Disemua tempat dan dimanapun kita berada terdapat banyak cerita miring yang terdengar. Seperti Reyhan dan Raina yang sedang bergosip tentan perpustakaan misteri yang bisa menata kembali buku-buku rapih masuk kedalam barisan. Kampus tempat mereka belajar juga salah satunya, "Ah kebanyakan ngimpi lor kidul pasti!." tawa Raidan renyah mendengarnya.
"Eh jaga tuh mulut! Gak tau mah diem aja! Gausah banyak omong!." Raina kesal karena Raidan selalu menyepelekan sesuatu hal. Seharusnya cowok itu menerima tanpa berkritik hal yang tidak diketahuinya.
"Wah kalian berdua." tegur Chika.
"Iya Ce, ini tuh gara-gara si Jones kebanyakan nonton trailler, makanya ngehalu." ucap Raidan menyindir Raina yang kesal. Mereka berdua bertatapan sengit tak suka.
"Nyindir gue lo hah! Suka-suka gue dong! Gak trima lo!?." ketus Raina.
"Iya kenapaa!!." sahut Raidan panas.
"Yaudah kalo gitu kita buktiin!! Siapa yang benerrr! Gue atau lo tentang perpustakaan itu!!." Raina memberi tantangan yang langsung disetujui tanpa berpikir matang. Reyhan mengaduk es buahnya.
Suasana dirumah Gilang malah memanas, padahal hari minggu. Keluh mereka yang melihat perdebatan diantara dua sejoli itu.
———
"Sejauh ini, ini yang paling jauh. Gak kesambet demit kan lo?." tanya Reyhan melihat Stella yang senyam-senyum sendiri. Cowok itu kan jadi takut melihatnya.
"Mulutnya!." Reyhan tertawa garing karena mendapat tatapan maut dari Ghina. Wanita itu datang membawa beberapa camilan.
"Kamu kenapa Za? Mukanya tambah pucet gitu. Keadaan kamu baik-baik aja kan?." tanya Ghina mengalihkan atensi semua orang. Perkataan Ghina tidaklah salah.
"Waduh si bro satu ini... Gue temenin kerumah sakit yok!." Reyhan berucap tulus.
"Ah? Engga." lirih Zafran membalas. Cowok itu hanya merasa udara disekitar semakin dingin. Mungkin karena pendingin udara yang menyala atau angin jendela yang masuk. Tatapannya beralih keluar jendela.
"Beneran?." Ghina bertanya satu kali lagi.
Belum sempat menjawab. "HALLO TANTE NANA!! BANG GILANG?!! AKU MASUK YA!!." teriak Kazea dari depan langsung menyelonong. Ternyata gadis itu tidak sendiri melainkan bersama Sinta, Ghina menyambut dengan ramah.
"Buat lo bang, dari Mama." Kazea memberikan camilan yang sepertinya dibuat khusus Zahra untuk putranya.
"Ini buat Tantee..dari Mama." Ghina tersenyum senang melihatnya.
Mereka berkenalan dengan Sinta dan mulai mengakrabkan diri. Hingga salah satu ponsel dari mereka berdering. "Yang bener Ma? Okelah." Reyhan manggut-manggut menutup sambungan teleponnya.
"Gue mau kebandara dulu. Kak Ila udah balik." jelas Reyhan menjelaskan betapa kesalnya ia ketika dikabarkan kakak perempuan satu-satunya itu kembali setelah beberapa tahun lamanya menetap di Amerika untuk bersekolah.
"Gue ikut bang Rey! Lo disini tunggu ya Sin, jangan kemana-mana!!!." gadis itu mengangguk melihat Kazea yang antusias. Zafran sendiri menjadi berpikir keras, mengapa adiknya mudah melupakan sesuatu yang menimpa dirinya dan terkesan menganggap remeh apa yang pernah terjadi. Gadis itu mengenal rasa takut kan.
Pandangan cowok itu sedikit memburam. "Pusing ya?." tanya Chika menghampiri.
Ghina membawa teh hangat. "Diminum dulu Za." cowok itu tetap diam karena nyeri. Gilang bangkit membantu cowok itu minum.
"Duh Za, kerumah sakit aja deh mendingan." Stella kesal sekaligus khawatir. Gadis itukan mengupload foto kebersamaan mereka, jika ada yang sakit. Ia kan sedih.
Beberapa jam kemudian Reyhan dan Kazea kembali. Mereka mengantarkan kakak perempuan cowok itu kerumahnya. "Sorii, lama keknya kita." ucap Reyhan masuk.
