"Ya Tuhan!!." Haris merogoh saku dan menelefon ambulance sesegera mungkin. Pria itu lalu membantu pertolongan pertama dengan memberikan air mineral.
"Bima? Bima mana?!." Sarah kelabakan melihat putranya tidak ada. Hingga seorang pria menghampiri mereka. Ia adalah Candra Pradipta Mahardika—ayah Chika yang belari dengan panik. Zafran menepuk pipi Bima yang tak kunjung sadar.
"Makan." ucapnya singkat namun membuat Bima tersadar, memang urusan makanan cowok itu nomor satu. Mereka berjalan keluar bersamaan, Zafran memapah Bima karena lemas, cowok itu sudah lama berada di sana.
"Ya Tuhan Bimaaa!!." Sarah berlari memeluk Bima. Zafran mendekat kearah Kazea yang sedang meminum air pemberian Ghina. Gadis itu bangkit dan memberikan air ke kakaknya.
Ambulance datang, mereka yang pingsan di bawa kerumah sakit. Diruang tunggu terdapat Zafran dan Kazea. "Ughh! Sakit tuh pasti, gue ambil obat dulu bang." ucap Kazea beranjak pergi.
Zafran melihat kearah bahu kanannya yang memar, luka bakar tercetak jelas. Ia ingat jika saat Bima belum sadarkan diri, ia tertimpa balok kayu yang terbakar. Untung saja semuanya selamat, itu yang di pentingkan olehnya.
Beberapa jam menunggu, luka Zafran sudah diobati oleh dokter kecilnya. "Thanks Za." Bima berterimakasih dari ranjang tidurnya. Cowok itu bangkit dan mengajak Zafran keruang para cewek dimana Stella dan Chika sudah sadar.
"Eh Za, makasih lho." Sarah berterimakasih, wanita itu sedari tadi di ruangan anak perempuan.
"Zea mau tidur? Gih tidur udah malem. Atau mau Tante baca dongeng? Atau nyany-"
"Ih Tante... Aku udah besar, bisa tidur sendiri kok. Bareng sama kak Stella sama kak Chika. Malam semuanya." gadis itu memang terus menguap, Ghina yang melihat tentu berucap demikian. Ranjang yang besar itu cukup muat untuk lima orang, Kazea masih kecil.
"Kalian juga! Cepat ayo cepat! Cepat tidur! Semakin cepat, semakin cepat pulang lho.." goda Candra menggiring semua anak laki-lakinya untuk tidur.
———
Secepat itu mereka sudah kembali berada di rumah Gilang. "Ah lapernya." Bima menuju dapur tanpa permisi. Memang sudah seperti rumah sendiri.
Zafran memasuki kamar yang biasa ia tinggali ketika berada di rumah Gilang. Cowok itu merasa jika akhir-akhir ini ia terlalu gegabah dan banyak mengambil resiko dengan tubuhnya yang terasa panas. Cuaca juga semakin dingin, itu menurutnya.
Tokkk!!
Tokkk!!
Tokkk!!
"Eh bang nih, makan dulu. Gue tau lo belum makan, udah gausah ngibul. Cepet makan, jangan sampe enggak." Kazea membawakan makanan dan minuman di atas nampan lalu meletakkannya diatas meja nakas. Gadis itu memperingati lalu pergi keluar, Zafran tersenyum tipis melihatnya.
Wahh kamu ini kecil-kecil udah pinter bicara yaa.
Mirip kamu tahu, hahha!
Brakkk!!
Jaga bunda dan adikmu lho jagoan!
Mattt... Nggginggg....iiii!!!
"Akhh!!." Zafran terbangun dengan kepala yang sakit seperti di hujami ribuan bebatuan dan anak panah. Cowok itu memegang kepala dengan kedua tangannya dengan lutut menekuk.
"Apa? Apa yang Papa tabrak waktu kecelakaan itu?. Inget Za inget!!." Zafran memukul kepalanya berusaha a.k.a harus mengingatnya. Tangan kirinya meremat dadanya pelan.
Uhukkk!!
Cowok itu memutahkan darah kental mengenai lantai. Kini tangan kanannya menopang dinding di sebelahnya. "ZAAA YUHUU!!!." Gilang masuk begitu saja karena ia mempunyai kunci cadangan kamar tersebut. Cowok itu melebarkan mata dengan mulut menganga tak percaya.
