10 | ꦏꦭꦶꦩꦠ꧀ꦱꦼꦢꦼꦂꦲꦤꦪꦁꦧꦼꦂꦧꦼꦢ꧉

Zafran keluar dari rumah sakit. Cowok itu melangkahkan kakinya menuju arah parkiran. Aroma tak sedap tercium dari sebuah kotak kardus dalam tumpukkan. Zafran terus berjalan hingga sekelebat bayangan melewatinya dengan cepat.

Matanya mengedar mencari sekeliling. "Cepetan Za!." Zahra memanggil dari dalam mobil melihat putranya yang berhenti saat menghampirinya. Mau tidak mau Zafran mengabaikan hal tersebut dan bergegas menghampiri ibu dan adiknya di dalam mobil, bersama Gilang juga di dalamnya.

"Gimana bro? Oh ya Tan, mampir ke perpustakaan sebentar ya soalnya mau cari buku." Zahra mengangguk saja. Paha wanita itu menopang Kazea yang mengantuk. Zafran di samping Gilang yang menyetir menyenderkan kepalanya.

———

Mereka sampai dirumah Zafran. Tentu saja Zahra yang membelikannya sewaktu ia sebelum pindah dulu. Tidak terlalu kecil untuk mereka bertiga. Para orangtua juga ikut untuk membantu merapihkan barang-barang yang tentunya di tolak keras oleh Zahra pada awalnya. "Kamu ga usah ikutan, cepet masuk kamar istirahat!." tegas Zahra menatap tajam putranya.

Namun Zafran tetap membawa dua buah kardus seraya masuk kedalam. "Kamu malah cengar-cengir terus, bawa!." kini Kazea yang harus membawanya. Wanita itu berpikir jika gadis itu menginginkan hal yang serupa dengan kakaknya yaitu dimarahi olehnya setiap kali bertemu.

"Maaf ya Rey, jangan main bola di dalam rumah. Nanti kalo ada barang jatuh kan jadi repot." tegur Zahra pada Reyhan yang mendribble bola basket, cowok itu meminta maaf lalu berlari pergi.

Tentu saja melihat Zahra seperti singa. "Mama ih, marah-marah mulu. " Kazea memasang wajah cemberutnya dengan gemas Zahra mencubit pipi anaknya seraya membereskan barang-barang.

"Makanya yang bener kalo lagi ngerjain sesuatu, sana keluar. Mama mau nyiapin makanan dulu." usir Zahra tersenyum penuh arti pada Kazea yang langsung berlari dari dapur menuju ruang utama.

Zafran menyenderkan kepala pada dinding yang di beri bantal. Cowok itu tahu jika Zahra memang menyayanginya meskipun dengan cara yang berbeda. Wanita itu tangguh di luar namun lunak di dalam, ia paham jika membesarkan ia bersama adiknya tidaklah mudah. Apalagi sudah bertahun-tahun lamanya mereka bertiga tanpa sosok seorang ayah dan kepala keluarga. "Diem-diem bae. Oh ya pembagian kelas udah di kabarin di grup tau. Lo udah cek?." Zafran menggeleng mendengar penuturan Raidan.

"Yeayy!! Kita sekelas lagi Ce." Chika mengacungkan jempolnya santai mendengar teriakan Stella yang melengking. Maudi menepuk lengan Raina di sampingnya. Kedua cewek itu saling mengode melihat kearah Bima.

"Bim, muka lo kusut gitu kenapa? Nih si anak kucing kepo ama lo." Raina bertanya mewakili Maudi yang sangat enggan namun ingin tahu. Memang aneh jika Bima tidak memakan apapun dan hanya duduk saja sembari menggulir layar ponelnya. Cowok itu melempar kesembarang arah.

"Bete nih gue. Mau liat burung gak ada yang nemplok, ikan juga gak bisa kan gak ada ikan yang berenang di udara." sahutnya. Cowok itu selalu menyukai bermacam-macam hewan dari yang kecil hingga tergolong reptil. Mungkin semacam kembaran baginya karena suka makan.

"Ada tuh!!." Stella menunjuk hewan terbang mainan yang terbuat dari kertas origami berwarna hitam. Reyhan menggelengkan kepalanya, cowok itu melempar stick pada Bima yang di tangkap.

"Gaslah main!, gausah bete." Alhasil mereka berdua bermain playstation yang mereka bawa. Tentu saja Zafran tidak punya karena tidak pernah memainkannya. Berbeda dengan Reyhan, dan Raidan yang selalu siap sedia di dalam bagasi.

▪ ▪ ▪

"Maaf jika tidak enak atau mewah seperti yang kalian makan." Zahra berceletuk di sela-sela makan, wanita itu melihat anak-anak yang berbisik entah mengobrol tentang apa.

"Enak banget malah Tan, mau tambah boleh?." Bima menyahut senang di angguki Zahra mempersilahkan.

"Fan, tentang perusahaan kamu. Kami sudah mendengar, apa bisa kita saling berinvestasi saham untuk menaikkan potensi satu sama lain. Sarah dan Rina juga sedang naik pesat." Candra berucap memecah keheningan.

"Bicarakan nanti." sahut wanita itu seperti biasa.

"Eh apaan sih ayam guee!!." Raidan menarik kembali daging ayam yang Bima ambil. Mereka berdua sama sekali tidak ingin ada yang mengalah satu sama lain. Terlihat bertatapan sengit.

Berbeda dengan Zafran yang bahkan tidak menghabiskan makanannya. Padahal Bima sudah tiga piring, cowok itu memberikan ayam yang di punya kepada Raidan agar diam. "Makan aja." cowok itu bangkit dan mencuci tangannya. Raidan menjulurkan lidahnya pada Bima merasa menang.

"Bagaimana Fan? Lagipula kita saudara, jadi sudah sepatutnya kita saling membantu. Kami tahu keuanganmu tidak baik-baik saja." jelas Haris, Zahra menghela nafasnya tidak bisa berbuat apa. Memang perusahaannya tengah mengalami down yang cukup tinggi, jika ia menerima dana dari perusahaan lain memang bisa menyelamatkannya.

Sudah lama ia bersikap demikian dan egois pada sahabatnya dulu. "Membuat perusahaan menjadi kembali normal memang akan membuatku berubah dan menerima kalian begitu saja?." ketusnya. Ghina menghela nafasnya.

"Tidak perlu jika tujuan kalian hanya ingin balas budi. Saya dengan tegas menolaknya." ucap Zahra.

"Fan-"

Meila memegang bahu kanan Zahra. "Kami bukan mau balas budi, sejak dulu kita memang seperti ini kan? Jangan menjauh dari kami. Kami tahu kami bersalah karena hanya kita yang selamat dari kejadian itu. Dan lagi menyesal karena kita tidak kembali kesana waktu itu, maafkan kami." ucapnya.

Zahra memijit pelipisnya tidak tahan. "YA! Aku marah!! Marah sekali pada kalian yang datang ketempat itu bersama Andrian! Kalian berangkat sebelas orang dan mengapa sepuluh orang yang kembali?! Kalian mengorbankan suamiku disana!." teriak Zahra marah, raut wajahnya terlihat ganas.

"Kalian kan tahu aku baru melahirkan! Kalian memaksaku untuk tetap tinggal dirumah. Sedangkan kalian memaksa suamiku untuk pergi, dan lagi satu hal. Waktu itu kalian juga sama sepertiku, apa? Kalian yang menyembunyikan sesuatu kan? Atau benar jika salah satu di antara kalian mempunyai hubungan bersama suamiku!."

Zahra melemar tatapan kecewa pada para wanita yang dulu memang bersahabat baik dengannya. "Maafkan kami Fan, tapi yang harus kamu tahu adalah. Bayimu tidak baik-baik saja saat itu, Andrian juga yang memberitahu kami jika kamu terkena penyakit. Jadi kami meyepakati perkataanya untuk menolak keikut sertaanmu." jelas Rina pada Zahra.

"Lalu? Apa jika aku tidak sedang menjaga bayi saat itu, aku akan ikut dan Andrian akan baik-baik saja? Begitu? Kalian yang membunuh suamiku!." marahnya melempar barang kelantai.

"Apa kamu menyesali kehadiran Zafran Zahra?." tanya Galang Yogi Saputra dan Revan Putra Ovian melangkahkan kaki mereka masuk kedalam rumah. Kedua pria itu datang membuat suasana menjadi semakin canggung dan menegangkan.

Episodes
1 01 | ꦭꦶꦧꦸꦫꦤ꧀ꦩꦸꦱꦶꦩ꧀ꦥꦤꦱ꧀꧈
2 02 | ꦥꦼꦂꦠꦩꦏꦭꦶꦢꦶꦏꦩꦂꦩꦤ꧀ꦢꦶ꧉
3 03 | ꦊꦉꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦒꦸꦤꦸꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
4 04 | ꦩꦭꦩ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦸꦭꦤ꧀ꦧꦶꦤ꧀ꦠꦁ꧉
5 05 | ꦭꦫꦔꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦥꦠꦃꦏꦤ꧀꧈
6 06 | ꦱꦼꦫꦁꦏꦆꦪꦤ꧀ꦩꦶꦱ꧀ꦠꦼꦫꦶꦠꦼꦫꦸꦁꦏꦥ꧀꧈
7 07 | ꦏꦼꦧꦼꦤꦫꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
8 08 | ꦠꦼꦫꦶꦪꦏꦤ꧀ꦪꦁꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦢꦶꦢꦼꦔꦂ꧉
9 09 | ꦥꦼꦂꦩꦸꦭꦄꦤ꧀ꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦼꦧꦸꦮꦃꦄꦚ꧀ꦕꦩꦤ꧀꧈
10 10 | ꦏꦭꦶꦩꦠ꧀ꦱꦼꦢꦼꦂꦲꦤꦪꦁꦧꦼꦂꦧꦼꦢ꧉
11 11 | ꦠꦔꦶꦱꦤ꧀ꦱꦼꦱꦼꦎꦫꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀꧈
12 12 | ꦉꦚ꧀ꦕꦤꦥꦼꦔꦶꦱꦶꦪꦤ꧀ꦮꦏ꧀ꦠꦸꦢꦶꦩꦸꦭꦆ꧉
13 13 | ꦥꦼꦫꦶꦔꦠꦤ꧀ꦏꦼꦢꦸꦮꦱꦼꦭꦩꦥꦼꦂꦗꦭꦤꦤ꧀꧈
14 14 | ꦥꦼꦂꦏꦠꦄꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦏꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀꧈
15 15 | ꦄꦥꦪꦁꦠꦼꦂꦗꦢꦶ?
16 16 | ꦏꦼꦧꦼꦂꦱꦩꦄꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦥꦸꦭꦁ꧉
17 17 | ꦏꦶꦱꦃꦚꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
18 18 | ꦏꦼꦆꦔꦶꦤꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦱꦩ꧀ꦥꦆꦏꦤ꧀꧈
19 19 | ꦄꦢꦄꦥꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦶꦠꦸꦮꦱꦶꦆꦤꦶ꧉
20 20 | ꦩꦶꦠꦺꦴꦱ꧀ꦄꦠꦈꦥ꦳ꦏ꧀ꦠ꧈ꦏꦶꦠꦧꦸꦏ꧀ꦠꦶꦏꦤ꧀꧈
21 21 | ꦕꦼꦫꦶꦠꦪꦁꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦠꦱ꧀꧈
22 22 | ꦩꦼꦭꦶꦧꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦼꦫꦸꦱꦲ꧉
23 23 | ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦄꦢꦪꦁꦠꦶꦢꦏ꧀ꦧꦶꦱ꧉
24 24 | ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ꦪꦁꦠꦏ꧀ꦥꦼꦂꦤꦃꦢꦶꦏꦸꦚ꧀ꦗꦸꦔꦶ꧉
25 25 | ꦏꦼꦱꦭꦃꦥꦲꦲꦩꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦶꦏ꧀ꦱ꧉
26 26 | ꦄꦮꦭ꧀ꦪꦁꦧꦆꦏ꧀ꦱꦼꦥꦼꦂꦠꦶꦧꦸꦔ꧉
27 27 | ꦢꦼꦱꦩꦠꦲꦫꦶꦠꦼꦂꦧꦼꦤꦩ꧀꧈
28 28 | ꦱꦾꦫꦠ꧀ꦏꦼꦱꦭꦲꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦫꦸꦱ꧀ꦠꦼꦫꦸꦭꦔꦶ꧉
29 29 | ꦮꦤꦶꦠꦧꦼꦂꦱꦼꦊꦤ꧀ꦢꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
30 30 | ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦧꦼꦫꦏ꦳ꦶꦂꦱꦄꦠ꧀ꦆꦠꦸ꧉
Episodes

Updated 30 Episodes

1
01 | ꦭꦶꦧꦸꦫꦤ꧀ꦩꦸꦱꦶꦩ꧀ꦥꦤꦱ꧀꧈
2
02 | ꦥꦼꦂꦠꦩꦏꦭꦶꦢꦶꦏꦩꦂꦩꦤ꧀ꦢꦶ꧉
3
03 | ꦊꦉꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦒꦸꦤꦸꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
4
04 | ꦩꦭꦩ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦸꦭꦤ꧀ꦧꦶꦤ꧀ꦠꦁ꧉
5
05 | ꦭꦫꦔꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦥꦠꦃꦏꦤ꧀꧈
6
06 | ꦱꦼꦫꦁꦏꦆꦪꦤ꧀ꦩꦶꦱ꧀ꦠꦼꦫꦶꦠꦼꦫꦸꦁꦏꦥ꧀꧈
7
07 | ꦏꦼꦧꦼꦤꦫꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
8
08 | ꦠꦼꦫꦶꦪꦏꦤ꧀ꦪꦁꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦢꦶꦢꦼꦔꦂ꧉
9
09 | ꦥꦼꦂꦩꦸꦭꦄꦤ꧀ꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦼꦧꦸꦮꦃꦄꦚ꧀ꦕꦩꦤ꧀꧈
10
10 | ꦏꦭꦶꦩꦠ꧀ꦱꦼꦢꦼꦂꦲꦤꦪꦁꦧꦼꦂꦧꦼꦢ꧉
11
11 | ꦠꦔꦶꦱꦤ꧀ꦱꦼꦱꦼꦎꦫꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀꧈
12
12 | ꦉꦚ꧀ꦕꦤꦥꦼꦔꦶꦱꦶꦪꦤ꧀ꦮꦏ꧀ꦠꦸꦢꦶꦩꦸꦭꦆ꧉
13
13 | ꦥꦼꦫꦶꦔꦠꦤ꧀ꦏꦼꦢꦸꦮꦱꦼꦭꦩꦥꦼꦂꦗꦭꦤꦤ꧀꧈
14
14 | ꦥꦼꦂꦏꦠꦄꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦏꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀꧈
15
15 | ꦄꦥꦪꦁꦠꦼꦂꦗꦢꦶ?
16
16 | ꦏꦼꦧꦼꦂꦱꦩꦄꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦥꦸꦭꦁ꧉
17
17 | ꦏꦶꦱꦃꦚꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
18
18 | ꦏꦼꦆꦔꦶꦤꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦱꦩ꧀ꦥꦆꦏꦤ꧀꧈
19
19 | ꦄꦢꦄꦥꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦶꦠꦸꦮꦱꦶꦆꦤꦶ꧉
20
20 | ꦩꦶꦠꦺꦴꦱ꧀ꦄꦠꦈꦥ꦳ꦏ꧀ꦠ꧈ꦏꦶꦠꦧꦸꦏ꧀ꦠꦶꦏꦤ꧀꧈
21
21 | ꦕꦼꦫꦶꦠꦪꦁꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦠꦱ꧀꧈
22
22 | ꦩꦼꦭꦶꦧꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦼꦫꦸꦱꦲ꧉
23
23 | ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦄꦢꦪꦁꦠꦶꦢꦏ꧀ꦧꦶꦱ꧉
24
24 | ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ꦪꦁꦠꦏ꧀ꦥꦼꦂꦤꦃꦢꦶꦏꦸꦚ꧀ꦗꦸꦔꦶ꧉
25
25 | ꦏꦼꦱꦭꦃꦥꦲꦲꦩꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦶꦏ꧀ꦱ꧉
26
26 | ꦄꦮꦭ꧀ꦪꦁꦧꦆꦏ꧀ꦱꦼꦥꦼꦂꦠꦶꦧꦸꦔ꧉
27
27 | ꦢꦼꦱꦩꦠꦲꦫꦶꦠꦼꦂꦧꦼꦤꦩ꧀꧈
28
28 | ꦱꦾꦫꦠ꧀ꦏꦼꦱꦭꦲꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦫꦸꦱ꧀ꦠꦼꦫꦸꦭꦔꦶ꧉
29
29 | ꦮꦤꦶꦠꦧꦼꦂꦱꦼꦊꦤ꧀ꦢꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
30
30 | ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦧꦼꦫꦏ꦳ꦶꦂꦱꦄꦠ꧀ꦆꦠꦸ꧉

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!