan senjatanya ke arah Gaffi karena sikap suami Salsa yang tiba-tiba menggebrak meja dan menatap Raja penuh amarah. Bahkan kini satu pedang berada tepat di sisi kiri leher Gaffi.
"Seorang ksatria, tidak akan membiarkan wanitanya menjadi penghuni neraka... Dia milik ku! Dan aku tidak pernah mengizinkan dia berduaan dengan lelaki mana pun! Dan kau! Berhiaslah untuk diri ku! Bukan lelaki lain!" Gaffi menyeret langkah Salsa dengan begitu cepat. Mereka bahkan menjatuhkan beberapa minuman diatas nampan yang di pegang para pelayan.
Tiba di dalam gubuk. Gaffi menutup tirai gubuk mereka dengan rapat.
"Kamu ingin menggoda?! Kamu berhasil. Ya kamu berhasil menggoda lelaki lain dan suami mu! Kini aku tahu kenapa memilih istri jangan hanya cantiknya saja! Karena suami akan gila karena kecantikannya! Dan Pandai saja tanpa iman dan ilmu, justru membuat kamu menjadi sombong!" Gaffi menghapus kasar riasan pada wajah Salsa . Di tariknya liontin dan satu makhota kecil di kepala Salsa. Ia lempar ke sembarang arah.
Bruuugh!
Gaffi menjatuhkan tubuh mereka di atas tikar dalam gubuk itu. Salsa mencoba menolak dan seketika ia memejamkan matanya dan hanya pasrah.
'Tidak... Tidak... Tidak... Ingat tujuan akhir mu, Salsa...'
Saat selesai melakukan apa yang ingin ia lakukan dengan sang istri, Gaffi menoleh ke arah Salsa yang menautkan gerahamnya dan menatap langit-langit gubuk mereka.
"Apakah aku kurang perkasa hingga harus menggoda lelaki lain! Katakan!" Bentak Gaffi.
Salsa menahan rasa panas di dadanya. Ingin sekali ia berteriak dan menatap tajam Gaffi, tapi logikanya bermain. Ia tahu, ia salah. Karena ia tak menceritakan yang sebenarnya pada Gaffi.
Salsa beringsut dan bangkit untuk membersihkan dirinya. Namun saat baru akan keluar dari Gubuk, ucapan Gaffi membuat ia membanting cermin yang berada tepat di sisi pintu keluar.
"Satu langkah saja kau keluar dari gubuk ini, tanpa izin ku! Kau bukan lagi istri ku Salsa!"
Praaang!
Salsa menoleh ke arah Gaffi dengan tatapan tajam.
"Kau! Apakah kau tahu tindakan mu barusan menyakiti ku! Dan kini kau kembali menyakiti ku, Ahmad Gaffi Abrar!" Teriak Salsa.
Baru saja ia akan keluar dari dalam gubuk itu. Gaffi cepat menarik tangan sang istri hingga langkah kakinya tertahan.
"Kau tahu konsekuensinya saat satu langkah kaki mu keluar dari sini..." Batin Gaffi.
Salsa memunggungi Gaffi. Ia sakit hati karena di perlakukan dengan kasar saat Gaffi mengambil haknya sebagai suami tadi. Maka ia begitu ingin pergi, dan kini ia diminta mengerti arti ucapan suaminya.
"Dan kau...! Harusnya kau tahu, kami perempuan ingin diperlakukan dengan lembut.. Sekalipun itu adalah hak kalian! Dan kau! Harusnya disaat kau marah, jangan bicara sembarangan. Jika tidak ingin berpisah, kenapa pulau harus kau ucapkan cerai dengan persyaratan!" Bentak Salsa. Perempuan itu terbiasa menyimpan air matanya. Kini ia tak menitikkan setetes air mata pun. Namun hatinya sakit di perlakukan Gaffi seperti itu.
