Gaffi dan Salsa merasakan napas mereka masih terengah-engah ketika mereka dikepung oleh sekelompok pasukan yang tak dikenal. Para pasukan itu memegang senjata-senjata seperti panah yang siap meluncur, tombak yang berkilauan, dan pedang yang memancarkan cahaya tajam. Sepasang suami istri itu berusaha keras untuk melindungi diri mereka sendiri, mereka mulai memasang kuda-kuda dan salah satu dari mereka melompat dan bergerak dengan lincah, menghindari serangan-serangan mematikan yang datang dari segala arah. Meskipun situasinya tertekan.
Gaffi dan Salsa merasa terjepit ketika mereka dikepung oleh sekelompok pasukan yang tak kenal ampun mencoba menyerang mereka membabi-buta. Gaffi meraih satu pedang yang terjatuh dari satu lawan yang mencoba menusuknya, kini Gaffi menggunakan sebuah pedang untuk menghadapi serangan-serangan beruntun, ia menghindari senjata-senjata musuh dengan gerakan yang lincah.
Sementara itu, Salsa menggunakan kecepatan dan ketangkasan untuk menghindari serangan, dan dengan gerakan salto khas Taekwondo, ia cepat mendarat di tanah dan meraih satu panah beserta anak panahnya, dengan panah yang jitu, dia berhasil melumpuhkan beberapa musuh. Namun, jumlah pasukan yang lebih besar dan kekuatan mereka yang lebih besar mulai mengatasi Gaffi dan Salsa. Meskipun mereka bertarung dengan penuh sekuat tenaga dan seluruh kemampuannya, akhirnya mereka terpaksa menyerah saat mereka dikepung dan ditangkap oleh sekelompok orang itu.
Triiing!
Pedang Gaffi terjatuh ke tanah, kini satu tombak tepat berada di lehernya. Bergerak sedikit saja, Gaffi mungkin akan kehilangan urat nadi di lehernya.
"Menyerahlah!" Teriak lawan Gaffi yang menatap tajam Gaffi.
Gaffi mengangkat kedua tangannya, tanda ia menyerah. Sementara itu, Salsa di tepi sebuah jurang ia baru saja kehilangan panah dan anak panahnya. Namun kemampuan dan kelincahan atlet Judo dan lari itu ia gunakan teknik bela diri yang ia kuasai, dengan kelincahannya ia mengelak dan menyerang dengan pukulan dan tendangan yang terarah. Meskipun ia tidak memiliki senjata, Salsa melawan dengan keberanian dan kegigihan yang luar biasa, tidak menyerah dalam menghadapi serangan keras dari kelompok tentara tersebut. Namun, akhirnya, jumlah dan kekuatan musuh membuktikan terlalu kuat untuk ditaklukkan, dan Gaffi dan Salsa akhirnya diatasi dan dijatuhkan oleh kelompok tersebut. Tepat di tepi jurang Salsa terpojok saat satu pedang berada tepat di jakunnya.
"Menyerah saja cantik..." Lelaki yang tampaknya salah seorang pimpinan pasukan itu bahkan meletakkan pedang tajamnya di dagu Salsa dan membuat dagu Salsa terangkat jelas.
"Cantik... Maha Sempurna... Maha Cantik.... Cleo pasti menyukainya..." Puji Lelaki yang tak lain adalah salah satu jenderal Pasukan Perang Pasukan Pemuja Api.
'Aku bisa saja terjun ke bawah, tapi Profesor Kim sudah mengatakan jika kami tidak boleh terpisah. Maka aku harus mengalah.' Batin Salsa seraya melirik anak sungai yang mengalir deras dari sisinya.
Kini sepasang suami istri itu merasakan tangan-tangannya yang terikat erat, membuat mereka sulit untuk bergerak dengan bebas, karena kedua mata juga mulut mereka tertutup kain. Mereka berdua diarahkan untuk berjalan mengikuti anak kuda yang dipimpin oleh salah satu tentara, sementara para tentara lainnya mengawal mereka dengan ketat. Gaffi mereka naikan ke atas kuda. Dengan mulut dan mata yang tertutup dan kedua tangan terikat. Sedangkan Salsa, ia harus diikat dengan tetap berjalan mengikuti anak kuda melangkah. Saat sudah beberapa kilo meter mereka berjalan, tampak mereka di lepas penutup mata dan mulut. Mereka tampak dalam istana yang begitu megah.
'Apakah aku sedang berada dalam sebuah istana Firaun' Batin Suami istri itu bersamaan. Karena istana itu mengkilap sekali, bahkan singgasana dan semua peralatan di depan singgasana itu terbuat dari emas.
Tiba-tiba terdengar sebuah genderang seperti suara gong. Lalu sebuah pintu terbuka, tampak seorang pria dengan mahkota berhias permata yang memancarkan cahaya keemasan, rambutnya yang panjang dan terurai mengalir seakan mengikuti gerakan api yang menyala di sekelilingnya. Dalam jubah merah merak yang melambangkan keberanian dan kekuatan, ia berdiri tegak dengan sikap yang kokoh dan tatapan tajam yang terpancar dari matanya yang berapi. Setiap langkahnya pasti dan tegap, menunjukkan keperkasaan, semua orang di ruangan itu duduk berlutut dengan kepala yang tertunduk, bahkan beberapa pelayan tampak menjatuhkan tubuh mereka ke lantai. Hal itu mencerminkan kepemimpinan yang tak tergoyahkan.
"Memohon keselamatan dan keagungan Yang Mulia Raja Api Cleo Ardhasir... " Ucap seorang lelaki membungkuk dan tampak lelaki itu menepuk pundak lelaki itu. Dengan raut wajah yang simetris dan proporsional, mata birunya yang dalam dan tajam seperti kilatan api, alisnya yang tebal memberikan ekspresi tegas dan penuh karisma. Raja Api menatap tajam Gaffi yang tak menunduk.
"Owh... Kalian membawa aku tamu..." Ucap Raja itu berhenti tepat di hadapan Gaffi. Sulung Umi Rumi itu menatap tajam Raja itu, ia tidak menunjukkan ketakutan.
Baru sang raja ingin mengeluarkan sebuah cambuknya, namun lelaki yang tadi menyambut sang raja berbisik kepada pemimpin suku Api itu.
"Tuhan tidak pernah mengirimkan anaknya jika tidak ada hal penting... Maka terimakasih karena doa kami dikabulkan begitu cepat." Seketika wajah sang Raja sumringah. Kini ia berjalan ke arah Salsa. Ia tatap Salsa, namun saat wajahnya mendekat lalu ia ingin mencium bibir Salsa, istri Gaffi itu memberikan air liurnya tepat di wajah Raja.
"Aaaarrrrgghhhh! Perempuan ini ingin dipanggang diatas api!" Bentaknya.
"Lebih baik daripada disentuh oleh mu!" Salsa menggembosi amarah sang Raja. Baru ia ingin kembali mengeluarkan pecutnya yang berada di sisi kiri pingsannya. Namun ia terdiam saat mengingat apa yang dibisikkan lelaki tua tadi. Kini ia berjalan ke arah Gaffi.
Ia berjalan dan duduk di singgasana nya. Ia menyalakan api melalui ujung jari telunjuknya.
"Tunjukkan pada ku Api yang kau miliki..." Ucap Raja Cleo pada Gaffi.
"Kemarilah, jangan takut. Duduklah." Ucap sang Raja. Gaffi berjalan perlahan dan duduk tepat di singgasana yang berada di sisi Raja.
Ia menghidupkan satu lilin yang berada dalam wadah emas.
"Wah... Luar biasa... Kamu pasti anak tuhan yang hebat.. Katakan apakah di selir mu?" Tanya Sang Raja setengah berbisik dan melirik Salsa yang duduk berlutut.
'Jangan katakan kamu tertarik pada Salsa.' Ucap Gaffi dalam hatinya.
"Kalau ya?" Tanyq Gaffi.
'Brengsek! Bisa-bisanya dia bilang aku selirnya. Awas kamu Gaffi, tunggu pembalasanku.' Salsa Kesal karena Gaffi mengamini apa yang menjadi dugaan sang raja.
"Ku tukarkan dengan salah satu untuk mengganti selir mu." Ucap Cleo. Ia menjentikkan jarinya. Dan Seketika keluar lah tiga orang dengan membawa tiga hal yang berbeda.
"Pilihlah salah satu.... " Tawar Sang Raja seraya menenggak satu minuman dari gelas emas.
Gaffi melihat tiga pilihan yang menjadi tawaran dari sang Raja.
Perempuan Cantik nan Seksi tapi dengan dada rata.
Lelaki kecil dengan wajah memelas.
Dan sebotol minuman.
"Apa isi botol itu?" Gaffi duduk condong ke arah sang Raja.
"Heh... Itu adalah minuman surga.. Kau akan melupakan semua masalah mu di dunia ini. Kau akan merasakan terbang ke surga. Hahaha... " Raja Cleo tertawa dengan bahunya bergerak naik turun.
Gaffi berdiri dan berjalan ke arah tiga pilihannya. Namun alih-alih memilih sendiri, Gaffi justru bertanya pada Salsa.
"Yang mana yang harus aku pilih, istriku sayang?" Tanya Gaffi. Dua alis Gaffi naik turun.
"Istri? Bukankah aku selir mu?" Tanya Salsa balik.
"Kau bertambah cantik kalau merajuk sayang..." Goda Gaffi melihat mimik wajah sang istri.
"Sebagai trah dari Kyai Ahmad Rohim. Kamu lebih tahu keputusan apa yang harus kau ambil suami ku..." Kini Gaffi mempertontonkan gigi putihnya. Gaffi tersenyum lebar dan meraih sebuah botol yang begitu menyengat bau khamr atau alkohol. Alis Salsa terangkat saat ia melihat suaminya memilih khamr.
Gaffi menenggak anggur itu lalu tiba-tiba ia menghidupkan korek api yang berada di tangannya. Tiba-tiba saja semua yang berada di ruang itu berteriak histeris.
"Dewa Api...! Ampuni kami dewa Api! Ampuni kami...!" Teriak semua yang ada di istana itu. Termasuk Raja Cleo.
"Hamba pelayan mu wahai anak Tuhan... Ampuni kelancangan hamba... !" Kini sang Raja duduk berlutut dan Gaffi kembali menenggak khamr itu namun ia tak meminumnya. Ia justru menyemburkan ke arah korek api ditangannya. Hingga kobaran demi kobaran api membuat pemuja api ketakutan.
"Heh... tidak semua alkohol itu haram sayang... Bahkan di dunia nyata.. Para dokter membutuhkan alkohol untuk membius pasien nya..." Gaffi berbisik di telinga sang istri.
"Aku akan bertanya pada Mama Arumi nanti bagaimana hukumnya berkumur dengan khamr..." Salsa berdiri dengan menerima uluran tangan Gaffi. Kini Gaffi memeluk Salsa erat dengan menatap tajam Raja Cleo.
"Aku bukan Tuhan. Tapi Tuhan ku selalu mengatakan untuk setia pada pasangan kalian, dan memuliakan kalian. Ini karena kalian sudah memperlakukan kasar wanita ku ..." Kembali Gaffi mempermainkan Raja Cleo bersama pasukannya.
Ya, Gaffi tahu jika kisah ini pernah dikisahkan sang nenek bahwa bahaya khamar. Namun pada pilihan Gaffi, ia tahu kelemahan para pemuja Api itu. Sehingga ia lebih memilih alkohol untuk menakuti para pemuja Api itu daripada menenggak alkohol yang berujung dengan nanti ia akan berbuat dosa besar, membunuh anak kecil, lalu zina dengan perempuan yang ditawarkan sang raja.
'Aku tak akan lupa pesan Mama dan para sesepuh di keluarga ku.... Bahwa khamr,memb u n u h , zina adalah dosa besar.....' Gaffi merasakan rindu akan sosok yang menjadi awal mula ia menciptakan Aplikasi HVR.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
dah esmosi si salsa gegara ucapane gaffi yg bilang dia cuma selir bukan istri
lanjut
2024-01-31
0
sitimusthoharoh
ini mau nulis pinggang jadi pingsan thor?
2024-01-31
0
Sofia Zidna
gimana ceritax thor, kok bisa eyang ayra motivatorx?
2024-01-19
1