Seorang lelaki dengan rambut keriting yang telah berganti warna menjadi putih tampak menatap lembar demi lembar laporan dari sang asisten. Dahinya bahkan berkerut, bahkan sesekali ia tampak memijat dahinya. Tanpa mengalihkan pandanganya pada lembar itu, ia meraih sebuah alat komunikasi yang ada di atas mejanya.
"Ken kemari bersama Mia, bawa hasil riset mu kemari. Aku sedikit khawatir untuk perjalanan virtual ke dua ini." Suara berat dari lelaki 60 tahun itu tampak pelan.
"Baik Prof." Jawab Ken.
Tak lama, dua orang andalan dari Profesor Kim yang memiliki kemampuan berbeda itu telah hadi di hadapan Profesor Kim.
"Duduklah." Ucap Professor Kim tanpa menatap dua orang tersebut.
Ken menyerahkan hasil dari penelitiannya tentang Jejak Virtual medsos Gaffi dan Salsa dan ia memprediksi sesuatu yang akan di pilih hacker untuk perjalanan virtual berikutnya.
"Ada kode-kode baru di perjalanan besok. Lihat ini Prof." Ken menunjukkan satu bagian algoritma yang baru di selembar kertas yang ia prin out.
"Sudah mencari tahu kira-kira dimana letak penyerang aplikasi kita ini berada?" Tanya Profesor Kim.
"Tim Elang sedang mencari tahu, kita sudah mengirimkan beberapa tim ke Australia dan Belanda juga Korea. Dalam dua tiga hari ini kita akan mendapatkan hasilnya.," Beberapa surat diberikan oleh Ken kepada Professor Kim.
"Mia... Aku ingin kau menambah beberapa personil mu. Entah kenapa aku khawatir pada Gaffi dan Salsa. Tampaknya dugaan ku tak meleset. Ada dendam masalalu dari hacker ini pada Gaffi dan Salsa. Melihat catatan medis Salsa usai perjalanan kemarin, aku khawatir...Untuk perjalanan kedua ini." Kali ini Professor Kim menatap wajah datar Mia.
"Hhhh... Aku sudah meminta bagian gelombang sensorik untuk mencari tahu, tapi sepertinya perjalanan itu memberikan dampak langsung pada syaraf manusia. Layaknya seperti kita yang terlalu lama bermain gadget. Maka itu lebih mematikan." Teliti Mia pada catatan medis Salsa.
"Bip..."
Suara dari layar monitor Profesor Kim.
Ia menurunkan kacamatanya dan membaca pesan yang masuk.
"Dugaan mu benar Mia.... Maka aku butuh kamu untuk menyiapkan satu layar virtual, dan satu chip yang bisa memberikan kita signal secara visual, agar kita bisa melihat apa yang terjadi pada Gaffi dan Salsa. Kali ini hacker betul-betul ingin mengakhiri virus ini. Menang atau Kalah..." Profesor Kim menatap Ken tanpa berkedip.
Tiga orang itu tak menyadari jika pintu yang sedari tadi terbuka, sehingga membuat sepasang suami istri yang merupakan agen perjalanan virtual itu mendengarkan dengan jelas apa yang disampaikan oleh Profesor Kim.
"Jadi... Ia ingin kami keluar dari perjalanan itu hidup atau mati?" Gumam Gaffi.
"Gaffi... Salsa..." Ucap Professor Kim.
Satu kibasan tangan kepada Ken dan Mia membuat dua asisten Profesor Kim keluar. Mereka paham jika ada hal yang ingin di sampaikan Profesor Kim.
"Duduklah...." Pinta Profesor Kim pada Gaffi dan Salsa.
Salsa dan Gaffi duduk dihadapan Profesor Kim dengan dahi yang datar, mereka menanti penjelasan Profesor.
"Kita bisa menarik semua aplikasi ini. Dan menghancurkan aplikasi yang telah kita luncurkan...." Profesor Kim menatap Gaffi dan Salsa silih berganti.
"Tidak!" Jawab dua orang itu bersama.
Professor Kim menautkan alisnya dan kembali menatap dua orang itu silih berganti.
"Saya bahkan sedang menciptakan satu aplikasi yang bisa saya kombinasikan dengan aplikasi itu Prof...." Ucap Gaffi penuh harap. Ia dulu berjuang keras agar bisa masuk kedalam bagian dari proyek HVR, demi satu mimpinya. Ia berharap bisa menciptakan satu aplikasi yang dimana kelak, anak cucunya termasuk dirinya masih bisa melihat masa lalu dan hadir di masalalu. Karena ada banyak kenangan pada masalalu Gaffi. Bahkan ada seseorang yang kini terpuruk, dan butuh alat itu agar bisa memiliki harapan hidup.
