Desa Aran, Kecamatan Durpa, Kabupaten Mati adalah pedesaan asri yang menjadi tujuan tempat liburan menurut sembilan anak remaja tersebut. Mereka sampai pada pukul lima belas lewat tiga puluh dua menit.
"Cewek-cewek ayo bangun. Udah sampe nih kita." Bima menyerukan suaranya sedikit keras lalu turun dari mobil. Raidan meregangkan ototnya karena pegal menyetir, begitu juga dengan Gilang yang keluar bersama Reyhan.
"Gila nih kecebong kering, gak mau gantian ama gue." kesal Gilang menatap sinis Reyhan yang tertawa. Sedangkan Raidan hanya bisa pasrah karena Bima memang tidak bisa menyetir mobil, hanya motor saja. Sedangkan anak perempuan turun dengan badan segar bugar karena hanya duduk.
Zafran yang memarkirkan motor kini turun dan membawa tasnya yang terasa sedikit berat. Cowok itu melangkahkan kakinya menghampiri para sahabatnya. "Wah nice try bro! Kita bisa sampe sini semua dengan selamat." ucap Reyhan menepuk bahu kanan Zafran.
"Villa mana Villa?." tanya Stella berfoto ria dengan ponselnya. Chika yang melihat menggelengkan kepalanya.
"Ini Desa La, bukan luar negri. Mana ada Villa." sahut Raina dari belakang.
Gilang menghampiri dua warga Desa yang duduk di bawah pohon dengan satu buah termos dan beberapa kopi sachet yang tersedia. Cowok itu menanyakan rumah pak RT yang harus mereka kunjungi untuk kedepannya.
Maudi menutup mulutnya saat menguap, gadis itu melihat anak perempuan seusianya yang berpakaian ala gadis Desa namun terlihat sopan. Menurutnya itu sangat cocok, ia jadi memikirkan gaya model berpakaiannya.
"Yang satu muka yang satu lagi pakean." Bima tertawa dengan berjalan masuk gapura Desa, mengikuti sahabatnya. Maudi dan Stella berkontak mata merasa hawa penyindiran abadi.
"Awas lo gendut!." teriak mereka berdua menyusul masuk, mengikuti dari belakang. Reyhan dan Zafran berjalan beriringan melihat sekitar rumah yang di jelaskan Gilang pada mereka.
———
"Ah kalian?." Pak RT bernama Sudirman tersebut menyapa anak-anak dari Kota yang pernah menghubunginya beberapa hari lalu, pria itu tidak berfikir secepat itu mereka akan bertemu di pedesaan.
"Ini rumah sewa yang bapak bilang. Kalian bisa tinggal disini selama kalian." ucap Sudirman mempersilahkan masuk. Chika mengernyitkan keningnya.
"Maaf Pak? Apa cuma satu ya? Maksud saya kami kan perempuan dan laki-laki." tanya Chika membuat Sudirman menepuk keningnya dan tertawa lalu mengangguk.
"Maaf-maaf neng, bapak yang salah. Untuk anak perempuan bisa di rumah sebelah kanannya." tawanya hambar. Gadis-gadis itu keluar dan pergi kerumah sebelah kanan yang nampaknya memang lebih bagus.
"Semua kebutuhan masa kalian disini sudah di sediakan. Seperti tempat tidur dan kamar mandi yang bersih tentunya." jelas Sudirman merogoh saku bajunya.
"Wah kami berterimakasih banget lho Pak, oh ya tempat yang ingin kami lihat?," tanya Stella membuka obrolan. Pria itu memberikan secarik kertas yang bertuliskan sesuatu kepada Bima.
"Tenang saja, yasudah bapak pergi dulu ya dan jangan sungkan jika ingin bertanya sesuatu kepada warga sini." ucap pria itu melenggang pergi. Gilang yang penasaran segera mendekat kearah Bima berdiri, begitu juga dengan yang lain.
"Peraturan?." gumam Chika, ia menarik sahabatnya untuk segera masuk ke rumah sewa anak laki-laki lalu menutup pintu dan berkumpul di ruang utama.