"L-lo k-kenapa heh?!." cowok itu panik.
▪ ▪ ▪
Zahra berlarian di sepanjang lorong rumah sakit. "Zeee?! Kamu gak papa?." tanya wanita itu memutari tubuh anaknya, Kazea menggeleng aman.
"Mana abangmu? Dia kenapa?." tanya Zahra khawatir, tentu saja mendengar putranya masuk rumah sakit membuat ia harus membatalkan semua agenda.
"Eh Jeng? Ayo masuk kalian berdua." Rina mengajak mereka masuk karena memang Kazea berada di luar untuk menunggu Mamanya datang. Mereka pun masuk berdampingan.
"Kenapa kamu?." tanya Zahra mendekat ke tepian ranjang Zafran. Tak cepat mendengar jawaban, wanita itu menghela nafasnya kasar lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Berapa kali Mama bilang? Jangan ngurusin hidup orang lain. Mama udah panggil pak Ustad biar bantuin kamu. Ituuu akibatnya karenaaa kamuu gakk dengerrinnn Maaaamaaa!." wanita itu memperpanjang nada bicaranya di belakang mengangkat tangannya.
Zafran meringis pelan, menutup matanya. Tangan lembut Zahra berada mendarat di kepalanya. "Ya hallo? Benar Pak alamat itu. Turunkan semua barang disana saja, terimakasih." ucap Zahra mematikan sambungan telepon.
"Mama percepat pindah, hari ini kita pulang kerumah. Tunggu kamu-"
"Gapapa." potong Zafran dengan suara parau nan lirihnya. Wanita itu ber-oh ria saja dan mengambil buah-buahan lalu mengupasnya.
"Ma." satu kata pertanyaan keluar dari mulut Zafran. Cowok itu menatap ibunya penuh keingintahuan.
"Cepetan kalo mau ngomong, kamu kan anak laki-laki. Harus tegas dan jangan selalu menunda-nunda." sahut Zahra tanpa melirik sekilaspun.
"Papa.. Bukan karena kecelakaan itu kan?." tanya Zafran membuat keheningan. Zahra menatap putranya.
"Kenapa tanya? Kamu kan sudah tahu. Emang waktu Mama jawab itu kurang jelas? Papa kamu itu meninggal ya karena kecelakaan pas bawa selingkuhannya." ketus Zahra berucap.
"Bukan Ma.. Aku liat Papa dateng kesuatu tempat, dan ada makhluk hitam yang dengan sengaja mencekik Papa." Zahra terdiam, kalimat anaknya ini terlalu panjang berbeda dari biasanya.
"Mobil Papa masuk jurang karena kesengaj-"
"Cukup Zafran! Kamu itu kebanyakan halusinasi, dan tidur gak teratur. Makanya sering liat hal gak jelas." Zafran memundurkan sedikit posisinya melihat kemarahan Zahra. Cowok itu sudah menduga, dan benar saja ibunya marah jika bertanya tentang ayahnya.
"Kamu ini bukan anak indigo yang bisa ngeliat masalalu, masadepan, mimpi, dan ngeliat hantu Zafrann. Mama kan udah pernah bilang? Abaikan mereka!." nada wanita itu naik turun.
"Tapi Ma-"
"Apalagi Zafran? Mama capek dari dulu ngedengerin cerita kamu yang kamu sendiri juga gak tau. Itu cuma bunga tidur, bukan sesuatu yang harus di benarkan dan di kisah nyatakan."
"Siapa Danis? Dan dimana tempat Kalimati?." tanya Zafran seketika membuat Zahra menegang di tempat. Wanita itu sama sekali tidak membuka suaranya tetap bungkam.
"Mama bakal nyusul ayahmu kalo kamu ngurusin sesuatu yang gak penting." kini giliran Zafran terdiam. Melihat kesekeliling dimana bukan hanya ia dan Mamanya yang berada di ruangan itu. Para sahabatnya, sahabat ayahnya dan adiknya tengah memperhatikkannya.
"Maaf." Zafran mengalihkan pandangannya begitu berucap demikian. Zahra menghela nafasnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments