Zafran melompat dan menendang keris yang di lemparkan Welas padanya tepat mengenai perut Welis. Wanita itu merasakan panas di sekujur tubuhnya hingga tak lama kemudian lenyap. Para warga siluman iblis juga menghilang begitu saja. "Uhukk!! Terimakasih." ucap Welis lalu menghilang. Bima terselamatkan dengan Chika yang kini membantu Sudirman berdiri bangkit.
Hari sudah pagi, suasana nampak sunyi namun tenang. "Kami akan pergi Pak, apa bapak inget rumah asli bapak?." tanya Reyhan di angguki Sudirman. Mereka mengantarkan pria itu, saat berjalan keluar gapura Desa mereka memutar tubuhnya.
Perkampungan itu nampak hancur lalu asap kabut-kabut datang membuat Desa Aran tak lagi terlihat. Tak jauh dari sana, Sudirman meminta di turunkan di sebuah pemakaman. "Sudah sampai, rumah bapak disana. Terimakasih." ucapnya lalu pergi meninggalkan keterdiaman mereka semua.
Sudirman yang mereka kenal sebagai Pak RT adalah arwah seorang bapak yang mencari putrinya yang hilang saat Kuliah Kerja Nyata di Desa Aran tersebut. "Merinding gue lama-lama." celetuk Stella di dalam mobil yang di angguki Reyhan membenarkan.
Desa Aran adalah sebuah Desa yang tidak pernah ada karena hanya tersisa kabut tebal yang menyelimuti. Dulu kala, terjadi kebakaran terselubung yang menewaskan Desa tersebut beserta isinya. Hingga terciptalah jurang tanpa dasar yang dinamakan Kilometer Kematian 37.
———
"Puji Tuhan anak-anak!!." siapa yang menyangka jika kepulangan mereka telah disambut baik oleh para orangtua. Mereka kembali kerumah Gilang, tempat rest area awal mereka liburan.
Stella memeluk kedua orangtuanya terharu betapa bahagianya ia bisa kembali dengan selamat bersama kedelapan sahabatnya. "Eh, eh? Kamu kenapa lho Stell, dapet hidayah dari siapa?." tawa Sella Ayunda—ibu Stella.
"Jadi? Hilang kemana kalian seminggu ini?." Haris Kartanegara—ayah dari Bima bertanya tegas. Pria itu terkenal dingin, tidak seperti anaknya yang humoris dan suka makan. Kesembilan anak tersebut menelan saliva mereka kasar, mengapa orangtua bisa tahu.
Tidak ingin menyembunyikan lebih lanjut, mereka menceritakan hal seru, menegangkan, sekaligus horor yang mereka alami. "Makasih lho Zafran sama Raidan yang udah nolongin Maudi, tante bangga sama kalian berdua." Meila Kanaya—ibu Maudi berterimakasih.
"Iya tante juga mau bilang makasih karna kalian udah jagain Stella, dia kan anaknya paling ribet." ungkap Sella membuat ruangan itu di penuhi tawa.
"Kilometer Kematian 37 ya, untunglah kalian gak kenapa-kenapa." Rina Widiarti—ibu Reyhan berucap syukur.
"Tuh Bim, kamu itu harus olahrga biar kalo ada apa-apa bisa lari." Sarah Natalie—mencubit telinga anaknya. Bima mengaduh kesakitan merasa panas di telinga kanannya.
"Udah, udah ceritanya nanti aja. Istirahat dulu, oh iya Za. Mama kamu kesini besok katanya." jelas Ghina Ambarwati—ibu dari Gilang. Cowok itu tak menanggapi dan langsung pergi.
Gilang membantu Zafran mengobati luka punggung yang di dapatkan karena terpental ke bebatuan secara berulang kali. Reyhan, Raidan, dan Bima ikut bergabung. Semoga tante Zahra atau Kazea tidak akan memarahi mereka besok harinya. "Za, lo belajar dimana cara ngelawan hantu?." celetuk Reyhan kagum, begitu juga dengan Raidan.
"Masa lo gak tau? Tapi gue juga enggak sih. Haha!." Gilang membalas dengan cengiran yang langsung mendapat tiga geplakan sayang dari para sahabatnya.
"Palalo bunek! Si Entong makan daging penyet. Muka lo mirip monyet." Raidan meraup wajah Gilang yang menyengir.