"Apaan nih, kita kesini mau refreshing. Kenapa harus ada peraturan segala sih?!." kesal Gilang membuang kertas pemberian Pak RT barusan.
"Sabar Lang, lagian mungkin tradisi adat Desa emang begini." ucap Raina.
▪ ▪ ▪
Waktu sore akan segera berlalu. Stella memutuskan meletakkan ponsel dan membangunkan Chika dan Maudi yang enak tiduran di kamar. Berbeda dengan Raina yang sepertinya tengah bersama anak laki-laki di luar. "Ce, Mau bangun." ucap gadis itu pelan membangunkan.
Chika mengerjapkan matanya, "Kenapa La?." tanya Chika meregangkan badan.
"Gue mau mandi, tapi takut. Temenin yuk sekalian lo juga kan belum mandi." ajakan Stella di benarkan Chika, spontan Maudi yang mendengar juga tidak ingin di tinggalkan sendirian.
"Ayok gue ikut!." ucapnya.
Mengapa Stella ingin di temani jika hanya ingin mandi? Karena setelah mereka melihat kamar mandi yang ternyata terpisah dari rumah itu cukup aneh bagi anak Kota seperti mereka. Kamar mandi itu ada di belakang rumah yang di sekelilingnya terdapat rumput liar menjulang setinggi lutut.
"Lo berdua jangan kemana-mana." Stella takut jika akan di tinggalkan. Apalagi mereka kesana hanya membawa satu senter, meskipun ada satu lampu yang menyala berwarna kuning. Itu malah menambah kesan menakutkan bukan.
Chika dan Maudi mengangguk."Iya udah cepetan mandi. Gantian kita nanti." ucap Chika lantas di angguki Stella yang mengunci pintu kamar mandi.
Suara cipratan air terdengar hingga ke telinga Raina yang baru saja kembali. "Darimana aja lo Ra?." tanya Maudi membuat Raina kaget dan spontan memutar badannya kebelakang.
"Ah? Ngaggetin aja lo!." ketus Raina di tertawai Maudi. Mereka berdua keluar dari rumah, melihat anak laki-laki tengah membuat api unggun di depan.
"Berdua aja? Mana tuh dua anak?." tanya Reyhan berceletuk. Raina mengkode Maudi mungkin saja tahu.
Aaakhh!!!
Belum sempat mendengar jawaban, mereka bertujuh mendengar teriakan dari belakang rumah yang mana Chika dan Stella tengah ketakutan. Kedua gadis itu berada di dalam kamar mandi yang sama. Sebelum hal itu terjadi,
Stella yang terus menanyakam sesuatu agar ia bisa memastikan jika kedua sahabatnya berada di sana itu selalu di tanggapi Chika. Gadis itu melihat kearah Maudi yang bersender kamar mandi dan menutupi kepalanya dengan handuk yang di bawanya barusan.
Chika merasakan dingin di sekitarnya, saat ia membangunkan Maudi dengan Stella yang masih bernyanyi itu dengan gemetar Chika menyuruh Stella membuka pintunya cepat. Hingga Stella melihat wajah Maudi yang hancur ingin ikut masuk kedalam sana juga.
Stella untung sudah memakai baju dan celana, mereka berdua berhimpitan dengan berpelukan. Chika menggigit bibir bawahnya saat ia baru saja kaget karena seumur hidupnya baru kali ini gadis itu melihat yang namanya hantu.
Dorrr!!... Dorrr!!... Dorrr!!...
"CHIKA, STELLA?! LO BERDUA DI DALEM?!." teriak Maudi dan Raina kompak menggedor pintu kamar mandi.
Mendengarnya, Chika dan Stella nampak bernafas lega. Mereka menarik gagang pintu dengan perlahan-lahan karena masih takut. "Huhh!." nafas keduanya masih tak beraturan.
"Ada apasih kalian berdua?." tanya Maudi spontan Chika dan Stella memukul kepalanya bersamaan.
"Duh?! Kok gue di geplak?!." gadis itu memegangi kepalanya yang sakit. Chika menatap Stella yang terus berteriak sembari merangkulnya. Chika memang terkejut melihat hantu, namun tidak selebay Stella yang terus berteriak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments