Bab 5 Terdampar di Bilik Hati

Gaffi memanggil Salsa, dan ruangan itu sepertinya tak berpenghuni.

"Salsa..!" panggil Gaffi.

Tak ada jawaban, hanya ada pantulan suaranya yang menggema. Dalam gelap gulita, Gaffi berjalan dengan meraba. Ia berpegang pada dinding yang ia rasakan sangat empuk. Bahkan dinding itu hampir menyerupai sebuah daging. Dengan perlahan ia menyusuri tempat itu. Genangan air bahkan sangat dingin membasahi kakinya. Sepatu dan kaos kakinya sudah basah. Bahkan ketika Gaffi menggigit bibirnya. Lidahnya dapat merasakan asin.

"Dimana aku..." gumam Gaffi.

Ketika setelah cukup lama ia berjalan. Ia melihat setitik cahaya. Ia pun bergegas mendekati cahaya itu. Semakin dekat ia dengan cahaya itu sayup-sayup terdengar suara isak tangis seorang perempuan. Gaffi mempercepat langkah kakinya. Ia semakin dekat dengan sumber suara.

Perempuan itu menoleh ke arah Gaffi saat ia menyadari kehadiran seseorang.

"Siapa kamu?" tanyanya di sisa-sisa isak tangisnya.

'Bukankah itu perempuan tadi....' Batin Gaffi.

"Ehm... Maaf aku tersesat dan aku tidak tahu. Dimanakah aku saat ini?" Tanya Gaffi pelan.

"Ini adalah bilik hati perempuan yang tidak bahagia di 10 tahun usia pernikahannya." Ucap perempuan berbaju sobek, dengan rambut panjang yang kusut dan mata sembab. Sungguh menyedihkan kondisi perempuan itu.

"Bilik Hati... " Ucap Gaffi heran. Ia menatap di sekelilingnya. Jika tadi ia berada di tempat lembab dan penuh genangan air, maka di tempat yang ada cahaya ini tempatnya gersang. Bahkan terdapat sebuah pohon besar di tempat itu, dibawahnya banyak berserakan kayu, ranting, dan daun kering. Ranting-ranting seperti jari-jemari kurus yang berwarna kehitaman. Daun-daun kering yang lebar dan sudah mengering. Jika ada satu puntung rokok yang terjatuh di tempat itu maka sebuah kobaran api yang besar akan mudah hidup.

"Maksud mu Bilik hati Maya?"

"Ya.. Perempuan malang...aku berharap mereguk indahnya madu pernikahan, namun justru menelan empedu ular yang perlahan mematikan bilik ini. Lihatlah hidup ku di sana. Bukankah kamu sudah melihat bagaimana suami ku memperlakukan aku?"

Gaffi menatap Perempuan itu lekat. Perempuan itu bersandar pada pohon besar dan tampaknya tua. Gaffi mengambil satu ranting yang masih basah. Ia gores di sisi pohon itu. Ia hanya ingin memberikan tanda bahwa ini hari pertama bia berada disini.

"Apakah kalian menikah bukan karena cinta?" Tanya Gaffi yang mengumpulkan ranting-ranting dan dedaunan itu menjadi satu tumpukan.

Tak ada jawaban. Gaffi menoleh ke arah Perempuan itu dan melihat jika perempuan itu menggeleng.

"Lantas kenapa dia bisa begitu tidak manusiawi memperlakukan kamu sebagai istrinya?" Kedua tangan Gaffi mulai sibuk mengangkat tumpukan ranting serta daun yang tadi berserakan. Gaffi tak habis pikir bagaimana bilik hati seorang perempuan cantik, dan tinggal di rumah mewah justru lembab dan gersang.

"Berawal dari aku saat itu mempermalukannya." Perempuan bernama Maya itu mengisahkan jika suatu hari ia sedang mengenakan daster kesukaannya. Daster itu tidak sobek, namun alangkah terkejutnya ketika suaminya pulang bermain futsal bersama teman-temannya. Ia yang kaget, cepat sibuk menyiapkan semua minuman dan cemilan. Dan semenjak hari itu suaminya sering marah dan memperlakukan dirinya seperti tadi.

"Miris, ia bisa tertawa dan nyaman dengan teman-temannya tapi berbuat kasar dan bermuka masam pada istri sendiri. Lelaki tak punya hati nurani, apakah ia tak berpikir jika kalian para istri sudah menyerahkan seluruh hidup kalian dan meninggalkan orang tua kalian, demi manusia bernama suami. Malang, kemuliaan justru tak di dapat..." Komentar Gaffi yang menatap tumpukan itu. Ia masih bingung apakah harus membakar ranting dan daun kering itu atau membiarkannya busuk.

Namun seketika Gaffi ingat bagaimana ia bersikap pada Salsa setelah ijab. Bukankah Salsa juga meninggalkan dunianya dan ikut bersama dalam kehidupan Gaffi.

'Ah, kenapa aku merasa bersalah.' Batin Gaffi tersentil akan ucapannya sendiri. Ia bisa bersikap lembut, tidak dengan tatapan tajam dan intonasi tinggi ketika berbicara pada Maya.

'Siapa Maya? Dan Salsa? Huftt... Kamu tidak lebih baik dari David ternyata.' Batin Gaffi memukul telak otak putra sulung Ammar itu. Ia yang menilai buruk David karena paham bahwa suami harus memperlakukan Istrinya dengan baik. Tapi tak ia gunakan untuk dirinya sendiri. Ia gunakan ilmunya untuk menilai orang lain.

'Apa misi dalam perjalanan virtual ini. Apakah harus menyelamatkan Perempuan ini? Atau menyelesaikan masalah dalam rumah tangga mereka? Siapa hacker HVR ini. Kenapa begitu aneh perjalanan virtual yang ia pilih.,' Dalam benak Gaffi sudah berharap akan melalui perjalanan virtual seperti film Avatar yang dibintangi oleh Zoe Saldana sebagai Neytiri, Sigourney Weaver sebagai Dr. Grace Augustine, atau bahkan seperti film Lara Croft yang berjudul Tomb Rider. Namun perjalanan nya justru berada dalam bilik hati seorang perempuan.

'Jangan-jangan... Salsa berada di bilik hati David... Hah... Semoga Perempuan itu tidak semakin menjerumuskan David atau justru David dibuat mati kutu oleh Salsa. Perempuan tanpa kelembutan sama sekali, andai kamu tak berilmu. Maka aku tak akan menyetujui pernikahan ini.' Batin Gaffi. Ia sibuk membuat tempat itu nyaman di pandang dari berserakannya sampah ranting juga daun. Tiba-tiba sebuah layar terpampang, ia melihat sebuah sajadah terbentang dan seketika itu, muncul suara-suara yang menggema.

"Aduh aku belum menyiapkan bekal Aidan."

"Semoga Momo tidak lepas lagi, aky tidak mau mas David marah lagi.."

"Sampai kapan hidup harus begini... Kalau bukan karena Aidan, mungkin aku sudah pergi dari dunia ini..." Gaffi memandang ke arah atas, samping dan berlari ke arah beberapa pintu. Ia mencari sumber suara.

"Itu adalah pikiran-pikiran ku... " Maya seakan mengerti jika Gaffi penasaran dari mana suara itu berasal.

"Bagaimana bisa suara itu muncul. Bukankah kamu sedang shalat?" Ucap Gaffi tak percaya. Karena saat ini posisi Maya di dunia nyata sedang rukuk.

"Nanti siang aku masak apa ya?"

"Kompornya tadi sudah dimatikan belum ya.. Bik Jum semoga sudah bangun dan mematikannya."

Gaffi duduk dan menatap layar-layar itu. Ia pun bergumam.

"Perempuan memang punya sedikit kesabaran... Bahkan dalam beribadah pun mereka tidak sabar... Tidak bisakah setelah shalat kalian memikirkan hal-hal seperti tadi?" Gaffi masih menatap sajadah di depannya. Ia masih bingung, bagaimana dalam satu kegiatan tetapi ras terkuat di muka bumi ini pikirannya bercabang-cabang dan kemana-mana.

Maya yang saat ini hanya bersandar, ia tak menjawab juga tak berpindah posisi.

"Ternyata sabar dalam ketaatan itu susah... "

"Maksud mu?" Maya menoleh ke arah Gaffi.

Cepat Gaffi buang pandangannya.

"Ya, Allah yang menyuruh kita untuk bersabar. Nyatanya sabar dalam sebuah ketaatan sangat susah." Gaffi menjawab pertanyaan itu seraya menggambarkan sebuah hati dan menuliskan kata sabar di dalam hati itu.

"Ah, aku masak semur saja..." Kembali suara itu bergema. Gaffi menyunggingkan senyumnya seraya menatap ke atas.

"Bagaimana untuk sabar? Dan khusyuk?" Tanya Maya yang sedikit bergerak dari posisinya yang semula bersandar.

"Untuk kita yang awam, cukup fokus pada tempat sujud dan bacaan-bacaan shalat, gerakan shalat. Setelah sujud apa? Ini rakaat berapa? Lihatlah... Kamu melakukan shalat Dzuhur 3 raka'at. Karena kamu mengira tadi kamu sudah 3 raka'at pertama... apakah kamu tidak sadar?" Ucap Gaffi pelan dan nafas nya berat.

'Sebegitu berat kah kalian perempuan hingga saat shalat jumlah rakaat pun sampai kalian lupa?" Gumam Gaffi. Ia merasa bersyukur karena di didik oleh Ummi nya. Ia ingat betul akan ada hukuman ketika ia pulang dari pondok tetapi justru fokus main game.

"Hiks... Hiks..." Isak tangis kembali terdengar diruang itu. Maya membenamkan wajahnya di kedua lututnya.

Terpopuler

Comments

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

semangat terus ras terkuat dimuka bumi.
lanjut

2024-01-30

0

dewi rofiqoh

dewi rofiqoh

Ceritanya pasti ilmu, meski sekarang yang dibawa genrenya beda 👍👍👍
InsyaAlloh selalu ditunggu karya karyanya

2024-01-12

1

Sri Utami

Sri Utami

beeessttt 👍👍🫰 suka suka suka🥰

2024-01-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!