Daintree forest di Queensland adalah sebuah hutan hujan. Daintree terletak di utara Queensland dan merupakan salah satu hutan hujan tropis tertua di dunia. Daintree Rainforest adalah lokasi yang menarik dan misterius untuk menyembunyikan sebuah laboratorium rahasia dan ilmuwan yang beroperasi di tempat yang terpencil. Semua itu di danai oleh seseorang. Ia yang memiliki dendam pada masalalu. Dua Minggu lalu ia dan para ilmuwan yang ia bayar mahal berhasil membuat sebuah virus dan mengaplikasikannya pada sebuah aplikasi keluaran terbaru dari Profesor Kim dan rekan-rekannya, HVR nama aplikasi tersebut.
Di dalam laboratorium yang dijaga ketat, terdapat seorang perempuan yang duduk di kursi roda, dengan wajahnya penuh kemenangan dan kepuasan ia menatap layar yang berukuran 2x2 meter yang terpampang di dinding kamarnya. Ia sudah berbulan-bulan tak pulang kerumahnya,hari ini semua seolah terbayarkan secara perlahan rasa dendam, sakit hati dirinya. Ia adalah seorang Programmer jenius yang telah berhasil menciptakan virus yang mampu menjatuhkan tim lawan di dunia virtual. Tidak main-main kali ini ia menciptakan virus bukan untuk di jual tetapi untuk memberikan pembalasan pada orang-orang yang membuat dirinya terjerembab dalam jurang pesakitan yang bernama dendam.
Dengan keahliannya dalam dunia teknologi dan biologi, perempuan itu telah menciptakan program virus yang cukup pandai memasuki sebuah program baru. Di ruang laboratoriumnya yang penuh dengan peralatan canggih, ia memantau bagaimana virus yang ia ciptakan berhasil merusak sistem dan menjatuhkan tim lawan yang kuat di dunia virtual. Ia sedang menikmati seorang perempuan yang tergeletak dalam ruang kosong yang berbau busuk dan lembab, bahkan aroma anyir darah begitu kental.
“Heh... Setidaknya satu anak panah bisa mem bu nuh dua kijang kecil yang sudah lama ku intai...” Tangan perempuan itu menggenggam erat tombol kursi rodanya. Kedua matanya menatap seonggok tubuh di layar dengan tatapan nyalang.
Dingin dan sejuknya hutan Daintree memberikan kesan yang kontras pada suasana hati pemilik tempat itu. Pepohonan yang rimbun dan hijau menyelimuti laboratorium, menciptakan suasana yang terisolasi dan misterius, sama misterius nya dengan perempuan berkursi roda itu. Bunyi gemericik air sungai yang mengalir deras di dekatnya dan nyanyian burung-burung hutan menambahkan kesan alami yang mempesona, namun tak mampu menghibur hati hacker aplikasi HVR milik Tim Profesor Kim.
Jari lentik perempuan itu menyentuh layar yang merupakan kendali penuh akan sebuah perjalanan virtual, sebuah kode ia sentuh.
“Kita mulai... Selamat menikmati... Permainan baru dimulai...” Ucap perempuan itu.
“Pindai...”
Perempuan itu memajukan wajahnya dan ia membuka lebar kedua matanya agar alat pindai virus itu bisa membuka akses untuk meningkatkan level perjalanan virtual dari sepasang suami istri yang sedang berburu anti virus HVR.
“CHOOSE YOUR EXAM..”
Jari telunjuk perempuan yang salah satu matanya tertutup rapat karena bekas sebuah benturan.
“Tit... “
“Aku tidak percaya kalian mau menikah hanya demi aplikasi ini... Sepertinya malam ini aku tidak akan tidur. Aku ingin menikmati penderitaan kalian pelan... Pelan... Saja.... ha-ha-ha...!” Tawa bahagia perempuan itu lepas dan memenuhi ruangan itu.Beberapa ilmuwan bahkan saling pandang, mereka meneguk air lir mereka melihat ke arah monitor.
“Aku tak tau jika kepandaian justru akan membi na saken orang.” Bisik seorang profesor dari negeri Jiran.
Namun di tempat lain, Perempuan lain justru tertatih-tatih seraya terus berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Penyakit lamanya kambuh.
“Ngik... Ngik...” napas Salsa terdengar begitu menyedihkan. Ia alergi kucing, maka air liur dan bulu kucing tadi membuat Salsa merasakan dampaknya saat ini.
“Hhh... Hhh....” Napasnya tersengal-sengal. Ia berharap segera menemukan cahaya di tempat itu. Agar ia tak semakin kesulitan mengambil napas. Namun tiba-tiba ia jatuh karena tersandung benda.
Bruuugh.
“Hu...Hu...” Suara tangis anak kecil terdengar oleh telinga Salsa. Sekuat tenaga ia berdiri dan mengikuti suara itu. Tiba di suatu tempat ia lihat seorang anak lelaki berusia sekitar 8 tahun. Lelaki itu duduk bersidekap dibalik kedua lututnya.
“Dimana aku, siapa bocah ini.” Guman Salsa. Ia berdiri dan memegang kayu-kayu yang mengurung bocah itu namun ternyata kayu itu berduri.
“Awhhh....”
Mendengar suara, bocah lelaki itu mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Salsa.
“Mama....” Panggil bocah itu. Ia berdiri dan berlari lalu berhenti tepat di hadapan Salsa, mereka terhalang kayu yang menjadi pagar. Bocah kecil itu tampaknya terkurung di dalam sana.
Bocah itu menghentikan langajn karena tahu, yang berdiri dihadapannya bukan Mamanya.
“Kamu siapa? Dan dimana ini?” Tanya Salsa bingung. Dadanya sakit, berkali-kali ia memijat dasanya, berharap bisa menghirup oksigen dengan mudah. Namun nyatanya sia-sia. Hidung nya mampu menghirup oksigen tapi nyatanya tak mampu mengalirkan ke paru-paru, ia masih sulit bernafas.
“Aku David... Tante.. tolong bawa aku pergi...” lirih dan pilu suara bocah itu dengan tubuh kurus dan kedua pipi tirusnya.
“David...” Guman Salsa.
“Bantu aku buka pintunya tante....” Bocah itu memohon.
“Baiklah... Hhh... Tunggu...Hhh...” Salsa berjalan ke arah sebuah palang kayu besar, ia angkat dengan segenap tenaga agar palang kayu itu terbuka.
Krek.
Pintu berhasil terbuka. Bocah itu berlari keluar dan menghambur ke pelukan Salsa. Istri Gaffi itu bingung dimana ia berada dan siapa bocah ini. Apa mau hacker yang membuat perjalanan untuk menemukan anti virus ini.
“Kuranh Ajaaar. Berani kau buka pintu itu Hah!?!” Teriak seseorang dari arah belakang Salsa. Belum sempat Salsa menoleh ke arah suara lelaki yang bergema ditempat itu, ia merasakan sebuah rasa sakit pada bagian kepalanya, rambut nya ditarik paksa. Bahkan tubuh kecil kini yang memeluknya menggigil dan semakin erat memeluk Salsa, dan ikut jatuh bersamanya.
Bruuugh.
Tidak cukup sampai disitu, napas yang masih tersengal-sengal. Lelaki yang baru datang itu membabi-buta menghantam Salsa dengan beberapa kali kakinya mendarat pada tubuh Salsa.
“Awwwhh...”
“Sakiit... ampun... Ampuuunnn...” Tangis lelaki yang mengaku bernama David tadi.
Salsa pun membalikkan tubuhnya. Kini bocah itu berada dalam pelukannya, ia melindungi bocah itu. Namun lelaki yang ganas itu tak memiliki rasa iba. Ia justru semakin tersulut karena Salsa melindungi bocah itu. Semakin kencang dan kuat ia menerjang punggung Salsa.