▪ ▪ ▪
Seperti perkataan kedua sejoli waktu itu. Raina dan Raidan tengah berada didepan pintu masuk perpustakaan kampus mereka. Hari ini hari senin, tepat waktu istirahat. "Berani gak lo?!." sindir Raidan tertawa.
"Lo kira gue takut?! Kanebo kering!!." gadis itu melangkah masuk lebih mendahului. Raidan malah ragu ingin melangkahkan kakinya merasakan aura negatif disana.
"Haduh mereka ini! Jarang banget mau kesini padahal. Daripada terjadi sesuatu, mending kita masuk aja." Chika masuk. Mereka dari belakang mengikuti kedua sejoli itu karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Namun sepertinya dugaan mereka salah. Terlihat keduanya tengah bersebrangan membaca buku, entah apa yang dilakukan. "Cieee kalian berdua.." ledek Maudi membentuk tangan 'Love' bersama Stella.
Zafran sendiri sudah lebih baik saat kemarin ia dipaksa istirahat. Apalagi Zahra datang mengawasinya tidur. Sungguh sesuatu yang aneh, namun cowok itu suka. "Baca apaan Na? Kayaknya seru." Bima menghampiri Raina yang menunjukkan sejarah kampus tersebut.
"Tuh kan bener kata gue!! Gak ada yang namanya girlbook!!." Raidan menutup bukunya penuh kemenangan menatap Raina yang mendengus sebal karenanya.
"Oh tentang itu.." Chika mencari satu buku.
"Ini diaa.." ucapnya memperlihatkan buku kuno yang masih disimpan didalam kotak.
"Gue tau buku ini karena pernah baca. Dikasih pinjem Renatta." Chika menjelaskan waktu itu ia meminjam. Keduanya tampak penasaran dan membaca buku tersebut.
Nginggg!!
Zafran menggelengkan kepalanya. Ia melihat sekeliling dimana ada seorang perempuan diatas rak buku yang tengah mengayunkan kakinya tersenyum lebar. Pakaian dan wajahnya rusak setengah. Zafran diam tak menghiraukan gadis itu.
"Pasti lo liat sesuatu." bisik Gilang yang memang sedari tadi memperhatikkan. Ia juga merasakan hawa kurang enak yang ada diperpustakaan itu. Atau memang ia saja yang jarang pergi ketempat seperti itu.
TOLONGG SAYAA!!!
Zafran menegang saat gadis itu mendekatkan wajah rusaknya. Beberapa centimeter dari wajahnya. Gilang menarik tubuh cowok itu memutar, "Jangan ngelamun." ucapnya membersihkan angin disekitar Zafran. Memang seperti ada yang aneh dan janggal sedang mengawasinya.
"Kalian berdua, udah deh. Gak penting juga. Lebih baik kita keluar dari sini, gue ngrasa hawa disini kurang enak." Reyhan berujar menengahi karena memang merasa aneh. Hingga mereka semua setuju keluar mendengar dering bel masuk pelajaran selanjutnya.
Raina menutup pintu. Ia melihat sesuatu namun segera cepat pergi menyusul teman-temannya. Berbeda dengan Zafran yang kini di ikuti gadis rusak itu. Ia terus memperhatikkan Zafran selama pelajaran berlangsung. "Reyhan!! Denger bapak jelasin?!." cowok itu manggut-manggut.
"Kalo git-"
"Tunggu dulu dong pak!!."
"Lho kenapa?." tanya pak Amiruddin.
"Ya karena saya udah tau kalo bapak mau minta saya jelasin materi yang bapak sampaikan. Sebelum itu, udara dikelas ini kok dingin ya pak? Bapak gak ngerasa gitu?." tanya Reyhan dibenarkan isi kelas.
"Benar juga, bapak nyalain penghangat ruangan dulu, sebentar." ucapnya pergi.
"Haha Rey! Bisa-bisanya lo ngibulin pak Amir! Tapi oke juga sih!." tawa kelas itu melihat kepintaran cowok tersebut. Hingga dosen mereka datang dengan wajah masam.
"Penghangat ruangannya rusak. Yang bawa jaket dipakai saja karena memang udara lagi dingin-dinginnya sekarang di Jakarta. Yasudah bapak teruskan materi tadi." ucapnya membuat seisi kelas kompak membulatkan matanya tak percaya. Pria itu sudah lupa jika akan menanyai Reyhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments