Sayup-sayup terdengar suara-suara aneh dan langkah kaki dari arah luar gubuk Gaffi dan Salsa. Sepasang suami istri itu pun harus terbangun karena asap dan bau wewangian yang menyengat masuk ke rongga hidung mereka.
"Tidak... Celaka...." Gumam Salsa yang cepat meloncat dari tempat tidur yang beralasan dari anyaman pelepah daun kering. Gaffi terbangun dan menatap Salsa dari remang-remang cahaya lilin yang berada di luar gubuk.
"Hey, ada apa? Kamu mengagetkan saja... " Keluh Gaffi dan kembali menarik sebuah benda seperti selimut namun cukup kasar dan berat namun bisa menghangatkan tubuh mereka.
"Gaffi! Bisa-bisanya kamu tertidur lagi! Cepat bangun!" Bentak Salsa kesal.
"Hei... Aku masih sangat lelah.."Jawab Gaffi dengan suara khas orang bangun tidur.
"Kau lelah! What! Ayolah Gaffi apakah kau berpikir akan melewatkan isya mu? Kita masih punya waktu sepertinya. Ucap Salsa yang tengah mengintip ke arah luar dan menatap langit yang masih ada bintang.
"Hhhh... oke, baiklah aku akan bertanggungjawab jika kamu hamil." Lagi Gaffi tak membuka kedua matanya dan hanya memberikan jawaban yang kembali menyulut emosi Salsa.
"Gaffi! kita harus mandi!" Teriak Salsa. Seketika Gaffi meloncat dan cepat mengenakan pakaiannya. Semalam ia betul-betul di buat pusing oleh para wanita di permukiman itu. Mereka bisa dikatakan tidak berbaju, karena bagian atas baju mereka hanya tertutup sedikit sekali. Gaffi bahkan tak mampu untuk tidak menyentuh Salsa karena beberapa tarian e r o t i s para penari semalam mau tidak mau mengganggu Gaffi. Beruntung ia bersama Salsa. Tak terbayangkan jika semalam tak ada istrinya. Bisa saja ia mencari jalan pintas untuk menyelesaikan h a s r a t nya.
Gaffi menggenggam tangan Salsa dan di bawanya sang istri setengah berlari. Namun dua prajurit wanita berlarian ke arah Gaffi dan menghalau Gaffi.
"Aku dan istriku hanya ingin mandi...." Ucap Gaffi.
Dua prajurit itu saling pandang. Tiba-tiba Putri El keluar dari gubuknya.
"Biarkan dia mandi di sungai itu." Ucap Sang Putri. Gaffi baru ingin menoleh, namun cepat ia putar kepalanya. Ia hampir lupa jika semua perempuan disini menggunakan pakaiannya yang sama.
Tanpa menoleh, Gaffi cepat mengajak Salsa ke sebuah sungai yang ia lihat tadi saat berangkat ke tempat permukiman.
"Wow Amazing!" Teriak Salsa. Cepat Salsa ingin segera menceburkan diri nya dan membasuh tubuhnya yang lengket. Sudah berhari-hari mereka tak menemukan sungai. Dan hari ini mereka mandi di air yang begitu jernih bahkan begitu indah pemandangannya.
"Eiits... Bersihkan dulu dirimu... Dan jangan lupa niat...." Ingat Gaffi seraya berdiam diri sejenak lalu menceburkan diri. Salsa mengikuti apa yang di perintahkan sang suami, lalu ia ikut menceburkan diri dalam air sungai itu.
Namun seketika suami istri itu saling pandang saat hidung mereka mencium sesuatu.
"Kenapa baunya seperti di kolam berenang yang sudah lama tak diganti airnya..." Gumam Salsa seraya terus mencium air itu.
"Heh,ini mirip seperti kaporit." Ucap Gaffi yang juga mencium aroma yang sama dari air tersebut.
"Apakah sah mandi wajib dengan menceburkan diri dalam sungai ini? Aku khawatir... Air nya bau..." Salsa tampak ragu.
Gaffi menaikkan satu alisnya. Kali ini ia ingin bermain-main dengan Salsa. Istrinya yang jutek dan super dingin juga moodnya mudah berubah-ubah itu jarang tertawa dan tersenyum manis.
"Aku berikan jawaban jika kau bisa menangkap ku...." Ucap Gaffi. Kali ini ia menghirup napas dalam-dalam dan bergegas menghilang ke dalam sungai.
"Gaffi...!." Salsa melakukan hal yang sama. Ia menghilang dari permukaan air. Gaffi menoleh ke arah belakang. Ada Salsa yang benar-benar ikut menyelam ke dasar Sungai. Mereka saling mengandalkan kemampuan menyelam mereka tanpa alat bantu. Namun tiba-tiba mereka berhenti untuk terus mengelak, Gaffi bahkan terbelalak. Matanya bahkan perih karena mungkin syaraf mata yang dipaksa terbuka lebar itu membuat bola matanya sakit.
Mereka melihat banyak mayat di dasar sungai. Mereka bahkan melihat mayat itu dengan kaki terikat batu di kanan dan kiri kaki mereka. Dan kondisi, Gaffi cepat menutup mata Salsa dengan telapak tangannya. Ia tak ingin istrinya melihat mayat-mayat tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh mereka.
'Siapa mereka... Atau jangan-jangan...' Batin Gaffi.
'Apakah mereka adalah lelaki di permukiman itu... Mereka sengaja di bu-nuh?' Batin Salsa merinding.
Gaffi berpikir keras, ia mencurigai sesuatu.
'Aku akan menemukan jawabannya saat nanti diatas...' Ucap Gaffi dalam hatinya. Cepat ditariknya tangan Salsa dan berenang ke arah permukaan air. Saat mereka muncul di atas permukaan, Salsa baru ingin berbicara.
"Sssst.... Jangan bicara apapun. Cukup diam. Cepat kita harus segera naik dan shalat. Kalau tak ingin shubuh tiba lebih dulu." Ajak Gaffi yang naik ke atas.
Salsa masih di dalam sungai saat suaminya dan menceburkan diri ke dasar sungai dan kini sudah berada di atas.
"Apakah sah mandi kita? Bukankah air ini bau kaporit?" Tanya Salsa.
Gaffi mengurai rambutnya dan tertawa, wajah tampannya membuat beberapa pasang mata yang dari tadi mengamati semakin jatuh hati pada Gaffi.
"Sayang, jangan pura-pura bodoh... Kamu tahu bukan 7 macam air yang yang sah digunakan untuk bersuci..." Satu alis Gaffi terangkat dan menatap Salsa.
Putri Mr. Abhi itu duduk dan memeras rambut panjangnya, dengan kedua tangan.
'Jadi ini alasan kamu menerima tawaran Profesor Kim. Kamu tahu siapa aku....' Batin Salsa karena suaminya tersenyum mengejek, seakan ia tahu bahwa Salsa sedang mengetes ilmu cucu Ayra itu. Ya, Salsa tahu bahwa air suci yang bisa mensucikan meliputi air sungai, hujan, air laut, air sumur, air yang bersumber dari dalam tanah atau mata air, air salju, dan air dari hasil hujan es. Dan air-air tersebut disebut sebagai air suci menyucikan atau thahir muthahhir. Artinya, air tersebut suci pada dirinya sendiri, juga bisa menyucikan benda lain dari najis atau hadats.
Seraya mengeringkan rambutnya, Salsa memberikan penjelasan yang membuat Gaffi bergumam dan gelombang suara Gaffi masuk ke rongga telinga Salsa.
"Air itu air sungai atau air kaporit?" Tanya Gaffi yang kembali memancing sang istri.
Salsa memicingkan matanya, "Ya air sungai," Ucap Salsa santai.
"Berarti bau kaporit itu tidak merubah nama air itu kan... Sama seperti air yang di campur madu jika airnya larut menjadi satu, maka wudhu dengan air seperti ini hukumnya tidak sah. Karena air larut bersama benda dan mengubah netralitas nama air, bisa menjadikan namanya berubah menjadi air madu." Ucap Gaffi tersenyum.
"Ya, aku tahu selagi dampak percampuran tersebut tidak mempengaruhi nama dasar air, tidak masalah. Berbeda jika sampai orang-orang berubah melabeli air tersebut sebagai air kaporit. Maka hal ini yang mengubah netralitas air. Berarti sama seperti air kelapa ya... Air itu suci tapi tidak bisa untuk mensucikan najis..." Salsa menatap pohon kelapa di seberang sungai dan terlihat kelapa itu cukup menggoda, dari luar saja Salsa bisa membayangkan jika air nya pasti sangat segar, belum lagi kelapa yang masih berbentuk degan di dalamnya.
"Hehe... Kamu memang membuat ku jatuh cinta berkali-kali...." Gaffi terkesima menatap wajah sang istri dari samping.
Deg.
"Cinta? apa yang membuat mu jatuh cinta padaku?" Salsa menatap kedua netra suaminya.
"Kalau aku boleh meminjam tulisannya Qodhi Iyadh, karena kamu sosok yang indah untuk aku pandangi, kamu orang yang baik hati... "
'Dan aku berjasa padamu....' Gaffi tak meneruskan alasan yang ketiga kenapa ia bisa jatuh cinta dengan cepat kepada Salsa, kala ia cukup lama mengagumi satu perempuan lain.
Sepasang suami-isteri itu saling pandang seraya berjalan menuju gubuk mereka. Satu orang dengan tatapan cemburu sedang menatap mereka dari sebuah pohon besar.
"Ku pastikan sore ini kamu akan menjadi milik ku... Ksatria Ardhasir....." Gumam puteri El seraya menggigit ujung rambutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Puji Ustariana
masya Allah tambah ilmu lagi makasih author 🙏🙏
2024-08-28
0
sitimusthoharoh
lanjut lanjut
2024-01-31
0
naynay
👍🥰
2024-01-23
0