Bab 4 Algoritma Virtual

“Lihatlah di belakang mu istri ku.... Ada yang lebih penting dari urusan ranjang kita.” Wajah Gaffi terlihat pucat. Ia bisa melihat jelas sesosok makhluk yang bertubuh besar, pipi gemoy dan bulu-bulu lebat. Tatapan mata tajam mahkluk itu, terlihat jelas insting berburu makhluk yang bernama Kucing Anggora itu sedang naik karena melihat dua makhluk kecil, yang tak lain Gaffi dan Salsa yang masih berada di posisi mereka.

Salsa cepat menoleh ke belakang. Bibirnya melengkung melihat tatapan mata kucing yang begitu besar itu. Jika di dunia nyata, mereka yang akan mengangkat kucing itu untuk dijadikan mainan. Kali ini, mereka justru akan menjadi bulan-bulanan makhluk yang begitu disukai kaum hawa itu.

“Meow... meow....”Dengan langkah lemah gemulai kucing Gemoy itu mendekat ke arah sepasang suami istri itu. Suara halus itu terdengar saat dia semakin dekat. Dia ingin memberi tahu mangsanya bahwa dia telah datang, bahwa dia adalah predator yang tidak terkalahkan.

“Jangan bilang di perjalanan pertama ini kita menjadi manusia liliput....” Suara Salsa terdengar bergetar tanda ia ketakutan karena bisa memprediksi bahwa kucing itu sedang mengincar mereka.

Dengan langkah perlahan, kucing Anggora tersebut mendekati mangsanya. Kaki-kakinya yang halus menyentuh tanah dengan lembut, hampir tanpa meninggalkan jejak apapun. Karena begitu pelan dan lembut kucing itu melangkah.

Salsa cepat bangkit dari perut Gaffi. Ia berlari sekuat tenaga, begitupun Gaffi. Sepasang suami istri tampak saling menyemangati ketika kucing itu ikut berlari karena melihat mangsanya kabur dari hadapannya.

“Apakah kita akan menjadi santapannya?” Teriak Gaffi yang sesekali melihat ke arah belakang.

“Kucing seperti itu tak akan makan manusia seperti kamu.. mungkin hanya untuk dijadikan mainan... Karena di dunia kamu suka mainin hati orang....!” Suara Salsa menggema. Salsa melihat sebuah mesin rumput yang sedang di gunakan oleh tukang kebun. Cepat Salsa melompat ke arah pinggiran roda tersebut. Terdapat sebuah besi yang cukup ia jadikan tempat berdiri dan menyelamatkan diri dari kucing tersebut.

“Hei... istri macam apa kamu? Meninggalkan suami mu disaat susah?!” Gaffi merasa gusar melihat Salsa tertawa seraya duduk di atas mesin pemotong rumput tanpa mau mengulurkan tangan kepada dirinya.

Tiba-tiba, dengan gerakan yang cepat seperti kilat, kucing Gemoy meluncur menuju mangsanya. Kakinya yang lentur dan cakarnya yang tajam siap untuk menyerang. Dia melompat dengan lincahnya, mencoba menangkap mangsanya dengan satu gerakan yang sempurna. Beruntung Gaffi cepat menyambar sebuah tali yang menjuntai dari mesin potong rumput itu.

Namun belum cukup disana. Ia justru layaknya sedang berada di tali dengan kondisi menggantung di udara.

“Meow... meow...” Kucing itu terus mengejar, tidak pernah menyerah.

Tukang kebun tak menyadari jika kucing tersebut sedang mengejar sesuatu yang ada di body mesin potong rumput itu.Tiba-tiba, mesin tebas rumput itu berhenti beroperasi. Suara mesin yang bising dan bergetar tiba-tiba menghilang, meninggalkan sebuah kepulan asapa di cerobong asapnya. Mesin yang biasanya berjalan dengan lancar dan efisien, kini terdiam tanpa suara.

Tukang Kebun memandang dengan kebingungan. Dia mencoba menyalakan mesin kembali, tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan dari mesin tersebut. Tombol start ditekan berkali-kali, namun tidak ada respon yang muncul. Tukang kebun itu pergi meninggalkan mesin tersebut dan menuju sebuah ruangan.

Namun bahaya mengintai Gaffi dan Salsa. Kucing itu berhasil menenteng Gaffi dengan bajunya. Gaffi, yang tadinya duduk dengan tenang karena tak lagi terombang-ambing tiba-tiba merasakan sesuatu yang menarik dan melihat kucing itu menggigit bajunya dengan gigi kecilnya. Kucing itu tampak seperti membawa anaknya, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

“Hahaha, lihat Gaffi! Kucing itu benar-benar menggigit bajunya! Kamu terlihat lucu sekali!” Gaffi menggenggam tangan erat serta menyipitkan mata hitamnya. Sementara Salsa masih terus tertawa terbahak-bahak. Putri Mrs Tania itu sedang menikmati momen lucu yang tercipta karena tingkah kucing yang tak terduga tersebut.