‘Awwwhhh... Astaghfirullah... Dimana aku, siapa lelaki ini. Kenapa rasanya seakan-akan berada di dunia nyata... Kenapa sakitnya terasa seperti nyata. Bukankah ini di dunia virtual?’Cicit Salsa masih melindungi David kecil dalam dekapannya. Ia masih mengumpulkan tenaga untuk menahan pukulan itu.
“Rasakan ini....” Dan kini Salsa harus tergeletak saat mendapatkan sebuah serangan dengan gaya salto dari lelaki itu. Bibir Salsa mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Ia tersenyum dan menatap lelaki itu.
‘Heh, jangan bilang ini adalah bilik hati lelaki yang sangat ingin ku hajar mukanya tadi...’ batin Salsa saat ia sudah berada dalam keadaan lunglai dan kesakitan. Dari posisinya sekarang, ia bisa melihat Lelaki yang dari tadi menyerangnya tanpa belas kasihan adalah David, istri Maya.
Namun di bilik Hati Maya, David yang baru saja akan mengistirahatkan tubuhnya. Ia lelah, dari tadi sudah terkuras tenaganya untuk membersihkan tempat yang di naungi oleh Maya. Kini tempat itu tampak bersih dan rapi walau masih gersang. Pohon besar yang menjadi tempat bersandar Maya bahkan tinggal beberapa daun yang berada di pohonnya, layaknya sebuah pohon yajg sedang melalui kemarau panjang.
Baru ia akan berjalan dan merebahkan tubuhnya pada pohon itu, untuk istirahat. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada ulu hatinya. Ia jatuh dalam keadaan berlutut dengan kepala tertunduk, tangan kanannya memegang dada bagian kirinya. Ada rasa sakit yang teramat.
“Ahhh... Astaghfirullah... Rasa apa ini....” Gaffi belum mampu berdiri. Ia masih menunggu rasa itu hilang. Jika dari tadi Maya hanya duduk bersandar di pohon dan mengamatinya. Perempuan itu berdiri dan berlari ke arah Gaffi. Baru ia ingin menyentuh Gaffi.
“Jangan sentuh aku, aku baik-baik saja...” Satu tangan Gaffi yang tadi memegang dadanya kini mengarah ke Maya, tanda untuk jangan mendekat.
Saat di dua bilik hati, sepasang suami istri merasakan sakit. Karena itulah permainan ini mengharuskan mereka suami istri. Agar ada rasa saling memiliki, rasa saling asuh dan asih. Saat terpisah jarak dan waktu pun. Jika salah satu sakit maka begitu juga yang lain. Semua karena hati yang menyatu. Namun di Daintree Rainforest, seorang perempuan tertawa terbahak-bahak menatap layar-layar yang ada di ruangannya.
“Hahaha.... Hahaha... Bagaimana rasanya sakit... Nikmat bukan?” Suara penuh kemenangan terdengar di ruangan itu.
Bersambung.....
(Hayo.... Siapa perempuan di kursi roda ini? Akan aku berikan gift away untuk 2 jawaban paling cepat(duluan). Bukan sekarang. Ikuti teru, jangan di skip. Kalian akan tahu siapa perempuan berkursi roda ini. Bukan Zia ya... Ga mungkin lah anaknya Umi Arumi kek gini... Pokoknya jangan di skip. Kalau kalian baca semua karya aku. Pasti tahu siapa ini. Akan aku kasih klu di bab 40. Harap TENANG, SETELAH INI TIDAK ADA ADEGAN KEKERASAN)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Junaedi d Juhaeti
kayaknya anggun deh
2024-05-02
0
sitimusthoharoh
waduh2 kepo ihh
lanjut
2024-01-30
0
Suryati Endang
Apakah itu Tina ?
mantan Abhi (papa nya Salsa)
2024-01-09
1