Gaffi menatap Salsa saat dadanya di dorong dengan kasar.
"Lalu siapa perempuan yang bernama Gendhis?" Tanya Salsa.
Gaffi terkekeh-kekeh ketika mendengar suara dingin dan mimik wajah sang istri.
"Jadi kamu berselancar di laptop ku kemarin?" Tanya Gaffi.
"Tenang saja aku tidak delete semua foto perempuan berbulu mata lentik itu..." Ucap Salsa.
"Heh... Tidak semua orang akan bahagia dengan mendapatkan apa yang ia inginkan. Begitupun dengan diri ku dan Gendhis. Maka memilih melupakan dan mencintai kamu itu lebih indah." Ucap Gaffi.
"Katakan karena apa aku mati di masa depan?," Tanya Salsa serius.
"Yang jelas bukan aku yang membunuh mu." Ucap Gaffi. Akhirnya sepasang suami istri itu menyudahi obrolan mereka saat sebuah pesan masuk ke ponsel Gaffi.
____________
Seorang perempuan mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan niqabnya. Sedang duduk di hadapan sebuah pusara dari perempuan yang mencurahkan segenap cintanya untuk dirinya dulu. Arumi bahkan menahan isak tangisnya kala ia menghadiahkan bacaan Shalawatnya untuk sang ibu mertua. Hingga suara langkah kaki yang terdengar di atas lantai keramik putih itu membuat Arumi menyudahi kirim doanya. Ia tutup ziarahnya pada makam ibu mertuanya yang berada di sisi sang ibunda almarhumah.
"اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ"
Arumi menoleh, seorang santri yang tertunduk dan menyampaikan jika dirinya sudah cukup lama terpekur di area makam keluarga besar Kali Bening itu. Ia memang akan meminta seorang santri ndalem menemaninya saat ke area makam.
"Umi Nur menunggu njenengan Mi..." Ucap Santri itu. Arumi cepat mengenakan niqabnya. Ia cepat berjalan menyusuri koridor demi koridor dan sebuah lapangan luas, lalu dua bangunan tinggi yang menjulang. Namun saat tiba di sisi kanan bangunan itu, ada sebuah bangunan penuh sejarah dan makna. Itu adalah kediaman Kyai Rohim dan Umi Laila dulu, dan kini rumah itu ditempati dua adik iparnya.
Baru tiba diteras, ia cepat disambut Umi Nur.
"Dik Nur..."
"Kak Arumi..."
Dua perempuan itu saling memberikan pelukan hangat.
"Kak Ammar tak ikut?" Tanya Nur melihat ke belakang jika Umi Arumi seorang diri.
"Tidak, mas Ammar ada tamu di kantor. Dik... Ada yang ingin aku bicarakan penting, aku perlu bicara pada kamu dan juga dik Ibra." ucap Umi Arumi.
"Kok kebetulan begini...." Ucap Umi Nur seraya menuntun kakak iparnya untuk duduk.
"Kebetulan?," Dahi Umi Arumi berkerut.
"Iya, Gaffi dan istrinya tadi kemari... Sekarang di Belakang sama Abah." Ucap Umi Nur.
"Gaffi... Salsa? Kapan mereka kemari?" Tanya Umi Arumi.
"Sekitar dua jam yang lalu."
"Apa mereka ada perlu?" Tanya Umi Arumi.
"Ya... Ada perlu sama Mbah Putri, sama mbah Buyut...Umi kenapa bisa sampai kemari dan tidak mengajak kami?" Tanya Gaffi yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu. Yang membuat kedua mata Umi Arumi nyaris keluar adalah penampilan Salsa yang masih dengan jins dan kaos oblong lengkap dengan kardigan nya. Walau kali ini jins yang ia kenakan lebih longgar.
'Astagfirullah... Apakah ini yang dulu Mama rasakan ketika melihat watak ku yang keras ketika baru menjadi menantu di keluarga Mama...' Batin Arumi mengenang masalalu nya. (Yang baru baca ini. Mending kalian baca Pesona Ayra Khairunnisa, terus pindah Pesona The Twins, disini kalian bakal tahu ni kelakuan Umi Arumi masa-masa labilnya hingga kini bisa menjadi Umi Arumi yang luar biasa.)
Gaffi duduk dan diikuti Salsa. Lalu muncul seorang lelaki yang sangat mirip almarhum Kyai Rohim, ia adalah Ibra. Lelaki itu akan mengenakan sarung dan baju koko putih dengan kopiah hitam yang sedikit menimbulkan rambut depannya ketika sedang merasa gerah atau panas.
"Lah... Kak Arumi...kok ya dewe-dewe loh..." Ibra ceplas ceplos karena ia bingung ibu dan anak bisa datang tak bersamaan.
Umi Arumi membuka niqabnya. Gerakan bibir sangat pelan tanpa ada suara. Di baca jelas oleh Umi Nur dan Abah Ibrahim.
Gaffi dan Salsa tak menyadari jika kini Umi Nur dan Abah Ibrahim sudah mengetahui tujuan Umi Arumi ke Kali Bening.
"Ma, kemungkinan besok kami akan ke Aussie." Ucap Gaffi. Umi Arumi kembali kaget.
"....."
"Ya, Umi tahu lah Mi... Kami butuh waktu berdua." Ucap Gaffi pelan.
"Berdua? Umi lihat bahkan kalian selalu berdua. Bahkan nyaris Umi tak pernah lihat kalian keluar dari rumah sendiri-sendiri." Selidik Umi Arumi.
'Ya Ampun Umi.... Kenapa selalu tahu aja kalau anaknya ini bandel....' Batin Gaffi.
"Mom.. Please.. izinkan ya?" Suara Salsa manja. Uni Arumi mengangkat dagunya dan menatap Salsa.
"Ok, tapi kalian harus janji ketika pulang dari Aussie, Umi ingin kalian tinggal dirumah atau tinggal dirumah yang sudah Papa siapkan." Pinta Umi Arumi.
"Ok, promise...!" Salsa tersenyum lebar. Baginya tak masalah. Mereka harus pergi ke Aussie agar mereka tidak dicurigai. Karena Professor Kim mengatakan perjalanan kali ini tak tahu berapa lama di dunia nyata dan berapa lama di dunia virtual.
"Ajaklah dulu ke Bu Lek. Kalian belum kesana bukan?" Ucap Arumi. Gaffi mengangguk namun saat di perjalanan menuju mobil, ia mengapit leher Salsa. Dan berbisik di telinga sang istri.
"Besok-besok kenakanlah baju kurung jika kesini... Lihat mata-mata santri itu melihat mu aneh..." Gerutu Gaffi.
Salsa hanya pasrah pada kelakuan suaminya. Ia tak ingin bertengkar di tempat umum yang dimana para santri selalu menghentikan langkahnya ketika berpapasan dengan mereka.
Selepas kepergian sepasang suami istri itu. Umi Arumi membuka obrolan.
"Bantu aku Dik... Aku khawatir Gaffi mengikuti jejak ku. Bukankah kamu masih memiliki akses ke organisasi itu?" Suara Umi Arumi khawatir.
"Dari gesture mereka memang ada yang mencurigakan." Gumam Umi Nur seraya mengrimkan email ke teman karibnya yang masih memiliki organisasi yang mirip dengan intelejen.
"Tapi... Yang aku bingung... Kenapa dia menikahi perempuan yang tak ia cintai." Ucap Abah Ibrahim.
"Ya, itu salah satunya. Karena yang aku tahu ia begitu mengagumi satu perempuan bernama Gendhis. Namun entah tiba-tiba ia mengatakan akan menikahi Salsa yang sepertinya jauh dari kata ideal bagi Gaffi. Karena jika dari akhlak dan cara berpakaian mereka bagaikan bumi dan langit. " Jelas Umi Arumi dengan suara yang menyiratkan kekecewaan.
"Tapi perempuan itu berilmu...." Umi Nur mengomentari penyidikan suami dan kakak iparnya.
"Berilmu?" Tanya Umi Arumi.
"Kak Arumi sepertinya memang harus mengasah kemampuan mu kembali. Coba kembali ingat tingkah Salsa selama menjadi menantu mu." Ucap Abah Ibrahim.
Umi Arumi memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian ia membuka kedua netranya yang memiliki bulu yang lentik. Ia tampaknya berniat mencari tahu siapa Salsa.
'Aku minya bantuan Mas Ammar untuk mencari tahu siapa Salsa... Bukankah orang tuanya pengusaha di Aussie? Atau aku...' Umi Arumi teringat seseorang, sahabat masalalu nya. Perempuan yang pernah membantu dirinya disaat amnesia.
Di tempat yang lain Sepasang suami istri itu sudah berada di sebuah rumah yang begitu banyak tanaman.
"Sungguh pemandangan yang indah." Ucap Salsa kala mengirup udara penuh aroma bunga mawar.
"Ini kediaman Bu Lek Ku. Dan kamu harus konsultasi tentang alergi kucing mu." Gaffi menarik tangan Salsa yang masih asyik menikmati kelopak bunga yang masih menguncup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
honeymoone gaffi m salsa mah exstrem kalok umi arumi m mom tania tau bakalan syok pasti
lanjut
2024-01-31
0
dewi rofiqoh
Melalui perantara gaffi dan keluarga InsyaAlloh kedepannya salsa bakalan menjadi pribadi yang lebih baik
2024-01-14
1
mudahlia
boleh jujur gk aq gk sudah ada sesi sesi dakwah gini pling seneng semangat sumpah kesan nya gimana ya , mengajar kan tanpa hrus memaksa bercerita sambil berbagi ilmu jelasnya
2024-01-13
1