Gaffi menarik lengan Salsa dengan cepat, lalu ia dekap Salsa. Aroma keringat istrinya memang membuat Gaffi merasa nyaman. Cintanya pada Salsa membuat ia cemburu. Dan ia usap rambut panjang sang istri. Di kecupnya berkali-kali puncak kepala sang istri.
"Kini aku tahu... Apa yang kamu rasakan kala puteri El menatap ku intens. Aku tahu rasanya cemburu... Layaknya kamu berdandan tadi untuk menunjukkan bahwa kamu lebih dari Puteri El. Perlakuan ku tadi adalah tindakan konyol ku yang sedang cemburu... Maafkan aku... Aku bersedia di hukum... Aku tak pernah ingin berpisah dengan mu, Salsa. Aku hanya ingin hidup satu kali dan menikah satu kali, dan itu hanya dengan kamu..." Salsa terdiam dalam pelukan Gaffi. Ia menyimak ucapan Gaffi. Kini logikanya juga mengamini jika semua salahnya. Ia cemburu dan juga memiliki rencana tapi tak berterus-terang pada Gaffi sang suami. Gaffi ada benarnya, karena kelak Gaffi yang akan di mintai pertanggungjawaban ketika semua yang dilakukan sang istri di dunia.
"Ternyata sebanyak apapun ilmu... Kita akan menjadi bodoh karena cinta.... Ternyata sebanyak apapun ilmu... Kita seperti anak kecil ketika mengarungi bahtera rumah tangga." Gumam Salsa. Kini ia lingkarkan tangannya pada pinggang Gaffi.
"Dan ternyata... Seseram singa di luar, ia hanya takut pada istrinya. Takut kalau istrinya marah... Hahaha..." Ucap Gaffi. Salsa ikut tersenyum mendengar joke Gaffi.
'Aku baru kali ini merasakan di cintai karena kekurangan ku, selain Papa.' Cicit Salsa dalam hatinya.
"Aahhh..." Salsa terkejut karena Gaffi mengangkat tubuhnya ala bridal style.
"Sekarang, aku akan memperlakukan kamu dengan lembut... Selembut mengelap berlian.. Masih marah?" Tanya Gaffi seraya meletakkan tubuh Salsa di tepi tikar dan menyibakkan rambut istrinya di balik telinga.
Salsa menggeleng.
"Tidak, tapi ada syaratnya... Izinkan aku berdansa dan tidur dengan sang raja..." Ucap Salsa.
Gaffi sudah mau marah namun terdiam kala sang istri menutup mulutnya dan membisikkan sesuatu.
"Sssst.. Jangan marah dulu. Kamu sudah berjanji akan memperlakukan aku dengan lembut. Sini aku beri tahu sesuatu...." Salsa membisikkan sesuatu kepada Gaffi. Seketika Gaffi bergidik dan menatap Salsa tak percaya.
"What?!" Pekik Gaffi.
"Yes, so... Please... " Pinta Salsa dengan kedua tangan yang menangkup.
"Ok, jangan pernah berdandan seperti ini lagi jika di luar. Berdandanlah seperti ini hanya untuk ku... Ok.. Dan ini... Aku tidak suka..." Gaffi mengangguk tanda ia memberikan izin, sedangkan Ibu jarinya menghapus pewarna merah menyala di bibir Salsa.
"Tidak suka tapi kau lahap dengan rakus!" Ucap Salsa ketus karena masih saja perihal dandanannya. Andai Gaffi tahu jika ini pertama kali Salsa lakukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
karna dalam sebuah pernikahan itu dibutuhkan kepercayaan dan saling komukasi yg baik.
lanjut
2024-01-31
0
Yus Warkop
semoga rencana salsa berhasil , dngan ijin gafi
2024-01-24
0
Sofia Zidna
maka juga akan hancur bila buruk komunikasix, contohx menghina.. krn udh pengalaman nih thor adu argumen ma p.su sampe ngalahin debat capres malah🤭🤭
2024-01-23
0