Suara tawaan itu semakin menjadi-jadi. Mereka semua menutup telinga berharap tidak mendengarkan apapun. "Anak-anak yang pemberani." sosok itu berwarna berbedan kekar, hitam tinggi dengan mata semerah darah. Seringai di mulutnya mengeluarkan belatung.
"L-lariii!!." Stella berpekik menarik lengan tangan Chika begitu saja, mereka spontan mengikuti Stella yang sudah berlari ketakutan lebih dulu. Begitu juga dengan Bima yang tergopoh-gopoh seperti orangtua karena tubuhnya.
Hal yang tidak di inginkan pun terjadi, mereka semua, terpisah menjadi beberapa anak saja.
Gilang memutari Reyhan yang mengikutinya, mereka mengikuti Stella dengan arah benar namun tetap tertinggal jauh karena anak perempuan yang larinya begitu cepat. Dibelakang mereka berdua terdapat Raina yang terpisah dari ketiga para sahabatnya.
———
"Huh! Huh! Hah! U-udah a-aman belum s-sih." Stella menarik nafasnya panjang. Chika yang di tarik kini menggelengkan kepalanya, gadis itu sama lelahnya. Mereka berdua melihat sekitar dimana terlihat Bima yang mengikuti mereka.
"T-tunggu, kalian cepet banget larinya." Bima menetralkan nafasnya berat, perutnya mulai merasakan lapar namun ia harus keluar dari sana terlebih dulu.
"M-maudi?! R-raina?! Maudi sama Raina kemana? Mereka gak ngikutin kita?." Bima menggelengkan kepalanya tidak.
Gadis yang di bicarakan Stella tengah menormalkan nafasnya panjang."Mau-" gadis itu terperanjat lalu menutup mata dan kepalanya dengan tangan.
"Gue Raidan." gadis itu bernafas lega dan membuka matanya. Memang itu Raidan yang tengah menarik nafasnya.
Grrrrrr!!
Suara itu kembali muncul, Raidan menarik Maudi agar bersembunyi di balik pohon bersamanya. Setelah beberapa menit menunggu, sosok itu menghilang dan kembali muncul di atas pohon tempat mereka berdua berdiri. Terlihat sosok itu lebih kecil dari yang mereka lihat sebelumnya.
Brakkk!!
"MAUDIIII!!!." Raidan berteriak saat melihat Maudi yang terbang melayang ke atas dengan leher tercekik, gadis itu tidak bisa melepaskannya. Bukannya kabur, Raidan kini menatap tajam sosok yang sudah mengganggu harinya.
"LEPASIN SAHABAT GUE SETANN!!." Maudi tersenyum kecil saat Raidan mengakuinya sebagai seorang sahabat. Memang seperti itulah mereka, gadis itu terus memberontak hingga lemas.
Slashhh!!!
Brakkk!!
"Uhhukkkk!!." gadis itu terbatuk darah dan terduduk di tanah, Raidan membantu Maudi bangkit. Mereka melihat Zafran yang tersenyum tipis.
"AWAS ZAA!!." teriak Maudi dan Raidan bersamaan. Makhluk itu menarik Zafran dari belakang, membuatnya terpental ke bebatuan yang tertutupi semak. Sosok hitam itu kembali menyeringai dan menatap Raidan bersama Maudi bergiliran, makanan lezat.
Zafran bangkit dan menendang benda pusaka yang tertancap di tubuh sang makhluk yang langsung mengerang kesakitan. "PERGII!!." Zafran mengintrukai agar kedua sahabatnya pergi dari sana. Raidan spontan menarik tubuh Maudi dan menggendongnya lalu berlari.
Grrrrrrr!!!
Brakkk!!
"Anak pengganggu yang pemberani!!." sosok itu mendekati Zafran yang sudah di ambang batas. Bagaimanapun juga anak remaja sepertinya yang tidak mempunyai keahlian apa-apa sangat sulit untuk menandingi sosok makhluk besar yang hidupnya ribuan tahun.
Seringai itu tak pernah lepas, belatung dan cairan busuk terus keluar. "Anak pemberani seperti kalian kenapa harus mengorbankan nyawa sendiri dengan datang ketempat ini." makluk itu mengecilkan ukuran tubuh hitamnya.
"Lihat, nyawamu akan segera tamat." ucapnya. Sosok makhluk tersebut merupakan seorang wanita yang terkutuk menyerupai genderuwo.
"Sudah kuperingatkan sebelum kalian sampai kesini. Mereka semua lebih berbahaya dari diriku karena merekalah yang membuatku menjadi seperti ini." wanita bergaun merah itu berjongkok.
"Anak pemberani seperti dirimu memang tidak perlu memiliki indra keenam untuk melihat dunia lain. Tapi kamu mengabaikan peringatan keras dari diriku." wanita itu terlihat kesal.
"Pemandangan indah adalah suatu hal yang membunuh diriku, dan jika kalian tidak pergi dari sini secepatnya. Kalian akan mati, sama sepertiku." tegasnya.
Muncul cahaya berwarna hitam, "Aku memang menyeramkan, tapi aku tidak ingin rasa empatiku selama menjadi manusia terasa sia-sia. Cepat bangun! Dan keluar dari lereng dan Desa itu secepat mungkin, ini peringatan terakhir dariku sebelum terlambat."
"Kamu akan melihat arah fajar ketika mengikuti kupu-kupu hitam itu." ucapnya menghilang. Zafran membuka matanya, ia sedari tadi mendengarkan dan mengembalikan tenaganya. Cowok itu bangkit dan berjalan sedikit tertatih.
"Larangan itu terpatahkan."
▪ ▪ ▪
Stella, Chika, Bima berhasil menemukan suara Raidan dan Maudi. Begitu juga dengan Gilang, Raina dan Reyhan. "Lo gak papa Mau, Dan?." tanya Raina. Mereka berdua mengangguk tak apa.
"Mau kemana lo?!." tanya Stella meninggikan suaranya. Raidan tak menjawab dan kembali lagi arah sebelum ia berlari kesana. Gilang dan Reyhan mengikutinya dari belakang.
Maudi paham, dan belum sempat berbelok arah sedikit. Ketiga cowok itu melihat kupu-kupu hitam yang terbang dengan sedikit cahaya putih di sekelilingnya. "Za!!." mereka menghampiri Zafran yang berjalan dengan menopang pada pohon satu ke lainnya.
"Lo gak papa?." tanya ketiganya memapah cowok itu yang menggeleng singkat. Zafran melihat kupu-kupu hitam itu yang ikut berhenti saat ia memang merasa kelelahan. Wanita itu tampak mengerti dirinya.
"Minum dulu." Chika memberikan minuman, untunglah mereka tidak memakan semua makanan di lereng waktu itu. Jadi masih ada yang tersisa.
"Kupu-kupu apaan tuh? Kenapa berhenti disini ya?." tanya Stella.
Grrrrrrr!!!
Mereka semua spontan bangkit. "Jangan mengabaikan peringatanku untuk yang kesekian kalinya lagi anak pemberani! Hahahaha!!." ucap sosok makhluk itu menghilang tepat datangnya fajar. Kupu-kupu itu seketika lenyap, mungkin ia ditugaskan hanya untuk menemani namun telah selesai.
"M-maksudnya gimana-gimana?." tanya Reyhan cengo.
Tidak ada jawaban. "Makasih Za, gue yakin bakal mati kalo gak ada lo sama Raidan." ucap Maudi sela-sela mereka beristirahat. Raidan tak mempermasalahkan hal wajar tersebut.
"Kita harus keluar dari sini dan Desa itu, secepetnya." akhirnya Zafran membuka suara. Cowok itu biasanya sangat irit.
Kwakkk!!!
"Kebenaran yang ingin kamu cari akan ada di depan sana ketika melewati tiga hal, dan sesuatu itu akan terjadi kepada kamu dan semua teman-temanmu. Jangan kembali setelah keluar." surat itu di jatuhkan oleh burung gagak yang terbang lalu pergi secepat kilat.
"Kebenaran apa Za?."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments