Gaffi dan Salsa membuka mata mereka, alangkah kaget mereka ketika melihat kini mereka tidur diatas pasir tanpa alas dan atap.
"Bukankah semalam kita tidur di tempat tidur yang begitu indah?" Tanya Gaffi ketika melihat mereka tergolek di pasir. Tulang-tulang mereka bahkan terasa ngilu, karena dinginnya udara pagi hari.
"Tampaknya kita sudah di teleportasi ke tempat lain. Tiba-tiba ponsel Gaffi berdering. Kali Ini Gaffi cepat membuka ponselnya.
"Alarm.." Ucap Gaffi seraya mengangkat ponselnya, Salsa melihat layar tersebut.
"Aneh.. Kenapa pakaian dan benda- benda yang kita bawa selalu ada di saat kita melakukan perjalanan Virtual ini... Bukankah kita hanya menggunakan sehelai pakaian tipis saat proses teleportasi ini?" Gumam Salsa, ia mengeratkan cardigan miliknya.
Gaffi terlentang dan menatap langit yang mulai terang.
"Semoga kali ini kita langsung bertemu hacker itu. Apa mau nya... Kenapa kita dibawa ke hal-hal dan tempat-tempat yang kita posting di media sosial..." Ucap Gaffi merasa lelah. Ia merasa sakit di bagian hidungnya. Ia merasakan jika kemarin ketika berlatih perang dengan Raja Api, pukulan Raja Api masih membekas di hidungnya.
"Seperti kita sedang berada dalam kubur... Dan kita sedang di tel@njangi dari setiap yang kita posting. Aku tidak membayangkan jika dulu kamu memposting pacar mu di media sosial... Maka bisa jadi kita akan bertemu dia..." Salsa mengejek Gaffi.
"Aku tidak pacaran..." Protes Gaffi.
"Lalu? Meminta dirinya diterima pada saudara kembar mu itu bukan pacaran? Meminta mantannya kembali bersama dia karena kamu harus menikahi aku itu bukan rasa cinta? Bukankah rasa cinta itu adalah rela mengalah demi kebahagiaan dia?" Salsa berdiri dan mengibaskan cardigan juga celana jeans-nya.
Gaffi duduk dan menekuk kedua lututnya.
"Jangan bilang kalau kamu menciptakan satu program yang sama...." Salsa menoleh ke arah Gaffi. Cukup lama mereka saling tatap dengan posisi yang berbeda.
"Setidaknya aku tak tahu apa akhir dari kisah kita. Tapi aku tahu bahwa kamu memilih aku karena aku yang terbaik buat kamu, dan Gadis bernama Gendhis itu terbaik untuk mantan pacarnya." Ucap Salsa.
"Cepatlah... Kita harus terus berjalan. Untuk mengakhiri semua permainan ini. Dimana Perempuan yang menginginkan kematian kita...." Batin Salsa. Gaffi mengikuti langkah kaki istrinya. Mereka pun berjalan berhari-hari. Mereka hanya makan buah yang ditemukan. Bahkan sulit bagi mereka menemukan mata air. Tepat di hari ke tujuh, mereka merasakan lelah dan kehausan.
'Kemana kali ini perjalanan ini...' Batin Gaffi.
Salsa menatap wajah Gaffi. Ia bisa melihat bibir suaminya kering, ia pun merasakan hal yang sama. Bibirnya terasa kering dan semua tubuh mulai terasa lelah.
Gaffi melihat kalung yang diberikan raja api yang sempat menahan mereka. Gaffi diberikan sebuah kalung dari suku itu. Sebagai simbol jika Gaffi adalah Raja atau anak Tuhan mereka.
"Apa kamu sudah merasa menjadi Tuhan?" tanya Salsa seraya terus menganyam banyak pelepah kering yang ia sobek kecil-kecil. Mereka pergi tanpa arah, namun belum menemukan peradaban manusia. Setidaknya pelepah itu bisa menjadi penghangat disaat malam tiba.
Gaffi merasa lelah. Ia duduk dan meluruskan kedua kakinya. Ia tatap langit yang kian terik matahari menyinari bumi. Namun tiba-tiba sebuah anak panah melesat cukup cepat dan hampir mengenai lengan Salsa. Beruntung Gaffi cepat menghalaunya dengan sebuah kayu.
Gaffi menatap ke arah perempuan yang berdiri diatas bukit. Perempuan itu menatap Gaffi lekat. Dan di belakang nya bermunculan orang-orang dengan pakaian yang sama dan mengarahkan anak panah. Namun satu tangan dari perempuan yang baru saja melesatkan anak panah itu terangkat. Tampak semua perempuan itu menahan busur mereka.
"Tampaknya habis raja Api, kini giliran dewa cinta..." Gumam Salsa melihat anak Panah yang di tangan Gaffi. Ujung anak panah itu berbentuk runcing tapi lebih mirip tanda love.
"Jangan bergerak. Jika tidak mau puluhan anak panah itu melesat." Gumam Gaffi. Pasukan itu turun dari bukit dan membidik Gaffi juga Salsa, agar mereka tak bergerak. Tiba tepat di hadapan Gaffi, seorang perempuan yang menggunakan kalung dan sebuah liontin yang menjuntai tepat di tengah-tengah batang hidungnya.
"Jalan!" Teriak perempuan itu seraya mengarahkan busurnya ke arah Gaffi dan Salsa. Mereka berjalan ke sebuah perkampungan. Tiba di perkampungan itu, Salsa dan Gaffi merasa aneh.
"Kenapa aku tidak melihat ada laki-laki disini?" Tanya Salsa.
"Semoga ini bukan negeri tanpa lelaki..." Bisik Gaffi . Mereka duduk disebuah kayu begitu besar. Gaffi bisa merasakan ratusan mata memandang Gaffi penuh damba. Ia sudah seperti ingin melahap Gaffi hidup-hidup. Gaffi sedari masuk ke perkampungan sudah merasa gelisah. Karena layaknya lelaki dewasa. Pakaian para wanita itu membuat ia merasa gelisah. Bagian atas pakaian mereka tidak tertutup sempurna.
"Sepertinya kali ini bukan khamr yang menjadi tantangan mu... Kenapa tak berani kau angkat kepala mu? Karena belahan d@da mereka?" Salsa memainkan kakinya dan menyenggol satu kaki Gaffi.
"Mereka berhak menggunakan pakaian mereka. Dan aku berhak untuk melindungi mata ku juga sesuatu yang ada di balik celana ku..."
Jek!
"Awwwhhh... Ssstt...," Gaffi merintih sakit. Karena Salsa yang berniat menggoda justru merasa kesal atas jawaban suaminya.
"Dasar perempuan. Kalian yang berasumsi, kalian yang jengkel sendiri." Gerutu Gaffi menatap kaki yang di injak oleh Salsa. Tiba-tiba muncul seorang lelaki bertubuh kekar, dan tinggi. Lelaki itu tampak memiliki taring layaknya drakula.
Dug!
Lelaki itu menghentakkan tongkat miliknya membuat semua perempuan disana diam.
"Kesatria yang tampan... Darimana asal mu?" Tanya lelaki itu. Ia adalah raja pasukan dewi bayangan. Disana hanya ada satu lelaki, dan itu adalah Raja yang kini bertanya pada Gaffi.
Gaffi menatap lelaki itu dan cepat kembali menunduk ketika satu perempuan yang mengenakan pakaian sama seperti wanita lainnya duduk di pangkuan sang raja.
"Owh... Jadi kau dari Pasukan Raja Cleo... Jauh sekali... Maka kehormatan jika kau bisa kemari. Maka berikan putri ku keturunan. Maka kau akan menjadi Raja selanjutnya." Raja itu menatap kalung yang di pakai Gaffi.
"Maaf saya sudah menikah... Dan dia istri saya." Ucap Gaffi yang tak ingin mengulangi kebodohan nya saat bertemu Raja Api dan mengatakan jika Salsa Selirnya.
Salsa cepat menyembunyikan rasa bahagia nya. Namun ia sempat tersenyum kala Gaffi mengatakan hal itu.
Hening seketika, Raja itu tampak mengusap-usap janggut panjangnya.
"Baiklah... Tampaknya itu alasan mu terusir dari negara Ardhasir..." Ucap sang Raja.
"Aku menginginkannya ayah..." Bisik sang putri yang berada di pelukan raja.
"Sabarlah, kita akan menjamu mereka sebagai tamu. Tampaknya, istri ksatria itu tak terlalu menggoda. Kamu cukup tampil menggoda." Bisik sang Raja yang mengatur siasat. Ia akan mengabulkan keinginan putrinya.
Salsa memang terlihat dekil, kusam. Rambut yang mulai berwarna kekuningan karena tak bisa keramas dan berhari-hari terkena sengat sinar matahari, belum lagi bibir pecah-pecah dan kulit tangan yang terasa kasar karena terus membuat sebuah jaket dan selimut dari pelepah sebuah pohon. Muka Salsa juga terlihat kusam. Maka Raja El, kepala suku dari negera tanpa lelaki itu akhirnya meminta kepada Gaffi untuk bermalam di tempat mereka setelah cuaca dingin usai.
"Bermalam lah di tempat kami. Setelah badai pasir di gurun-gurun selesai, silahkan lanjutkan perjalanan mu." ucap Sang Raja.
Salsa dan Gaffi di bawa ke dalam sebuah gubuk. Salsa mengamati gubuk itu, atapnya dan didinding terbuat dari pelepah yang sama seperti yang ia anyam beberapa hari lalu. Tiba di dalam gubuk, Gaffi cepat melepas sepatunya. Dan cepat ingin minum dari sebuah kendi di dalam gubuk itu.
"Tunggu!" Cegah Salsa.
"Hati-hati..." kembali Salsa berbisik pada Gaffi. Hampir saja Gaffi menenggak alkohol yang ada di kendi.
"Tampaknya mereka sedang mengatur siasat...Maka kita juga harus mengatur siasat.... Agar tidak terjerumus dalam permainan raja dan anak tadi..." Ucap Gaffi yang membuang arak itu ke tanah. Kali ini Gaffi meniup lilin di gubuk itu.
"Jangan gila Gaffi, ini perjalanan virtual!" Bentak Salsa yang merasa napas suaminya memburu.
"Sekalipun virtual, semua terasa nyata. Dan aku butuh kamu untuk aku tidak melakukan dosa di sini...." Gaffi sudah tak mampu menahan dirinya. Dari tadi ia berusaha menahan pandangannya. Maka Salsa adalah seseorang yang halal ia sentuh juga ia pandangi sekalipun kulit istrinya itu kini kasar. Salsa hanya diam dan mengucapkan satu kalimat dan membuat Gaffi tertawa.
"Tapi... Aku tak sewangi di dunia nyata..." Ucap Salsa.
"Kamu pun akan menua, kamu pun akan keriput... Maka yang aku butuhkan bukan kecantikan... Tapi kesetiaan dan bukti cinta mu..." Gumam Gaffi yang sudah berdiri tepat di hadapan Salsa.
'Aku tidak salah memilih suami...' Hati Salsa berbunga-bunga. Istri mana yang tak merasa bahagia kala sedang tak sedap di pandang dengan aroma badan tak seharum biasanya namun suaminya lebih memilih menyalurkan h@sratnya kepada ia yang halal bagi sang suami. Lilin yang berada tepat di kanan Salsa, ia padamkan dengan jari telunjuk dan jempolnya sebelum Salsa mengangguk dan disambut pelukan hangat dari Gaffi.
Namun di luar Gubuk, seorang prajurit cepat berlari ke sebuah gubuk yang cukup besar. Ia berlutut dan menyampaikan informasi pada putri Raja mereka.
"Mereka mengadu kasih di dalam Gubuk, puteri." Lapor prajurit itu.
Kraaaak!
"Besok aku akan mendapatkan lelaki itu. Aku akan mengalahkan perempuan tanpa perhiasan itu! Perempuan tanpa mahkota itu!" Gertak Geraham puteri itu terdengar oleh para pelayan yang ketakutan.
'Sebelum terbenam matahari esok, ku pastikan kamu tak lagi dapat merasakan indahnya malam bersama lelaki ku....' Puteri itu menggelengkan kepalanya dengan gigi yang bertaut rapat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
wah ternyata mpne mereka malah pas didunia virtual.good gaffi kamu lebih pilih istrimu yg halal bagimu walopun dengan keadaan yg seadanya dibanding wanita cantik,wangi dan seksi tapi gk halal untukmu.itulah membuat kalian berjodoh.
lanjut
2024-01-31
0
naynay
🙈👍
2024-01-20
1
Sofia Zidna
waahh.. gaffi unboxingx cukup menantang
2024-01-19
1