Bab 10 Logika

Di kediaman seorang fund manager yang tak lain adalah kediaman Tuan Ammar, beberapa anggota keluarga sedang berada di ruang makan. Mereka baru saja menikmati hidangan makan siang bersama.

"Jadi kapan kamu akan ambil satu tanggungjawab di salah satu perusahaan?" Tanya Tuan Ammar pada Gaffi yang masih betah dengan kegiatannya, menatap layar monitor berjam-jam di kafenya. Padahal ia sudah dua minggu menikah dengan Salsa.

"Aku masih ingin mengembangkan kafe ku Pa." Ucap Gaffi santai.

"Kak... Aku sudah cukup sibuk sekarang, apalagi TC akan segera buka cabang baru..Jika memang dirimu keberatan mengurus Pradipta Group, setidaknya kamu bisa membantu aku untuk anak cabang TC di bandung." Pinta Akhtar yang merasa kewalahan, ia bahkan harus sering makan di luar karena tak sempat pulang.

"Kamu sudah lihat bangunan rumah kalian?" Tanya Umi Arumi pada adik Gaffi, Akhtar. Jika dulu ia menikah lebih dulu dari sang kakak. Maka kali ini, Gaffi yang akan tinggal di kediaman Tuan Ammar. Ia sedang membangun sebuah rumah di kawasan Podomoro.

"Mungkin lusa Ma, sekalian Anisah kontrol." Ucap Akhtar pelan.

Namun satu keluarga itu melirik ke arah Gaffi saat seorang perempuan turun dari lantai atas dengan rambut panjang yang terikat, hot pans dan kaos oblong Salsa membuat Akhtar bergegas meninggalkan ruangan makan itu diikuti dengan sang istri. Tuan Ammar juga bergegas pergi dengan alasan ingin melihat email di ruang kerja.

Gaffi tahu kenapa semua bersikap kaku seketika, pakaian istrinya yang lumayan terbuka dan santai membuat kaum adam diruangan ini memilih mundur agar tak melihat yang harusnya tak dilihat.

Gaffi mengusap wajahnya berkali-kali.Saat ia baru akan mengikuti Salsa ke dapur, Umi Arumi cepat menahan tangannya.

"Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan marah? Dan bertengkar... Paham?" Tanya Umi Arumi.

Gaffi menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, lalu ia hembuskan perlahan.

"Tapi Salsa tidak bisa di berikan nasihat dengan kelembutan." Ucap Gaffi.

"Dia perempuan yang menggunakan logikanya Nak, maka berikan penjelasan yang bisa diterima logika." Ingat Umi Arumi yang melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Gaffi.

Cepat sulung Umi Arumi itu meninggalkan ruang makan utama dan menuju ruang dapur. Tampak Salsa sedang menenggak segelas air dingin dan duduk diatas sebuah kursi steanlis.

Alih-alih Gaffi menasehati istrinya. Ia justru langsung memeluk Salsa dari arah belakang. Salsabila Maharani, seorang atlet taekwondo, maka ia reflek memegang lengan Gaffi, namun atlet karate itu tak mau kalah, ia mengunci sang istri dalam pelukannya.

"Hey! Lepaskan! Bagaimana kalau ada yang lihat! Jangan macam-macam Gaffi, kamu sudah berjanji untuk tidak macam-macam!" Raut wajah Salsa sudah merah padam. Gigi geraham nya bahkan bertaut dengan rapat.

"Hehe... Biar saja kalau ada yang lihat, toh kita suami istri. Dan semua yang bekerja disini paham jika ada hal-hal seperti ini, keputusan apa yang mereka ambil." Gaffi sudah menggoda istrinya. Ia membenamkan kepalanya di bagian leher Salsa. Merasa kesal, Salsa menyikut perut Gaffi yang terasa keras.

"Aawhh.." Namun alih-alih Gaffi meleraikan pelukannya, ia justru semakin mempererat pelukannya.

"Lepaskan!" Teriak Salsa yang mulai tersulut emosinya. Dua minggu menjadi istri Gaffi, tidur dalam satu ranjang, baru kali ini Gaffi bertindak seperti itu pada dirinya.

"Tidak akan aku lepaskan. Kamu sendiri yang memancing singa yang lapar. Maka jangan salahkan aku jika aku seperti ini." Ucap Gaffi yang tersenyum puas. Ia tak akan mampu membuat istrinya menggunakan pakaian tertutup di kediaman orang tuanya dengan sebuah nasihat. Maka ini adalah satu-satunya cara agar logika istrinya itu bisa menerima bahwa di kediamannya ada banyak mata. Dimana pemiliknya tak bisa menghindari pemandangan dari pakaian yang di kenakan Salsa.

"Lepaskan!" teriak Salsa semakin kesal. Gaffi langsung menggendong istrinya walau beberapa kali pukulan mendarat di pundaknya ia tak menghiraukannya. Ia bahkan melewati anak tangga yang berada di sisi dapur agar tak terlihat anggota keluarga lainnya. Tiba di kamar, Salsa meronta dan bersiap dengan kuda-kuda nya. Gaffi menarik satu cermin besar.

"Lihat... Katakan salah aku atau kamu?!" Tatap Gaffi silih berganti kepada cermin dan Salsa.

"Tidak ada yang salah." Salsa menjawab santai dan tak berdosa.

"Owh... Tidak ada yang salah ya...." Ucap Gaffi. Kini lelaki itu membuka baju kemejanya dan membuka celana panjangnya. Kini hanya tertinggal sebuah boxer di tubuh kekar Gaffi. Salsa reflek membalikkan tubuhnya dan mengomeli Gaffi.

"Gila! M e s u m!" Gerutu Salsa yang menutupi wajahnya dengan kedua tangan, padahal ia sudah memunggungi Gaffi. Gaffi justru berjalan semakin mendekati Salsa.

"Jangan mendekat atau ku patahkan sesuatu yang tidak di jual di toko manapun! Menjauh dan cepat pakai pakaian mu!!" Teriak Salsa yang mengancam dengan jari telunjuk yang ia arahkan pada Gaffi.

"Hey, apa salahnya? Bukankah tidak ada yang salah... Toh aku masih mengenakan pakaian, apakah boxer ini bukan pakaian? Tidak ada yang salah kan sayang..." Goda Gaffi.

"Oke...oke! Baik, fine! Aku akan mengenakan pakaian lebih tertutup selama di sini! Ingat kamu sudah berjanji bahwa kita hanya 3 bulan disini. Aku ingin kembali ke apartemen ku!" Salsa dengan gusar berjalan ke arah ruang ganti. Ia ambil satu sweater dan celana jinsnya yang cukup longgar.

"Heh! Dasar perempuan!" Gerutu Gaffi yang bersungut-sungut seraya memunguti pakaiannya tadi, ia kembali mengenakan pakaiannya. Saat ia sedang mengencangkan gesper gorila nya, tiba-tiba panggilan dari Profesor Kim.

'Sales barang' sebuah nama terpampang di pop-it layar ponsel Gaffi.

"Ya Prof." Sambut Gaffi seraya menempelkan ponselnya pad bahunya, karena kedua tangannya sedang mengencangkan gesper.

"Datanglah ke Laboratorium bersama Salsa, ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Jangan lupa bawa semua alat digital yang kalian berdua miliki." Suara Profesor Kim terdengar dingin, Gaffi paham ada sesuatu yang genting terjadi. Ia segera mengajak Salsa untuk pergi ke Laboratorium.

"Ayo, Profesor menunggu kita. Bawa semua alat digital mu. Ingat, jangan kenakan tank top lagi jika besok perjalanan virtual itu kembali di mulai. Paham? Atau aku akan bert3lanjang dada dihadapan mu..." Gaffi tersenyum simpul seraya mengumpulkan laptop, ponsel dan beberapa ipad yang biasa ia kenakan. Salsa menekuk wajahnya.

"Aku belum sarapan." Protes Salsa yang baru bangun saat semua keluarga sudah makan siang.

"Sarapan sudah lewat. Sekarang jadwal makan siang. Dan kamu melewatkan nya. Nanti di laboratorium saja!" Gaffi menjawab dengan nada kesal. Karena ulah Salsa yang selalu bangun siang selama di kediamannya, membuat ia menjadi tersangka di mata Keluarganya. Umi Arumi bahkan menasehati dirinya agar memperbanyak kegiatan fisik agar tidak Salsa tidak terlalu lelah.

"Mau kemana lagi? Kalian baru tiba semalam dari kafe? Mau ke kafe lagi?" Tanya Tuan Ammar saat melihat Gaffi dan Salsa sudah sama-sama menggendong ransel mereka dan pakaian casual mereka.

"Bukan kah Umi mengatakan perbanyak kegiatan fisik agar Salsa tidak terlalu lelah? Maka hari ini kami akan mendaki... Agar Salsa tidak lelah. Betulkan sayang?" Gaffi segera memasukkan tubuh istrinya dalam rangkulan.

Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, mereka meninggalkan kediaman Gaffi menggunakan baby alphard yang jarang sekali digunakan oleh Sulung di keluarga Tuan Ammar.

"Kapan dia akan dewasa... Ia hanya sibuk bersenang-senang dan tidak pernah memikirkan masa depan... Ironisnya kini istrinya punya hobi yang sama.. Apakah mereka tidak berpikir bahwa harus ada penerus di perusahaan orang tua mereka." Gerutu Tuan Ammar menatap kepergian anak dan menantunya yang ia anggap hanya bersenang-senang tanpa peduli kondisi keluarga dan lingkungannya.

'Tidak, mereka justru sedang melakukan hal yang besar tapi tak ingin dunia tahu... Aku harus bertemu Nur dan Ibra...' Batin Arumi yang masih mencari tahu apa yang dilakukan sepasang suami istri yang tak lain anak dan menantunya.

Terpopuler

Comments

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

Allah pasti lebih tau ap yg kita butuhkan ketimbang yg kita inginkan.mungkin ini bakalan jadi salah satu pelajaran buat rah tanggane gaffi m salsa.
lanjut

2024-01-31

0

NurHayati

NurHayati

walaupun kaya gak rela gaffi sama salsa tp kalau jodoh ada sisi yg bisa melengkapi dan menyatukan, contohnya kaya gaffi dan salsa yg satu server di kerjaan ,

walaupun awal suka andaikan gaffi nikah ma gendis,tp nyatanya gendis yg dr kecilnya krisis kasih sayang dan perhatian malah gak cocok sama gaffi yg kerja nya gak kenal waktu apalagi kalau darurat,dan serba misi rahasia,
malah makin memperparah hubungan rumah tangga nanti nya

2024-01-13

0

🍇🐊⃝⃟🍒EndahCђαη🍁❣️🕊️⃝ᥴͨᏼ🍂

🍇🐊⃝⃟🍒EndahCђαη🍁❣️🕊️⃝ᥴͨᏼ🍂

insting mantan agen ditambah kepekaan seorang ibu lansung bekerja lihat sejauh mana gaffi bisa kucing2an dg arumi

2024-01-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!