“Ah, jangan tertawa terlalu keras,” Teriak Gaffi ketika melihat Kucing itu kembali meletakkan Gaffi diatas lantai dan memainkan Gaffi dengan kukunya. Gaffi bahkan bergulir sampai ke sebuah pintu karena di dorong oleh kuku kucing itu.

“Puussss... Momo.... Momo....” Panggil seorang perempuan. Gaffi justru hampir terinjak-injak oleh kucing itu saat ia berlari ke arah dalam sebuah bangunan yang merupakan rumah tuannya.

Salsa turun dari mesin tebas. Ia berlari ke arah Gaffi, ia duduk berjongkok dan mengulurkan tangan kepada Gaffi. Suaminya itu sedang berada dalam kondisi sangat tidak baik. Rambut yang acak-acakan dan baju sedikit sobek di bagian belakang. Ia menepis tangan Salsa dengan kasar.

“Aaaa... Tertawa saja. Aku tidak habis pikir bagaimana Profesor Kim bisa mengatakan kalau kamu adalah yang terbaik dari 98 yang lainnya! Bahkan rasa empati pun kamu tak punya!” Suara Gaffi terdengar lantang dan menggema di teras rumah yang luas itu. Gaffi berdiri dan bercermin. Ia membenarkan rambutnya dan menatap bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah karena terbentur sesuatu saat menjadi bulan-bulanan kucing tadi.

“Terserah, daripada emosi dari tadi. Cepat kita masuk. Sepertinya hacker aplikasi kita ingin kita menyelesaikan satu misi ini. Ada apa di dalam.” Salsa sudah berjalan melangkah ke dalam rumah. Gaffi mengibaskan kemejanya. Ia bahkan sempat menoleh ke arah belakang baju kemejanya.

Saat masuk ke dalam rumah yang Fasad rumah terbuat dari batu alam elegan, dengan jendela-jendela besar. Ketika memasuki ruang tamu, terasa atmosfer sebuah kemewahan. Namun sangat kontras dengan seorang perempuan yang memeluk kucing tadi.

Tampak perempuan berparas cantik dengan menggunakan gamis rumahan yang sedang berada pada puncak kelelahan. Keringat besar diwajahnya dan wajah pucat terlihat jelas dari perempuan itu.

Gaffi dan Salsa bersembunyi di balik gorden yang menjuntai hingga kelantai saat anak mata kucing Gemoy tadi menatap ke arah mereka dan suara lembut yang membuat pemiliknya tertawa lepas.

"Meow.... Meow..." kedua matanya terpejam karena usapan perempuan itu.

"Kira-kira apakah kita di dunia liliput?" Tanya Gaffi pada Salsa yang berdiri di hadapannya.

"Yang jelas kita berada di dunia virtual. Dimana hacker bisa sesuka hati memutar algoritma juga bisa sesuka hati menteleporting kita ke tempat lain. Maka fokuslah pada rumah ini, dan jangan sentuh aku. Air liur kucing tadi masih tersisa di tubuh mu!" Suara dingin Salsa terdengar kesal karena satu tangan Gaffi yang menempel di pundaknya terlihat basah dan mengenai cardigan nya.

"Ini bukan baju tapi Cardigan... " Goda Gaffi yang menghirup aroma wangi dari rambut panjang Salsa.

"Sssst..." Tatapan tajam Salsa diarahkan ke Gaffi.

Tiba-tiba suara derap langkah sepatu terdengar cepat dan menggema di ruangan itu. Salsa mengurungkan niat untuk keluar dari balik gorden itu.

"Mayaaaa!" Teriak seseorang yang memecahkan keheningan di ruangan itu.

Kepala Gaffi dan Salsa sama-sama menyembul dari balik gorden itu. Mereka penasaran siapa lelaki itu, dan apa yang membuatnya sangat marah. Tampak perempuan yang tadi sangat menyayangi kucing, yang terlihat menyeramkan bagi Gaffi dan Maya. Perempuan itu bernama Maya, ia adalah istri dari lelaki yang bernama David.

"I-Iy-Iya... Ada apa?" Tanya Maya terbata-bata. Perempuan itu bahkan tak sanggup menatap lelaki yang tak lain adalah suaminya.

"Lihat ini? Lihat?!" Lelaki itu menarik tangan Maya dan menjatuhkannya ke lantai. Satu telunjuknya mengarah ke sehelai rambut panjang yang berada di lantai. Maya tampak pucat dan tubuhnya bergetar, matanya bahkan berair.

"Aku sudah katakan, aku tidak suka ada sehelai pun rambut!? Aku tidak suka semua gang yang tak tersusun rapi! Kamu paham!?! Harus berapa kali aku mengatakan jangan pernah ada satu helai pun rambut mu di lantai. Hah?" David berteriak tepat di depan telinga istrinya yang duduk di lantai.

"Ma-Ma-maafkan aku mas... Maaf." Maya menjawab dengan isak tangis.

"Ish.... Lelaki kurang ajar. Lelaki macam apa dia. Siapa lelaki itu. Ingin ku hajar lato-latonya. Berani sama perempuan. Gerutu Salsa yang gigi nya gemertak karena melihat perlakuan David pada Maya.

"Lato-lato?" Gaffi seketika merapatkan pahanya.

Salsa menoleh ke arah belakang.

"Kalian para lelaki hanya berani pada perempuan." Tatapan tajam Salsa pada Gaffi.

"What? Hey, tidak semua lelaki. Dia yang salah kenapa pula aku yang jadi korban." Gerutu Gaffi.

Tiba-tiba suatu gelombang berputar-putar dan cahaya berwarna warni terlihat mendekat ke arah Gaffi dan Salsa. Mereka tak sadar jika diri mereka sedang ditarik oleh gelombang itu. Saat tubuh mereka telah berada di udara sepasang suami istri itu baru menyadari bahwa algoritma Virtual itu kembali menarik mereka ke suatu tempat.

Namun sayang, kedua orang itu tak sempat saling bergandengan. Maka Algoritma itu menarik mereka ke arah yang berbeda.

"Salsa!"

"Graffi!"

Teriak mereka saling bersahutan dan seketika tubuh mereka terhempas di sebuah ruangan gelap gulita tanpa setitik cahaya.

"Awwwhh...." rintih Gaffi yang merasa sakit pada bagian punggungnya. Ia bisa merasakan tempat itu lembab dan banyak air yang menggenang.

Sedangkan di tempat yang berbeda Salsa justru berada di tempat yang begitu panas dan bau busuk.

"Astaghfirullah... Tempat apalagi ini..." Hidung mancung Salsa berkedut, tangan kirinya cepat menutup kedua lubang hidungnya.

Sedangkan di laboratorium Profesor Kim semua panik.

Wiiiiingggg!

Wiiiiingggg!

Alarm tanda bahaya berbunyi. Semua Programmer terlihat semakin tajam memperhatikan kode-kode di layar mereka masing-masing. Professor Kim menerobos ruang Virtual yang di tunggu oleh Mia.

Braaakk!

"Apa yang terjadi Mia?" Suara teriakan Profesor Kim terdengar sangat nyaring di ruangan yang di kelilingi lapisan elemen baja dan kaca di bagian atas.

"Salsa Prof, kondisinya sangat serius. Tingkat oksigen dalam darahnya sangat rendah, menunjukkan adanya hipoksia yang mengancam nyawanya." Jawab Mia tanpa memperdulikan kehadiran Profesor Kim diikuti Ken dibelakangnya.

"Hal ini dapat menyebabkan gangguan fungsi organ-organ vital dan jika tidak segera ditangani, dapat berakibat fatal. Kita bisa kehilangan Salsa di dunia nyata." Wajah Mia terlihat pucat pasih menatap layar di kapsul yang terdapat tubuh Salsa dan Gaffi.

"Maaf Prof, saya mohon untuk keluar." Mia memohon pada Profesor. Kedua mata Profesor Kim menatap aneh pada Mia. Satu orang perempuan yang merupakan tim medis masuk membawa sebuah alat. Mia cepat menerima alat itu.

"Ta-"

"Cepat keluar! Atau kita akan kehilangan Salsa!" Suara nyaring Mia, gadis kelahiran Malaysia itu menatap tajam Ken yang baru ingin protes. Satu kode diberikan oleh Mia. Perawat yang mengenakan baju serba putih itu cepat menunggu di depan pintu, dan cepat menutup pintu itu setelah Profesor Kim keluar bersama Ken. Mia bahkan sudah berdiri tepat didepan CCTV. Ia menutup alat itu dengan plaster.

"Hei! Apa yang dilakukan Mia!" Ken menggebrak mejanya karena tak bisa melihat ke dalam ruang teleportasi akibat tindakan Mia yang menutup CCTV itu dengan plaster.

"Cepat bantu aku, dalam hitungan ke tiga kamu sudah harus melakukan seperti yang ku ajarkan kemarin? Paham?" Tatapan Mia begitu serius menatap anak asuhnya.

'Apa yang kalian alami di sana... Bertahanlah Salsa...' Mia cepat mengangkat jarinya untuk memberikan kode pada anak asuhnya.

Terpopuler

Comments

Junaedi d Juhaeti

Junaedi d Juhaeti

menegangkan...

2024-05-02

0

Sukhana Ana Lestari

Sukhana Ana Lestari

In Syaa Allah Salsa dlm lindungan Allah Swt

2024-03-04

0

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

semoga salsa gk kenapa2 y thor.
lanjut

2024-01-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!