▪ ▪ ▪
"Berapa kali Mama bilang? Jangan buat masalah Zaaafrann! Kamu belajar yang bener di sekolah, kalo libur ya kamu isi sama belajar atau cari kerja sampingan. Kan banyak." Zahra Stefani Maurina—wanita itu menatap tajam putranya. Ibu Zafran itu memang datang bersama putrinya yaitu Kazea Chiva Maurina.
Gadis yang terpaut empat tahun dari Zafran itu duduk di sofa samping ibunya. Zafran menganggukan kepalanya. "Sudah lho Jeng, di minum dulu silahkan." Ghina menegur pelan, agar wanita itu tidak memarahi Zafran.
"Bener itu Jeng, saya malah mau bil-"
"Diam kamu, dia anak saya. Jika saya kasar itu juga demi kebaikannya. Dan kamu Zafrann, jangan bergaul terlalu bebas karena Mama menyekolahkan kamu di Kota terbaik ini ya untuk kebaikan kamu, biar sukses nantinya."
Ucapan Sella terpotong begitu saja. Zahra masih melanjutkan wejangannya. "Jangan seperti ayah kamu Zafran! Dan lagi kamu gak ijin sama Mama mau liburan, iya kan?." Zafran mengangguk.
"Bulan depan Mama tinggal di Kota ini sama adikmu, dia dapet beasiswa di sekolah kamu dulu. Jadi gak ada tuh acara kamu buat keluyuran malam-malam." wanita itu berucap tegas. Para orangtua jelas merasa kasihan karena anak dari sahabat mereka dulu sangat di atur oleh ibunya.
"Udah makan bang?." tanya Zea, Zafran mengangguk saja. Ghina sebagai nyonya rumah merasa tergelitik karena memang belum menyiapkan apapun.
"Zea, kamu mau pulang atau di sini sama abangmu?." tanya Zahra bangkit.
"Disini aja deh Ma, mau main. Boleh kan Om Tante?." tanya Kazea di angguki semuanya. Mereka tidak keberatan sama sekali. Wanita itu bangkit lalu melangkah keluar rumah.
"Jaga adikmu Za, Mama pergi dulu." Zafran mengangguk, memang cowok itu seperti tidak mempunyai mulut saja. Setelah Zahra tidak terlihat lagi, Kazea menyampingi berdiri kakaknya.
Gadis itu menepuk pelan punggung abangnya. "Mama keras ya, tapi sayangnya cuma ke lo doang bang. Gue kesel tapi tetep sayang kok." tentu gadis itu tahu lika-liku dan tekanan yang ibunya berikan. Zafran mengacak rambut adiknya.
"Za, Za, ngangguk mulu kapan ngomongnya sih. Sori nih tadi kita-kita gak bantu ngomong yang sebenernya, Tante Zahra ngomongnya cepet si." Reyhan berucap tak di tanggapi.
"Kak Chika sama kak Raina lagi ngapain? Ikutan boleh?." Chika mengangguk dan menarik lengan gadis itu duduk di sampingnya. Ia tengah membuat kerajinan kertas origami.
"Gue heran, kenapa lo gak boleh nyamain bokap lo Za. Mungkin lo gak mau jawab atau ngomong apapun, gue cuma pengin ngomong apa yang gue pengin aja, gue gak berharap lo cerita kok. Dan kalo mau, bukan gue doang tapi kita semua siap dengerin kok." Gilang berucap panjang lebar, Reyhan dan Bima nampak terdiam.
Dan benar saja, Zafran pergi tanpa sepatah kata. "Ya itulah bang Zebra.." celetuk Kazea menyeloroh. Gilang semakin penasaran, Kazea tertawa.
"Dan sebenernya gue berharap Papa masih ada, gak ninggalin kita bertiga. Jadinya Mama gak bakal marah-marah terus." gadis itu mulai bercerita dengan tatapan kosong menyorot sayu.
"Oh ya, yang paling keren itu pas bang Zafran ngalahin setan." semua orang menjadi penasaran dan langsung merapatkan diri, para orangtua duduk di sofa mulai mendengarkan. Mendengar panggilan Zea untuk Zafran yang benar sesuai namanya, berarti gadis itu sedang tidak membuat ucapan palsu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments