03 | ꦊꦉꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦒꦸꦤꦸꦁꦩꦼꦫꦃ꧉

Anak laki-laki meminta penjelasan mengenai alasan Chika dan Stella yang berteriak hingga terdengar kerumah-rumah lain. Bahkan banyak warga yang berlontang-lantung di depan rumah tersebut sekarang ini. "Haduh neng! Apa kalian gak baca surat yang saya beri?." tanya pak RT menyelidik.

Maudi mengambil surat yang di berikan lalu membaca ulang, di bawah peraturan tersebut ada yang tertulis kecil di bawahnya jika 'anak perempuan tidak boleh mandi saat menjelang malam'. Apalagi pergi bersama tiga anak. Sama saja mereka mengalami ganjil karena hal tersebut. "Maaf pak, kami kurang teliti." ujar Chika.

"Sudah, cepat tidur. Besok bapak antarkan kalian ke tempat tujuan." Pak RT keluar rumah dan mengatakan pada warga jika tidak ada hal yang serius. Anak laki-laki juga keluar dan memasuki rumah sewaan mereka.

"Asli gue takut banget. Lo kenapa gak bilang kalo lagi di dapur si?!." Stella kesal karena masih teringat wajah hantu yang mirip Maudi. Gadis itu menggedihkan bahunya acuh.

"Lo udah mandi La?." tanya Raina di angguki Stella, gadis itu melotot saat menatap kearah Chika yang terheran.

"Maaf ya Ce, lo jadi gak mandi gara-gara gue teriak gak jelas tadi."  pintanya tulus. Chika mengangguk tak mengapa, lagian seharian ini ia tidak melakukan kegiatan yang mengotori tubuhnya.

"Tapi menurut gue aneh juga si, kita kan baru kesini dan langsung dapet kejadian kaya gini yang bahkan belum sehari disini." seloroh Raina memberi komentar ringan. Chika mengangguk membenarkan sembari berjalan menuju kamarnya. Mereka tidur berempat karena memang hanya satu kamar namun cukup luas untuk mereka, seperti ruang tamu yang tidak terpakai.

———

"Yailah kutu kuda, mau dandan secantik bidadari aja gak ada yang mau ngeliat modelan cewek kayak lo." ledek Reyhan mengomentari Stella di pagi hari. Suasananya memang berbeda karena waktu menunjukkan pukul enam lewat dua puluh empat menit yang mana embun masih terlihat tebal.

Stella yang mendengar tidak mengidahkan, gadis itu menjulurkan lidahnya dan mengibas-ngibaskan rambut panjangnya dengan bando berwarna kuning di kepalanya.

"Gendut, gendut, perut lo gak kenyang-kenyang perasaan." cerca Maudi pada Bima yang selalu makan di kondisi apapun, berbanding terbalik dengan Chika yang bahkan tengah terlihat mengantongi buku di tasnya.

"Bawaain ya Ra." pinta Chika pada Raina agar memegang camera yang di belinya untuk memfoto pemandangan nantinya. Raina yang melihat itu tetap mengangguk, sebenarnya ia malas jika menyangkut potret memotret.

Srakkk!... Srakkk!... Srakkk!...

Seorang ibu-ibu di samping rumah depan terlihat sedang menyapu halaman rumahnya. "Sudah siap semuanya toh. Bagus sekali, bapak kira masih pada tidur. Baru aja mau di bangunin." gurau Pak RT di pagi hari.

"Bapak kira kami bangun siang? Enggak dong, gini-gini kita udah siap ketempat bagus sesuai di foto hari itu. Ya kan guys?." ucapan Gilang di benarkan.

"Pagi bu." sapa mereka sembari melewati ibu-ibu itu dengan ramah. Pak RT berada di depan menunjukkan jalan dengan menceritakkan hal-hal kecil.

Mereka melewati persawahan luas dan perkebunan tanaman sebelum memasuki area awal dimana pemandangan yang di lihat kesembilan remaja itu merupakan air terjun lereng Gunung merah yang terletak tak jauh dari pedesaan. "Bagus banget gila! Ra fotoin kita Ra!." ujar Stella merangkul Maudi seakan melupakan kejadian semalam yang menimpa dirinya.

Ckrekkk!!... Ckrekkk!!...

"Biar gue aja, lo bisa gabung sama yang lain." Zafran berucap lalu mengambil alih camera, Raina enggan namun tetap memberika camera tersebut. Cowok itu tahu jika Raina memang tipe cewek yang sama sekali tidak berminat tentang foto, berbanding terbalik dengan Stella yang menyukainya.

▪ ▪ ▪

LERENG INDAH BUKIT MERAH—merupakan wisata kebanggan Desa Aran yang mana belum banyak orang mengetahuinya. Tempat seperti itulah yang kerap dilupakan orang-orang Kota yang lebih memilih untuk pergi ke pantai, club, ataupun negara yang bermusim delapan. "Kalo lo lompat, gue jamin kelelep." sindir Gilang pada Bima.

Kedua cowok tersebut tengah berjongkok di tepi bebatuan air terjun. "Eh gue udah bisa berenang ya!." sarkas Bima tak terima. Tentu saja Gilang tertawa ketika mendengarnya.

"Yah, yah! Gak ada sinyal lagi." Stella mencebikan bibirnya kesal, ingin meng-update ke sosial media tentang liburannya malah tidak ada jaringan sinyal yang mencakup di lereng itu.

"Jelas lah, ini kan gunung. Udah lo tinggal foto aja trus kalo udah sampe rumah baru lo update." Maudi berkomentar dengan bersedekap dada. Gadis itu memakai kacamata hitamnya.

"Mau kemana Pak?." tanya Reyhan melihat Pak RT yang ingin pergi. Pria itu memutar badannya kebelakang dengan senyuman yang terpampang jelas di bibir pria tersebut.

"Ada sms dari pekerja kuli bangunan di Desa. Bapak buru-buru mau turun, nanti bapak kesini lagi kok." ujarnya.

"Tenang aja pak! Kami bisa turun bareng nanti kalo udah selesai kok. Lagian jalannnya kan tinggal belok dikit dan gak jauh-jauh amat dari perkebunan tanaman." Raidan menyahuti santai. Pria itu menganggukan kepalanya.

"Yasudah, tapi ingat ya. Kalo sudah senja harus segera pulang. Jangan kemana-mana dan langsung ke rumah." ujarnya lalu bergegas pergi. Sembilan anak remaja tersebut mengangguk tanda mengerti hingga waktu menunjukkan pukul tujuh belas lewat dua puluh delapan menit yang terlihat dari arloji milik Gilang dan Chika.

"Kalian semua. Udah hampir gelap, kita kelamaan disini. Beresin barang kalian terus kita balik secepetnya." Zafran mengintruksi agar sahabatnya tidak lupa waktu dan bergegas pergi. Memang pemandangan sore tadi sangat memukau, tapi jika di lihat semakin malam. Terlihat tidak menyenangkan.

Ucapan Raidan sangat berbeda jauh dengan keadaan mereka. Hari sudah gelap, sekitar pukul tujuh kurang lima menit dan mereka masih di perjalanan turun yang terasa lama dan semakin mencekam. Banyak pohon menjulang tinggi di kiri dan kanan jalan, namun mereka tidak menyadarinya saat dalam perjalanan naik tadi. "Kok lama sih!, perasaan tadi pas berangkat cepet nyampenya." keluh Stella merengut.

"Iya aneh tau! Biasanya kan berangkat lama, pulang cepet. Kenapa kebalik gini sih sekarang?!." timpal Maudi. Chika menyeka keringat di dahinya, gadis itu juga merasa jika mereka berjalan terlalu jauh dan lama dari area awal naik.

"Dan! Lo sebenernya inget jalan gak sih?!." kini Raina berceletuk karena lelah. Ia menyorot tajam tetangga rumahnya dengan senter ponsel miliknya.

"Inget lah! Tapi gue juga ngerasa aneh sih. Semenjak kita turun, gak ada satu belokan pun yang kita lewati. Maka dari itu gue lurus terus dari tadi, tapi lama-lama cape juga." balas Raidan.

Episodes
1 01 | ꦭꦶꦧꦸꦫꦤ꧀ꦩꦸꦱꦶꦩ꧀ꦥꦤꦱ꧀꧈
2 02 | ꦥꦼꦂꦠꦩꦏꦭꦶꦢꦶꦏꦩꦂꦩꦤ꧀ꦢꦶ꧉
3 03 | ꦊꦉꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦒꦸꦤꦸꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
4 04 | ꦩꦭꦩ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦸꦭꦤ꧀ꦧꦶꦤ꧀ꦠꦁ꧉
5 05 | ꦭꦫꦔꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦥꦠꦃꦏꦤ꧀꧈
6 06 | ꦱꦼꦫꦁꦏꦆꦪꦤ꧀ꦩꦶꦱ꧀ꦠꦼꦫꦶꦠꦼꦫꦸꦁꦏꦥ꧀꧈
7 07 | ꦏꦼꦧꦼꦤꦫꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
8 08 | ꦠꦼꦫꦶꦪꦏꦤ꧀ꦪꦁꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦢꦶꦢꦼꦔꦂ꧉
9 09 | ꦥꦼꦂꦩꦸꦭꦄꦤ꧀ꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦼꦧꦸꦮꦃꦄꦚ꧀ꦕꦩꦤ꧀꧈
10 10 | ꦏꦭꦶꦩꦠ꧀ꦱꦼꦢꦼꦂꦲꦤꦪꦁꦧꦼꦂꦧꦼꦢ꧉
11 11 | ꦠꦔꦶꦱꦤ꧀ꦱꦼꦱꦼꦎꦫꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀꧈
12 12 | ꦉꦚ꧀ꦕꦤꦥꦼꦔꦶꦱꦶꦪꦤ꧀ꦮꦏ꧀ꦠꦸꦢꦶꦩꦸꦭꦆ꧉
13 13 | ꦥꦼꦫꦶꦔꦠꦤ꧀ꦏꦼꦢꦸꦮꦱꦼꦭꦩꦥꦼꦂꦗꦭꦤꦤ꧀꧈
14 14 | ꦥꦼꦂꦏꦠꦄꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦏꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀꧈
15 15 | ꦄꦥꦪꦁꦠꦼꦂꦗꦢꦶ?
16 16 | ꦏꦼꦧꦼꦂꦱꦩꦄꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦥꦸꦭꦁ꧉
17 17 | ꦏꦶꦱꦃꦚꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
18 18 | ꦏꦼꦆꦔꦶꦤꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦱꦩ꧀ꦥꦆꦏꦤ꧀꧈
19 19 | ꦄꦢꦄꦥꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦶꦠꦸꦮꦱꦶꦆꦤꦶ꧉
20 20 | ꦩꦶꦠꦺꦴꦱ꧀ꦄꦠꦈꦥ꦳ꦏ꧀ꦠ꧈ꦏꦶꦠꦧꦸꦏ꧀ꦠꦶꦏꦤ꧀꧈
21 21 | ꦕꦼꦫꦶꦠꦪꦁꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦠꦱ꧀꧈
22 22 | ꦩꦼꦭꦶꦧꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦼꦫꦸꦱꦲ꧉
23 23 | ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦄꦢꦪꦁꦠꦶꦢꦏ꧀ꦧꦶꦱ꧉
24 24 | ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ꦪꦁꦠꦏ꧀ꦥꦼꦂꦤꦃꦢꦶꦏꦸꦚ꧀ꦗꦸꦔꦶ꧉
25 25 | ꦏꦼꦱꦭꦃꦥꦲꦲꦩꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦶꦏ꧀ꦱ꧉
26 26 | ꦄꦮꦭ꧀ꦪꦁꦧꦆꦏ꧀ꦱꦼꦥꦼꦂꦠꦶꦧꦸꦔ꧉
27 27 | ꦢꦼꦱꦩꦠꦲꦫꦶꦠꦼꦂꦧꦼꦤꦩ꧀꧈
28 28 | ꦱꦾꦫꦠ꧀ꦏꦼꦱꦭꦲꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦫꦸꦱ꧀ꦠꦼꦫꦸꦭꦔꦶ꧉
29 29 | ꦮꦤꦶꦠꦧꦼꦂꦱꦼꦊꦤ꧀ꦢꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
30 30 | ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦧꦼꦫꦏ꦳ꦶꦂꦱꦄꦠ꧀ꦆꦠꦸ꧉
Episodes

Updated 30 Episodes

1
01 | ꦭꦶꦧꦸꦫꦤ꧀ꦩꦸꦱꦶꦩ꧀ꦥꦤꦱ꧀꧈
2
02 | ꦥꦼꦂꦠꦩꦏꦭꦶꦢꦶꦏꦩꦂꦩꦤ꧀ꦢꦶ꧉
3
03 | ꦊꦉꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦒꦸꦤꦸꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
4
04 | ꦩꦭꦩ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦸꦭꦤ꧀ꦧꦶꦤ꧀ꦠꦁ꧉
5
05 | ꦭꦫꦔꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦥꦠꦃꦏꦤ꧀꧈
6
06 | ꦱꦼꦫꦁꦏꦆꦪꦤ꧀ꦩꦶꦱ꧀ꦠꦼꦫꦶꦠꦼꦫꦸꦁꦏꦥ꧀꧈
7
07 | ꦏꦼꦧꦼꦤꦫꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
8
08 | ꦠꦼꦫꦶꦪꦏꦤ꧀ꦪꦁꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦢꦶꦢꦼꦔꦂ꧉
9
09 | ꦥꦼꦂꦩꦸꦭꦄꦤ꧀ꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦼꦧꦸꦮꦃꦄꦚ꧀ꦕꦩꦤ꧀꧈
10
10 | ꦏꦭꦶꦩꦠ꧀ꦱꦼꦢꦼꦂꦲꦤꦪꦁꦧꦼꦂꦧꦼꦢ꧉
11
11 | ꦠꦔꦶꦱꦤ꧀ꦱꦼꦱꦼꦎꦫꦁꦢꦶꦧꦮꦃꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀꧈
12
12 | ꦉꦚ꧀ꦕꦤꦥꦼꦔꦶꦱꦶꦪꦤ꧀ꦮꦏ꧀ꦠꦸꦢꦶꦩꦸꦭꦆ꧉
13
13 | ꦥꦼꦫꦶꦔꦠꦤ꧀ꦏꦼꦢꦸꦮꦱꦼꦭꦩꦥꦼꦂꦗꦭꦤꦤ꧀꧈
14
14 | ꦥꦼꦂꦏꦠꦄꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦏꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀꧈
15
15 | ꦄꦥꦪꦁꦠꦼꦂꦗꦢꦶ?
16
16 | ꦏꦼꦧꦼꦂꦱꦩꦄꦤ꧀ꦢꦤ꧀ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦥꦸꦭꦁ꧉
17
17 | ꦏꦶꦱꦃꦚꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦱꦼꦊꦱꦆ꧉
18
18 | ꦏꦼꦆꦔꦶꦤꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦂꦱꦩ꧀ꦥꦆꦏꦤ꧀꧈
19
19 | ꦄꦢꦄꦥꦢꦼꦔꦤ꧀ꦱꦶꦠꦸꦮꦱꦶꦆꦤꦶ꧉
20
20 | ꦩꦶꦠꦺꦴꦱ꧀ꦄꦠꦈꦥ꦳ꦏ꧀ꦠ꧈ꦏꦶꦠꦧꦸꦏ꧀ꦠꦶꦏꦤ꧀꧈
21
21 | ꦕꦼꦫꦶꦠꦪꦁꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦠꦱ꧀꧈
22
22 | ꦩꦼꦭꦶꦧꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦧꦼꦫꦸꦱꦲ꧉
23
23 | ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦄꦢꦪꦁꦠꦶꦢꦏ꧀ꦧꦶꦱ꧉
24
24 | ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ꦪꦁꦠꦏ꧀ꦥꦼꦂꦤꦃꦢꦶꦏꦸꦚ꧀ꦗꦸꦔꦶ꧉
25
25 | ꦏꦼꦱꦭꦃꦥꦲꦲꦩꦤ꧀ꦪꦁꦩꦼꦚꦶꦏ꧀ꦱ꧉
26
26 | ꦄꦮꦭ꧀ꦪꦁꦧꦆꦏ꧀ꦱꦼꦥꦼꦂꦠꦶꦧꦸꦔ꧉
27
27 | ꦢꦼꦱꦩꦠꦲꦫꦶꦠꦼꦂꦧꦼꦤꦩ꧀꧈
28
28 | ꦱꦾꦫꦠ꧀ꦏꦼꦱꦭꦲꦤ꧀ꦪꦁꦠꦼꦫꦸꦱ꧀ꦠꦼꦫꦸꦭꦔꦶ꧉
29
29 | ꦮꦤꦶꦠꦧꦼꦂꦱꦼꦊꦤ꧀ꦢꦁꦩꦼꦫꦃ꧉
30
30 | ꦱꦼꦩꦸꦮꦚꦧꦼꦫꦏ꦳ꦶꦂꦱꦄꦠ꧀ꦆꦠꦸ꧉

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!