"Sekalipun nyawa menjadi taruhannya, saya ingin aplikasi itu tetap dilanjutkan... " Salsa menjawab dengan tatapan sungguh-sungguh. Ia pun sedang menciptakan satu Assetdatabase agar kelak Program HVR bisa menciptakan satu sensasi dimana orang lain bisa masuk dan merasakan jika menjadi orang lain. Hal itu karena ia ingin sekali Mrs. Tania bisa mencoba penemuan yang ia kombinasikan dengan aplikasi yang masih ia sempurnakan, ia ingin orang tuanya merasakan bagaimana rasanya selalu dibandingkan, selalu dianggap gagal.
"Tapi...." Profesor Kim menyerahkan selembar prin out yang baru keluar dari printer.
Ia menyerahkan selembar kertas itu pada Gaffi dan Salsa.
Suami istri itu saling pandang.
"Menginaplah di sini. Dua hari lagi virus itu akan terbuka. Kita akan memulai perjalanan itu jika tekad kalian sudah bulat." Ucap Professor Kim.
Sepasang suami istri itu menyerahkan semua alat digital mereka pada Ken. Sedangan Mia, ia meminta Salsa untuk istirahat sebentar dan mengambil sampel darahnya.
"Apakah aku akan mati?" Tanya Salsa pada Mia saat mereka baru selesai dengan jarum suntik yang baru saja menyedot beberapa mili darah dari lengan Salsa.
"Tidak ada yang tahu umur seseorang. Tapi kamu bisa memilih mau melanjutkan atau tidak..." Jawab Mia menatap Salsa serius.
Ia pun berlalu dan menuju ruangan yang disiapkan untuk dirinya dan Gaffi. Dua hari ini ia harus berada diruang itu bersama Gaffi. Mereka akan dikontrol makan dan vitaminnya.
Malam hari saat mereka masih sibuk menatap layar-layar yang menunjukan algoritma. Gaffi penasaran apa yang membuat Salsa ingin melanjutkan perjalanan virtual mereka.
"Apa alasan mu memilih ini agar bisa mati di perjalanan virtual?" Tanya Gaffi.
"Kau pikir aku ingin bunuh diri?" Jawab Salsa kesal.
"Lalu apa alasan mu?"
"Aku hanya ingin tahu siapa dia? Apa hubungannya dengan ku. Kenapa ia harus mengorbankan nyawa orang lain agar kita bisa terlibat dalam perjalanan ini!," Kembali Salsa kesal karena ia merasa di permainkan.
Gaffi menghabiskan satu gelas susu yang diberikan tim Mia untuk dirinya.
"Apakah kita mengambil hak seseorang? Dan itu orang yang sama?" Tanya Gaffi seraya menyerahkan satu gelas susu.
"Mungkin... Tapi melihat kode ini... Dan ini...." Jari Salsa bergantian menyentuh layar-layar.
"Dia perempuan?" Tebak Gaffi.
"Hari ini aku percaya Bahwa Profesor Kim benar, kamu memang salah satu yang terbaik." Salsa menerima segelas susu itu. Mereka menatap layar-layar yang tersu berganti kode-kode nya. Mereka tak bisa berselancar di sana, hanya Ken dan tim yang berselancar di algoritma itu. Mereka hanya menikmati hasil itu dari layar dan mengamatinya.
"Katakan saja jika kamu melihat sesuatu yang terjadi di masa depan... Itu alasan mu mau menikah dengan ku bukan?" Salsa berdiri tepat di layar besar. Dan mencubit satu bagian layar sehingga berhenti bergerak dan tampak kode itu menjadi besar.
"Future-Virtual-Salsa-" Tulisan di layar yang dicubit Salsa.
"Katakan... Apakah dimasa depan kita memang sepasang suami istri?" Tanya Salsa pada Gaffi.
Salsa menoleh ke arah Gaffi.
"Katakan... Apakah sebelum kita menikah ada orang yang ingin menikah dengan mu? Tapi kamu menolaknya? Jika Ya, maka orang itu yang sedang menginginkan kematian mu. Karena di masa depan, kematian mu.... Membuat ku menjadi lelaki tanpa kehidupan...." Gaffi menatap kedua netra istrinya dalam, bahkan kini Gaffi tak segan-segan memeluk tubuh Salsa.
"Mari kita rubah garis takdir itu dengan keluar dari perjalanan Jejak Virtual itu hidup-hidup....Aku mencintai mu.... Salsa..." Bibir Gaffi mengucapkan isi hatinya.
"Bohong!" Teriak Salsa yang mendorong Gaffi dengan kasar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
semoga gaffi bisa merubah semua yg ad pada dirimu termasuk cara pandang y sa.kalian sama2 belajar.
lanjut
2024-01-31
0
Sang
saya cuma ditodong othor loh Cha, katakan atau wa#at 🥱🥱
2024-01-26
0
Mentari
bener2 sikap nya salsa persis mama mrs Tania
2024-01-16
0